Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Cahaya di Balik Kabut

Ibu. Sosok sederhana, namun memesona. Terkadang melihat sebuah kebijaksanaan di hadapan kabut tebal memang cukup sulit. Nak, bersenang-senang pasti hal yang menyenangkan, bukan? Kalian bersinar, tapi debu itu cukup menghalangi terangnya cahaya.

Sambil narik napas, mikir, terus istighfar. Hufhh. Astaghfirullah.

Kalian anak-anak yang baik, pintar, manis, dan shalehah. Hufhh. Nak, yang berdiri di depan kalian sekarang siapa? Bukan siapa-siapa. Belum menjadi siapa-siapa tepatnya.

Rasanya kudu berpikir ekstra buat ngadepin kalian yang manis-manis. Nak, mbok yo kalo digerakin itu langsung bangun. Leha lehe konyo ngunu piye maksude? Apa kurang mantep doanya?

Bukan menerapkan kekerasan. Bukan. Tapi ini ketegasan. Kalian masih dalam pertumbuhan. Kalian masih banyak belajar. Mengurus seorang saja cukup..., apalagi satu kesebelasan?

Pelan-pelan. Yang ini juga masih belajar. Kalian juga ya. Kita maju sama-sama. Kita hadapi bersama.

Eh? Ngomong apaan, sih? Bukan tentang pilkada atau turnamen. Bukan. Tapi ini bagaimana menata hidup agar menjadi sesuatu yang indah dan lebih baik lagi.

Hidup bersama pastinya punya banyak rasa dan warna. Yang terpenting belajar menghargai. Menghargai waktu, kesempatan, dan apapun yang patut dihargai.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keberuntungan Bebatuan

Semuanya nampak baik-baik saja, walaupun sebenarnya ada sedikit lubang yang mengganggu. Benarkah? Tidak. Jelas nampak tak baik sama sekali. Apa kau bodoh? Tidak juga. Aku tak ingin dikatakan dan benar-benar menjadi seperti itu.
Dalam ketakutan, terkadang mencoba tak merasakan apapun. Berhenti bernapas. Bergeming, menutupi segalanya. Tak jarang pula berubah. Seperti apa? Entahlah, mungkin menjadi mahkluk jahat. Seberapa jahat? Tak terkira. Apa kau belum bisa berhitung dengan baik dan benar? Mungkin.
Maaf. Benar-benar tak pantas, tapi seperti sudah menjadi kebiasaan dan terjadi begitu saja. Hey! Apa kau tak dapat mengendalikannya? Sudah kucoba, tapi...
Siapa bilang tak ingin menjadi lebih dan terus berbuat baik? Siapa?
Ingin. Kau tahu? Kata yang begitu singkat, bukan? Tapi perjalanan yang ditempuh cukup panjang, bahkan bisa menjadi sangat.
Kalau begitu, hentikan menghentikan napas itu. Hiruplah. Rasakan perlahan udara yang ada. Ia tak dapat kau lihat, apalagi disentuh.
Begitu istimewa. Kasat mata. Coba buka hatimu lebih lebar. Perasaan itu kan tampak perlahan, maka kau akan merasakannya. Merasakan sesuatu. Ya, sesuatu.
Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu merasa bersalah, tidak baik untuk jantungmu. Belajarlah dari gunung yang tak menyakiti bebatuan meski tak memiliki kebijaksanaan.
Kau tahu, betapa beruntungnya mereka yang dapat melihat kekurangannya sendiri? Maka, pelajari keberuntungan itu lebih baik lagi. Pelajaran bukan sekadar rumus, teori dan beberapa permainan rasionalisme belaka. Ia berawal dari hal-hal yang kecil. Sangat, kecil. Ia lebih dekat daripada telapak tangan yang berada di dadamu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Debu Kepercayan

Setiap orang hidup,
memercayai apa yang ingin mereka percaya
Hidup harus memercayai sesuatu
Tanpa memercayai apapun, kita tak akan hidup
Itulah manusia
Benar kah?

Tapi, percaya itu sama seperti debu
Sebelum debu menumpuk, itu bukan apa-apa
Lantas, akankah atau haruskah aku memercayaimu?
Kau, kau siapa?
Seakan tak percaya akan sebuah kepercayaan

Terkadang,
tak ada yang lebih menyiksa
daripada meragukan orang lain
Hey! Bahkan aku tak tahu apa itu keraguan
Apa aku percaya?
Bagaimana?

Mengetahui kebenaran di mana tak ada yang memercayainya
Itu bahkan lebih menyiksa

Angin terus berembus
Aku mulai mengerti
Hal yang membesarkanku adalah angin perjalanan
Semakin aku pergi, dunia semakin memalukan
Kita semua semakin tua,
hidup seperti itu

Aku masih mempelajarinya
Dalam kelemahan, aku terus merangkak
Aku harus menarik titik kepercayaan,
menjadikannya sebuah garis
Membangunnya menjadi sebuah bentuk
Di mana nilai terbesar tumbuh
Nilai kepercayaan yang agung
Percaya akan kuasa-Nya
Kebesaran-Nya
Di mana dengan itu semua,
aku harus berevolusi menjadi lebih baik
Kita yang lebih baik
Dunia yang lebih baik

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Malam dan Senja Kita

Apa aku merindukanmu lagi?
Mengapa?
Terlalu lancangkah aku yang seperti  ini?
Aku tak tahu
Rasa itu tiba-tiba saja datang

Hey!
Apa kau merasakan yang sama?
Maaf, maafkan aku yang mempunyai pertanyaan semacam itu
Aku hanya ingin tahu
Tidak bolehkah?
Setengah hatiku bertanya demikian,
tapi yang lain dengan lantang melarangnya

Apa yang sedang kau lakukan sekarang?
Di sini bintang tak tampak
Bulan pun bersembunyi
Mereka mengurung diri karena hujan baru saja turun

Oh. Apa kau sedang bersama senja?
Ya, kau masih menunggu mentari melambaikan tangannya

Aku malu,
tapi aku begitu ingin tahu keadaanmu
Tapi, aku juga ingin membuang pikiran itu jauh-jauh

Kalau begitu, biarlah seperti ini untuk sementara
Aku, aku akan pergi menemui Maehwa seperti biasanya
Ya, aku akan bersamanya

Kau
Nikmatilah penghujung senjamu
Aku harap harimu menyenangkan
Begitu pula dengan malamku di sini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

How to Make Karimyeon

Ceritanya habis pulang kuliah pada kelaparan. Padahal sudah sarapan. Ada yang belum juga, sih. Heheheh.

Berhubung masih ada kentang dua kilo, ada myeon dan bihun plus sesuatu yang merah-ijo itu, kita putusin buat bikin "Karimyeon". Cepat, singkat dan padat. Sajian ini untuk delapan orang, ya 。^‿^。
Bahan yang diperlukan adalah:

1. Magic Comb
2. 2 bungkus myeon (mie)
3. 2 bungkus bihun 
4. 3 siung bawang merah 
5. Daun bawang 
6. 3 buah cabai merah 
7. 1 buah tomat 
8. 2 buah kentang
9. Bawang goreng
10. Kurang lebih 1300 ml air segar
11. Bumbu (serbuk kari, garam, gula, penyedap rasa dan minyak tamanegi atau minyak bawang)

Well, dengan mengucap basmalah kita mulai dengan memasak air di magic comb. Sambil menunggu mendidih, iris daun bawang, cabai merah, tomat, cincang bawang merah, kupas kentang lalu diiris dadu memanjang kemudian cuci bersih.
Untuk menghemat perkakas kotor, kita taruh bahan-bahan tadi di atas kertas nasi, gals. 
Like this ⬇


Selanjutnya, rebus potongan kentang sekitar dua menit.


Karena bihun lebih lama matangnya daripada myeon, masukan bihunnya terlebih dahulu, ya. Setengah menit, aja. ٩(^ᴗ^)۶ Setelah itu, baru si "myeon" boleh gabung ke dalam air mendidih. 

Beti, sih. Beda tipis waktunya. Setengah menit doang. Kalau mau dimasukkan bersamaan juga oke. Biar gak jomblo, gitu. Hahaii.

Eits, myeon sama bihunnya diremuk dulu. Biar pas mau dimakan, ngambilnya nggak susah karena kepanjangan. Kan sajian ini dimakan bareng-bareng. Maklum, lah, anak pesantren yang selalu kompak. Makan kompak. Tidur juga kompak. Mandi serempak. Ngantri deh. Y(^_^)Y



Yoms, masukkan bawang merah cincangnya, sobat, lalu diaduk-aduk. Tunggu sampai bihun dan myeon-nya setengah matang, ya.↖(^▽^)↗


Waktunya si merah-ijo tampil. Siapa lagi kalau bukan irisan cabai dan daun bawang. 



Giliran si bumbu. Tambahkan serbuk kari, garam, gula, penyedap rasa dan minyak tamanegi secukupnya. Untuk minyak tamanegi cukup empat sendok makan saja, boleh. ヾ(*⌒ヮ⌒*)ゞ


Tambahkan irisan tomat. Tunggu sekitar setengah sampai satu menit, boleh, lah. Masak sayur jangan kelamaan. Biar vitaminnya nggak rusak. Katanya sih, gitu.


Hampir siap, nih. 
Diaduk-aduk lagi, biar rata. ヽ(^。^)ノ


Sudah matang. 
Euhh, makin gak tahan. (^O^)
Finally, matikan aliran listrik dan keluarkan inner cooking pan-nya. Taburkan bawang goreng, deh.


Tadda! Karimyeon siap disantap. Nggak lupa basmalah dong, biar si setan-setan nggak ikutan makan. o (^‿^✿)o

Begini lah menu sederhana kita. Selamat makan dan selamat mencoba juga buat kalian yang berminat. 
Sayonara.... \(^▽^@)ノヾ(^-^)ノ

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kairaku-en yang Sarat Nilai Sejarah


Pastinya, ada banyak taman indah di Jepang, tapi tak banyak juga yang sarat nilai sejarah, kawan (gayanya, kayak tau sejarah aja 。^‿^。).

Dari taman-taman bersejarah itu, ada satu yang terkenal karena bunga pohon plum nan indah, yaitu Kairaku-en 偕楽園 ("kairaku" dapat diartikan pleasure dan "en" adalah park, jadi kairaku-en bisa disebut sebagai pleasure park atau taman kebahagiaan) di kota Mito, Prefektur Ibaraki, Jepang.

Kairaku-en ini dibangun oleh Nariaki Tokugawa, beliau adalah Kepala Mito ke-9 (1800~1860). Tokugawa membangun taman ini dengan konsep landscape gardening. Taman ini mulai dibuka pada tahun 1842. Taman kairaku sangat diminati oleh pengunjung, apalagi saat bunga sakura yang ada di sana tumbuh mekar dengan indahnya. Nah, kawan yang budiman ٩(^ᴗ^) ۶, nama Kairaku-en sendiri berasal dari kata dalam buku (kitab) Mencius (seorang filsuf Tiongkok) yang bertuliskan “Orang dahulu akan berbagi kesenangan kepada orang-orang. Oleh karena itu kesenangan mereka akan hangat dan mendalam”.

Kairaku-en dibuat oleh pembangunnya untuk rakyat. Buka tiap hari sepanjang tahun dan gratis. Jika di Jepang taman lazimnya dibangun untuk dinikmati para tuan penguasa daerah, tidak demikian dengan Kairaku-en. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terjatuh Lagi

Sederhana. Sekilas nampak tak begitu berarti namun kau menganggapnya berharga. Sesuatu yang kecil itu membuatmu berbunga-bunga. Bunga-bunga tersebut menebarkan aroma harum yang memenuhi pandanganmu. Hey! Apa kau dapat melihatnya? Kau dapat memvisualisasikan bau?

Haha. Jangan hiraukan. Aku hanya bercanda.

Hati-hati. Langkahmu mulai tak stabil. Kebahagiaan itu membuat kakimu bergetar. Awas!

Sayangnya kau terjatuh. Semudah itu, kah?

Kau langsung bangkit. Tapi kau masih menginginkan dalam keadaan jatuh. Kau langsung mengusap jejakmu. Terjatuh yang cukup menyenangkan, bukan? Kau selalu saja mengelak. Tak bisa kah aku menyaksikan pengakuanmu? Kau tak mudah membuka pintu gerbangnya. Tapi, pergerakan di dalamnya cukup mudah diketahui.

Hey! Mengapa kau melangkah mundur? Kau ingin melarikan diri lagi? Kau pikir dengan menghapus segalanya kau dapat menghindar begitu saja?

Hemhh. Kau masih membisu. Lisanmu begitu berat, lalu kau menuliskannya dengan perumpamaan. Kalau begitu, lanjutkan. Lanjutkan saja sampai kau melunak dengan sendirinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Random Question

Entered to 4B1 MTA, aka. first grade of MA MU. Ouhh, they were big and tall enough.
Said greeting, prayed, checked the attendance list, had some self introducing and random question. Free for the first dayヽ(^。^)ノ 

M1: Miss, umurnya berapa?
M2: 22.
M1: Kirain 18.
M3: Miss udah nikah?
M2: Udah.
M3: Yang bener? (yang ditanya cuma tarik napas)
M4: Suaminya di mana, Bu?
M2: Di Afrika, Nak.
M5: Jauh banget. Emang ngapain?
M2: Ngapain lagi kalo bukan berburu (senyumannnya meyakinkan, yakin banget).
M6: Serius. Miss, mendingan jujur apa bohong?
M2: Jujur.
M6: Miss-nya  aneh. Ditanyain juga.
M2: Kok gitu? Kalian tanya, ya saya jawab.
M3: Miss gak boleh gitu dong.
M2: Yang diajuin kan random question, saya jawabnya juga random answer.
M7: Bisanya?
M2: Ya bisa. Jawaban acak untuk pertanyaan acak yang saya acak-acak kebenarannya. Percaya atau nggak, tergantung keyakinan masing-masing (kali ini senyum watados). Tiba-tiba dari belakang nyeletuk,
M8: Miss nikah nya tahun berapa?
M2: ...
Eh, belum dijawab ada yang main serempet aja.
M9: Kalo gitu Miss siap-siap ya.
M2: Buat?
M9: Nanti saya mau seserahan ke rumah Miss (gayanya sok cool).
M2: #¥%::&;+())???!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jamsiman

Kau tahu apa yang kau alami? Trauma. Kau masih ragu apa itu trauma atau hanya sekadar peristiwa biasa yang tak berarti tapi mempengaruhi. Tahun itu, air matamu mengalir sembari berlari menjauh, berusaha menghindar dan menutupi. Kenyataannya ketakutan menghantui sepanjang bayanganmu bergerak. Tak percaya akan sebuah atau beberapa rasa. Kau berusaha membuang semua. Semua. Ya, semua.
Kemudian kau temukan titik cerah. Cukup membahagiakan dan memulihkan kehilanganmu tempo lalu. Kau merasa nyaman, bukan? Kau terjatuh lagi. Terjadi begitu saja. Kau terus mengelak padahal kau telah terjatuh. Aku tahu.
Masa itu datang lagi. Pendeteksi rasamu cidera. Apa itu kecelakaan? Kau berusaha menutupinya lagi. Kau. Apa kau terus seperti itu? Aku tahu tak semudah itu terungkap. Bukan lah angin yang dengan mudah berhembus. Kau bukan sama sekali. Sepoi atau topan. Tapi ada sedikit kemiripan. Entah aku salah menerka atau...  entahlah. └(^o^)┘
Aku belum pandai menilai, tapi aku punya asumsi dan prediksi. Setelah kau terjatuh dan mengalami kecelakaan lagi. Kau cukup menyimpan ketakutan yang hebat. Lalu kau tutup jendela dan pintu rumahmu. Di dalam, kau bertahan dan mencoba menegakkan diri yang lain. Kau masih dalam ketakutanmu. Terkadang tingkahmu mengeras. Tergolong sebuah pertahanan atau dampak dari trauma yang mengganggumu. Kata-katamu memudar. Kau seolah kehilangan kemampuanmu. Tak dapat mengungkapkannya kau berusaha menangani masalahmu sendiri. Kau. Kau mulai bisu, tapi sesuatu dalam dirimu terus berteriak. Aku. Aku belum dapat mendengarnya dengan jelas. Untuk saat ini, bertahan lah pada posisi itu. Jamsiman. Jamsiman.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS