Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Rajutan Persahabatan

 Bismillahirrahmaanirrahiim

     Baru saja hendak bernapas lega, seseorang menabrakku dan langsung pergi. Ia terburu-buru. Yasudahlah.

     Langkahku berhenti tepat di hadapan seseorang yang duduk di kursi tunggu halte. Tanpa aba-aba kumenghentakkan kaki. Suara pijakan seng yang cukup mengagetkan. Refleks, padahal bermaksud mengucapkan kata “Permisi”. Layaknya makhluk tak berdosa kududuk di sampingnya. Tak tahu apa opininya tentang kehadiranku. Maaf, mulutku masih terkunci rapat.

     Kalau belum merasa nyaman terkadang berubah menjadi aku yang lain. Aku yang seolah memprofokasi diriku memproklamirkan semboyan “Jangan main-main denganku!” Berlebihan? Setiap yang menilai punya persepsi yang berbeda.

     Kami berbincang-bincang. Sepertinya beberapa pertanyaan kujawab tidak nyambung, kepalaku agak terasa pusing.

     Kurang lebih setengah jam, belum datang juga. Berapa lama lagi mereka akan tiba? Aku menghela nafas perlahan, diam sejenak. Mungkin macet.

     “Alumni MAK ada yang di pondokmu juga kan?” tanyanya ramah.

     “He-eh,” seraya mengangguk. “Ukhty Naila. Dia Waka bidang kesiswaan SMP. Tapi aku nggak tahu tahunnya siapa. Jauh di atas kita.”

     “Hmm, ane juga kurang tahu.”

     “Oh iya, sebentar lagi Ukhty Naila mau nikah sama teman seangkatan kuliahnya yang ngelanjutin di Mesir,” aku merubah posisi duduk, “Cinlok kali pas di Ma’had Aly.”  Anam tertawa mendengarnya.

     Aku mematung. Ukhty Naila dan Ustad Husni. Teringat mereka di Anyer, aku pun ingat... Aduhh, betapa menyesalnya diriku yang tidak mengambil cukup banyak pasir pantai kemarin. Setelah foto bersama kru madin, rombongan bergegas menuju bus. Aku terburu-buru mengantonginya ke dalam plastik. Semoga itu cukup untuk dibuat karya seni.

     Anam mengajakku menemui Putra di stasiun, di depan ATM. Kumengekor di belakangnya seraya menggeret koper dan menggendong ransel.

     Menelan ludah, kumenunduk menatap jalanan. Sebentar lagi menuju anak tangga. Koperku? Bagaimana? Aku kuat mengangkatnya, namun tidak hari ini. Kondisiku sedikit kurang fit. Yassalam...

     Sampai. Mengernyitkan kening kumenghela napas berat.

     Hufhh, Anam membawakan koper itu. Sejujurnya tak enak hati karena telah merepotkan. Aku masih mengekor, mendekap ransel berisi notebook.

                                                      ***

     ATM. Suasana Ramai. Tak ada Putra. Anam masuk ke stasiun dan aku menunggudi luar. Tak lama kemudian ia kembali, memintaku tetap berada di sana.

     Ponselku bergetar, ada pesan masuk. Hmm, rombongan Ciputat sebentar lagi tiba, ternyata mereka tidak menggunakan Transjakarta.

     Akhirnya Anam menemukannya. ATM yang dmaksud bukan yang berada di luar, tapi di dalam stasiun. Aku lupa, padahal sekitar tiga hari lalu aku dan temanku ke tempat ini.

     Putra duduk di sampingku, “Bawa koper? Memang di rumah gak ada baju?”

     “Aihh, ada lah. Sekalian dibawa pulang aja, soalnya habis ini aku langsung ke rumah. Dalamnya many thing important itu...” Biasanya aku hanya membawa ransel berisi gadget.

     “Iya-iya... Percaya deh...” Ia tak berubah, sama seperti Putra yang dulu kukenal. Tapi… kalau dilihat-lihat, tubuhnya agak bertambah besar. Atau perasaanku saja? Entahlah.

     Selang beberapa menit Rachmi, Fia dan Faiz tiba. Kurang seorang lagi, Esya. Dia dalam perjalanan. Sebenarnya dua. Sayangnya Ina tak akan hadir karena menemui bibinya.

     Melewati tangga tadi, kali ini Putra yang membantuku. Syukurlah.

     Kami bertemu Esya di Air mancur. Berhubung hari Jum’at para lelaki mencari masjid untuk melakukan kewajiban mingguan. Sisanya shalat dzhuhur di mushala.

                                                      ***

     “Kayaknya aku beda kostum sendiri nih.”

     “Iya sih, Ra,” Esya menatapku kalem dari atas kepala hingga ujung kaki. “Baru sadar kamu pakai celana.” Tersenyum, “Ketutupan koper sih, tapi nggak apa-apa kok.” Dia anggun sekali.

     “Bajunya panjang ini...,” Rachmi menepuk-nepuk pundakku.

     “Sebenarnya aku bring this one,” kukeluarkan rok dari koper, “Tapi buat shalat. Sengaja pakai celana soalnya takut keserimpet. Bawaanku sih, udah kayak TKW.”

     Kumelirik jam tangan, pukul 12.43. “Kamu bawa mukenah?”

     “Iya, aku bawa Ra.”

     “Pinjam yah.” Fia mengangguk. Senyumannya cantik.

                                                      ***

     Tidak ada penitipan barang yang bisa ditinggal dalam waktu yang cukup lama, untuk jalan-jalan. Bagus. Jadi sekarang temanya Travelling, dengan judul‘Walk Around Old City with Suitcase’? Pertunjukan perdana. Selamat, selamat....

     “Kalau capek bawa kopernya bisa gantian kok, Ra...” Raut wajah yang senantiasa memancarkan aura keceriaan, jarang kumelihatnya bersedih.

     Aku mencondongkan wajah ke arahnya, “Kamu yang bawa ya Mi.” Rachmi tersenyum.

     “Tenang... di sini ada cowok.” Kalau yang satu ini gaya andalannya, tetap stay cool.

     Menyebrangi jalan raya, giliran Faiz yang membawa koperku. Semoga benda itu menebar keberkahan bagi yang membawanya, begitu pula yang berada di sekitarnya.Amin.

                                                      ***

     Mentari masih menggantung di atas sana. Malu-malu. Ia tak begitu menampakkan teriknya. Makan siang lesehan bersama, momen yang wajib diabadikan. Siap? One,two, three. Well done, good picture!

     Target selanjutnya musium kramik.

     “Mana talenan kamu?” Rachmi meminta Putra mengeluarkan Tabletnya, “Ayo,kita berpose lagi...”

     “Sini, biar aku aja yang ambil gambarnya.”

     Sudah siap bergaya Faiz malah swafoto dengan kamera depan.

     Merajut persahabatan, hanya bersua lewat dunia maya. Kurang lebih dua tahun setengah tidak bertatap muka secara langsung. Jarang-jarang dapat berkumpul seperti ini. Kesibukan berbeda, waktu luang yang berbeda. Perjumpaan sederhana yang begitu membahagikan.

     Langit menangis. Rintik air matanya jatuh langsung membasahi jiwa yang kering. Aku melangkah perlahan, merasakan indahnya perlahan, lalu masuk ke teras bangunan klasik itu. Eksotik.

     Harga tiket masuknya cukup terjangkau. Uang kami kumpulkan jadi satu, baik hati Esya mengantre sebentar untuk mendapatkan tiket.

     Kulihat Putra bertanya pada petugas. “Maaf Pak, di sini bisa menitipkan koper?” Tidak terlalu jauh, jadi suaranya masih terdengar.

     “Iya, bisa.” Syukurlah, dapat menikmati perjalanan dengan nyaman.

     Iseng kupotret pintu masuk, gambarnya sedikit kabur. Ingin mengulangi sekali lagi, yang lain sudah masuk ke dalam. Tak jadi, aku tertinggal. Nanti kalau hilang bagaimana? Haha, seperti anak kecil saja.


    
     Duduk-duduk santai di kursi, lalu melihat-lihat sebentar sebelum naik ke lantai dua. Biba menelepon Fia, kami ngobrol bergantian dengannya. Semoga bisa dipertemukan dengan mereka yang berada jauh di sana lain waktu.



     Lagi-lagi. Narsis. Begitulah kebiasaan anak muda. Aku hanya mengabadikan beberapa karya seni di musium untuk koleksi galeri blog. Foto bersama? Bisa dikirim via media sosial.

     Kami keluar dari gedung. Gerimis. Ternyata Fia dan Esya membawa payung. Sebenarnya tidak terlalu suka menggunakannya, kelihatan seperti wanita. Loh, memang aku apa? Apa saja yang penting berkah. Hahaii.

     “Foto dulu nih,” Rachmi melirikku.

     “Iya, mumpung pakai payung tuh,” separuh alisku naik.

     Para hawa berpose dengan payung. Foto bersama, berpencar, lalu gaya bebas. Koperku pun tak kalah eksis. Anggap saja sedang jadi model di majalah. Tunggu dulu, sepertinya cocok kalau dijadikan cover. Wahh, keren!


     Ingin melanjutkan ekpedisi ke musium wayang ternyata tutup. Sudah sore rupanya.

     Waktunya shalat ashar. Aku menaruh koper di tempat penitipan barang mushala tadi.

     “Ra, Shara!” kumendekat ke arah Fia, “Pamit pulang duluan yah, kita shalat asharnya di rumah aja.” Mereka mau naik kereta.

     “Iya, hati-hati,” rasanya air mata sudah tak sanggup lagi kubendung. “Aku mah bakalnya nggak keburu Fi, shalat dulu jadinya.” Aku senyum. Untung bisa mengontrol diri. Pasang wajah tenang, meyakinkan yang melihatku tak akan terjadi apa-apa.

     “Nanti kita ketemu lagi deh, kapan-kapan insyallah.” Rachmi, aku akan merindukanmu, begitu pula dengan yang lain.

     “Dah...” Faiz, Fia, Rachmi dan Putra berlalu.

     Selesai shalat kami pulang dengan Transjakarta. Aku transit di Harmoni karena akan mengambil jurusan Pulo Gadung. Ingin rasanya melihat wajah Esya dan Anam saat kuturun di halte dan bus itu membawa mereka pergi, tapi tak mungkin,terlalu ramai dan aku pun harus bergegas meraih bus. Selamat jalan. Semoga kita sampai tujuan dengan selamat.

     Tak dapat tempat duduk, terpaksa kududuk di atas koper. Merasa kurang nyaman jadi kuberdiri saja. Sayangnya Transjakarta yang kutumpangi tidak sampai Harapan Indah. Daripada di Pulo Gadung harus lama menunggu bus yang sampai kesana, lebih baik aku naik angkot saja. Hari semakin sore, cakung pasti macet.

     Aku sampai saat masjid di belakang rumahku mengumandangkan iqamah shalat maghrib. Alhamdulillah, kupikir akan mengqadhanya karena kehabisan waktu. Hari yang melelahkan namun akan selalu kukenang. Yah, mungkin akan kubuat tapak tilasnya dalam sebuah cerita pendek. Cerita untuk sahabat. Kapan? Liburan singkat dua minggu ini? Tidak. Ada pekerjaan lain yang akan kukerjakan. Mungkin sekembalinya ke pondok. Insyallah, kalau ada waktu luang.

안니사’s

Terima kasih dah mampir ni, kunjung pula ke Ra. Pratiwi A.' notes ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar