Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon
Tampilkan postingan dengan label Many More. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Many More. Tampilkan semua postingan

Pilihan Melahirkan, Tanggung Jawab Mencintai

 Bismillahirrahmanirrahim


Saya akui, sebagai orang tua baru, terkadang saya masih perlu belajar untuk menyusun langkah yang tepat, yang cocok. Bagaimana caranya agar diri sendiri tetap sehat lahir dan batinnya, bagaimana anak saya—yang masih bayi—bisa saya perlakukan dengan sebaik-baiknya, bagaimana saya berbakti kepada suami saya tercinta?

Lelah? Tentu saja. Terkadang saya merasa kebingungan, takut keliru. Kesehatan mental itu menjadi hal yang perlu diperhatikan. Meski zaman dahulu memiliki tantangannya sendiri, apa yang saya rasakan tetaplah menjadi hal yang nyata, hanya dengan cara yang berbeda. 

Terkadang pikiran ini muncul: sering kita dengar istilah "anak durhaka"astaghfirullah—tapi jarang yang bertanya: apakah ada juga orang tua yang dzalim? 

Dzalim, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, menindas hak orang lain, dan membebani orang lain dengan beban yang bukan tanggung jawabnya. 

Orang tua yang dzalim. Entah mengapa hal ini terpikirkan oleh saya. Saya bertanya-tanya: kelak saya akan menjadi ibu yang seperti apa? Akankah saya memaksakan kehendak kepada buah hati kami? Mungkinkah saya kelak akan mengungkit jasa-jasa seolah anak adalah orang yang berhutang budi kepada saya dan suami saya? 

Lalu bagaimana jika nantinya saya membesar-besarkan hal kecil, atau tanpa sadar saya merasa benar sendiri dan malah mengadu domba—sehingga membuat anak merasa frustasi dan bersalah terus-menerus. 

Bagaimana jika saya menjadi orang tua yang manis di hadapan orang lain namun justru melukai anak dengan kata-kata ketika  di rumah? Membangga-banggakan anak di hadapan orang lain, tetapi diam-diam malah membanding-bandingkannya dengan anak orang lain yang memiliki kelebihan kemudian menuntutnya untuk menjadi seseorang yang seperti itu bahkan lebih.

Padahal, bisa jadi yang saya lakukan bukan memotivasi, melainkan membuat anak merasa dirinya selalu salah dan tidak cukup baik. 

Yassalam... membayangkannya saja hati ini terasa pilu, Betapa mudahnya orang tua merasa sedang mendidik, padahal mungkin yang sedang dilakukan justru menorehkan luka yang begitu dalam, menjatuhkan mentalnya, merusak rasa percaya dirinya, dan perlahan membuatnya kehilangan keyakinan bahwa dirinya layak dicintai dan dihargai apa adanya. 

Apalagi menjadi seorang ibu maupun ayah tentu membawa banyak perubahan. Perubahan fisik, perubahan hormon, kelelahan, bisa saja hal-hal tersebut merubah banyak hal dari saya bukan? Tanpa saya sadari, semua itu menjadikan saya seseorang yang berbeda dari hari ini.

Kemudian saya kembali berpikir: melahirkan anak ini adalah pilihan saya. Toh kalau saya merasa terbebani dan kelak mengungkit apa yang telah saya lakukan maupun perjuangkan,—apakah saya merasa diri saya pahlawan?— Tentu tidak. Saya yang pada saat itu memilih sendiri untuk melahirkan keturunan. Kalau sampai saya mengeluh dan melakukan hal yang tidak baik kepada anak saya—naudzubillah, mengapa dulu saya memilih untuk melahirkannya. Hufhh. Aneh bukan? 

Jujur, hal-hal demikian berputar di benak saya. Entah dari mana datangnya, tapi pikiran itu ada, dan saya terus mencari apa jawabannya. Ya Allah, tolong berikan hamba-Mu pencerahan.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk orang tua lain yang sedang berjuang. Bahwa menjadi orang tua yang baik dimulai dari niat baik, hati yang mau belajar, jujur pada diri sendiri, dan selalu berusaha memperbaiki diri. Tidak perlu sempurna—yang penting tulus dan sadar.


Wallahu 'alam bishawab 😇

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Iseng Bikin Video Shopee, Kok Bisa Cuan? Ini Cerita & Strateginya

 Bismillahirrahmaanirrahiim


Affiliate lewat video Shopee itu kuncinya bukan cuma produk, ya Gaiss, tapi cara narik klik + trust. Aku ringkas step-by-step yang terbukti dipakai affiliator cuan, ya. 👇


1️⃣ Pilih produk yang “mudah kepancing”

Jangan semua produk dipromosiin.

Fokus ke produk: ✅ Harga < Rp100.000 (impulse buy - beli spontan tanpa rencana - orang tadinya gak niat belanja, tapi karena lihat videomu… 👉 “eh kok kepengen ya” → langsung klik & beli 😄)

✅ Banyak problem (skincare, alat rumah, bayi, dapur)

✅ Rating 4.8+ & terjual ribuan

✅ Komisi ≥10% (atau nominalnya masuk)

💡 Ingat: murah + kepake = gampang closing


2️⃣ Hook 3 detik pertama (WAJIB)

Orang scroll cepet. Kalau 3 detik awal gak “nyentil”, skip.


Contoh hook yang works:

“Kenapa aku nyesel baru nemu ini sekarang…”

“Stop beli yang mahal, ini versi murah tapi works”

“Buat kamu yang punya masalah ___, wajib nonton ini”


❌ Jangan buka dengan:

> “Halo guys, hari ini aku mau review…”


3️⃣ Jangan review, tapi ceritakan MASALAH

Rumus video affiliate Shopee:

MASALAH → SOLUSI → BUKTI → CTA (Call To Action-kalimat ajakan supaya orang melakukan sesuatu)


Contoh:

Masalah: “Bibir aku kering parah tiap pagi.”

Solusi: “Aku pakai ini sebelum tidur.”

Bukti: close-up hasil / tekstur / before-after


CTA: “Link aku sematin, cek sebelum habis.”


👉 Orang beli karena merasa relate, bukan karena spesifikasi.


4️⃣ Tunjukin wajah (personal branding)

Ini penting banget 👇

Video ada wajah → trust naik → klik naik → komisi naik.


Gak perlu cantik/ganteng, yang penting:

•ekspresi jelas

•ngomong natural

•jujur (plus minus disebut)


Shopee lebih dorong akun yang “real human”. Tapi, ini balik lagi ke si affiliator or kreator video-nya, barangkali memang berat banget rasanya buat munculin wajah, kudu cari cara lain, ya. 

Hmm, yang kira-kira menarik itu seperti apa, bagaimana. Balikkan saja posisinya, kalau kamu yang sedang menonton video, poin apa saja yang sekiranya dibutuhkan dan bikin kamu tergugah untuk membeli, atau bahkan menonton videonya berkali-kali (lah, jadi penikmat video tapi gak belanja kali, ya 🤭).


5️⃣ Durasi ideal & format

📌 Durasi: 20–45 detik

📌 Format: portrait 9:16

📌 Tambahin teks di layar (karena banyak nonton tanpa suara)


Contoh teks:

“Murah tapi kepake”

“Affiliate jujur”

“Aku pakai sendiri”



6️⃣ CTA jangan lemah

Jangan cuma: ❌ “Link di bawah ya”


Pakai: ✅ “Aku sematin link-nya, jangan scroll dulu.” ✅ “Klik keranjang kuning sebelum kehabisan.” ✅ “Yang lagi butuh, cek link sekarang.”


CTA = pemicu klik = komisi.


7️⃣ Konsisten & kuantitas dulu

Awal-awal: 📌 1–3 video per hari

📌 Ulang produk yang sama dengan angle beda

📌 Jangan hapus video sepi (bisa naik belakangan)


Shopee itu snowball:

akun kecil → konsisten → tiba-tiba 1 video meledak.


8️⃣ Mindset penting biar cuan

❌ Jangan mikir: “kok aku gak laku-laku,” ✅ Pikir: “video mana yang bisa aku perbaiki.”


Affiliate itu game konten, pemirsahhh, bukan keberuntungan. 


Baiklah, kurang lebihnya seperti itu, ya. Aku juga buat video di Shopee berawal dari iseng, atau senang karena paketan belanjaan aku sudah sampai lalu aku buat video, deh. Ada juga yang sengaja aku buat video dengan tautan produk tertentu yang mau aku beli sendiri. Waktu itu aku buat video jajan/cemilan dan link-nya aku klik sendiri lalu aku checkout. Aku manfaatin gratis ongkir dari video yang aku buat. Minimal pembelanjaan Rp. 10.000 kalau nggak salah. Malas aku cari video orang, jadi, jajan aku yang tinggal sedikit aku videoin, lalu tambahkan link barang biar bisa aku klik. Video sembarang banget waktu itu, mah.

Nah, ini contoh video aku ala-ala sobat ngunyah amatiran 🪄Klik ini deh!





Ekhemm! Kalau ini contoh video yang views-nya lumayan cetar, sih (bagiku yang masih butuh banyak belajar)🤭  🪄Klik lagi boleee

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Percakapan Masa lalu

 Bismillahirrahmaanirrahiim



Mentari menebarkan hawa panasnya yang terik di tengah kota, menyengat siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan. Namun bagi Pak Harun, seorang ojek online berusia 52 tahun, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sejak muda ia terbiasa bekerja di bawah terik matahari sebagai seorang tukang becak, tukang gorengan, ojek pangkalan, dan beberapa profesi lainnya.

Di usia senjanya, nasib memaksanya untuk tetap bekerja keras mencari nafkah. Apakah ia bisa memilih untuk tidak menjadi seperti sekarang? Entahlah, Pak Harun sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi itu lah takdir yang harus ia jalani dan syukuri.

Perkembangan zaman yang kian pesat membuatnya harus beralih profesi menjadi ojek online agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Siang itu, sambil menunggu orderan di sebuah warung kopi, Pak Harun berbincang dengan Pak Salman, rekan sejawatnya yang juga berprofesi sebagai ojek online. Keduanya sudah saling kenal sejak muda, dulu sama-sama berprofesi sebagai tukang becak.

“Zaman dulu mah enak, Man. Kita cuma teriak-teriak nyari penumpang aja.” Pak Harun menyeruput kopinya, “sekarang kudu bela-belain lihat hape, kalau telat dikit bisa keburu disambar orang lain, penumpangnya.”

Pak Salman mengangguk, “iya, ya, Run. Gak pusing mikirin aplikasi kayak begini. Sekarang kalau gak ikut perkembangan zaman, bisa ketinggalan.”

Keduanya lalu terdiam sejenak, merenungi bagaimana perubahan zaman yang begitu cepat. Di usia senja, mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap dapat bertahan hidup.

“Yang penting kita masih bisa cari rezeki, Man. Meski cara dan alatnya beda, yang penting niat kita ikhlas berusaha,” ujar Pak Harun.

Pak Salman mengangguk setuju. Keduanya pun melanjutkan mengobrol ringan, sesekali tertawa mengenang masa muda mereka. Meski zaman terus berubah, semangat dan ikatan persahabatan mereka takkan pernah lapuk dimakan waktu.

Setelah beberapa saat, obrolan mereka mulai merambah ke nostalgia lucu masa lalu, ketika mereka masih berprofesi sebagai tukang becak.

“Ingat nggak Man, waktu kita masih narik becak, terus kejar-kejaran sama polisi? tanya Pak Harun sambil tertawa kecil.



Pak Salman terbahak-bahak bukan main, “ingat banget lah, Run. Waktu itu sampai kita sembunyi segala, di gang sempit. Takutnya bukan main, euy,” bapak dengan tiga orang anak itu membenarkan posisi kaca matanya, “tapi sekarang mah, yang dikhawatirkan kalau sampai ketinggalan orderan!”

Pak Harun mengangguk, “iya Man. Zamannya sudah berubah, tantangannya ya, tambah-tambah. Tapi yang penting kita masih bisa ketawa, ya?”

“Ya, setidaknya kita masih bisa menyambung hidup,” pria itu tiba-tiba teringat almarhumah istrinya, “anak-anak muda sekarang mungkin nggak tahu rasa susah seperti kita dulu, tapi kesulitan mereka ya, ada di bentuk yang berbeda.”

Seiring obrolan mereka yang mengalir, suasana kedai kopi itu mulai ramai dengan kedatangan ojek online lain yang juga menunggu orderan.

Angin semilir bertiup menyejukkan jiwa-jiwa yang terpanggang oleh panasnya realita. Di tengah kota yang penuh sesak dan sibuk itu masih ada tempat sederhana yang nyaman untuk dikunjungi. Sekilas, tempat itu terlihat seperti kafe bergaya vintage yang mahal, tapi owner kedai kopi itu adalah teman seangkatan Pak Harun dan Pak Salman. Dengan hati yang baik, ia tidak mematok harga mahal untuk menu yang tersedia di tempat usahanya tersebut.

Sahabat senja itu menikmati momen yang ada dengan penuh syukur, membiarkan pikiran mereka menganang masa-masa lampau.

Angin kembali berembus lembut, membawa serta suara-suara kota yang seakan menjadi latar bagi kilasan memori itu. Pak Salman tersenyum sendiri, mengenang seluruh perjuangan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan menjadi seseru itu.

Beberapa saat kemudian, Pak Salman merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi ojek online menunjukkan bahwa ada orderan yang masuk. Senyumnya kian mengembang.

“Dapat orderan ke mana, Man?” tanya Pak Harun.

“Deket. Ke sekolahan SD.”

“Eh, ada yang dapat penumpang, nih,” ujar Pak Deden, sang pemilik kedai.

Pak Salman segera meraih helemnya dan bangkit dari tempat duduk, “alhamdulillah, ada orderan. Rezeki nggak boleh ditolak, kan?”

Pak Deden tersenyum, “iya, Man. Semoga lancar, ya.”

Pak Salman pun berpamitan dan melangkah menuju motornya. Seperti biasa, ia merapikan helm, dan memastikan semuanya siap sebelum memulai perjalanan.

Pak Deden pun duduk di bangku menemani Pak Harun berbincang ringan sembari menunggu giliran rezekinya tiba.

“Har, bagaimana keluarga di rumah, sehat?” tanya Pak Deden sambil menyeruput kopi.

“Alhamdulillah sehat, Den.” Pak Harun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.

“Alhamdulillah. Keluarga memang jadi semangat kita untuk terus berjuang, ya.”

“Iya. Walaupun pusing dan capek sama orderan yang kadang sepi, tapi ya, demi keluarga mah, harus diperjuangkan,” tambah Pak Harun sambil mengaduk kopinya.

Semilir angin kembali berembus sepoi-sepoi. Suasana di kedai kopi itu terasa nyaman, dengan obrolan ringan dan gelak tawa yang sesekali menghangatkan suasana.

“Aku jadi ingat pas kita masih muda dulu, Har. Ingat nggak, kita sering ke sini pas masih cuma warung kecil di pinggir jalan?” tanya Pak Deden mengenang masa lalu.

“Pak Harun tertawa, “jelas inget, lah. Nongkrong sampai malam, ngobrol macam-macam. Siapa sangka, sekarang kita masih bisa kumpul di tempat yang sama, ya, meskipun sudah banyak yang berubah, Den.”

Pak Deden tersenyum, “benar, Har. Meskipun dunia telah banyak yang berubah, semoga saja persahabatan kita tetap sama.”

“Amin. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup, ya. Toh, yang penting kan, kita tetap bersyukur dan saling mendukung.”

♣♣♣

Di tempat lain, Pak Salman sedang menikmati perjalanannya mengantar seorang anak SD yang tadi dipesankan ojek oleh orang tuanya melalui aplikasi ojek online.

Suara mesin motor, kebisingan kota, dan bunyi klakson yang terdengar di sana-sini seakan menjadi irama yang mengiringi setiap langkah perjuangannya.

Di tengah perjalanan, pikiran Pak Salman melayang, mengingat keluarganya. Cucu-cucu yang sedang lucu-lucunya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal bersama dengannya di satu rumah sederhana, semuanya adalah karunia yang tak terkira. Setiap tetes keringat yang jatuh‒meskipun tidak se-ngoyo dulu‒adalah bentuk cinta untuk mereka.

“Aminah, meskipun kau telah tiada, tapi aku dan anak-anakmu di sini tetap berjuang untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami selalu mengirimkan doa-doa kami untukmu, Aminah,” batin Pak Salman, mengenang istri tercintanya.

Di tengah kesibukan Pak Salman, kenangan tentang Aminah selalu hadir, memberikan semangat dan kekuatan. Perjalanan hari itu terasa lebih ringan. Meski orderan datang silih berganti, Pak Salman merasa ada kekuatan baru yang menyertainya. Ia menyadari bilamana setiap perjalanan, setiap tarikan gas kendaraan bermotor tuanya, serta setiap langkah yang diambil adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.

Menjelang senja, ketika kubah langit berubah warna mejadi jingga kemerahan, Pak Salman kembali ke warung kopi tempat biasa ia menghabiskan waktu senggangnya. Di sana ia bertemu lagi dengan Pak Deden dan rekan-rekan lainnya. Kebetulan Pak Harun tidak ada di sana karena masih ada orderan.

“Bagaimana Man, hari ini lancar?” tanya Pak Deden sambil menikmati pisang goreng yang hangat.

“Alhamdulillah, lancar, Den. Walaupun capek, tapi hati ini senang rasanya. Setiap hari adalah berkah.”

Di bawah langit sandikala yang indah, mereka menemukan ketenangan. Meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, serta rasa syukur akan selalu menjadi pegangan yang harus tetap dijaga dan dipegang teguh. Suara azan maghrib pun berkumandang, menandai waktu untuk berhenti sejenak dari segala aktifitas dan bersujud kepada Sang Pencipta mayapada dan seisinya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran dalam Panggung Kehidupan

 


 

Dunia ini adalah panggung sandiwara, katanya. Kita bukan sutradara, melainkan aktor yang tidak bisa memilih peran—apa pun yang Tuhan tetapkan untuk kita. Kalau kita sudah dicasting sebagai tokoh antagonis, ya jalani saja peran itu sebaik-baiknya.

Kita adalah bagian kecil dari sebuah mesin besar. Jika kita tidak memainkan peran kita dengan baik, mesin itu bisa kacau dan rusak. Hidup akan berjalan normal, baik, dan produktif jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh—bukan setengah-setengah.

Kekacauan dalam satu bagian pasti akan berdampak pada bagian lainnya. Seperti ketika kondisi seorang ibu sedang ruwet, suami dan anak pun bisa ikut terdampak. Kita ini hanya sekrup kecil dalam sebuah organisme besar. Tak perlu terus-menerus mengeluhkan peran yang tak kita sukai. Santai saja, dan jalanidengan nyaman dan terus berusaha.

Merasa bosan atau mengeluh saat menjadi pegawai? Ingatlah, atasan kita pun dulunya pegawai, tapi mereka sudah naik level karena menjalani peran mereka dengan konsisten.

Bersikap realistis itu bukan berarti memaksakan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita, tetapi menginginkan agar segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berikan Bintang

 


Terima kasih. Sebelumnya aku tidak tahu apa itu oksitosin, bagaimana cara kerjanya. Tapi, ketika aku membaca artikel tentang itu, semuanya mulai masuk akal. 


Aku beri bintang pesanmu yang ini. Itu sangat membantuku:

"Ini mah aku mau coba kasi input ya barangkali bisa manfaat. Jadi, sebelum merem sudah pasti baca do'anya dan bisa ditambah Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas."


"Langkah selanjutnya yakinkan diri sendiri boleh dengan berbicara secara verbal maupun non-verbal bersuyukur atas apapun yg terjadi hari itu (dijabarin tuh satu² apa aja). Setelahnya katakan juga pada diri sendiri apapun kegiatan esok hari biarlah besok (entah ada kerjaan untuk buat laporan Excel atau apapun)."


"Yang terakhir, tarik nafas 2 detik, tahan nafas 2 detik, keluarin nafas 2 detik, tahan dulu 2 detik, lanjut lagi ulangi tarik nafas 2 detik, blablabla diulang boleh sampai berapa kali pun."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cinta Suci dan Kematian

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ





[14/2 23.12] : Ada kata ema di kematian.

[14/2 23.17] Cherry Blossoms: Ema adalah ibu, seorang perempuan. Saat ibu melahirkan kita, ibu itu berjuang, taruhannya nyawa, tapi ibu tidak menyerah begitu saja dan tetap melakukan persalinan. Alhasil, atas kuasa dan ridhha-Nya, lahirlah kita di dunia fana ini.  Apakah mungkin dengan itu juga dapat dikatakan sebagai cinta suci, cinta yang tak pernah berubah? 


[14/2 23.19] : Ada kata ati di kematian

[15/2 03.25] Cherry Blossoms: Ati untuk ati-ati atau berhati-hati demi/dalam mempersiapkan kematian, maupun berhati-hati menjaga cinta suci, cinta yang tak berubah itu. Yakni berhati-hati dengan menjaga ati (hati). Bila ia mulai keruh, maka kuraslah, kemudian isi dengan yang lebih jernih. Ya, jernihkan lah ia.

Kematian dan cinta yang tak pernah berubah. Lalu, cinta mana lagi selain cinta kepada sang Pemilik Cinta? 

Wallahu a'lam. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Moci, Tea Time Ala Tegal Laka-Laka

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ




Jadi, sore tadi rencananya mau main ke rumah Mbah Uti (ibu sambung my mom), eh budhe ngajak ziarah ke makam Mbah Uti dan Mbah Kakung (dari pihak ayah). Ya sudah, aku ikut saja. 

Di pemakaman, hampir semuanya saudara, ada kaka sepupu, mbah uti, mbah kakung, mbah kakung 2 (ayah sambungnya ayahku), dll. Semuanya keluarga pihak ayah. 

Oh iya, posisiku ada di desa Gumalar, kec. Adiwerna, Tegal, tanah  kelahiran ayah. Eh, tanah kelahiranku juga, deng. Yaa, namanya juga sulung, daripada bingung-bingung, dilahirin aja di kampung (padahal ibuku selama mengandungku tuh di Jakarta tauk, pas ngidam juga hamberger). Ahhahahaha. 

Setelah ziarah makam, aku diajak mampir ke rumah saudara, lalu ngobrol, setelah itu mampir lagi ke rumah bibi. Aku panggilnya lilik, sih. Iya lilik, aka. bulik, alias ibu cilik. 

Nah, di sana juga ngobrol. "Ayo sini, moci dulu." Awalnya aku bingung. Moci makanan kenyal? Tapi yang disuguhkan itu teh. Apa semacam teh Poci khas Slawi kali, ya. 

"Lik, moci itu merek teh, ya?" tanyaku tanpa dosa. Ya Allah, pertanyaan yang memalukan sih. Kayak bocah SD dehh. 

"Bukan, Nis. Ini namanya Tradisi Moci. Kalau orang Tegal ya begini, kumpul-kumpul bareng sambil minum teh, itu namanya moci. Biasanya tuh, 'Ayo-ayo kita moci,' 'Moci-moci ndisit, ooh', gitu Nis." Owalah, sejenis tea time gitu aku membatin. 

"Lah, moci nganggone kayak kiye" (Masa moci, pakainya beginian) saudaraku menunjuk-nunjuk ke poci berbahan kuningan itu. 

"Ya ora papa. Anane kiye. Poci sing kae neng Jakarta." (Ya gak apa-apa. Adanya yang ini. Poci yang itu adanya di -rumah- yang di Jakarta) 


Aku senyam-senyum saja. Senang dan juga merasa lucu. Gimana ya, lucu gemas gitu, mendengarkan para sesepuh berbincang. 

Moci biasanya menggunakan poci berbahan tanah liat, kata mbah google. Dan juga, katanya nilai nilai yang tersirat dalam tradisi moci ya silaturahmi, musyawarah (berembuk bareng), gotong royong, kebersamaan, persaudaraan, kontrol sosial, dan keterbukaan berpendapat filosofi dari perangkat dan proses moci menciptakan keseimbangan hidup dan keadilan dari melalui kerja keras dan tempaan waktu dalam menapaki kehidupan harus saling berbagi, memberi pada pihak yang lebih kecil dan merata atau adil dan bersikap pada siapapun yang ada di bawahnya.

Oh iya, tradisi moci di Tegal sampai sekarang masih sangat melekat dan eksis, loh. Kebiasaan minum teh atau moci ini sudah menjadi budaya lokal bagi masyarakat Tegal. Percaya nggak, bertahannya tradisi moci merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang terjalin antara pabrik teh, pabrik gula, perajin gerabah poci, masyarakat pencinta teh baik kalangan pemerintahan setempat, budayawan, sastrawan, seniman, buruh, buruh seni, kuliner, serta warung warung makan? 

#tegal 
#moci 
#teatime
#tea 
#family

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ridha Allah: Puncak dari Segala Permohonan

Bismillahirrahmanirrahim

Orang bilang, kehidupan itu seperti roda yang berputar. Ada kalanya berada di atas, maupun di bawah. Yups, Ada kalanya juga ngegelinding ke mana-mana. So, kita kudu tahan banting. Nggak semua tempat yang dilewati itu nyaman dan tentram, kan? It's definite menemukan medan terjal, berbatu, berlumpur, berpasir, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera (gak lagi nyani, tapi keinget aja gitu, lagu di film kartun Ninja Hatori). Hohoho, kehidupan kan merupakan perjalanan, dan perjalanan adalah kakaknya pengembaraan, sepupunya pelayaran, keponakannya penerbangan (hahaii, canda Gaess). 

Yang dulunya punya sejarah kehidupan manis, mau apa saja bisa didapatkan dengan mudah, belum tentu berlanjut hingga sekarang. 

Yang selalu hidup dikaruniai kebahagian dan keberuntungan, ya mau tidak mau usahakan untuk menerima kalau diuji dengan kesedihan atau kesulitan. 

Berusaha keras, lalu mendapatkan hasil yang memuaskan. Sangat memungkinkan bagi manusia yang telah bersusah payah mendaki gunung keberhasilan, menikmati kesenangannya, lalu tergelincir, jatuh, dan kembali berada di bawah. Ibarat berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Berakit-rakit ke hili, berenang-renang ke pinggiran. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bersakit-sakit kembali, bersenang-senang kemudian.

Apapun kondisinya, kuncinya adalah bersyukur. Merasa berterima kasih atas segala yang diberikan Allah, baik itu berupa kemudahan, maupun ujian. Menjalani segalanya dengan sepenuh hati, sebaik yang kita mampu.

Allahu wa hitotsu no riyū de subete ga okoru yō no shimasu. Subete ga gakushū purosesudeari, watashitachi wa arayuru reberu o tsūka shinakereba narimasen.

アッァフは一つの理由ですべてが起こるよのします。すべてが学習プロセスであり、私たちはあらゆるレベルを通過しなければなりません

Allah membiarkan semuanya terjadi dengan satu alasan. Semua itu sebuah proses belajar dan kita harus melewati setiap tingkatannya.

Pantang menyerah, pantang bersedih. Tapi, bagaimana jika kita merasa bersedih atas sesuatu yang belum dapat kita capai, maupun alasan lain yang membuat kesedihan itu ada?

Pada pengajian Tafsir Jalalain, Almaghfurlah Abah Masruri Abdul Mughni mengajarkan doa yang baik sekali dibaca saat kita merasa sedih. Berikut doa yang dibaca oleh Nabiyullah Ya'qub as., dari ayahanndanya Nabiyullah Ishaq as., dari ayahandanya Nabiyullah Ibrahim as. :

يَا لَطِيْفًا فَوْقَ كُلِّ لَطِيْفٍ أُلْطُفْ بِي فِي أُمُوْرِيْ كُلِّهَاكَمَا 
أُحِبُّ، وَرَضِّنِي فِي دُنْيَاي وَآخِرَتِي

"Ya Allah, Yang Maha Pengasih yang setinggi-tingginya. Belas kasihanilah aku di dalam persoalanku, sebagaimana yang aku senangi. Ya Allah, ridhailah aku di dunia dan akhiratku."

Dengan itu, semoga Allah menghendaki kita dapat merasa tidak terbebani atas segala persoalan yang sedang dihadapi, serta mendapatkan keridhaan-Nya. Ridha Allah adalah segalanya, Puncak dari segala permohonan.

اِلَهِي أَنْتَ مَقْصُوْدِي وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِي

"Ya Allah Ya Tuhanku, Engkaulah tujuanku, dan ridha-Mu harapanku."

Segala yang kita lakukan tidak lain demi mendapatkan keridhaan Allah. Dengan mendapatkan ridha-Nya, hal lain pun akan mengikuti, kita akan mendapatkannya pula. 


Wallahu'alam 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tutorial Upload File Tes Tulis Seleksi PMB Ma'had Aly Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim

Persiapan Tes Seleksi Ma'had Aly Sa'iidusshiddiqiyah

Materi Tes Tulis
- Soal fikih
- Soal nahwu
- Soal sharaf
- Esai "Agama dan Efektivitas Penanggulangan Covid-19" (diketik di Ms. Word - doc. atau docx.)

PENTING!
- Whatsapp peserta harus menggunakan NAMA (ASLI) LENGKAP, ketika ujian berlangsung. 
- Peserta harus mempersiapkan kuota dan berada di lingkungan dengan sinyal yang baik. Bila tempat tinggal peserta memiliki sinyal kurang baik, sebelum ujian berlangsung, cari tempat dengan sinyal stabil, baik itu di kelurahan, desa tetangga, dll/gunakan kartu Telkomsel demi kelancaran ujian online. 


Berikut tutorial upload file materi tes tulis PMB ke Google Form:

Setelah megunduh soal dan mengerjakannya dengan baik, peserta dapat mengumpulkan file-file jawaban dan esai di satu folder, guna mempermudah saat upload.


Setelah membuat folder, beri nama file sesuai format yang ditentukan (Nama Lengkap-Jenis Jawaban/Esai). Bila file (foto) lebih dari satu, beri keterangan angka di belakang nama. Pastikan nama file jawaban/esai tidak tertukar. 


Buka link google form yang disediakan panitia. Log in menggunakan gmail untuk mengisi form. 


 Isi kolom di bawah ini dengan benar.


Klik "add file/tambahkan file" untuk mengunggah jawaban/esai ke form.


Kemudian klik "select files from your device/pilih file dari perangkat Anda".


Selanjutnya pilih "dokumen/file". Beberapa ponsel memiliki tampilan yang berbeda.


Klik ikon (tiga garis) di pojok kiri atas gambar.


Pilih manager file/di mana folder berisi jawaban/esai Anda tersimpan.


Pastikan file yang diunggah sesuai dengan keterangan di kolom upload. Apabila file yang akan diunggah lebih dari 1, klik "add more files/tambahkan file", lalu klik "upload". 

Lakukan seperti cara sebelumnya hingga seluruh file terunggah.


Periksa kembali isi form dengan teliti. File yang dinilai adalah yang dikirim pertama kali atas nama peserta. Apabila ada kesalahan server, segera konfirmasi salah satu admin grup Seleksi Ma'had Aly (whatsapp).

Kemudian klik "submit". Tunggu hingga jawaban benar-benar terkirim.


Bila sudah muncul tampilan seperti di bawah ini, berarti jawaban sudah terkirim.


Peserta dapat melakukan uji coba "uploading files" melalui link "klik di sini". Silakan mencoba. 
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perdamaian Dunia Menciptakan Kesejahteraan Umat Manusia


Annisa Ratna Pratiwi
A.    Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Pemikiran atau konsep lahir dari konteks zamannya. Demikian pula dengan gagasan Islam Rahmatan lil ‘Alamin ini. Secara bahasa, kata Islam berasal dari kata salama yang berarti damai, kemanan, kenyamanan dan perlindungan.[1]
Istilah Islam rahmatan lil ‘alamin merupakan istilah yang bersumber dan tercantum dalam Alquran (building in Islam), yakni dipetik dari salah satu ayat yaitu, “Wa Maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi semesta alam).”[2] Allah swt langsung yang memberikan istilah tersebut untuk menyebut sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.[3]
Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, artinya agama Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Tuhan semesta alam untuk mengelola seluruh alam dunia ini dengan penuh rahmat dan kasih sayang. [4]Menurut Muhammad Tahir-ul-Qadri dalam Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, “Seperti makna literalnya, Islam adalah pernyataan absolut tentang perdamaian. Dan sebagai agama, Islam adalah manifestasi damai itu sendiri. Islam mendorong manusia untuk menciptakan hidup proporsional, damai, penuh kebaikan, keseimbangan, toleransi, sabar, dan menahan amarah.” Dari kata salama menjadi yasaalamu, salaaman, dan salaamatan, serta kata turunan lainnya, yang di dalam Alquran menjelaskan bahwa setiap kata berasal, terderivasi, serta terkonjungsi dari kata Islam, secara esensial merujuk kepada pengertian damai, keamanan, dan kenyamanan.[5]
B.     Konsep Dasar tentang Konflik Perdamaian pada Zaman Islam Klasik
Konsep Islam yang berlebihan oleh negara-negara Barat sebagai ideologi yang gemar perang, dan masyarakatnya (kaum muslimin) dipandang sebagai penjajah yang degil muncul secara luas selama periode Perang Salib, walaupun sikap yang mewarnai pandangan ini tersebar lebih dulu dalam masyarakat Nasrani Eropa. Mereka tidak begitu mengetahui tentang Muhammad, Alquran, hukum Islam, cara-cara berperang, hubungan Internasional, termasuk membayar upeti, yang mana diperlakukan dari sudut pandang sistem hukum yang memperlihatkan agama dan pemikiran ahli-ahli hukum.
Ada beberapa konsep dan pengertian pokok yang mendasari pemikiran Islam terhadap konflik, perbedaan, perlindungan dan perdamaian. Sumber yang menyebutkan nama agama Islam, seperti halnya kata “muslim” yang dinamakan salam, dalam bahasa Yahudi “shalom”, “damai, sejahtera, sehat”. Pengucapan salam dalam Islam sebenarnya serupa dalam bahasa Yahudi: “shalom aleichem”, semoga damai dilimpahkan atasmu. Islam ketaatan sangat berhubungan erat dengan salam (salm, silm) yang berarti damai, bukan semata-mata karena ada konflik, namun sungguh-sungguh karena menunjukkan kesehatan dan kesejahteraan. Islam mengajarkan di setiap perjumpaan saling mengucapkan salam, “assalamu’alaikum”, memberikan makna damai bagi semua manusia. [6] Kata salam di dalam agama berasal dari akar kata yang sama seperti salam yang berarti damai. Islam adalah suatu agama yang damai. Kata seperti ini lebih digunakan sebagai suatu kata sifat dibanding suatu kata benda. Setelah Islam diadopsi sebagai sistem kepercayaan oleh perorangan atau suatu kelompok maka Islam menjadi suatu tindakan dan suatu gaya hidup, tunggal atau jamak, maskulin atau feminin. Salah satu dari turunan kata benda adalah al-silm, yang berarti pada waktu yang sama Islam dan damai. Al-salam (salam dengan artikel al) yang berarti damai atau tentram adalah salah satu dari 99 sifat yang dimiliki Tuhan.[7]
C.    Sejarah Islam dalam Membangun Peradaban dan Perdamaian
Nabi Muhammad saw yang hidup dan lahir di tengah-tengah jazirah Arab merasa sangat prihatin terhadap perilaku kaumnya. Mereka hidup terpecah belah, egoisme, dan barbarism. Oleh karena itu, dengan semangat pembaharuan yang beliau bawa pada masa awal penyebaran Islam, secara bertahap, beliau bersama para pengikutnya berhasil memporak-porandakan adat jahiliah yang menghamba pada berhala-berhala dan dewa-dewa. Sejarah juga mencatat, cahaya Islam mampu menyadarkan manusia untuk menghilangkan strata sosial yang membawa pada primordialisme, kolonialisme, dan perbudakan.
Dengan cara dan metode yang baik, beliau mampu membawa umatnya pada nilai-nilai kemanusiaan yang anti kekerasan dan mencintai perdamaian. Tidak banyak waktu yang diperlukan Muhammad dalam menyampaikan sendi-sendi ajaran agamanya (Islam) ke seluruh dunia. Sebelum wafatnya (pada usia yang ke-63), Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kaum Muslimin.
Karen Amstrong, mantan biarawati Katolik dalam bukunya A History of God: The 4,000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632 M, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah. Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi mereka. Ia yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar, sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah peradaban baru yang unik dan modern.[8]
D.    Pentingnya Hidup Damai sebagai Masyarakat/Bangsa untuk Dunia
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yakni berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa. Semua manusia sama saja derajat kemanusiaannya, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku lainnya. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal dan dengan demikian saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi antara satu kelompok dengan lainnya. Allah tidak menyukai orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kekayaan atau kepangkatan karena sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang lahir maupun yang tersembunyi, Mahateliti sehingga tidak satu pun gerak-gerik dan perbuatan manusia yang luput dari ilmu-Nya.[9]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa, perbedaan merupakan fakta hidup, baik beda bangsa, suku, ras dan budaya bukanlah bahan dan panggung untuk melakukan pertentangan maupun perselisihan, hal ini pun belaku pada perbedaan agama.
Lalu, apa yang Islam katakan dalam kaitannya dengan hubungan internasional yang didasarkan pada keadilan dan sarana untuk membangun perdamaian? Dalam Alquran, Tuhan Maha Kuasa menjelaskan bahwa sementara latar belakang kebangsaan dan kesukaan kita bertindak sebagai sarana identitas, mereka tidak berhak atau memvalidasi bentuk superioritas, apapun bentuknya (QS. Al-Hujurat [49]: 14).[10]
Hubungan antara pluralitas kehidupan keberagaman dan ajaran toleransi dalam Islam pun harus sedapat mungkin dicermati sebagai kenyataan sosiologis, dan tidak dipandang sebagai adanya pertemuan dalam masalah-masalah teologis.[11] Dalam dimensi sosial, pentingnya memelihara dan meningkatkan perdamaian bangsa dan dunia, setidaknya berkaitan dengan 4 (empat) hal, yaitu:
1.  Perkembangan dunia modern yang menunjukkan bahwa perdamaian lebih penting dari sebelumnya. Globalisasi ekonomi dan semakin meningkatnya mobilitas, komunikasi, integrasi dan interdependensi, perpindahan dan persebaran penduduk, yang berubah merupakan jembatan dalam menjalin komunikasi dan kerjasama antarsesama manusia;
2.      Toleransi diperlukan antara orang-seseorang, keluarga dan panguyuban. Promosi toleransi dan pembentukan sikap keterbukaan, saling mendengar dan solidaritas;
3.      Persamaan hak hidup dan Ras, untuk menjamin persamaan harkat dan hak-hak seseorang dan kelompok, terutama berkaitan dengan perlindungan hukum dan sosial baik mengenai perumahan, pekerjaan, kesehatan, menghormati keaslian kebudayaan, memberi kemudahan pada kemajuan dan integrasi sosial, terutama melalui pendidikan; dan  
4.  Studi-studi dan jaringan kerja ilmiah dilaksanakan untuk mengkoordinasi panguyuban internasional pada tantangan global sekarang ini, termasuk analisis oleh sains sosial mengenai akar permasalahan yang tejadi, oleh karena itu, penelitian yang dilakukan dapat mendukung tindakan pengambilan kebijakan dan penetapan standar oleh negara-negara terkait. [12]
Dari tulisan saya di atas, kita bisa menarik benang merah bahwa nilai-nilai perdamaian pada hakikatnya banyak termaktub dalam Alquran dan juga secara jelas diindikasikan dalam berbagai riwayat Hadis Nabi. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran, dan tidak ada satu Hadis pun yang mengobarkan semangat kebencian, permusuhan, pertentangan, atau segala bentuk perilaku negatif dan represif yang mengancam stabilitas dan kualitas kedamaian hidup. Alquran menegaskan bahwa Rasulullah saw diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 10). Zuhairi Misrawi menyatakan bahwa ada dua hal utama yang perlu diketahui dari ayat tersebut. Pertama, makna rahmatan; secara linguistik, rahmatun berarti kelembutan dan kepedulian (al-riqqah wa al-ta’aththuf). Kedua, makna lil’alamin; para ulama berbeda pendapat dalam memahami ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa cinta kasih Rasulullah saw hanya untuk orang muslim saja. Tapi ulama lain berpendapat bahwa cinta kasih Rasulullah saw untuk semua umat manusia. Hal ini mengacu pada ayat terdahulu yang menyatakan bahwa Rasulullah saw diutus untuk seluruh umat manusia (kaffatan li an-nas). Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan pula bahwa “Sesungguhnya saya tidak diutus sebagai pemberi laknat, tapi saya diutus untuk memberi rahmat.”
Islam yang rahmatan lil’alamin merupakan perwujudan dari nilai-nilai universal yang terkandung dalam pokok ajaran Islam, yakni Alquran maupun Sunnah Nabi Muhammad. Nilai yang mengedepankan keharmonisan, kedamaian, dan kemaslahatan bagi semua. Sehingga nilai-nilai itulah yang seharusnya diambil, dipahami, dan kemudian berusaha dipraktekkan oleh umat manusia pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya.
Perdamaian harus menjadi kekuatan penuh untuk membangun peradaban manusia, terutama di era globalisasi ini. Perdamaian merupakan warisan tradisi yang sangat penting, menarik, dan patut dicontoh daripada warisan perang. Sebab dalam tradisi perdamaian yang ada adalah kebahagiaan, keharmonisan, serta kenangan yang manis dan indah antara pelbagai masyarakat dan agama-agama.[13] Budaya yang damai, agama yang damai, pasti akan menciptakan bangsa dan negara yang damai. Jika Negara-negara di dunia damai, maka terciptalah kedamaian dunia.

   
DAFTAR PUSTAKA

Agama RI, Departemen. 2009. Al-Qur’an dan Tafsirnya, Vol: 9. Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur’an dan Departemen Agama.
Ahmad, Mirza Masroor. 2013. Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian. Terjemahan Ekky Q. Sabandi. Yogyakarta: Neratja Press.
Ghazali, Adeng Muchtar. 2016. “Toleransi Beragama dan Kerukunan dalam Perspektif Islam” Religious.
Irawan, Deni. 2014. “Islam dan Peace Building”. Religi. Vol. X No. 2.
Misrawi, Zuhairi. 2010. Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lil ‘Alamin  Jakarta: Pustaka Oasis.
Mubarak, Zakky. “Sejarah Nabi Muhammad (5): Membangun Peradaban Kemanusiaan”, https://islam.nu.or.id/post/read/85434/sejarah-nabi-muhammad-5-membangun-peradaban-kemanusiaan
Ramli, Muhammad Idrus. 2011. “Rahmatan Lil-Alamin dan Toleransi”, Islamia: Jurnal Pemikiran Islam Republika.
Rasyid, Muhammad Makmun. 2016. “Islam Rahmatan Lil Alamin Perspektif KH. Hasyim Muzadi”. Episteme. Vol. 11. No. 1.
Rohimat, Asep Maulana. 2018. Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Gerbang Media.
Yahya, Ismail “Islam Rahmatan Lil’alamin”, http://www,iain-surakarta.ac.id/?p=12750
 
 






[1] Ismail Yahya, “Islam Rahmatan Lil’alamin”, http://www,iain-surakarta.ac.id/?p=12750 (diakses 4 November 2019).
[2] Muhammad Idrus Ramli, “Rahmatan Lil-Alamin dan Toleransi”, Islamia: Jurnal Pemikiran Islam Republika,15 Desember 2011, h. 25.
[3] Muhammad Makmun Rasyid, “Islam Rahmatan Lil Alamin Perspektif KH. Hasyim Muzadi”, Episteme, Vol. 11, No. 1, Juni 2016, h. 101.
[4] Asep Maulana Rohimat, Metodologi Studi Islam, (Yogyakarta: Gerbang Media, 2018), h. 4.
[5] Yahya, “Islam Rahmatan Lil’alamin”.
[6] Deni Irawan, “Islam dan Peace Building”, Religi, Vol. X No. 2, Juli 2014, h. 161.
[7] Irawan, “Islam dan Peace Building”, h. 162.
[8] Zakky Mubarak, “Sejarah Nabi Muhammad (5): Membangun Peradaban Kemanusiaan”, https://islam.nu.or.id/post/read/85434/sejarah-nabi-muhammad-5-membangun-peradaban-kemanusiaan (diakses 4 November 2019).
[9] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Vol: 9, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur’an dan Departemen Agama, 2009), h. 419.
[10] Mirza Masroor Ahmad, Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, terjemahan Ekky Q. Sabandi, (Yogyakarta: Neratja Press, 2013)
[11] Adeng Muchtar Ghazali, “Toleransi Beragama dan Kerukunan dalam Perspektif Islam”, Religious, I, 1 (September 2016), h. 32.
[12] Ghazali, “Toleransi Beragama dan Kerukunan dalam Perspektif Islam”, h. 32.
[13] Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), h. 334.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS