Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Maaf, Hati yang Sakit, dan Harga Diri yang Terluka

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Bila masih ada istilah 'Aku menerima dan memberi maaf, tapi tak akan melupakan perbuatanmu,' itu artinya, hati masih terimpit oleh kemarahan. Hati yang semacam itu lama-lama bisa menjadi keras. Lebih keras dari batu yang paling keras. Meminta dan memberi maaf, mestinya meluluhkan semua. Memulai dari yang baru dan tidak lagi mengingat-ingat perbuatan yang pernah menyakiti dan disakiti.” – hal. 79 



Maaf dan harga diri yang terluka. Rasanya, masih belum menemukan ukuran yang sesuai, bagaimana cara menakar kemudian menjadikannya komposisi yang pas untuk dijadikan bahan bakar kapal kehidupan yang masih baru berlayar ini. 

Bukan hal besar memang, meskipun tidak semuanya harus diungkapkan, tetapi sesuatu yang tidak dikomunikasikan dengan jelas, adakalanya membuat sebelah pihak bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa, mengapa demikian, apakah itu...? Ya sudah, berpura-pura saja tidak terjadi apa-apa. Tetapi, setiap kepura-puraan tentu memiliki kenyataan. 

Tetapi, bagaimana kalau hal tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, melainkan berkali-kali? Sudah bertanya tetapi tidak ada balasan apapun. Membuat angan-angan terbang tak tentu arah. Apa rasanya tergantung seperti itu? 

Tetapi, jiwa yang sedang tidak baik karena hati yang sempit mungkin (kebanyakan manusia fluktuatif betul kadar keimanannya, kesabarannya) atau barangkali hormon yang sedang tidak stabil karena pengalaman biologis, hal simpel saja bisa menjadi hal yang rumit. Yah, seperti wanita yang sedang kedatangan tamu rutin bulanan, ataupun sedang hamil, pasca melahirkan, saat menyusui, dan lain sebagainya. Laki-laki juga mengalami ketidakstabilan tersebut dengan kondisi yang berbeda. 

Tetapi, terus saja tetapi-tetapi itu beranak pinak.

Segalanya mesti memiliki alasan, entah itu memang alasanya atau sekadar alasan, dan alasan yang masih tersimpan seringkali membuat kita meraba-raba. 

Kira-kira yang seperti itu bisa menjadi pemicu rasa sakit dan luka, kah? Hati yang sakit dan harga diri yang terluka? 

Hei, apakah kau sedang melantur? Mengapa sampai pada pembahasan itu? 

Entahlah, kalau begitu anggap saja tidak apa-apa. Bukan. Bukan mencoba melarikan diri. Tapi setiap pribadi memiliki caranya sendiri untuk melakukan pertahanan. 

Tunggu, ada apa dengan pertahanan diri? 


"Kapal Karam Dilanda Badai" Raden Saleh  (1840)
"Kapal Karam Dilanda Badai" Raden Saleh  (1840)


Nampaknya kapal kehidupan itu sedang dilanda badai, jadi ia sedang melakukan upaya untuk tetap bertahan di lautan yang sedang tidak baik-baik saja. 



Kabarnya, yang harus menjadi kepastian dalam diri kita adalah apapun yang terjadi, termasuk perilaku orang lain yang menyakitkan hati kita, terjadi karena Allah ‘azza wa jalla mengizinkannya. Tidak mungkin suatu peristiwa terjadi kalau Allah tidak mengizinkannya.  Begitu pula dengan tindakan kita yang disadari ataupun tidak telah melukai orang lain. 

Mengapa tidak saling maaf-memaafkan?

Pemaafan, ya, itu adalah langkah untuk menghentikan perasaan jengkel, marah,  ataupun dendam karena merasa tersakiti atau terzalimi. 

Lebih dari itu, kiranya, pemaafan juga proses menghidupkan sikap dan perilaku positif terhadap orang lain yang pernah menyakiti. 

Setiap orang pernah melakukan kekhilafan, apa salahnya untuk memaafkannya, toh kita pun pernah melakukan kesalahan. Bukan kah senang, lega, jika keluputan itu termaafkan? 

Pasti memerlukan proses dan perjuangan untuk memaafkan. Adanya kebaikan bagi diri kita dan orang lain, akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Tuhan saja memafkan, mengampuni hamba-Nya, mengapa sesama hamba tidak bisa melakukan hal serupa. 

Konon, para ahli psikologi pun memercayai bahwa memaafkan memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan. Pemaafan (forgiveness) merupakan salah satu karakter positif yang membantu individu mencapai tingkatan optimal dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual.

Mengapa tidak introspeksi? 

Apakah sakit dan luka itu memang berasal dari luar, atau boleh jadi dari dalam diri kita sendiri. 

Ya, yang harus menjadi kepastian dalam diri kita adalah apapun yang terjadi, termasuk  rasa sakit, luka hati, kegundahan, terjadi karena Allah ‘azza wa jalla mengizinkannya. Agaknya, yang membuat gelisah bukanlah masalah yang menguji, tetapi bahasa rindu Allah yang gagal kita pahami. 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hujan Selasa Sore


Bismillahirrahmanirrahim 


Sekarang hari Selasa, sa, sa, sa, sa, sa... (bacanya pakai nada, ala suara gaung yang berulang-ulang deh, hehehe). Sorenya hujan, euy. Selesai zikir salat Ashar di masjid, bingung mau pulang. Hujan deras sederas-derasnya, banjir pulak. Sandal-sandal santri sampai pada mengambang udah kayak kapal-kapalan. Galau kan jadinya, mau ngerasa senang karena penampakannya kok lucu gitu, tapi sedih juga karena serba basah dan licin. 

Santri putri sudah pasti heboh, teriak karena kebasahan menerjang hujan, rempong mencari sandalnya yang berlayar entah ke mana, dan lain sebagainya. Yah, wanita memang seperti itu. 

Karena takut hanyut, ada yang mengamankan sandalnya ke pinggiran tangga masjid. Bukan di tangga, tapi di pinggirannya sodara-sodara, kan repot kalau hilang, lapor mamah nanti, Mah, sandalku hilang, hanyut pas banjir di pondok, mau minta tolong bawakan sandal baru ya, Mah. Hmm, ada saja yang modelnya begitu. 

Ada juga yang keasyikan mainan air, mentang-mentang hujan. Emang dasar anak-anak. Ya sudah, lah. Insyaallah berkah. 

Alhamdulillah hujan mulai mereda. Nggak reda-reda amat, tapi seengaknya nggak segeger tadi, rombongan air hujannya membasahi pondok kami. Aku juga mau ikut mengamankan sandal, deh. 

Lah, yang satunya sudah ada di tengah sana. Wahai sandalku, kalau kalian berjodoh insyaallah akan bersatu kembali, kok. Yang sebelah kanan aku taruh di pinggiran tangga masjid, yang kiri aku biarkan menggenang di sana. Kiri, aku titipkan kamu sama Allah, ya. Semoga kamu tidak hilang dan menjadikan si kanan menjomblo. 

Aku masuk lagi ke dalam masjid, menunggu hujannya lebih reda dari sekarang. Daripada bengong, mending baca salawat. Mulutku komat kamit, tapi pandanganku jelalatan melihat santri putri yang berusaha pulang ke asrama untuk rapi-rapi karena sore ini waktunya belajar di Madrasah Diniyah a.k.a. Madin. Masyallah. Memang mondok itu membahagiakan sekali, pemirsa. Aku senyam-senyum saja dari tadi melihat fenomena ini. 

Subhanallah, ada seorang anak membawa payung dan dia beralih profesi menjadi ojek payung dengan suka rela. Baik banget dia, bolak-balik menjemput temannya agar bisa balik ke asrama. Diriku terharu. 

Aku masih duduk di samping jendela. Eh iya, kamarku kebanjiran nggak, ya? Kayaknya sih, iya. Mau pulang tapi masih belum pengen, gimana dong. 

Melihat genangan air yang modelnya seperti itu, lebih baik aku pulang saja, deh. 

Sambil memegang sajadah dan sandal kanan, aku tolah-toleh mencari pasangannya. 

"Miss Rara, itu sandal Miss," Moza menunjuk-nunjuk ke samping tangga. 

"Oh, iya. Makasih Moza."

"Sama-sama, Miss." Moza meraih tanganku, salim. 

"Miss, ayo bareng sama saya pakai payung, Miss," kata anak tadi yang namanya tidak kuketahui. Aku hanya tahu kalau dia santri kelas 1 SMP penghuni asrama lantai satu, kamar nomor 1, selorong dengan kamarku. 

"Kamu baik banget minjemin payung, Dek." Senang sekali diriku ini. Alhamdulillah. 

"Iya Miss. Kan bulan Ramadhan, Miss." Dia tersenyum. 

Sesampainya di dekat gerbang aku berterima kasih kepadanya, "Makasih banyak ya, Dek. Semoga berkah." Nggak mau berhenti senyum aku tuh, melihat gadis kecil itu. 

"Sama-sama, Miss." Raut wajahnya nampak bahagia. Apalagi aku, yang sudah dibantu. 

Antara kaget dan tidak. Benar, kamarku kebanjiran. Samping masjid banget soalnya, di bagian selatan kamarku tadinya adalah pintu, hanya saja sekarang ditutup permanen tetapi tidak disemen, jadi kalau hujan deras dan volume air yang menggenang di sekitar naik, kamarku terdampak banjir. 

"Miss, banjir banget, ini. Ya, Allah...," kata Fia yang memindahkan seperangkat alat tidurku.

"Kasurku basah banget ya, ujungnya." 

"Iya Miss, tadi pas aku mau ke lemari nggak nggeh. Tau-tau, kok kaki aku menerjang air." Fia, Fia, kata-katamu itu, loh. Gimana nggak bikin ngakak, coba. Ya, meskipun ngakaknya cuma di dalam hati. 

Kami pun bahu-membahu mengeringkan airnya. "Kayak gini enaknya pakai pengki ya Fi, tapi mau pinjam pengki anak-anak yang ada malah jadi kotor semua," kataku sambil memeras bajuku yang kupakai mengelap genangan air. Bajunya sudah robek, sekalian saja nanti dibuang. Maafkan diriku duhai baju, aku tak sanggup memuseumkan dirimu. 

"Pakai pengki mini Miss aja, kan ada," Fia memeras kain pel. 

"Oh iya, bener banget deh kamu, Fia." Aku punya satu set pengki dan sapu mini. 

Airnya banyak juga ya, hampir seember penuh. "Kok nggak abis-abis ya, airnya," kata Fia. 

"Iya nih, kita berasa main air di tepi pantai, deh." tanganku menggenggam pengki mini, menyerok air yang menggenang ke dalam ember. 

Tidak lama kemudian airnya mulai surut. Makin semangat nih, ngelap-ngelap mode on-nya. Setelah dipel semua lantainya, aku menyalakan kipas, biar cepat kering. 

Setelah mencuci kain pel dan bersih-bersih diri, lantai kamarnya sudah kering. Alhamdulillah bisa selonjoran deh, kita. 

😇 Have a blessed day. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Nona Clau


Kabar duka. Eh, bukan duka yang seperti itu. 

Ini kisau Claudia temanku, cerita seminggu yang lalu. Berarti duka yang telah lalu? Ya, nggak gitu juga. 

"Bena, pipi aku perih, nih." Ya Allah, tampangnya melas sekali. Astagfirullah, aku bukan meledek, tapi memang mukanya melas, untung ada manis-manisnya. 

Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan ekspresi apapun, takut dia salah paham, "Iya ya, merah itu. Gatal gak, Clau?"

"Nggak, tapi perih."

Nona Clau juga tidak tahu kenapa. Awalnya dia kira digigit nyamuk, tapi nggak gatal. Paling nanti hilang. Lah, besoknya mulai terasa perih dan agak panas. 

"Bena, kamu pernah nggak, ngerasa kalau setelah melakukan kesalahan terus dapat teguran langsung, gitu?"

"Model-model pelajaran kan, ya? Sentilan kehidupan?" 

Claudia mendesis menahan perih, "Iya."

"Mbatin juga pernah. Kayak, 'Kenapa sih, kok seperti itu aja belum bisa' or 'Sebegitunya, kah? Lebay banget nggak, sih?' eh terus nggak lama kemudian mengalami hal serupa." Tepok dahi deh, aku. 

"Teguran kali ya, biar kita merasakan di posisi orang lain."

"Kalau udah gitu tuh, langsung deg, alhamdulillah ya Allah, masih memberikan hidayah kepada hambamu ini."

"Hmm. Aku mau cerita, tapi kamu jangan ketawa, loh."

"Cerita aja, lah. Santai."

"Dua hari lalu tuh, Uda bilang kalau aku kayak jadi lebih menarik, gitu."

Waduh, seketika dahiku mengkerut, "Eh, habis ketemu?"

"Chat. Langsung dihapus abis bilang gitu. Terus aku iseng ngejahilin Uda. Chat bercandain dia gitu."

Ehhem! Claudia tuh pendiam ya, Gess. Tapi, kadang kalau udah bercanda sama dia dan momennya pas, asyik banget loh, anaknya. 

Oiya, Uda itu tunangannya. Siapa sangka tetangga jadi calon imam. Mereka nggak kenal sebelumnya, tapi semuanya berubah setelah mengemban dan menyelesaikan tugas bersama. Aseekk. Kolaborasi bisnis yang berujung manis. Ihhiirrr! 

Ternyata dua hari lalu mereka nggak sengaja ketemu di acara Launching Aplikasi Sistem Informasi Kerja Elektronik. 

"Etdeh. Apanya yang menarik, Clau?" Pura-pura saja, padahal mah segala hal di dia emang menarik, sih. Unik lah, bestie-ku ini

"Hehe. Nggak tahu."

Mereka jelas jarang ketemu. Sebelum tunangan, Uda pindah tugas ke luar kota. LDR. Kok ya bisa, kalau chatting-an  ngebahas proyek saja. Serius gitu doang? Iya kadang bercanda, tapi jarang. 

Udah Uda jarang video call, Claudia lebih jarang lagi terima panggilan itu. Kalau diterima, dia malas pakai kerudung katanya, yaa seadanya dia balut kepalanya dengan kain apa saja yang ada di dekatnya (tapi bukan kain pel juga, keleuss), lalu separuh wajahnya ditutupi pakai bantal. Malu euyy. Uda video call juga paling nggak sampai tiga menit, terus diem aja ngelihatin seseorang di seberang yang cuma kelihatan matanya doang. Komunikasi seperlunya saja, gitu. Paham lah, aku sama Nona Clau ini. 

Claudia nggak tahu Uda bilang menarik itu dari sisi mananya. Entah dari penampilan, perilaku atau dari mana. Tapi kok bisa-bisanya dia berpikir kalau merah-merah yang bikin wajahnya perih itu karena tunangannya bilang dia jadi lebih menarik. Yaa, memang sih, ada adegan bercandaan setelah itu, jadi dia mikirnya teguran dari Tuhan kalau seharusnya dia jangan begitu, karena belum sah. 

Dia pernah cerita, karena merasa takjub plus bangga dengan kinerja Uda, terus dia kasih foto jemarinya yang bikin simbol saranghae apa ya, setelah itu dia hapus. Eh, besoknya jari dia kena pisau. Nggak parah, cuma kegores dikit doang. Nah, itu tuh, dari situ dia ngerasa malu sama Allah katanya. "Teguran ini mah, Bena." Aku pribadi hampir setuju dengan pemikirannya, tapi di samping itu kita juga tidak tahu kan, apa benar begitu atau kejadiannya saja yang ngepas banget, terus dia jadi berpikir seperti itu. 

Unik mereka, tuh. Ya Allah, gemes aku jadinya. Semoga pernikahan kalian dilancarkan dan diridhai Allah. Amin. Jadi Syawal nanti aku bisa kondangan, deh. 😊


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

What, Spalaso, Itu Makanan?

 Bismillahirrahmaanirrahiim


Well, dari sekian Purnama tak muncul, akhirnya nampak lagi, laa~.😙

Jadi, ini kisah seorang gadis ya, gesss. Yupss, gadis kiyut bernama An An. 😆😸😄

Suatu pagi yang cukup mendung, An An merasa perutnya agak begah. Yaa, ada beberapa kendala, sih. Lalu gadis kelahiran tanah Bahira itu memutuskan untuk duduk sejenak, berpose ala meditasi sembari menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Ia lakukan itu beberapa kali sampai merasa lebih baik. Assyique! Nah, udah kerasa mendingan kan, ia berniat olahraga ringan setelah itu. Di depan asrama yang ia tinggali, ada lapangan kecil tuh, cukup lah buat berjalan santai memutari lapangan. Eaaa, bukan sedang dihukum, ya. Kondisinya sedang sepi, jadi An An pede aja. Next, fifteen minutes later, dia melakukan gerakan-gerakan peregangan lalu selonjoran. 25 menit-an cukup lah ya, dari adegan muter lapangan sampe selonjoran gitu? Cukup dong, hahaii. 

Hmm, abis olahraga minum air putih dia. Eh, laper deh. Wadidau, pengen masak makanan dengan bahan seadanya ala anak kosan dong, si An An. Sambil mikir, gadis kiyut itu memperhatikan keadaan sekitar. Yups, di depan matanya ada setoples bawang merah goreng, sosis ayam siap makan, labu yang ia beli di supermarket kemarin (level supermarket emang beda, labunya dibungkus pakai plastik wrap, euyy), kerupuk seblak rasa original (lah, katanya seblak, kok original, nggak pedas?) dan beberapa bahan lainnya. Wewewewww, ada apa lagi sih? Oiyyaa, dia masih punya spagetti, cuy. 

Pagi-pagi, suasana sepi, harus menciptakan sesuatu yang bikin hepi, nih. Kok sepi, penghuni asrama lainnya pada ke mana? Ke mana lagi weekend gini kalau bukan semedi di alam mimpi. Awokawokawokkkk. 

Skuyy lah, mending masak aja. Gaskeuuuun! 

An An merebus spagetti dulu pemirsa, sambil menunggu matang ia membersihkan kulit labu, mebuaang getahnya dan memotongnya kecil-kecil (bentuknya seperti stick gitu, yaa sesuai selera aja, mau dibuat dadu, diserut pakai serutan sayur or dicetak setengah bulat pakai kerokan buah juga boleh). Next, dia pergi ke wastafel untuk mencuci labu dan bawang putih. Sepulangnya dari sana, magic comnya sudah mengepul dong kayak sepur, tapi nggak bunyi tuut-tuut. Nggak, lah. Wedehh, ada yang sudah matang, nih. Matikan magic com lalu tiriskan spagettinya, deh. 

Then, panaskan minyak secukupnya, lalu tumis bawang putih. Setelah itu An An masukan potongan-potongan labu ke dalam inner cooking pan, menaburkan bawang goreng siap saji dan sedikit kunyit bubuk. Tutup dah tuh, magic comnya. Sambil menunggu An An memotong-motong sosis ayam siap saji buat tambahan topping masakannya. Sekitar 2 menit, An An menambahkan sekitar 200 mili air (disesuaikan saja dengan kebutuhan dan selera, mau banjir apa becek, wkwkwkwk) dan beberapa keping kerupuk seblak (kerupuknya sudah siap makan gess, cuma An An juga nggak tahu kenapa, iseng aja gitu, pengen nambahin itu ke masakannya, kalau nggak suka ya, nggak usah sis, ahahaii). Oh iya, thydak lupa juga ia menambahkan bawang goreng, saus sambal, garam dan penyedap jamur secukupnya. Eittt, sama si spagetti dan sosis juga sobat, bahaya kalau sampai ketinggalan. Aduk rata,  kemudian tunggu sampai matang, deh. 

A few minutes later, mateng deh tuh. The food ready to be served



Ini dia santapan sederhana ala anak asrama. Wawawawaaa... diberi nama apa, ya? 

Ahha! Spalaso! Spagetti labu sosis! Asyiqueee, bahagianya tiada tara. 

Alhamdulillah yaaa, bisa untuk lauk sarapan pagiii. 👏👏👏👏😇 

Yoyoy, berikut kisah An An di pagi hari memasak labu sosis dan spagetti. Sampai jumpa di lain kempatan lagi ya, sobiiii. 😙😉




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cermin Abnormal

Well, ceritanya kan ada makhluk Tuhan yang aduuh, nggak tahu kenapa dia bisa sering bertingkah nyeleneh gitu, ya (dia kenalan gue ~ uuh kenal banget malah). Kadang gue mikeer, apakah ini yang namanya kelewat kreatif or kebablasan somplaknya. Bentuk abnormalnya kayak apa, itu rahasia. Nanti ada yang ngerasa lagi, terharuuuu. Awokawokawok ヽ(^0^)ノ 


Suatu saat, dia jalan bareng seseorang. Kebetulan lagi pasang kalem mode on. Eh, suddenly seseorang bersamanya yang biasanya normal itu, malah bertingkah nyeleneh, dong. Speechless dah tuh, kenalan gue. Sambil mbatin, "Ya Allah, apakah ini perasaan orang-orang yang terlanjur or bahkan terpaksa melihat fenomena kesomplakan gue?" 


Then, in another day, dia kebetulan jalan bareng lagi dengan makhluk Tuhan yang bikin dia speechless. Ekhem! Hal tersebut terulang kembali. Padahal, temennya itu,  eh, partner-nya, eh siapa sih, pokoknya kenalannya kenalanku itu sangatlah normal di hadapan orang-orang. Hmm, bisa dibilang ekspresi dan tingkah doi kelewat monoton, malah. Lah, kok jadi ejleg gitu kalau jalan bareng kenalan gue, yak? 



"Wadidauuu, kayaknya Tuhan sedang memperlihatkan cermin untuk dirimu deh, Adinda. Or konyolnya kamu itu emang nular." Eh, dahi kenalan gue berkerut, dibilang kek gitu. 


Yaa, sebetulnya kenalan gue juga tingkah somplaknya nggak terus-terusan. Malah, dia dikenal jutek gitu apa, ya? Katanya kayak nggak pernah senyum. Ada juga yang bilang, kalau dia itu nggak ada ekspresinya. Hmm, itu kata beberapa orang. Gue yakin sih, yang pada bilang gitu mesti belom kenal sama tuh bocah. Tahu luarnya doang, belum ke dalem-dalemnya. Ahhahahaha. 


Terus, apa komentar gue menanggapi sikapnya yang seperti itu? Apa dah, ya menurut gue mah, namanya belum akrab, seseorang nggak akan nyaman menunjukan sisi lain dari dirinya, secara sadar maupun nggak (reflek, gitu). Asyeequee. Apakah kenalan gue nyaman sama gue, so dia can express kelakuannya yang yunique itu? 


Heeii, dia bercermin sama gue dan partner-nya itu, dong. Anggap saja kalau lagi speechless, kayak dia berada di posisi gue (yang ngeliatin tingkah absurd-nya) dan ketika melihat doi, ibarat bercermin memandang dirinya sendiri. Genre kekonyolannya beda sih, tapi yaa sama aja. Judulnya somplak. 


Click and listen! (ᴖ◡ᴖ)♪

Bikin cerita sendiri, dibaca sendiri. Mandiri bener dah..  (〜^∇^)〜

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyinergikan Harapan



Ia masih meraba dan kadang berpikir, apa Anda menerimanya hanya karena usia, atau mungkin benar-benar membalas harapan dan perasaannya. Namun apapun jawaban itu, dalam pandangannya, Anda adalah orang terbaik yang ia kenal dan cari . 🙂

 يأتي أنيس في قبرك يؤنس وحدتك فتقول له من أنت، فيقول أنا السرور الذي ادخلته علي فلان

"Kelak akan hadir seorang teman yang menghibur saat engkau sendirian dalam kubur, lalu kau akan bertanya heran: Siapa sebenarnya Anda?"

Dia pun menjawab : "Aku adalah kebahagiaan yang dulu engkau masukkan ke dalam hati seseorang."

Ya, kebahagiaan. Terkadang hal sederhana dapat bernilai istimewa di mata seseorang. 

Semoga banyak hal yang bisa dilakukan untuk saling menguatkan. Banyak mimpi yang dapat terwujud bersama. Banyak karya yang bisa terlahir dari sebuah sinergi. 

Yang dibutuhkan bukan sekadar glowing fisik, tapi yang penting kejujurannya, keikhlasannya dan yang dapat membuat mereka lebih berarti lebih dari siapapun.

Ia terkadang pun tak tahu, apa ketidakpunyaan dan keadaan seperti ini, di sini, dapat membuat semua hal terwujud.

Tapi memang scope-nya perlu dipertinggi. Banyak hal yang kadang tidak sesuai logika, tapi terwujud karena izin-Nya. Semoga.

~ Kakata, Kamu dan Dia di dalam Kenangan Cerita ~ • Cold-San

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memercayai Keunikan Cinta Seutuhnya

 


Listen while reading 

Bayangkan, bayangkan dengan sangat dalam. Agar tidak hanya tawanya saja, namun amarahnya pun sanggup kamu terima. Agar tidak hanya suka, namun dukanya pun mampu kamu pikul. Agar tak hanya peluk dan kasih, namun penolakan dan rasa kesal yang sesekali mereka perlihatkan dapat kamu tampung. 

Agar kamu mampu mencintainya secara utuh. Menerima, tidak hanya kelebihan, namun juga kekurangan dalam dirinya. 

Karena sesungguhnya, ketika kita mampu menerima kekurangan dan kelemahan mereka, akan kita temukan sisi terbaik dari dalam dirinya, yang ia pun tak sadari selama ini. 

@rabbitholeid


Menarik napas panjang lalu menghembuskannya ke udara, kemudian kau berpikir dan membatin, "Aku hanyalah seperti ini. Pintar sangat? Tidak. Cekatan pun, tidak. Lalu, apa yang bisa aku banggakan? Apakah aku sudah dapat dikatakan sebagai seseorang yang telah membantunya, tapi apa yang telah aku lakukan?" Separuh dirimu yang lain berbisik. "Kau senantiasa berusaha untuk memaklumi. Memahami kondisi, meski kau pikir kadar kepekaanmu masih sangat minim. Belajar memprediksi, walau kau tahu pertimbanganmu masih sangat jauh dari kata saksama."


Kau terus mencoba dan menikmati proses belajarmu. Ketika awan kecemasan tiba-tiba menghampiri harimu, kau pun masih berusaha meraba-raba sekelilingmu. Tidak hanya diam begitu saja. Pergerakanmu mungkin lambat, tapi itu upayamu, karena ketakutan yang sesekali menghantuimu. Perlahan-lahan kau rasakan, kau cermati, apakah yang kau dapatkan bisa menjadi alat untuk menerangi langkahmu, apakah pijakan yang kau ambil tidak membahayakanmu. 


Lalu ada kalanya kau merasa kesabaranmu hampir habis, kau ingat mantra-mantra keagungan Tuhanmu. Kau berhenti sejenak, mengisi tangki di hatimu yang kosong. Ya, masih dengan cara yang sama. Perlahan tangki itu mulai penuh. Kau pun bergerak lagi, meneruskan perjalananmu, hingga kau dapat keluar dari labirin kegelisan itu. 


Di ujung jalan sana, kau berhadapan dengan sosok yang menyerupai dirimu dan ia berkata, "Terima kasih, atas segala upaya  yang telah kau lakukan. Aku tahu, kau niscaya bisa. Aku tahu, dengan bantuan Tuhanmu, kau tentu mampu. Berkecil hati, kau mesti akan merasakannya, tapi yang pasti, kau harus sadar diri dan terus mensyukuri  pemberian yang Ia beri. Karena, setiap orang itu berarti. Setiap orang itu unik, dengan gaya dan caranya sendiri."


Dirimu tersenyum, kemudian sosok itu berucap, "Kau sudah berusaha. Dia ataupun mereka juga telah melakukan hal serupa, meskipun terkadang satu sama lain tak saling menyadarinya. Tetaplah untuk saling menyemangati, menguatkan. Saling membantu tidak mesti melakukan hal yang sama. Kau berperan sebagai dirimu, melaksanakannya dengan baik, dia ataupun mereka pun menyelesaikan bagiannya."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Di Bawah Langit Senja

Katanya, memancing dapat melatih kesabaran. 

Saat memancing, setiap orang pasti punya tujuan tersendiri. Entah benar-benar menginginkan hasil tangkapan, baik itu keinginan yang menjadi obsesi atau sebuah harapan. Bila mendapatkan ia bersyukur, jika belum dapat pun ia bersabar dan tetap berjuang untuk mendapatkannya, atau berhenti karena putus asa.

Bagaimana dengan pemancing yang ingin memancing saja? Mungkin sekadar mengisi waktu luang kah, mencari sensasi, hanya ingin bercengkrama dengan sang angin dan alam, namun tak mau membiarkan tangannya kosong, jadi ia menggunakan alasan memancing sebagai tameng. Atau mungkin ia tak sengaja melempar kail lalu terbawa suasana dan menemukan pelajaran berharga dari kegiatan memancing tersebut. 

"Sebenarnya, memancing yang mana yang kau maksud?" bisik seorang pria bertopi. 

"Kau ingin tahu jawabanku?" Angin berembus sepoi sore itu, ia menjawab pertanyaan yang diajukan sang pria, "Ya, bisa jadi keduanya."  

Bila kail pancing itu berhasil membawa pulang seekor ikan/hasil tangkapan lain, seseorang tak mesti mendapatkan hasil dengan ukuran yang sama. 

Lalu, setelah mendapatkan hasil tangkapan tersebut, sang pemancing dapat melepaskannya kembali (hanya membuktikan bahwa ia berhasil menangkap buruan lalu mengembalikannya ke air), menyimpannya sebagai hiasan, menjadikannya teman, memelihara dan merawatnya sebaik mungkin, memasaknya sebagai santapan pribadi atau dipersembahkan untuk orang lain. Atau ada tujuan yang lain, kah? Segala sesuatunya mungkin saja terjadi, selama Sang Penguasa Jagat Raya menghendaki. 

Langit di atas sana menorehkan cahaya jingga. Senja di tanah surga, danau Delima yang sarat akan cerita.

"Hei pria bertopi, apa yang sudah kau dapatkan?"

"Aku telah mendapatkan beberapa ekor ikan dan sekarang aku tak tahu apa yang kupancing. Ini begitu ringan." Ia menariknya perlahan. 

Seseorang di sampingnya menoleh ke arahnya, "Maaf," suaranya hampir tak terdengar, "Sepertinya kail pancing kita tersangkut." rambut panjangnya tertiup angin. 

"Oh, maaf." Pandangannya tertuju ke segerombol ikan di air, "Akan saya lepaskan, Nona." ia membungkukkan badannya. 

Warna rambutnya yang merah kecoklatan itu nampak indah saat tertiup angin. Sang nona menyeka rambutnya ke belakang telinga. Wajahnya oval. Ia mengangguk pelan. 

"Maaf, sedari tadi saya tak sengaja memperhatikan kalau di sekitar tali pancing Nona banyak ikan yang bergerombol seolah memandangi saja, tapi tidak ada yang mendekat," ia menyerahkan kail yang tersangkut tadi. 

Sang nona menerima dengan telapak tangannya. Jari-jarinya lentik. Warna kulitnya nampak pucat. "Mungkin karena saya telah berdoa," ia mengangkat kepalanya dan memandang pria di hadapannya tanpa ekspresi. Seolah ada sihir yang berembus, seketika udara menjadi lebih sejuk dan suasana berubah sunyi. 

Pria di hadapannya membenarkan posisi topi yang ia kenakan, "Berdoa?"

"Iya, Tuan. Saya berdoa kepada Tuhan. Semoga Ia melindungi alat pancing ini dari energi negatif, sehingga yang dapat menyentuhnya hanyalah benda dengan aura positif."

Si pria menyentuh kail pancingnya, "Lalu, ini?" ia memiringkan kepalanya, menatap sosok di hadapannya. 

Nona itu mengedipkan mata dan mengangguk pelan. Tanpa sadar pria itu memberikan kail pancingnya kepada sang nona, ia menerimanya. Seketika kulitnya yang pucat menjadi berseri dan bola matanya berubah warna amber, berkilau keemasan. Ia tersenyum manis, pipinya merona. 


.

.

.

.

.

.

.



Sesaat kemudian, kulitnya kembali memucat, sorot matanya meredup, kemudian ia menghilang perlahan, layaknya butiran-butiran pasir yang terbang terbawa angin. Ya, angin. Angin ingin melindunginya, karena itu ia membawanya pergi dan mengembuskannya kembali, entah di bumi bagian mana. 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS