Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Pilihan Melahirkan, Tanggung Jawab Mencintai

 Bismillahirrahmanirrahim


Saya akui, sebagai orang tua baru, terkadang saya masih perlu belajar untuk menyusun langkah yang tepat, yang cocok. Bagaimana caranya agar diri sendiri tetap sehat lahir dan batinnya, bagaimana anak saya—yang masih bayi—bisa saya perlakukan dengan sebaik-baiknya, bagaimana saya berbakti kepada suami saya tercinta?

Lelah? Tentu saja. Terkadang saya merasa kebingungan, takut keliru. Kesehatan mental itu menjadi hal yang perlu diperhatikan. Meski zaman dahulu memiliki tantangannya sendiri, apa yang saya rasakan tetaplah menjadi hal yang nyata, hanya dengan cara yang berbeda. 

Terkadang pikiran ini muncul: sering kita dengar istilah "anak durhaka"astaghfirullah—tapi jarang yang bertanya: apakah ada juga orang tua yang dzalim? 

Dzalim, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, menindas hak orang lain, dan membebani orang lain dengan beban yang bukan tanggung jawabnya. 

Orang tua yang dzalim. Entah mengapa hal ini terpikirkan oleh saya. Saya bertanya-tanya: kelak saya akan menjadi ibu yang seperti apa? Akankah saya memaksakan kehendak kepada buah hati kami? Mungkinkah saya kelak akan mengungkit jasa-jasa seolah anak adalah orang yang berhutang budi kepada saya dan suami saya? 

Lalu bagaimana jika nantinya saya membesar-besarkan hal kecil, atau tanpa sadar saya merasa benar sendiri dan malah mengadu domba—sehingga membuat anak merasa frustasi dan bersalah terus-menerus. 

Bagaimana jika saya menjadi orang tua yang manis di hadapan orang lain namun justru melukai anak dengan kata-kata ketika  di rumah? Membangga-banggakan anak di hadapan orang lain, tetapi diam-diam malah membanding-bandingkannya dengan anak orang lain yang memiliki kelebihan kemudian menuntutnya untuk menjadi seseorang yang seperti itu bahkan lebih.

Padahal, bisa jadi yang saya lakukan bukan memotivasi, melainkan membuat anak merasa dirinya selalu salah dan tidak cukup baik. 

Yassalam... membayangkannya saja hati ini terasa pilu, Betapa mudahnya orang tua merasa sedang mendidik, padahal mungkin yang sedang dilakukan justru menorehkan luka yang begitu dalam, menjatuhkan mentalnya, merusak rasa percaya dirinya, dan perlahan membuatnya kehilangan keyakinan bahwa dirinya layak dicintai dan dihargai apa adanya. 

Apalagi menjadi seorang ibu maupun ayah tentu membawa banyak perubahan. Perubahan fisik, perubahan hormon, kelelahan, bisa saja hal-hal tersebut merubah banyak hal dari saya bukan? Tanpa saya sadari, semua itu menjadikan saya seseorang yang berbeda dari hari ini.

Kemudian saya kembali berpikir: melahirkan anak ini adalah pilihan saya. Toh kalau saya merasa terbebani dan kelak mengungkit apa yang telah saya lakukan maupun perjuangkan,—apakah saya merasa diri saya pahlawan?— Tentu tidak. Saya yang pada saat itu memilih sendiri untuk melahirkan keturunan. Kalau sampai saya mengeluh dan melakukan hal yang tidak baik kepada anak saya—naudzubillah, mengapa dulu saya memilih untuk melahirkannya. Hufhh. Aneh bukan? 

Jujur, hal-hal demikian berputar di benak saya. Entah dari mana datangnya, tapi pikiran itu ada, dan saya terus mencari apa jawabannya. Ya Allah, tolong berikan hamba-Mu pencerahan.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk orang tua lain yang sedang berjuang. Bahwa menjadi orang tua yang baik dimulai dari niat baik, hati yang mau belajar, jujur pada diri sendiri, dan selalu berusaha memperbaiki diri. Tidak perlu sempurna—yang penting tulus dan sadar.


Wallahu 'alam bishawab 😇

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Percakapan Masa lalu

 Bismillahirrahmaanirrahiim



Mentari menebarkan hawa panasnya yang terik di tengah kota, menyengat siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan. Namun bagi Pak Harun, seorang ojek online berusia 52 tahun, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sejak muda ia terbiasa bekerja di bawah terik matahari sebagai seorang tukang becak, tukang gorengan, ojek pangkalan, dan beberapa profesi lainnya.

Di usia senjanya, nasib memaksanya untuk tetap bekerja keras mencari nafkah. Apakah ia bisa memilih untuk tidak menjadi seperti sekarang? Entahlah, Pak Harun sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi itu lah takdir yang harus ia jalani dan syukuri.

Perkembangan zaman yang kian pesat membuatnya harus beralih profesi menjadi ojek online agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Siang itu, sambil menunggu orderan di sebuah warung kopi, Pak Harun berbincang dengan Pak Salman, rekan sejawatnya yang juga berprofesi sebagai ojek online. Keduanya sudah saling kenal sejak muda, dulu sama-sama berprofesi sebagai tukang becak.

“Zaman dulu mah enak, Man. Kita cuma teriak-teriak nyari penumpang aja.” Pak Harun menyeruput kopinya, “sekarang kudu bela-belain lihat hape, kalau telat dikit bisa keburu disambar orang lain, penumpangnya.”

Pak Salman mengangguk, “iya, ya, Run. Gak pusing mikirin aplikasi kayak begini. Sekarang kalau gak ikut perkembangan zaman, bisa ketinggalan.”

Keduanya lalu terdiam sejenak, merenungi bagaimana perubahan zaman yang begitu cepat. Di usia senja, mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap dapat bertahan hidup.

“Yang penting kita masih bisa cari rezeki, Man. Meski cara dan alatnya beda, yang penting niat kita ikhlas berusaha,” ujar Pak Harun.

Pak Salman mengangguk setuju. Keduanya pun melanjutkan mengobrol ringan, sesekali tertawa mengenang masa muda mereka. Meski zaman terus berubah, semangat dan ikatan persahabatan mereka takkan pernah lapuk dimakan waktu.

Setelah beberapa saat, obrolan mereka mulai merambah ke nostalgia lucu masa lalu, ketika mereka masih berprofesi sebagai tukang becak.

“Ingat nggak Man, waktu kita masih narik becak, terus kejar-kejaran sama polisi? tanya Pak Harun sambil tertawa kecil.



Pak Salman terbahak-bahak bukan main, “ingat banget lah, Run. Waktu itu sampai kita sembunyi segala, di gang sempit. Takutnya bukan main, euy,” bapak dengan tiga orang anak itu membenarkan posisi kaca matanya, “tapi sekarang mah, yang dikhawatirkan kalau sampai ketinggalan orderan!”

Pak Harun mengangguk, “iya Man. Zamannya sudah berubah, tantangannya ya, tambah-tambah. Tapi yang penting kita masih bisa ketawa, ya?”

“Ya, setidaknya kita masih bisa menyambung hidup,” pria itu tiba-tiba teringat almarhumah istrinya, “anak-anak muda sekarang mungkin nggak tahu rasa susah seperti kita dulu, tapi kesulitan mereka ya, ada di bentuk yang berbeda.”

Seiring obrolan mereka yang mengalir, suasana kedai kopi itu mulai ramai dengan kedatangan ojek online lain yang juga menunggu orderan.

Angin semilir bertiup menyejukkan jiwa-jiwa yang terpanggang oleh panasnya realita. Di tengah kota yang penuh sesak dan sibuk itu masih ada tempat sederhana yang nyaman untuk dikunjungi. Sekilas, tempat itu terlihat seperti kafe bergaya vintage yang mahal, tapi owner kedai kopi itu adalah teman seangkatan Pak Harun dan Pak Salman. Dengan hati yang baik, ia tidak mematok harga mahal untuk menu yang tersedia di tempat usahanya tersebut.

Sahabat senja itu menikmati momen yang ada dengan penuh syukur, membiarkan pikiran mereka menganang masa-masa lampau.

Angin kembali berembus lembut, membawa serta suara-suara kota yang seakan menjadi latar bagi kilasan memori itu. Pak Salman tersenyum sendiri, mengenang seluruh perjuangan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan menjadi seseru itu.

Beberapa saat kemudian, Pak Salman merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi ojek online menunjukkan bahwa ada orderan yang masuk. Senyumnya kian mengembang.

“Dapat orderan ke mana, Man?” tanya Pak Harun.

“Deket. Ke sekolahan SD.”

“Eh, ada yang dapat penumpang, nih,” ujar Pak Deden, sang pemilik kedai.

Pak Salman segera meraih helemnya dan bangkit dari tempat duduk, “alhamdulillah, ada orderan. Rezeki nggak boleh ditolak, kan?”

Pak Deden tersenyum, “iya, Man. Semoga lancar, ya.”

Pak Salman pun berpamitan dan melangkah menuju motornya. Seperti biasa, ia merapikan helm, dan memastikan semuanya siap sebelum memulai perjalanan.

Pak Deden pun duduk di bangku menemani Pak Harun berbincang ringan sembari menunggu giliran rezekinya tiba.

“Har, bagaimana keluarga di rumah, sehat?” tanya Pak Deden sambil menyeruput kopi.

“Alhamdulillah sehat, Den.” Pak Harun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.

“Alhamdulillah. Keluarga memang jadi semangat kita untuk terus berjuang, ya.”

“Iya. Walaupun pusing dan capek sama orderan yang kadang sepi, tapi ya, demi keluarga mah, harus diperjuangkan,” tambah Pak Harun sambil mengaduk kopinya.

Semilir angin kembali berembus sepoi-sepoi. Suasana di kedai kopi itu terasa nyaman, dengan obrolan ringan dan gelak tawa yang sesekali menghangatkan suasana.

“Aku jadi ingat pas kita masih muda dulu, Har. Ingat nggak, kita sering ke sini pas masih cuma warung kecil di pinggir jalan?” tanya Pak Deden mengenang masa lalu.

“Pak Harun tertawa, “jelas inget, lah. Nongkrong sampai malam, ngobrol macam-macam. Siapa sangka, sekarang kita masih bisa kumpul di tempat yang sama, ya, meskipun sudah banyak yang berubah, Den.”

Pak Deden tersenyum, “benar, Har. Meskipun dunia telah banyak yang berubah, semoga saja persahabatan kita tetap sama.”

“Amin. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup, ya. Toh, yang penting kan, kita tetap bersyukur dan saling mendukung.”

♣♣♣

Di tempat lain, Pak Salman sedang menikmati perjalanannya mengantar seorang anak SD yang tadi dipesankan ojek oleh orang tuanya melalui aplikasi ojek online.

Suara mesin motor, kebisingan kota, dan bunyi klakson yang terdengar di sana-sini seakan menjadi irama yang mengiringi setiap langkah perjuangannya.

Di tengah perjalanan, pikiran Pak Salman melayang, mengingat keluarganya. Cucu-cucu yang sedang lucu-lucunya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal bersama dengannya di satu rumah sederhana, semuanya adalah karunia yang tak terkira. Setiap tetes keringat yang jatuh‒meskipun tidak se-ngoyo dulu‒adalah bentuk cinta untuk mereka.

“Aminah, meskipun kau telah tiada, tapi aku dan anak-anakmu di sini tetap berjuang untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami selalu mengirimkan doa-doa kami untukmu, Aminah,” batin Pak Salman, mengenang istri tercintanya.

Di tengah kesibukan Pak Salman, kenangan tentang Aminah selalu hadir, memberikan semangat dan kekuatan. Perjalanan hari itu terasa lebih ringan. Meski orderan datang silih berganti, Pak Salman merasa ada kekuatan baru yang menyertainya. Ia menyadari bilamana setiap perjalanan, setiap tarikan gas kendaraan bermotor tuanya, serta setiap langkah yang diambil adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.

Menjelang senja, ketika kubah langit berubah warna mejadi jingga kemerahan, Pak Salman kembali ke warung kopi tempat biasa ia menghabiskan waktu senggangnya. Di sana ia bertemu lagi dengan Pak Deden dan rekan-rekan lainnya. Kebetulan Pak Harun tidak ada di sana karena masih ada orderan.

“Bagaimana Man, hari ini lancar?” tanya Pak Deden sambil menikmati pisang goreng yang hangat.

“Alhamdulillah, lancar, Den. Walaupun capek, tapi hati ini senang rasanya. Setiap hari adalah berkah.”

Di bawah langit sandikala yang indah, mereka menemukan ketenangan. Meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, serta rasa syukur akan selalu menjadi pegangan yang harus tetap dijaga dan dipegang teguh. Suara azan maghrib pun berkumandang, menandai waktu untuk berhenti sejenak dari segala aktifitas dan bersujud kepada Sang Pencipta mayapada dan seisinya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berikan Bintang

 


Terima kasih. Sebelumnya aku tidak tahu apa itu oksitosin, bagaimana cara kerjanya. Tapi, ketika aku membaca artikel tentang itu, semuanya mulai masuk akal. 


Aku beri bintang pesanmu yang ini. Itu sangat membantuku:

"Ini mah aku mau coba kasi input ya barangkali bisa manfaat. Jadi, sebelum merem sudah pasti baca do'anya dan bisa ditambah Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas."


"Langkah selanjutnya yakinkan diri sendiri boleh dengan berbicara secara verbal maupun non-verbal bersuyukur atas apapun yg terjadi hari itu (dijabarin tuh satu² apa aja). Setelahnya katakan juga pada diri sendiri apapun kegiatan esok hari biarlah besok (entah ada kerjaan untuk buat laporan Excel atau apapun)."


"Yang terakhir, tarik nafas 2 detik, tahan nafas 2 detik, keluarin nafas 2 detik, tahan dulu 2 detik, lanjut lagi ulangi tarik nafas 2 detik, blablabla diulang boleh sampai berapa kali pun."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berlayarnya Kapal Irfan dan Anis


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Lautan luas, perjalanan kita tak terhenti. 

Bersama, kita hadapi pasang surut, menuju pelabuhan keridaan-Nya.


Klik untuk melihat detail gambar

Kenyataannya, perjalanan ini, tak hanya perihal laut dan keindahannya, tetapi juga tentang bagaimana kita yang seharusnya saling berpegangan erat saat ombak menerjang. Kapal Anis & Irfan, siap berlayar!

Simak perjalanan kami, klik di sini
 

Panduan transportasi menuju tempat acara, klik di sini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jalan-Jalan ke Kondangan Irfan & Anis






Klik untuk memperjelas gambar


Panduan Transportasi Menuju Tempat Acara

 
Menggunakan KRL dari Arah Barat Stasiun Tambun
 
1. Ketersediaan Kartu KRL: Naik KRL jalur Cikarang menuju Stasiun Tambun dari stasiun keberangkatan Anda. Pastikan untuk membeli kartu KRL terlebih dahulu atau saldo di e-money Anda cukup untuk tap in dan tap out.
 
2. Transit: Perhatikan dengan cermat stasiun pemberhentian Anda. Apakah Anda perlu transit atau dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tambun. Informasi lebih lengkap terkait jalur KRL dapat Anda temukan pada peta rute berikut.


 
3. Menuju Tempat Acara: Turun di Stasiun Tambun dan lanjutkan perjalanan menuju tempat acara menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.
 
4. Alamat Tempat Acara: Gunakan aplikasi ojek/taxi online seperti Grab atau Gojek dan masukkan alamat lengkap tempat acara: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, Jl. Kelana, Tambun, Bekasi Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (jarak kurang lebih 3,5 km: 8-10 menit). 


 
Menggunakan Transjakarta & KRL
 
1. Naik Transjakarta: Datangi halte bus Transjakarta yang terdekat dengan tujuan Anda. Berikut peta rutenya (gunakan e-Money untuk pembayaran-tap in dan tap out

 
2. Transit ke KRL: Pilih halte Transjakarta yang dekat dengan stasiun KRL.
 
3. Naik KRL: Di stasiun KRL, pilih dan naik kereta yang menuju Stasiun Tambun.
 
4. Transit (Jika Diperlukan): Perhatikan dengan cermat apakah Anda perlu transit kereta atau dapat langsung melanjutkan perjalanan.
 
5. Menuju Tempat Acara: Turun di Stasiun Tambun dan lanjutkan perjalanan menuju tempat acara.
 
6. Alamat Tempat Acara: Gunakan aplikasi ojek/taxi online seperti Grab atau Gojek dan masukkan alamat lengkap tempat acara: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, Jl. Kelana, Tambun, Bekasi Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (jarak kurang lebih 3,5 km: 8-10 menit). 




Mengendarai Kendaraan Pribadi
 
1. Gunakan Aplikasi Navigasi: Buka aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Waze di gawai Anda.
 
2. Masukkan Alamat: Masukkan alamat tujuan: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, alamat lengkap tersedia di [klik di sini], lalu tentukan titik keberangkatan. QR Code tempat acara tersedia di bawah ini.


3. Ikuti Petunjuk Arah: Ikuti petunjuk arah yang diberikan oleh aplikasi navigasi dan berdoa memohon keselamatan sepanjang perjalanan.


 
Catatan:
 
- Pastikan Anda memiliki cukup waktu untuk perjalanan, termasuk waktu transit jika diperlukan.
 
- Periksa kembali jadwal KRL dan Transjakarta sebelum berangkat.
 
- Selalu berhati-hati dan patuhi peraturan lalu lintas selama perjalanan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS