Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Gubuk Cahaya

Ramai dalam tenang
Rasakan saja
Tak bersuara namun gaduh
Mengapa?
Coba kau cermati
Apakah teriakan mereka tak sampai ke otakmu?
Mereka sedang berpesta
Kumpulan kata, jutaan bahasa,
milyaran pelita, atau bahkan tak terhingga
Sunyi yang terselip di gubuk cahaya
Kau mempercayainya, sekarang?
Kalau begitu, di mana tempat favoritmu?
Aku...
Aku punya satu
Di sudut jendela itu
Ya, di situ
Kalau mau, kau boleh ambil satu di sampingku


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lorong Semalam

Lorong semalam. Hanya titik putih tulang yang tampak.
Duhai rembulan, apakah kau telah purnama lagi?
Esok dan esok aku kan menjumpaimu saat sabit.
Lalu, bentuk apa yang akan kujumpai malam nanti?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Bersamamu

Cerita itu ada, karena ada kenyataan di belakangnya
Kisah itu hidup, karena ada seni yang menegakkan jalannya
Opera itu tercipta, karena aku tak melupakan sejarah masa lalu
Sejarah singkat tempo dulu bersamamu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Senandung Pagi


Kau dengar sesuatu?
Menurutmu suara apa?
Coba hayati iramanya

Ialah semilir pagi yang menjemput keceriaan hari ini
Kau belum pernah mendengar melodi memesona, bukan?  

Nikmat itu dekat, 
kalau kau mau mensyukurinya 
Sapalah sang semilir pagi 
Beri ia senyuman terindahmu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lakon Biasa

Ini hanya sebuah perjalanan. Setiap orang pasti punya arah masing-masing, walaupun tak semua sudah mendapatkan tujuannya. Banyak yang hanya berputar atau tak tentu arah.
Bermula dari rencana ayah yang ingin anak sulungnya bersekolah di sarang lama yang kini mengganti merek sampulnya. IKIP Jakarta-UNJ.
Entah apa yang terlintas dan mengapa seperti itu? Entahlah. Sudah lama berlalu. Biarkan saja.
Ujung-ujungnya memutuskan bersarang di "Penjara Suci". Istilah yang cukup..., ah, tak mau meneruskannya.
Mengapa di Ibukota? Tidak apa-apa. Hanya..., takdir mungkin. Jawaban singkat diiringi senyum simpul. Simpel saja.
Memang bukan daerah baru, karena beberapa tahun silam pernah singgah di surga itu. Hanya melanjutkan? Tidak juga. Lama pergi dari sana, jadi agak sedikit canggung.
Well. All is well. Just trust. It must. Yeah.
Awalnya masih menengadakhan tangan. Masih merangkak. Apa boleh buat. Lama kelamaan mulai bangkit. Kayuh saja sepedanya menuju gerbang di depan sana. Sesekali coba gaya lepas tangan. Terkadang terlintas, "Mengapa cukup berat juga, ya?"
Ah, masih banyak yang posisinya di bawah sana, bahkan mungkin tak dapat melihat mereka. Saking dalamnya.
Bermodal beasiswa? Emm, suatu kebanggaan tersendiri bukan? Walaupun bukan full beasiswa. Semuanya patut disyukuri. Ahamdulillah.
Hidup harus secukupnya. Why? Masih banyak kebutuhan lain. Semuanya butuh perhitungan. Meski tak dapat dipungkiri terkadang hampir saja tak mencukupi.
Selama bisa sendiri, mengapa harus menengadah lagi? Tidak. Lakon biasa itu mencoba menanggungnya sendiri. Belum bisa memberi, setidaknya tidak menggantungkan diri.
Sekarang sudah dapat berdiri sendiri dan berjalan kesana-kemari? Begitulah, setidaknya tidak merangkak lagi meski belum dapat berlari.
Sebentar, dapat darimana?
Apa?
Sisa untuk mencukupi yang tak sempurna itu.
Oh. Tak sempurna. Sang lakon biasa tersenyum lagi. Bukan full, ya?
Memang tak sampai akhir pula. Hanya hingga tangga ke tiga. Bisa dibilang butuh satu tangga lagi untuk mencapai finish.
Lalu bagaimana?
Tenang saja, toh, kalau memang rejeki, pasti dipertemukan. Hanya bermodal diam saja? Tentu tidak. Ada usaha, ada hasil.
---Bersambung ヾ(^-^)ノ•°`………`•°

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nyate Bareng AIC 2016


Jakarta – Dalam rangka menyemarakkan peringatan Idul Adha ke-1437 H., Pon. Pes. Assiddiqiyah Pusat mengadakan “Nyate Bareng” bersama, Selasa (13/9/2016). Persiapan pemotongan daging sebelum pembakaran dilakukan pada pukul 09.00 WIB. Sekitar sepuluh menit kemudian barulah para panitia membagikan arang ke alat pembakaran tiap-tiap peserta “Nyate Bareng”. Ratusan santri yang didampingi para wali kelas dan wali asuh asramanya tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang memotong daging kurban, menusuk potongan daging dengan tusuk sate, hingga meracik bumbu.

Dipimpin oleh Lurah Pondok, Ust. Husni Mubarok, Lc, warga Asshiddiqiyah mengumandangkan takbir diiringi dengan tabuhan bedug. Suasana begitu meriah dan para santri  duduk rapi di lapangan menyambut kehadiran para tamu undangan. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaann acara oleh pengasuh dan sambutan dari beberapa tamu undangan.

Dengan wajah ceria, para santri putra dan putri membakar sate bersama di lapangan. Secara bergiliran mereka mengipas sate di alat pembakaran. “Nyate di pondok lebih seru, soalnya bareng-bareng sama temen-temen,” ujar Indah, santri kelas VIII SMP Manba’ul Ulum Asshiddiqiyah. Tak hanya pandai dalam mengaji dan berbahasa Internasional saja (Arab-Inggris), mereka pun mahir membuat sajian sate yang lezat.

Tradisi “Nyate Bareng” telah berlangsung selama tiga tahun ini. Dengan tradisi tersebut, pengasuh bermaksud menjaga kebersamaan, menambah rasa syukur kepada Allah swt. dan meningkatkan kekreativitasan santri khususnya dalam bidang kuliner.

SNAPSHOTS

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas 4A.1 Madin (05-09-16)

Change these blank with simple present or continuous form!

1. My family and I often ... (swim) in "Harapan Indah" swimming pool every Sunday.
2. Zoey Lou normally ... (make) a wonderful dress design.
3.  Look! What ... (Inuyasha/catch) over there?

Translate into English!

1. Fara dan Fahry biasanya pergi ke tempat les bahasa Prancis bersama dengan berjalan kaki. Sekarang mereka pergi ke sana dengan menggunakan mobil pribadi.

2. Devira berencana akan berkunjung ke rumah neneknya hari  Sabtu depan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karangan Kenyataan

Di saat yang lain dapat bercerita, kau bukan salah satu dari mereka. Apa itu kemauanmu? Bukan, tapi karena ketidak mampuanmu.

Apa karena kau tak mempercayai siapapun? Bukan. Bukan begitu. Hanya saja, ungkapan yang mengendap begitu sulit kau terbangkan bersama angin yang berhembus.

Dalam diam, kau mengarangnya. Tak bermaksud berbohong, kau hanya menuliskan kisah yang baru. Imajinasi yang pada hakikatnya adalah sebuah kenyataan.

Dalam diam, tinta itu bercerita pada secarik kertas. Kisahnya mengalir. Di tengah perjalanan menuju muara, ia menepi sejenak di lembar-lembar kehidupan. Mempelajari dan menikmati apa artinya sebuah kepastian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS