Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Datang dan Pergi

Hei, tahu tidak, bagaimana rasanya menggenggam angin? 

Pertanyaanku memang tak masuk akal, tapi apakah itu tidak bisa dijadikan sebagai harapan? 

Apa salah, jika di suatu malam aku bermimpi, angin yang tak kasatmata dan tak berupa namun terasa itu, benar-benar berada dalam genggamanku? 

Apa aku salah, jika dunia di mimpiku yang lebih indah dari kenyataan, membuatku tak ingin terbangun dan memilih untuk tetap tinggal? 

Apa yang salah dengan pemikiranku? Apa? Tidakkah kau pernah memikirkan yang seperti itu? Atau, hanya aku saja, kah? 

Tiket, kau memberikannya kepadaku beberapa tahun lalu. Aku berterima kasih dan menerimanya dengan perasaan yang amat senang. Aku tahu, kesempatan belum mengetukkan jarinya ke pintuku, oleh karena itu, aku baru bisa berkata, "Semoga malam ini aku dapat pergi ke sana, melewati jembatan dan menikmati keindahan di atasnya. Semoga aku bisa berkunjung ke menara manapun, selama di sana aku dapat mengabadikan momen walaupun hanya sederhana, tapi itu cukup membuatku merasa istimewa. Menara mana saja, tidak harus yang terindah." 

'Semoga-semoga' yang seperti itu, semoga saja hadir di dalam mimpiku. 

"Tak lupa pula suara ombak berdebur sepanjang kau bertengger di jembatan itu."  Oh ya, kau benar. Hampir saja aku melupakannya. 

"Nanti, aku juga akan melambaikan tanganku kepada camar-camar yang terbang bebas di udara. Kapal-kapal yang sibuk berlalu lalang. Ya, akupun akan menikmati pemandangan tersebut." Rencana yang menyenangkan. Semoga suatu saat aku benar-benar dapat berada di sana. 

"Gelecek ablam inşallah." Terima kasih atas doanya. 

Aku tahu kau akan pergi. Selelah kau selamat sampai tujuanmu, aku senang dan bersyukur. Kemudian, kau menghilang. Menghilang dan membuatku merasakan ada sesuatu yang hilang pula. 

Dalam kekosongan, aku mengisinya dengan mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Rutinitasku, tanggung jawabku. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menghampiriku. Apakah sesuatu itu mendatangiku? Ah, aku lupa akan rasa. Apakah karena terlalu lama memendam, lalu menganggapnya tak ada, membuatku menjadi 'tak peka'? Kalau begitu, itu apa? Apa namanya? 



Di siang yang terik, kau datang seperti notifikasi di ponselku yang tiba-tiba saja berbunyi setelah sekian lama mati. Tunggu, apa itu benar-benar dirimu? Atau hanya sebatas notifikasi di ponselku?

Alah mak. Ternyata itu sekadar notifikasi. 

Lalu, apakah sesuatu yang baru itu dinamakan sebuah kedatangan, kehadiran? Tapi aku butuh kejelasan. Kalau begitu, dapatkah seseorang menjelaskannya kepadaku? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar