Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Menangkap Dua Cahaya

Tumpukan kertas, dokumen-dokumen, arsip. Apakah itu makanan di malam Minggu?

Tidak berada di luar ruangan, hanya mencoba menghindari cahaya lampu, berteduh dari hal yang menyilaukan, "Bintang, apakah kau dapat mendengar suaraku?" Tubuhnya terkapar di atas busa  lapis dua. Matanya terpejam, di atasnya terdapat selembar kertas, sebagai tameng rupanya. 

"Bintang, bolehkah kali ini aku mengungkapkan sesuatu?" Tak ada suara apapun, hanya sebuah kata hati. 

Ruangan itu sepi. Tak hanya seorang diri, tapi seorang yang satunya sedang sibuk sendiri. Merajut, hal yg ingin dicobanya sejak lama, tapi belum pernah belajar dan mencoba, hanya menyulam saja. Iya, menyulam. Ia senang menjahit dan menyulam, tapi malam ini yang ia sulam adalah kertas-kertas itu. 

Memejamkan mata, menerawang dalam dan lebih dalam lagi. "Bintang, aku seakan tak kuasa membendungnya. Aku harus mengatakannya. Sudah banyak hal yang kupendam selama ini. Bahkan saking banyaknya, aku hampir tak mengingat apa yang terpendam itu," Semakin gelap, seperti berada di ruang hampa. 

"Apa yang akan kau katan. Ceritakan saja. Bukankah kau sering menyuguhkanku pertanyaan dalam bentuk cerita?" Suara Bintang. Benarkah? Ah, ruang hampa itu kedatangan tamu. Cahaya terang di sana, sepertinya tidak asing. 

"Wah, kau mendengar apa yang bahkan belum kuucapkan, Bintang." 

"Aku dapat merasakannya. Teruskan saja apa yang hendak kau sampaikan." 

"Apa aku merasakan bosan? Kebosanan yang tak beralasan muncul di antara tumpukan..., entahlah, harus kusebut apa tumpukan itu." Matanya mulai terbuka. Ia duduk, mendapati dirinya benar-benar hanya seorang diri. Kemana perginya seorang tadi? Ah, lengkap sudah. Malam ini, benar-benar. Ia merebahkan tubuh dan memejamkan matanya lagi. 

"Aku bingung ingin mengatakan apa. Apa karena kondisiku sedang kurang baik? Hei, mengapa aku merasa kekurangan? Aduh, aku kesulitan mengungkapkannya."

"Tak usah bingung. Sudah kubilang katakan saja, apapun itu," Bintang, sepertinya ia tersenyum. Senyum yang ramah. Ah, bukan, itu hanya imajinasinya. 

"Bintang, apa aku terlalu egois dan sembrono karena merasa ada yang kurang? Apakah aku tidak cukup bersyukur?" 

"Memang sedikit dari sekian banyak orang yang bersyukur. Maka dari itu, Ia menjadikan mereka yang bersyukur adalah golongan orang-orang yang khusus." 

"Yah, pada hakekatnya seorang yang tidak bersyukur tidak akan menjadi orang yang sabar. Pada hakekatnya orang yang tidak sabar, tidak akan menjadi orang yang bersyukur jikalau ia tidak menjalani ujian atau kesulitan dengan kelapangan hati. Pada akhirnya, orang yang bersabarlah yang lebih baik karena ia telah melalui kesulitan, menerimanya, dan bersyukur." Melemparkan senyuman ke arah Bintang, Matanya menjadi seperti sebuah garis, sipit rupanya. 

"Kau kesulitan mengatakannya ya? Tapi aku paham yang kau maksud," Bintang membalas senyuman manis itu, lalu memudar, dan hilang. Bintang menghilang. 

Terbangun, mendapati khayalannya lenyap. Sekarang hanya ada kenyataan. Kertas-kertas masih di posisinya, dokumen-dokumen, arsip itu masih sama seperti tadi. "Antara dua. Ya, seharusnya kuusahakan untuk menangkap dan menggenggam erat keduanya. Dua cahaya itu, cahaya syukur dan kesabaran." 

Malam mulai larut. Seorang yang bersamanya telah kembali. Bintang yang berada di sana pun telah kembali. Di busa lapis dua, ia istirahatkan tubuhnya, pikirannya. Selamat beristirahat.

Naumuna sa'id naumuna mubarak

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar