Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Mencintai Baginda Rasulullah saw.

Bismillahirrahmaanirrahiim




 Kehidupan di dunia tidak akan pernah lepas dari rasa kasih sayang antar sesama. Rasa saling menyayangi manusia itu belum ada setetes pun dari sifat ar-rahman Allah swt. yang memberi tanpa dipinta, belum ada sepercik pun dari rasa belas kasih Rasulullah saw. kepada para umatnya. Ingatkah ketika ajal akan menjemput baginda nabi saw., kalimat terakhir apakah yang ditanyakan beliau kepada malaikat jibril as? Umati, umati, umati. Kalimat yang terucap dari lisan suci beliau mengisyaratkan akan kekhawatiran beliau terhadap nasib umatnya kelak.

       Ketika ditanyakan tentang sesuatu apakah yang paling kita perhatikan di dunia ini? Jelas sudah ‘diri kita sendiri’ jawabnya. Begitulah egoisnya para manusia yang lalai akan keberadaan makhluk Allah swt. paling sempurna yang harus lebih dicintai dan diutamakan. Ingatlah bahwa baginda nabi saw. harus lebih dicintai daripada diri sendiri, anak dan orangtua kita.

    Bagaimanakah hakikat mencintai baginda nabi saw?

      Mahabbah dan syauq adalah sebuah getaran yang bersifat qalbiyyah, getaran cinta dan rindu hati yang bisa mengantarkan untuk bermimpi bertemu orang yang kita cintai. Lalu bagaimanakah caranya untuk mengerakkan kalbu kita agar bisa mencintai dan merindu baginda Nabi saw? Pujian qosidah dan bersholawat adalah langkah utama untuk bisa menanamkan cinta suci di hati serta menggerakkan akal pikiran agar lebih mementingkan mahabbah kepada baginda Nabi saw., karena memang mencintai baginda Rasulullah saw. adalah hak Allah swt. dan baginda Nabi saw. yang harus kita tunaikan.

Ketika seseorang mencintai, sudah lazim harus adanya sikap ittiba’ dan ta’dzim terhadap orang yang ia cintai. Bukan hanya sekadar ungkapan cinta yang manis di bibir, namun benar-benar mengikuti jejak hidup dan mengagungkan derajat sang kekasihnya. Manakala seseorang sudah  menghiasi dirinya dengan akhlaqul karimah, berarti ia sudah ittiba’ mendekatkan dirinya untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah saw., ini pun jika ia melakukan ittiba’ tersebut dengan rasa cinta dan ta’dzim. Seandainya ia sudah ittiba’ kepada baginda Nabi saw. tetapi tidak merasa mencintai dan mengagungkan beliau ataupun sebaliknya, itu sama saja ibarat bahan makanan yang dimasak tanpa bumbu masakan dan garam.

Mencintai baginda Rasulullah saw. tidaklah terbatas oleh waktu tertentu, maulid Nabi saw. bukanlah hanya diadakan pada bulan Rabi’ul awal saja. Karena peringatan maulid sendiri adalah sebuah ungkapan kegembiraan kaum muslimin, wujud nyata rasa cinta kepada baginda Rasul saw. dengan mengagungkan lewat shalawat pujian dan mauidhah hasanah tentang kilas balik sirah Nabi Muhammad saw. Bukankah upacara pengibaran bendera sang saka merah putih Indonesia bisa diadakan kapan saja tanpa harus tepat tanggal 17 agustus?

قال الله تعالى في كتابه الكريم :

إن الله وملائكته يصلـّون على النبي يأيـها الذين أمنوا صلـّوا عليه وسلـّموا تسليما (الأحـزاب : 56)

Keagungan Nabi Muhammad saw. sudah tidak mungkin bisa kita ragukan lagi. Marilah kita tadaburi ayat suci al-Qur’an! Janganlah menjadi seperti mereka yang tersibukan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an dengan suara yang melengking indah tanpa pernah mentadaburi kandungan isi ayat yang dibaca, apalagi untuk mengamalkan isi ayat. Dari ayat di atas, kita dapat memahami bahwa sesungguhnya Allah swt. pun bersholawat yang bermakna rahmat dengan iringan ta’dzim kepada junjungan baginda Rasul saw., begitu pula para malaikat ikut serta bershalawat memohonkan ampunan untuk beliau. Sungguh malu kalau sebagai hamba tidak pernah memanjat do’a shalawat dan salam kepada beliau! Cermatilah, perintah Allah swt. kepada orang-orang yang beriman untuk bershalawat yang diiringi salam, oleh karena itu sayogyanya kita mendawamkan lisan dengan dzikir "Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, Allahumma shalli ‘alaihi wa sallim," yakni lebih afdhal-nya dengan iringan kalimat as – shalah dan as – salam.

     Kenapa kita harus mencintai baginda Rasulullah saw?

قال الشاعـر :

وانعـقد الاجمـاع أن المصــطفى # أفضل الخـلق والخـُـلفُ انتـفىَ

Sang pujangga bersyair, para ulama pun sudah bersepakat bahwa Nabi Muhammad saw. al-musthofa adalah makhluk Allah swt. yang paling utama di muka bumi tanpa ada perselisihan sama sekali. Beliaulah sang pembawa bendera rahmat semesta alam, tanpa wujudnya tidak akan diwahyukan al-Qur’anul karim yang ketika lisan membacanya sudah menjadi ibadah, tidak akan diturunkan malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan, tidak akan disyari’atkan agama islam yang menjadi satu-satunya agama yang diterima kebenarannya disisi Allah swt. Untuk alasan apalagi kita tidak berlomba-lomba menjadi kekasih baginda nabi saw. yang bersamanya di telaga al kautsar?

Nabi saw. bersabda :

عـن النـّّبي صلى الله عليه وسـلّم أنـّـه قـــــال : المـََــرْْء مع مــََـن أحـــبّّّ (رواه البخاري)

Beberapa poin penting menjawab pertanyaan kenapa kita harus mencintai baginda rosul saw. adalah sebagai berikut :

a)   Al Ihsan, salah satu awal tumbuhnya rasa mahabbah pada hati seseorang terhadap sesama adalah karena sikap orang lain yang telah berbuat baik untuk dirinya. Bahkan sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mencintai dan membalas budi kepada orang yang pernah berbuat kebaikan untuk kemaslahatan hidup kita di dunia, dan beliaulah sebaik-baiknya makhluk Allah swt. yang telah berbuat kemaslahatan untuk seluruh alam semesta, subhanallah.

b)   Al Kamal, setiap orang yang mencintai orang lain atau sesuatu tertentu itu dikarenakan ada sifat-sifat yang dianggap sempurna darinya. Misalkan kita ditawari untuk memilih antara handphone merk Samsung, Sony Ericson dan Apple. Sudah pastilah kita akan memilih hp mana yang aplikasinya lebih kompleks, canggih dan sempurna untuk kita gunakan. Karena memang karakter semua manusia menyukai sesuatu yang kamal, bukankah baginda nabi saw. paling sempurna wujud dan akhlaknya?


c)  Al Munasabah, pemuda yang baik pasti akan mencari pemudi yang baik pula untuk menjadi pasangan hidupnya, karena pemuda tersebut mencari sebuah keserasian dan kecocokan yang ada diantara keduanya. Sifat-sifat baginda nabi saw.-lah yang sangat pantas untuk kita teladani karena keserasian yang terdapat pada hati dan diri kita masing-masing, bukan sifat-sifat jin, hayawan dan makhluk lain. Baginda Rasulullah saw. adalah qudwatuna wa uswatuna dalam menapaki perjalanan hidup dunia menuju istana keabadian yang abadan abidin.

       Terima kasih atas kunjungan Anda. Kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar