Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Ustadzah Metal Ada?

Semilir pagi mengucap salamnya pada akhir pekan yang lumayan mendung. Matahari bersembunyi, mungkin malu pada Bulan semalam. 

Haduhh, laper badai, men. Pertolongan pertama pada perut keroncongan harus segera dilayangkan.

Mentang-mentang hari Ahad, belum mandi. Biarin, deh, ntar dulu. Lafar seqallee. Meluncur ke matbakh buat ambil nasi, pastinya.


Sampai kantin, "Emm, mau beli apa, yah?" terus ngasih duit gocengan ke si mbak. "Mau beli apa, hayo," kata mbak penjaga kantin. 


Mbak yang satunya sibuk nata-nata makanan di meja, "Anak-anak makan bersama di lapangan ya, Umi?" (panggilan gue Umi, coba? Apa iya?)


"Emang iya, Mbak? Saya nggak tahu, malah."


"Iya, makanya nasinya nggak dikeluarin," daku bingung, lalu nunjuk ke arah meja yang biasanya nangkring para baskom-baskom nasi. Eh, apa sih namanya, bukan baskom. Bakul nasi plastik. Iya, bakul nasi jumbo itu.

Eh, itu ada dua perasaan. Apa maksud nasinya gak dikeluarin, lah orang itu ada nasi di dalemnya, jeh?


Daku ambil kertas nasi, buat nadangin nasi, lah, pastinya. Si mbak tiba-tiba bilang gini, "Itu nasi kemaren." Lah, ternyata, "Oh, nasi semalem. Ya udah, saya mau nyari di dapur dulu ya, Mbak," daku pergi meluncur, euy. 

Daku berlalu, si mbak malah setengah berteriak, "Ini uangnya," sambil melambaikan tangan, "Iya Mbak, nanti balik lagi."


Deuh, paling malas menginjakkan kaki di dapur kotor. Biasa ngambil nasi di dapur bersih, sih. Sebenarnya biasa bilang "matbakh". Iya, dapur bahasa Arabnya "matbakh."


"Bang, bagi nasi dong!"


"Berapa banyak?" tanya si abang matbakh.


"Secentong aja, deh," tunggu dulu, kayaknya nasinya enak, pulen dan nampak berbeda, "Eh, nambah lagi, deh, Bang." Itu nasi uduk, pantas saja aroma dan rasanya berbeda. Senangnya gak habis-habis, deh rasanya.


"Elu nggak ikut makan di lapangan?" tanya si abang sok keren. Sontak dalam hati daku bicara, "What, elu? Ustadzah kayak gue dipanggil elu?" (preet, ceritanya jadi ustadzah, ceritanya doang) Kebayang adegan ngibas kerudung sambil benerin kaca mata hitam, What? Pardon me? Elu? Emang gue ustadzah metal? Hah, elu? 


Mentang-mentang pakai kerudung bergo abu-abu, plus rok levis lebar motiv kece, masih pakai baju tidur teddy bear, lalu daku masih terlihat unyu, sampai dirimu memanggilku "elu," hah?


Terserah. Lepas dari bayangan dan suara hati, daku jawab pertanyaan si Abang matbakh tadi, "Kagak." Simpel, jelas dan padat. Kagak, men. Gue kagak makan bareng di lapangan vroh! 


(๑^っ^๑)


#storytoday ☺

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar