Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Sama-sama

Bukan siapa-siapa
Belum jadi apa-apa
Lantas, bagaimana? 

Yang dilakukan hari ini,
bukanlah apa-apa
Didasari perasaan memiliki sesuatu yang lebih, kah? 

Bukan
Bukan karena perasaan,
tapi kewajiban
Tanggung jawab 

Kata-kata yang mengatakan itu baik
Kesombongan, kah?
Tidak
Tujuannya bukan itu
Melainkan pelajaran
Perenungan 

Yang mengatakan pun masih berusaha,
berusaha mempelajari untuk paham
Berusaha merenung agar sadar
Sama-sama sadar
Sama-sama memperbaiki
Membenahi apa yang perlu dibenahi


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kantuk Kerinduan

Berat.
Tubuh ini begitu lemas,
mataku lelah,
ingin rasanya terpejam sedikit lebih lama. 

Hari ini lebih sejuk dari biasanya.
30° celcius.
Sementara kemarin, mencapai 35°.
Apa itu sebabnya aku mengantuk? 

Tapi, biasanya helai kantuk muncul karena ada angin yang berembus.
Apakah itu kau, angin kerinduan?
Benarkah? 

Diam-diam kau merayap masuk ke jendela hatiku, ya?
Mungkin ini sebabnya aku mengantuk. 

Kantukku adalah kantuk kerinduan.
Mimpilah tempat di mana aku akan berjumpa,
berjumpa denganmu yang kurindukan. 





Jakarta, 15 November 2019

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perdamaian Dunia Menciptakan Kesejahteraan Umat Manusia


Annisa Ratna Pratiwi
A.    Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Pemikiran atau konsep lahir dari konteks zamannya. Demikian pula dengan gagasan Islam Rahmatan lil ‘Alamin ini. Secara bahasa, kata Islam berasal dari kata salama yang berarti damai, kemanan, kenyamanan dan perlindungan.[1]
Istilah Islam rahmatan lil ‘alamin merupakan istilah yang bersumber dan tercantum dalam Alquran (building in Islam), yakni dipetik dari salah satu ayat yaitu, “Wa Maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam).”[2] Allah swt langsung yang memberikan istilah tersebut untuk menyebut sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.[3]
Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, artinya agama Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Tuhan semesta alam untuk mengelola seluruh alam dunia ini dengan penuh rahmat dan kasih sayang. [4]Menurut Muhammad Tahir-ul-Qadri dalam Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, “Seperti makna literalnya, Islam adalah pernyataan absolut tentang perdamaian. Dan sebagai agama, Islam adalah manifestasi damai itu sendiri. Islam mendorong manusia untuk menciptakan hidup proporsional, damai, penuh kebaikan, keseimbangan, toleransi, sabar, dan menahan amarah.” Dari kata salama menjadi yasaalamu, salaaman, dan salaamatan, serta kata turunan lainnya, yang di dalam Alquran menjelaskan bahwa setiap kata berasal, terderivasi, serta terkonjungsi dari kata Islam, secara esensial merujuk kepada pengertian damai, keamanan, dan kenyamanan.[5]
B.     Konsep Dasar tentang Konflik Perdamaian pada Zaman Islam Klasik
Konsep Islam yang berlebihan oleh negara-negara Barat sebagai ideologi yang gemar perang, dan masyarakatnya (kaum muslimin) dipandang sebagai penjajah yang degil muncul secara luas selama periode Perang Salib, walaupun sikap yang mewarnai pandangan ini tersebar lebih dulu dalam masyarakat Nasrani Eropa. Mereka tidak begitu mengetahui tentang Muhammad, Alquran, hukum Islam, cara-cara berperang, hubungan Internasional, termasuk membayar upeti, yang mana diperlakukan dari sudut pandang sistem hukum yang memperlihatkan agama dan pemikiran ahli-ahli hukum.
Ada beberapa konsep dan pengertian pokok yang mendasari pemikiran Islam terhadap konflik, perbedaan, perlindungan dan perdamaian. Sumber yang menyebutkan nama agama Islam, seperti halnya kata “muslim” yang dinamakan salam, dalam bahasa Yahudi “shalom”, “damai, sejahtera, sehat”. Pengucapan salam dalam Islam sebenarnya serupa dalam bahasa Yahudi: “shalom aleichem”, semoga damai dilimpahkan atasmu. Islam ketaatan sangat berhubungan erat dengan salam (salm, silm) yang berarti damai, bukan semata-mata karena ada konflik, namun sungguh-sungguh karena menunjukkan kesehatan dan kesejahteraan. Islam mengajarkan di setiap perjumpaan saling mengucapkan salam, “assalamu’alaikum”, memberikan makna damai bagi semua manusia. [6] Kata salam di dalam agama berasal dari akar kata yang sama seperti salam yang berarti damai. Islam adalah suatu agama yang damai. Kata seperti ini lebih digunakan sebagai suatu kata sifat dibanding suatu kata benda. Setelah Islam diadopsi sebagai sistem kepercayaan oleh perorangan atau suatu kelompok maka Islam menjadi suatu tindakan dan suatu gaya hidup, tunggal atau jamak, maskulin atau feminin. Salah satu dari turunan kata benda adalah al-silm, yang berarti pada waktu yang sama Islam dan damai. Al-salam (salam dengan artikel al) yang berarti damai atau tentram adalah salah satu dari 99 sifat yang dimiliki Tuhan.[7]
C.    Sejarah Islam dalam Membangun Peradaban dan Perdamaian
Nabi Muhammad saw yang hidup dan lahir di tengah-tengah jazirah Arab merasa sangat prihatin terhadap perilaku kaumnya. Mereka hidup terpecah belah, egoisme, dan barbarism. Oleh karena itu, dengan semangat pembaharuan yang beliau bawa pada masa awal penyebaran Islam, secara bertahap, beliau bersama para pengikutnya berhasil memporak-porandakan adat jahiliah yang menghamba pada berhala-berhala dan dewa-dewa. Sejarah juga mencatat, cahaya Islam mampu menyadarkan manusia untuk menghilangkan strata sosial yang membawa pada primordialisme, kolonialisme, dan perbudakan.
Dengan cara dan metode yang baik, beliau mampu membawa umatnya pada nilai-nilai kemanusiaan yang anti kekerasan dan mencintai perdamaian. Tidak banyak waktu yang diperlukan Muhammad dalam menyampaikan sendi-sendi ajaran agamanya (Islam) ke seluruh dunia. Sebelum wafatnya (pada usia yang ke-63), Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kaum Muslimin.
Karen Amstrong, mantan biarawati Katolik dalam bukunya A History of God: The 4,000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632 M, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah. Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi mereka. Ia yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar, sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah peradaban baru yang unik dan modern.[8]
D.    Pentingnya Hidup Damai sebagai Masyarakat/Bangsa untuk Dunia
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yakni berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa. Semua manusia sama saja derajat kemanusiaannya, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku lainnya. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal dan dengan demikian saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi antara satu kelompok dengan lainnya. Allah tidak menyukai orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kekayaan atau kepangkatan karena sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang lahir maupun yang tersembunyi, Mahateliti sehingga tidak satu pun gerak-gerik dan perbuatan manusia yang luput dari ilmu-Nya.[9]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa, perbedaan merupakan fakta hidup, baik beda bangsa, suku, ras dan budaya bukanlah bahan dan panggung untuk melakukan pertentangan maupun perselisihan, hal ini pun belaku pada perbedaan agama.
Lalu, apa yang Islam katakan dalam kaitannya dengan hubungan internasional yang didasarkan pada keadilan dan sarana untuk membangun perdamaian? Dalam Alquran, Tuhan Maha Kuasa menjelaskan bahwa sementara latar belakang kebangsaan dan kesukaan kita bertindak sebagai sarana identitas, mereka tidak berhak atau memvalidasi bentuk superioritas, apapun bentuknya (QS. Al-Hujurat [49]: 14).[10]
Hubungan antara pluralitas kehidupan keberagaman dan ajaran toleransi dalam Islam pun harus sedapat mungkin dicermati sebagai kenyataan sosiologis, dan tidak dipandang sebagai adanya pertemuan dalam masalah-masalah teologis.[11] Dalam dimensi sosial, pentingnya memelihara dan meningkatkan perdamaian bangsa dan dunia, setidaknya berkaitan dengan 4 (empat) hal, yaitu:
1.  Perkembangan dunia modern yang menunjukkan bahwa perdamaian lebih penting dari sebelumnya. Globalisasi ekonomi dan semakin meningkatnya mobilitas, komunikasi, integrasi dan interdependensi, perpindahan dan persebaran penduduk, yang berubah merupakan jembatan dalam menjalin komunikasi dan kerjasama antarsesama manusia;
2.      Toleransi diperlukan antara orang-seseorang, keluarga dan panguyuban. Promosi toleransi dan pembentukan sikap keterbukaan, saling mendengar dan solidaritas;
3.      Persamaan hak hidup dan Ras, untuk menjamin persamaan harkat dan hak-hak seseorang dan kelompok, terutama berkaitan dengan perlindungan hukum dan sosial baik mengenai perumahan, pekerjaan, kesehatan, menghormati keaslian kebudayaan, memberi kemudahan pada kemajuan dan integrasi sosial, terutama melalui pendidikan; dan  
4.  Studi-studi dan jaringan kerja ilmiah dilaksanakan untuk mengkoordinasi panguyuban internasional pada tantangan global sekarang ini, termasuk analisis oleh sains sosial mengenai akar permasalahan yang tejadi, oleh karena itu, penelitian yang dilakukan dapat mendukung tindakan pengambilan kebijakan dan penetapan standar oleh negara-negara terkait. [12]
Dari tulisan saya di atas, kita bisa menarik benang merah bahwa nilai-nilai perdamaian pada hakikatnya banyak termaktub dalam Alquran dan juga secara jelas diindikasikan dalam berbagai riwayat Hadis Nabi. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran, dan tidak ada satu Hadis pun yang mengobarkan semangat kebencian, permusuhan, pertentangan, atau segala bentuk perilaku negatif dan represif yang mengancam stabilitas dan kualitas kedamaian hidup. Alquran menegaskan bahwa Rasulullah saw diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 10). Zuhairi Misrawi menyatakan bahwa ada dua hal utama yang perlu diketahui dari ayat tersebut. Pertama, makna rahmatan; secara linguistik, rahmatun berarti kelembutan dan kepedulian (al-riqqah wa al-ta’aththuf). Kedua, makna lil’alamin; para ulama berbeda pendapat dalam memahami ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa cinta kasih Rasulullah saw hanya untuk orang muslim saja. Tapi ulama lain berpendapat bahwa cinta kasih Rasulullah saw untuk semua umat manusia. Hal ini mengacu pada ayat terdahulu yang menyatakan bahwa Rasulullah saw diutus untuk seluruh umat manusia (kaffatan li an-nas). Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan pula bahwa “Sesungguhnya saya tidak diutus sebagai pemberi laknat, tapi saya diutus untuk memberi rahmat.”
Islam yang rahmatan lil’alamin merupakan perwujudan dari nilai-nilai universal yang terkandung dalam pokok ajaran Islam, yakni Alquran maupun Sunnah Nabi Muhammad. Nilai yang mengedepankan keharmonisan, kedamaian, dan kemaslahatan bagi semua. Sehingga nilai-nilai itulah yang seharusnya diambil, dipahami, dan kemudian berusaha dipraktekkan oleh umat manusia pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya.
Perdamaian harus menjadi kekuatan penuh untuk membangun peradaban manusia, terutama di era globalisasi ini. Perdamaian merupakan warisan tradisi yang sangat penting, menarik, dan patut dicontoh daripada warisan perang. Sebab dalam tradisi perdamaian yang ada adalah kebahagiaan, keharmonisan, serta kenangan yang manis dan indah antara pelbagai masyarakat dan agama-agama.[13] Budaya yang damai, agama yang damai, pasti akan menciptakan bangsa dan negara yang damai. Jika Negara-negara di dunia damai, maka terciptalah kedamaian dunia.

   
DAFTAR PUSTAKA

Agama RI, Departemen. 2009. Al-Qur’an dan Tafsirnya, Vol: 9. Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur’an dan Departemen Agama.
Ahmad, Mirza Masroor. 2013. Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian. Terjemahan Ekky Q. Sabandi. Yogyakarta: Neratja Press.
Ghazali, Adeng Muchtar. 2016. “Toleransi Beragama dan Kerukunan dalam Perspektif Islam” Religious.
Irawan, Deni. 2014. “Islam dan Peace Building”. Religi. Vol. X No. 2.
Misrawi, Zuhairi. 2010. Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lil ‘Alamin  Jakarta: Pustaka Oasis.
Mubarak, Zakky. “Sejarah Nabi Muhammad (5): Membangun Peradaban Kemanusiaan”, https://islam.nu.or.id/post/read/85434/sejarah-nabi-muhammad-5-membangun-peradaban-kemanusiaan
Ramli, Muhammad Idrus. 2011. “Rahmatan Lil-Alamin dan Toleransi”, Islamia: Jurnal Pemikiran Islam Republika.
Rasyid, Muhammad Makmun. 2016. “Islam Rahmatan Lil Alamin Perspektif KH. Hasyim Muzadi”. Episteme. Vol. 11. No. 1.
Rohimat, Asep Maulana. 2018. Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Gerbang Media.
Yahya, Ismail “Islam Rahmatan Lil’alamin”, http://www,iain-surakarta.ac.id/?p=12750
 
 






[1] Ismail Yahya, “Islam Rahmatan Lil’alamin”, http://www,iain-surakarta.ac.id/?p=12750 (diakses 4 November 2019).
[2] Muhammad Idrus Ramli, “Rahmatan Lil-Alamin dan Toleransi”, Islamia: Jurnal Pemikiran Islam Republika,15 Desember 2011, h. 25.
[3] Muhammad Makmun Rasyid, “Islam Rahmatan Lil Alamin Perspektif KH. Hasyim Muzadi”, Episteme, Vol. 11, No. 1, Juni 2016, h. 101.
[4] Asep Maulana Rohimat, Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Gerbang Media, 2018), h. 4.
[5] Yahya, “Islam Rahmatan Lil’alamin”.
[6] Deni Irawan, “Islam dan Peace Building”, Religi, Vol. X No. 2, Juli 2014, h. 161.
[7] Irawan, “Islam dan Peace Building”, h. 162.
[8] Zakky Mubarak, “Sejarah Nabi Muhammad (5): Membangun Peradaban Kemanusiaan”, https://islam.nu.or.id/post/read/85434/sejarah-nabi-muhammad-5-membangun-peradaban-kemanusiaan (diakses 4 November 2019).
[9] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Vol: 9, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur’an dan Departemen Agama, 2009), h. 419.
[10] Mirza Masroor Ahmad, Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, terjemahan Ekky Q. Sabandi, (Yogyakarta: Neratja Press, 2013)
[11] Adeng Muchtar Ghazali, “Toleransi Beragama dan Kerukunan dalam Perspektif Islam”, Religious, I, 1 (September 2016), h. 32.
[12] Ghazali, “Toleransi Beragama dan Kerukunan dalam Perspektif Islam”, h. 32.
[13] Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), h. 334.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS