Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Nenek Daun

Days by Days: Dua Misteri Masa Depan (Book 2)

Sepertinya Salza terlampau lelah. Seharian ia mengerjakan laporan untuk dua instansi. 

"Teh Mita, Salza minta dibangunin jam empat katanya kalau tidur-tidurannya jadi tidur beneran." Semoga setengah jam cukup buat dia istirahat. 

"Iya Ki, nanti aku bangunin." Semilir angin merembes masuk melalui pintu balkon kamarku, sore ini sepertinya akan turun hujan. 

Sejak seminggu lalu ia sering mengigau, sesekali merintih. Badannya pasti kelelahan, biasanya begitu. 

Aku teringat mimpinya, tumben-tumbenan ia bercerita. 

"Teh, aku mimpi, tapi jelas, padahal biasanya setting dalam mimpiku itu berantakan. Pindah-pindah gitu, Teh."

"Eh, mimpi apa kamu, Sa?"

"Mimpi nenek di masjid," wajahnya masih polos seperti biasanya. 

"Nenekmu, Sal? ia menggeleng lalu tersenyum. 

"Bukan, Teh. Nenek nggak dikenal." Ah, beruntung sekali, pantas saja kamu beberapa kali dipanggil "dek", coba mereka tahu berapa usiamu. "Teteh, dengerin ceritaku, ya?"

"Sok, atuh."

"Sepertinya waktu itu siang hari. Nggak tahu kenapa tiba-tiba aku masuk ke pekarangan masjid yang sepi dan hanya dipenuhi dedaunan di tanah."

"Kamu sendirian, Sa?"

"Ada nenek nggak dikenal. Nenek itu mungutin dedaunan, padahal jumlahnya banyak dan berserakan di pekarangan."

"Cuma berdua berarti?"

"Sepertinya begitu, nggak ada orang lain soalnya," ia menghela napas sejenak, "Lihat daunnya, aku males banget Teh, tapi nenek itu mungutin satu-satu, mulutnya komat-kamit apa gitu, nggak kedengaran, posisi kami masih berjauhan. Lalu daun yang diambilnya dari tanah dimasukkan ke dalam kantong plastik besar."

Salza mencari sapu, setelah menemukannya di pojokan gudang, ia menghampiri nenek tadi.

"Jangan, jangan pakai sapu lidi!" 

"Tapi dedaunannya banyak sekali, Nek. Lebih cepat pakai ini," sembari melakukan gerakan menyapu. 

"Nak, biarkan saya melakukan ini sendiri."

"Tapi nanti Nenek capek, Nek."

"Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?" tanya si nenek sambil merebut pelan sapu lidi itu dari tangan Salza. 

Katanya, mendengar ucapan nenek itu, seperti ada yang menusuk di sanubarinya. Bukan hanya Salza, aku yang mendengar ceritanya pun merasakan hal yang sama. 

Salza terdiam cukup lama setelah mendengar perkataan si nenek, tubuhnya terasa kaku. Ia hanya bisa memandangi nenek tua yang memungut daun seraya mengucapkan "Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, wa 'ala ali sayyidina Muhammad," lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik besar. 


Inspirated by: 20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar