Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Cangkarong, Bukan Camilan Biasa

Hai, aku blogger biasa, dengan postingan biasa, tapi bagiku itu cukup istimewa meskipun sekadar tulisan-tulisan sederhana di dalamnya. 

Jadi begini, liburan lebaran kemarin tuh, aku minta bawain Cangkarong sama teman sekamarku di asrama. Hah? What the maksud? Cangkarong? 

Sebelumnya nggak tahu akutuh...,  kalau camilan itu namanya Cangkarong. Ikut-ikutan temanku saja, karena dia yang pernah bawa makanan itu sebelum aku request

Okay, Cangkarong terbuat dari nasi yang dikeringkan dan sudah diberi bumbu, (bukan bumbu yang ribet juga sih, guys, pakai garam atau penyedap rasa ditambah ulekan bawang putih doang, kok) lalu digoreng seperti halnya kerupuk. Kalau suka lebih asin, bisa ditaburkan garam ataupun bubuk perisa lagi setelah digoreng. Yah, masukkan saja garam dan Cangkarongnya kedalam plastik atau wadah apapun, terus dikocok-kocok, deh. Yeay, shake them well (alah mak, sudak kayak tutorial how to make, saja nih). 



Suka banget akutuh..., makan Cangkarong. Sensasi gurihnya saat dikunyah, ditambah aroma bawang putih yang sedap itu sangat membuatku bahagia. Sederhana banget kan, akutuh...? Ya, kan? 



Haha, padahal katanya, aku itu nggak punya selera makan. Hmm, ok fix. I'm ok, about it. Ya, gimana lagi, daging nggak suka, pokoknya makanan yang bernyawa, aku nggak suka, nggak doyan. Paling cuma ayam seorang, (sehewan kali, yak) itupun cuma sedikit. Makan yang dagingnya doang. Yah, semacam rice box ala K*C. Nah, pure daging tanpa tulang, terus ditepungin.

Wah, jadi kemana-mana, nih. Ok, balik lagi ke Cangkarong. 

Kemarin, Sabtu, 22 Juni, HUT Jakarta. Aji mumpung Transjakarta gratisan. Pergi sejauh apapun, gratis deh, pokoknya seharian. Yah, walaupun cuma Rp. 3.500, lumayan. Mana hari itu ada yang tidak menyenangkan, lagi. Rasanya sakit, tapi nggak berdarah, nggak berwujud luka. Intinya nggak enak hati, akutuh....  Pas banget, manfaatin saja buat pulang ke Bekasi (maunya curhat sama ibu, tapi..., curhat sama Allah aja deh, pas shalat hajat dan taubat di rumah, aseek) 

"Assalamualaikum. Halo... aku pulang," sambil buka pintu lalu salim ke ayahku. 

"Waalaikum salam warahmatullah." Sebelumnya sudah beri kabar via chat kalau mau pulang, "Dari sana jam berapa?" 

"Sekitaran jam tujuh kurang, Pah." Aku tiba di rumah pukul sembilan malam, lebih berapa menit, gitu. Em..., apa hampir setengah sepuluh ya? Adaw, lupa akutuh....

"Anis pulang lagi?" Ibuku baru saja keluar dari kamar. Maklum, bundahara sibuk dengan urusannya. 

"Iya," kuraih tangan ibuku lalu menciumnya, "Tapi nanti Senin balik lagi. Langsung ngantor."

"Oh iya," aku mengeluarkan sebungkus Cangkarong mentah dari dalam tas, "Tadda! Cangkarong."

"Ngapain, nasi aking gitu dibawa-bawa?" ayahku meledek. 

"Biarin Pah, special request dari Madura, ini tuh...." Aslinya rumah temanku di Jember,  tapi karena kampungnya di Madura, jadi aku bilangnya Madura. Padahal, kayaknya ngeringin nasinya di Jember, deh. Hehe.

"Ah, Anis mah aneh. Daging gak mau, yang begituan malah doyan."

"Gapapa, Mah..., orang doyannya begitu. Malahan lebih murah."

"Sudah shalat Isya?"

"Belum. Habis ini baru shalat. Mau ngaso dulu, Pah."

Hayati lelah, lelah jiwa dan raga. Malam-malam begini, memang paling enak curhat. Sepi, hening. Maklum lah, manusia banyak dosa, masih sering gundah. Yah, habis curhat-curhat bombay, ngemil Cangkorang kayaknya asyik. Digoreng besok, ah..., Cangkorangnya. 

Hari pun berganti. Waktunya menggoreng Cangkarong. Yeay! Setelah digoreng, tambahkan bumbu barbeque deh, mumpung ada. 

Cangkarong, oh..., Cangkarong. Walaupun kau berasal dari makanan sisa, tapi rasa yang kau sisakan untukku adalah sebuah kenikmatan, dan itu cukup membuatku bahagia. Alhamdulillah. 

By the way, apa nama Cangkarong dalam bahasamu, kawan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Boomingkan cengkarong!!!

Naera mengatakan...

Yeay! Cangkarong! Cangkorang!

Posting Komentar