Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Bestie Emang Njajan

Hari sudah semakin sore, tapi aku tidak bisa melihat momen syahdu terbenamnya dedek mentari. Sepetinya dia terlalu besar untuk sebutan itu. Bagaimana kalau kakak mentari? Yah, bagaimanapun, aku menyukainya ketika dia mulai menampakkan dirinya maupun saat ia tenggelam di ufuk timur. 

Aku iseng mencuci beberapa pasang pakaian. Aku berharap bisa menyelesaikannya dengan cepat, tapi ternyata waktu terus berlalu tanpa ampun, dan akhirnya aku telat. Telat mengaji rutinan di hari Senin bakda maghrib. 

Riri membuka pintu kamarku, “Ra, mau ngaji enggak?”

Entah mengapa rasanya senang, “Ih, pas banget deh. Emang dasar bestie keterlambatan. Emang boleh kita sekompak ini?”

Riri mengangguk sambil tersenyum. Dia seperti matahari yang memberikan sinar kehangatan pada setiap momen., “Helleee. Udah buruan.” Gadis Blora itu mencangking kitabnya, “Aku tunggu di depan gerbang, ya.”

Sesampainya di depan rumah kiai, kami menunduk-nunduk dan jalan mengendap-endap lewat samping mobil kiai. Syukurlah, masih ada ruang untuk kami lewat dan masuk ke dalam, biasanya ramai. 

Setelah mengaji di kediaman kiai, aku dan Riri duduk bersama di angkringan pinggir jalan, masih dalam suasana khidmat setelah menyimak pelajaran tentang penyucian diri. Kami memesan beberapa jajanan favorit untuk merayakan kebersamaan dan nikmat yang telah diberikan Allah.




Sambil mencicipi aci tusuk, aku berkata, “Tau gak, Ri? Aku selalu merasa begitu tenang setelah mengaji. Rasanya hatiku jadi lebih lapang dan penuh dengan kebaikan.”

Riri tersenyum simpul, “Iya, betul banget, Ra. Mengaji itu seperti membersihkan hati dan pikiran kita dari kekhilafan-kekhilafan kecil yang pernah diperbuat. Sungguh nikmat yang tidak bisa diukur dengan apapun.”

Sambil menikmati sate mie, aku menambahkan, “Kita harus bersyukur atas kesempatan ini, Riri. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk belajar agama secara langsung dari seorang kiai.”

Riri mengangguk setuju, “Bener banget, Ra. Kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Baik itu kesempatan belajar agama, keberadaan sahabat seperti kita, atau pun jajanan enak seperti yang kita nikmati sekarang.”

Kami melanjutkan makan dengan penuh rasa syukur dalam hati, menikmati kebersamaan dan nikmat yang telah diberikan Allah. Setelah selesai makan, kami berjalan pulang sambil bercerita dan tertawa bersama, merasa penuh berkat atas setiap momen yang telah kami jalani bersama.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar