Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon
Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slice of Life. Tampilkan semua postingan

Bu, Mau Masuk Surga

 



Suatu hari, ketika seorang guru TK sedang duduk di belakang mengawasi murid-muridnyanya yang sedang mewarnai, ia berpindah posisi karena kakinya pegal. Anak di depannya tiba-tiba menoleh ke belakang.


"Bu, sayang Ibu."


Ibu guru tersenyum simpul, "Iya, sesama manusia kan saling menyayangi, ya, Jay." 


Beberapa menit kemudian, anak itu menoleh lagi. "Ibu, mau masuk surga."


"Iya, anak baik insyallah masuk surga. Ajay jadi anak baik ya, tidak lari-larian dan naik-naik ke atas meja."


Si kecil pun mengangguk mantap, lalu kembali mewarnai. Sementara Ibu guru tersenyum, hatinya ikut diwarnai hari itu. 


Saat jam istirahat tiba, ia menghampiri Ibu guru sambil membawa sesuatu di tangannya.


“Ibu… ini buat Ibu.”


Sebungkus Choki-Choki stik berpindah tangan.


Ibu guru tersenyum kaget.

Hari itu, bukan cuma jam istirahat yang manis—hati Ibu guru juga ikut dilembutkan.


💛😊

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bertumbuh Bersama


(Dua Nama, Satu Doa)



Malam itu hujan turun pelan, seolah langit sengaja merendahkan suaranya. Di sebuah rumah sederhana, dua tangis bayi terdengar hampir bersamaan—satu lembut, satu tegas. Mereka lahir sebagai kembar.

Ayah mereka mengumandangkan azan dan iqamah, lalu berbisik penuh harap,
“Namamu Muhammed Akyas Syarif,”
dan pada tangis yang lebih lirih,
“Dan kamu Syarifha Neyra Ismaya.”

Sejak kecil, keduanya berbeda.

Akyas tumbuh dengan tatapan tenang. Ia jarang bicara, namun sekali berkata, ucapannya tertata. Ia lebih sering mengamati sebelum bertindak. Jika terjadi perselisihan, dialah yang pertama menenangkan.

Syarifha adalah cahaya kecil di rumah itu. Senyumnya mudah muncul, kehadirannya membuat suasana hangat. Ia peka pada perasaan orang lain, cepat menyadari jika ada yang sedih, dan tanpa diminta, duduk menemani.

Orang-orang sering berkata,
“Yang satu menenangkan pikiran, yang satu menenangkan hati.”

Ketika mereka beranjak dewasa, perbedaan itu semakin jelas.

Akyas belajar menimbang sebelum memilih. Ia percaya bahwa kecerdasan sejati adalah mampu menjaga diri dari tergesa.

Syarifha belajar menyinari tanpa menyilaukan. Ia percaya bahwa kebaikan tidak harus diumumkan.

Suatu hari, mereka dihadapkan pada pilihan sulit. Jalan yang mudah terbuka lebar, tapi menyisakan keraguan. Jalan yang benar terasa sempit, namun menenangkan.

Akyas berkata pelan,
“Yang benar mungkin berat, tapi tidak akan mengkhianati hati.”

Syarifha mengangguk,
“Kalau begitu, kita pilih yang membuat kita tetap menjadi diri sendiri.”

Mereka melangkah bersama—bukan untuk menjadi yang paling terlihat, tetapi untuk tetap setia pada nilai yang ditanamkan sejak nama itu disematkan.

Di mata orang lain, mereka hanya dua saudara kembar.

Namun bagi mereka yang mengenal lebih dekat,
Akyas adalah kebijaksanaan yang menjaga,
Syarifha adalah cahaya yang menuntun.

Dan di rumah sederhana itu, orang tua mereka sering berdoa dalam diam:
semoga anak-anak ini tumbuh bukan untuk menguasai dunia,
melainkan menjaganya dengan akhlak dan kasih.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Percakapan Masa lalu

 Bismillahirrahmaanirrahiim



Mentari menebarkan hawa panasnya yang terik di tengah kota, menyengat siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan. Namun bagi Pak Harun, seorang ojek online berusia 52 tahun, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sejak muda ia terbiasa bekerja di bawah terik matahari sebagai seorang tukang becak, tukang gorengan, ojek pangkalan, dan beberapa profesi lainnya.

Di usia senjanya, nasib memaksanya untuk tetap bekerja keras mencari nafkah. Apakah ia bisa memilih untuk tidak menjadi seperti sekarang? Entahlah, Pak Harun sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi itu lah takdir yang harus ia jalani dan syukuri.

Perkembangan zaman yang kian pesat membuatnya harus beralih profesi menjadi ojek online agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Siang itu, sambil menunggu orderan di sebuah warung kopi, Pak Harun berbincang dengan Pak Salman, rekan sejawatnya yang juga berprofesi sebagai ojek online. Keduanya sudah saling kenal sejak muda, dulu sama-sama berprofesi sebagai tukang becak.

“Zaman dulu mah enak, Man. Kita cuma teriak-teriak nyari penumpang aja.” Pak Harun menyeruput kopinya, “sekarang kudu bela-belain lihat hape, kalau telat dikit bisa keburu disambar orang lain, penumpangnya.”

Pak Salman mengangguk, “iya, ya, Run. Gak pusing mikirin aplikasi kayak begini. Sekarang kalau gak ikut perkembangan zaman, bisa ketinggalan.”

Keduanya lalu terdiam sejenak, merenungi bagaimana perubahan zaman yang begitu cepat. Di usia senja, mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap dapat bertahan hidup.

“Yang penting kita masih bisa cari rezeki, Man. Meski cara dan alatnya beda, yang penting niat kita ikhlas berusaha,” ujar Pak Harun.

Pak Salman mengangguk setuju. Keduanya pun melanjutkan mengobrol ringan, sesekali tertawa mengenang masa muda mereka. Meski zaman terus berubah, semangat dan ikatan persahabatan mereka takkan pernah lapuk dimakan waktu.

Setelah beberapa saat, obrolan mereka mulai merambah ke nostalgia lucu masa lalu, ketika mereka masih berprofesi sebagai tukang becak.

“Ingat nggak Man, waktu kita masih narik becak, terus kejar-kejaran sama polisi? tanya Pak Harun sambil tertawa kecil.



Pak Salman terbahak-bahak bukan main, “ingat banget lah, Run. Waktu itu sampai kita sembunyi segala, di gang sempit. Takutnya bukan main, euy,” bapak dengan tiga orang anak itu membenarkan posisi kaca matanya, “tapi sekarang mah, yang dikhawatirkan kalau sampai ketinggalan orderan!”

Pak Harun mengangguk, “iya Man. Zamannya sudah berubah, tantangannya ya, tambah-tambah. Tapi yang penting kita masih bisa ketawa, ya?”

“Ya, setidaknya kita masih bisa menyambung hidup,” pria itu tiba-tiba teringat almarhumah istrinya, “anak-anak muda sekarang mungkin nggak tahu rasa susah seperti kita dulu, tapi kesulitan mereka ya, ada di bentuk yang berbeda.”

Seiring obrolan mereka yang mengalir, suasana kedai kopi itu mulai ramai dengan kedatangan ojek online lain yang juga menunggu orderan.

Angin semilir bertiup menyejukkan jiwa-jiwa yang terpanggang oleh panasnya realita. Di tengah kota yang penuh sesak dan sibuk itu masih ada tempat sederhana yang nyaman untuk dikunjungi. Sekilas, tempat itu terlihat seperti kafe bergaya vintage yang mahal, tapi owner kedai kopi itu adalah teman seangkatan Pak Harun dan Pak Salman. Dengan hati yang baik, ia tidak mematok harga mahal untuk menu yang tersedia di tempat usahanya tersebut.

Sahabat senja itu menikmati momen yang ada dengan penuh syukur, membiarkan pikiran mereka menganang masa-masa lampau.

Angin kembali berembus lembut, membawa serta suara-suara kota yang seakan menjadi latar bagi kilasan memori itu. Pak Salman tersenyum sendiri, mengenang seluruh perjuangan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan menjadi seseru itu.

Beberapa saat kemudian, Pak Salman merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi ojek online menunjukkan bahwa ada orderan yang masuk. Senyumnya kian mengembang.

“Dapat orderan ke mana, Man?” tanya Pak Harun.

“Deket. Ke sekolahan SD.”

“Eh, ada yang dapat penumpang, nih,” ujar Pak Deden, sang pemilik kedai.

Pak Salman segera meraih helemnya dan bangkit dari tempat duduk, “alhamdulillah, ada orderan. Rezeki nggak boleh ditolak, kan?”

Pak Deden tersenyum, “iya, Man. Semoga lancar, ya.”

Pak Salman pun berpamitan dan melangkah menuju motornya. Seperti biasa, ia merapikan helm, dan memastikan semuanya siap sebelum memulai perjalanan.

Pak Deden pun duduk di bangku menemani Pak Harun berbincang ringan sembari menunggu giliran rezekinya tiba.

“Har, bagaimana keluarga di rumah, sehat?” tanya Pak Deden sambil menyeruput kopi.

“Alhamdulillah sehat, Den.” Pak Harun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.

“Alhamdulillah. Keluarga memang jadi semangat kita untuk terus berjuang, ya.”

“Iya. Walaupun pusing dan capek sama orderan yang kadang sepi, tapi ya, demi keluarga mah, harus diperjuangkan,” tambah Pak Harun sambil mengaduk kopinya.

Semilir angin kembali berembus sepoi-sepoi. Suasana di kedai kopi itu terasa nyaman, dengan obrolan ringan dan gelak tawa yang sesekali menghangatkan suasana.

“Aku jadi ingat pas kita masih muda dulu, Har. Ingat nggak, kita sering ke sini pas masih cuma warung kecil di pinggir jalan?” tanya Pak Deden mengenang masa lalu.

“Pak Harun tertawa, “jelas inget, lah. Nongkrong sampai malam, ngobrol macam-macam. Siapa sangka, sekarang kita masih bisa kumpul di tempat yang sama, ya, meskipun sudah banyak yang berubah, Den.”

Pak Deden tersenyum, “benar, Har. Meskipun dunia telah banyak yang berubah, semoga saja persahabatan kita tetap sama.”

“Amin. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup, ya. Toh, yang penting kan, kita tetap bersyukur dan saling mendukung.”

♣♣♣

Di tempat lain, Pak Salman sedang menikmati perjalanannya mengantar seorang anak SD yang tadi dipesankan ojek oleh orang tuanya melalui aplikasi ojek online.

Suara mesin motor, kebisingan kota, dan bunyi klakson yang terdengar di sana-sini seakan menjadi irama yang mengiringi setiap langkah perjuangannya.

Di tengah perjalanan, pikiran Pak Salman melayang, mengingat keluarganya. Cucu-cucu yang sedang lucu-lucunya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal bersama dengannya di satu rumah sederhana, semuanya adalah karunia yang tak terkira. Setiap tetes keringat yang jatuh‒meskipun tidak se-ngoyo dulu‒adalah bentuk cinta untuk mereka.

“Aminah, meskipun kau telah tiada, tapi aku dan anak-anakmu di sini tetap berjuang untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami selalu mengirimkan doa-doa kami untukmu, Aminah,” batin Pak Salman, mengenang istri tercintanya.

Di tengah kesibukan Pak Salman, kenangan tentang Aminah selalu hadir, memberikan semangat dan kekuatan. Perjalanan hari itu terasa lebih ringan. Meski orderan datang silih berganti, Pak Salman merasa ada kekuatan baru yang menyertainya. Ia menyadari bilamana setiap perjalanan, setiap tarikan gas kendaraan bermotor tuanya, serta setiap langkah yang diambil adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.

Menjelang senja, ketika kubah langit berubah warna mejadi jingga kemerahan, Pak Salman kembali ke warung kopi tempat biasa ia menghabiskan waktu senggangnya. Di sana ia bertemu lagi dengan Pak Deden dan rekan-rekan lainnya. Kebetulan Pak Harun tidak ada di sana karena masih ada orderan.

“Bagaimana Man, hari ini lancar?” tanya Pak Deden sambil menikmati pisang goreng yang hangat.

“Alhamdulillah, lancar, Den. Walaupun capek, tapi hati ini senang rasanya. Setiap hari adalah berkah.”

Di bawah langit sandikala yang indah, mereka menemukan ketenangan. Meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, serta rasa syukur akan selalu menjadi pegangan yang harus tetap dijaga dan dipegang teguh. Suara azan maghrib pun berkumandang, menandai waktu untuk berhenti sejenak dari segala aktifitas dan bersujud kepada Sang Pencipta mayapada dan seisinya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran dalam Panggung Kehidupan

 


 

Dunia ini adalah panggung sandiwara, katanya. Kita bukan sutradara, melainkan aktor yang tidak bisa memilih peran—apa pun yang Tuhan tetapkan untuk kita. Kalau kita sudah dicasting sebagai tokoh antagonis, ya jalani saja peran itu sebaik-baiknya.

Kita adalah bagian kecil dari sebuah mesin besar. Jika kita tidak memainkan peran kita dengan baik, mesin itu bisa kacau dan rusak. Hidup akan berjalan normal, baik, dan produktif jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh—bukan setengah-setengah.

Kekacauan dalam satu bagian pasti akan berdampak pada bagian lainnya. Seperti ketika kondisi seorang ibu sedang ruwet, suami dan anak pun bisa ikut terdampak. Kita ini hanya sekrup kecil dalam sebuah organisme besar. Tak perlu terus-menerus mengeluhkan peran yang tak kita sukai. Santai saja, dan jalanidengan nyaman dan terus berusaha.

Merasa bosan atau mengeluh saat menjadi pegawai? Ingatlah, atasan kita pun dulunya pegawai, tapi mereka sudah naik level karena menjalani peran mereka dengan konsisten.

Bersikap realistis itu bukan berarti memaksakan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita, tetapi menginginkan agar segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hatiku, Lautan yang Tak Terduga

 


Di suatu malam, aku terpikirkan tentang perasaan manusia yang layaknya samudera luas dengan berbagai macam kehidupan di dalamnya. Keberagaman jenis hewan laut, kondisi lingkungannya, maupun terumbu karang, bahkan apapun itu yang belum aku ketahui di kedalaman yang paling dalam, dingin, dan gelap di bawah sana. 


Makhluk lautan tak bisa memilih untuk menjadi apa karena takdirnya telah ditentukan oleh Sang Empunya Mayapada, begitu pula dengan perasaan manusia yang dititipkan dan tertiupkan ke dalam dada kita, semuanya telah digariskan oleh-Nya. Namun, semua itu bukan berarti kita tak diberikan kemampuan untuk mengendalikannya sama sekali. 


Sekarang, aku akan menjadi ubur-ubur dengan bentuk seperti itu. Ya, seperti apa bentuknya? Kau pasti tahu seperti apa rupanya, meskipun tidak semuanya sama karena berbeda jenis, belum lagi kalau membicarakan tentang adakah racun di dalamnya atau tidak. 



Yups, sekarang aku adalah ubur-ubur bulan, Aurelia Aurita. Nama yang cukup cantik, bukan. 


Aku ubur-ubur bulan. Tetapi, apa boleh aku menginginkan untuk menyalahi takdir dan memohon agar aku dijadikan sebagai ikan hiu? Aku, menjadi ikan hiu paus yang katanya bisa tumbuh hingga sekitar 12 meter. Waw, besar sekali. 


Apalah daya, sekarang aku adalah ubur-ubur bulan dengan tubuh yang transparan dan ukuran yang kecil, bahkan 50 cm pun tidak ada. Lalu, apa yang harus aku lakukan? 


Terima saja kodratku sebagai Aurelia Aurita. Dengan begitu, aku bisa lebih menjalankan peran dengan baik. Aku berusaha hidup dengan senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan kepadaku, dititipkan kepadaku. Meskipun terkadang, bisa saja menginginkan sesuatu yang sedang tidak ada di hadapan mata, ya wajar saja, tapi setelah itu kembali lagi ke tempatku, tersadar dari lamunan itu. 


Rupanya aku berimajinasi cukup indah malam ini. Perasaan yang aku rasakan memang sudah diberikan oleh Dzat yang menciptakanku, apapun itu, aku seharusnya menerima dan menjalaninya. Jika perasaanku sedang baik, itu sebuah anugerah yang indah. Sedangkan perasaan yang menyesakkan itu, tahan saja dulu, sembari berdoa aku meminta pertolongan-Nya agar tetap terlindungi dan dapat melewati kepiluan itu dengan baik, tentunya dengan mengupayakan apa yang bisa aku lakukan. 


Perasaan pun dapat terpengaruh dari kondisi sekitarannya, sebagaimana aku yang menjadi ubur-ubur ini tinggal di lautan dengan kondisi yang tidak baik, tercemar. Tentu hal tersebut menjadi salah satu faktor ketidaknyamananku, kan. Lantas, aku harus bagaimana? 


Jika aku bisa pergi dari lingkungan yang seperti itu, sepertinya akan lebih baik. Syukur kalau aku menemukan tempat tinggal yang lebih layak atau bahkan jauh lebih indah dan sehat dari sebelumnya. Apakah aku hijrah dari satu lautan di bagian bumi tertentu ke bagian yang lainnya? Aku yang ubur-ubur ini hijrah? Yups, tidak masalah. Toh, demi kemaslahatan diriku. Sama saja seperti perasaan manusia yang bisa terkontaminasi oleh paparan tingkah laku maupun omongan tetangga yang tak menyehatkan jiwa maupun raga. Aku bisa memilih untuk pindah, atau menjauh dari hal seperti itu. Pilihan ada pada kita, selanjutnya bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. 


Realitanya, di mana pun kita tinggal, akan ada saja sesuatu yang membuat tidak nyaman. Kita bisa berupaya untuk menjauh, dan tetap tinggal di lingkungan seperti itu selagi masih kuat. Menetap saja, jika hal itu lah yang bisa dijangkau kelanjutannya. Jangan memaki keadaan dan kondisi yang ada apabila kita tidak merasa nyaman. Atau, kita bisa mencoba untuk berpindah ke bumi di bagian yang lain jika memungkinkan. Yah, begitulah perasaan dan berjuta dramanya. 


Terkadang, aku menangis bukan berarti sedang bersedih. Mungkin, tanpa disadari air mata  mengalir begitu saja membasahi pipi ini. Memang bisa seperti itu? Entahlah, aku sekadar menyelami lautan dalam dan seolah dipenuhi pertanyaan "sebenarnya aku sedang apa di sini, mengapa aku belum dapat menemukan apapun?". Kosong melompong. Wah, sepertinya aku kurang berdzikir. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebuah Goresan Kenangan

 



Aku tidak tahu mengapa sebuah titik yang ditarik menjadi garis dan garis-garis itu memencar ke segala arah, menciptakan berbagai goresan dan bentuk pola yang beragam. 


Yah, apapun keberagaman yang ada di hadapan kita, semuanya indah bila kita memandangnya seperti itu, begitu pula sebaliknya. 


Lalu, apa yang ada di benakmu sekarang?

Entahlah. 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berlayarnya Kapal Irfan dan Anis


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Lautan luas, perjalanan kita tak terhenti. 

Bersama, kita hadapi pasang surut, menuju pelabuhan keridaan-Nya.


Klik untuk melihat detail gambar

Kenyataannya, perjalanan ini, tak hanya perihal laut dan keindahannya, tetapi juga tentang bagaimana kita yang seharusnya saling berpegangan erat saat ombak menerjang. Kapal Anis & Irfan, siap berlayar!

Simak perjalanan kami, klik di sini
 

Panduan transportasi menuju tempat acara, klik di sini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jalan-Jalan ke Kondangan Irfan & Anis






Klik untuk memperjelas gambar


Panduan Transportasi Menuju Tempat Acara

 
Menggunakan KRL dari Arah Barat Stasiun Tambun
 
1. Ketersediaan Kartu KRL: Naik KRL jalur Cikarang menuju Stasiun Tambun dari stasiun keberangkatan Anda. Pastikan untuk membeli kartu KRL terlebih dahulu atau saldo di e-money Anda cukup untuk tap in dan tap out.
 
2. Transit: Perhatikan dengan cermat stasiun pemberhentian Anda. Apakah Anda perlu transit atau dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tambun. Informasi lebih lengkap terkait jalur KRL dapat Anda temukan pada peta rute berikut.


 
3. Menuju Tempat Acara: Turun di Stasiun Tambun dan lanjutkan perjalanan menuju tempat acara menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.
 
4. Alamat Tempat Acara: Gunakan aplikasi ojek/taxi online seperti Grab atau Gojek dan masukkan alamat lengkap tempat acara: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, Jl. Kelana, Tambun, Bekasi Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (jarak kurang lebih 3,5 km: 8-10 menit). 


 
Menggunakan Transjakarta & KRL
 
1. Naik Transjakarta: Datangi halte bus Transjakarta yang terdekat dengan tujuan Anda. Berikut peta rutenya (gunakan e-Money untuk pembayaran-tap in dan tap out

 
2. Transit ke KRL: Pilih halte Transjakarta yang dekat dengan stasiun KRL.
 
3. Naik KRL: Di stasiun KRL, pilih dan naik kereta yang menuju Stasiun Tambun.
 
4. Transit (Jika Diperlukan): Perhatikan dengan cermat apakah Anda perlu transit kereta atau dapat langsung melanjutkan perjalanan.
 
5. Menuju Tempat Acara: Turun di Stasiun Tambun dan lanjutkan perjalanan menuju tempat acara.
 
6. Alamat Tempat Acara: Gunakan aplikasi ojek/taxi online seperti Grab atau Gojek dan masukkan alamat lengkap tempat acara: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, Jl. Kelana, Tambun, Bekasi Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (jarak kurang lebih 3,5 km: 8-10 menit). 




Mengendarai Kendaraan Pribadi
 
1. Gunakan Aplikasi Navigasi: Buka aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Waze di gawai Anda.
 
2. Masukkan Alamat: Masukkan alamat tujuan: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, alamat lengkap tersedia di [klik di sini], lalu tentukan titik keberangkatan. QR Code tempat acara tersedia di bawah ini.


3. Ikuti Petunjuk Arah: Ikuti petunjuk arah yang diberikan oleh aplikasi navigasi dan berdoa memohon keselamatan sepanjang perjalanan.


 
Catatan:
 
- Pastikan Anda memiliki cukup waktu untuk perjalanan, termasuk waktu transit jika diperlukan.
 
- Periksa kembali jadwal KRL dan Transjakarta sebelum berangkat.
 
- Selalu berhati-hati dan patuhi peraturan lalu lintas selama perjalanan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Mengaji Minhajul 'Abidin - 10/2/2025 (Jalan Menuju Ridha Ilahi)

 


Bismillahirrahmanirrahim 

Menyerahkan diri kepada Allah, bacalah

الله الكافي ربنا الكافي قصدنا الكافي وجدنا الكافي لكل كافي كفانا الكافي ونعم الكافي الحمد لله

Allahul kafi, Rabbunā kafi, qashdanā kafi, wajadnā kafi, likulli kāfin kāfanā kafi, wa ni'mal kafi, alhamdulillah.


"Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha Pencukup.  Tujuan hidup kami hanya kepada-Nya, dan kami telah merasakan kecukupan-Nya.  Dia telah mencukupi segala kebutuhan kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi Kecukupan."


Semoga Allah memberikan keyakinan dan kekuatan agar senantiasa berusaha untuk mencapai sesuatu.

Semoga Allah memberikan ketenangan hati terhadap apa yang akan terjadi dan telah ditakdirkan untuk kita.


موضع القسمة (mawḍiʿ al-qismāh)

 موضع الثقة (mawḍiʿ al-tsiqah)

Allah telah memberikan bagian masing-masing kepada setiap hambanya, dan bagaimana hamba itu menerima kehendak Allah akan membentuk kepercayaan terhadap takdir baik yang Allah anugerahkan untuknya.

Untuk apa membandingkan diri sendiri dengan apa yang Allah titipkan kepada kita (harta, jabatan, dll) dan apa yang Allah titipkan kepada orang lain?

••••••°°°••••••


Amalan Pagi Hari:

Dianjurkan untuk membaca Surat Al-Muhammad dan Surat Al-Fath sebelum waktu Salat Subuh ataupun di waktu pagi.  Bacalah dengan penuh khusyuk dan berdoalah kepada Allah SWT memohon pertolongan dan kekuatan dalam menghadapi segala tantangan hidup.  Amalan ini diharapkan dapat memberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

 

Persiapan untuk Kehidupan:

Selain amalan tersebut, penting juga untuk mempersiapkan diri secara matang baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.  Persiapan ini meliputi berbagai aspek, seperti memperkuat keimanan, menuntut ilmu, beramal saleh, dan merencanakan masa depan dengan bijak.


Kesimpulan:

Pentingnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT,  beriman dan bertawakal kepada-Nya, serta mempersiapkan diri secara matang untuk kehidupan dunia dan akhirat.  


Allah SWT Maha Pencukup dan Maha Pemberi, serta segala sesuatu yang terjadi telah ditakdirkan oleh-Nya.  Oleh karena itu, perbandingan dengan orang lain dalam hal materi atau keberuntungan tidaklah perlu, karena setiap individu memiliki takdir dan bagiannya masing-masing.  Sebagai bekal, dianjurkan untuk membaca Surat Al-Muhammad dan Al-Fath sebelum waktu Salat Subuh atau di waktu pagi hari, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT.

Wallahu a'lam. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Finding Strength in Faith

Happy Sunday!  Just catching up this morning with conversation and sunlight. 🌞

🌬


╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ •°•°• o (^‿^✿)o


[1/12 07.10] ISTJ: When the why gets stronger, the how gets easier.

 

[1/12 08.25] INFJ: Yeayy, find ways to overcome obstacles and make things happen. 🪄🧀🧀🌈

 

[1/12 09.25] ISTJ: A flower doesn't think of competing with the flower next to it. It just blooms ✨🌸🌸💐

 

[1/12 09.46] INFJ: Blossoming with blessings.

 

[1/12 10.03] ISTJ: As you did, sweetie. 😊


A Thousand Miles 🛤🛫🌄🌅🎇🎆🌌

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Mengaji Kitab Minhajul 'Abidin - 4 November 2024

 بسم الله الرحمن الرحيم

 


Segala aktivitas yang kita lakukan, dalam konteks apapun, memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.  Oleh karena itu, hendaknya setiap perbuatan diniatkan semata-mata karena-Nya.

 

Keberhasilan dalam menjalani kehidupan, baik dalam menuntut ilmu maupun aktivitas lainnya, bergantung pada tiga pilar utama:

1. Keimanan yang kokoh: keyakinan yang teguh akan pertolongan dan rahmat Allah SWT merupakan pondasi yang kuat.  Keimanan ini akan memberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup.

2. Doa yang khusyuk:  memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan dan ketulusan merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Doa merupakan sarana untuk memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT dalam segala urusan.

3. Usaha yang maksimal:  keberhasilan tidak akan diraih tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten. Ketekunan dan disiplin merupakan kunci utama dalam mencapai tujuan.

 

Perlindungan Allah SWT

Dengan menggabungkan keimanan, doa, dan usaha yang dijalankan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, kita akan mendapatkan perlindungan-Nya.  Meskipun godaan (setan) dan rintangan akan selalu ada, Allah SWT akan senantiasa memberikan pertolongan dan kekuatan kepada hamba-Nya yang berikhtiar.

 

Kebahagiaan Hakiki

Kebahagiaan hakiki sesungguhnya terletak di akhirat. Kebahagiaan dunia bersifat sementara dan fana. Oleh karena itu, hendaknya kita menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Sebagaimana dalam doa:  رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً (Rabbanā ātinā fī ad-dunyā ḥasanatan) -  "Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia."

Penggunaan kata  حَسَنَةً (ḥasanatan) - "kebaikan," bukan سَعَادَةً (sa'ādatan) - "kebahagiaan,"  dalam doa tersebut mengandung makna yang mendalam.  Kebahagiaan dunia bersifat relatif dan sementara (fana). Cepat ada, cepat pula hilang pula. Maka, berupa lah ia sebagai kebaikan yang berkelanjutan (semasa berada di dunia dan itu sifatnya hanya titipan), dan kebahagiaan yang kekal hanya ada di akhirat.

 

Semoga catatan ini bermanfaat. Wallahu'alam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menjaga Jiwa, Menjaga Ketenangan

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ



Pernah ngerasa bete gara-gara omongan orang yang nyakitin hati? Atau malah jadi emosi sendiri karena hal sepele? Tenang, kamu nggak sendirian kok!  Kita semua pernah ngalamin hal itu. Tapi tahu nggak sih, ternyata menghindari omongan yang nyakitin dan menjaga ketenangan hati itu punya hubungan erat dengan salah satu tujuan utama syariat, yaitu menjaga jiwa.

Pada dasarnya, semua ketentuan dalam syariat itu bertujuan demi tercapainya maslahat atau kemanfaatan, kebaikan, dan kedamaian umat manusia dalam segala urusannya, baik urusan di dunia maupun urusan akhirat. Nah, maqasid syariah atau beberapa tujuan syariat adalah merealisasikan kemanfaatan untuk umat manusia (mashâlih al-ibâd) baik urusan dunia maupun urusan akhirat mereka.

Menurut Imam Asy-Syatibi, maqashid syariah memiliki lima hal inti, yaitu:

1. Hifdzu ad-din (حـفـظ الـديـن) atau menjaga agama

2. Hifdzu an-nafs (حـفـظ النــفـس) atau menjaga jiwa

3. Hifdzu 'aql (حـفـظ العــقل) atau menjaga akal

4. Hifdzu an-nasl (حـفـظ النـسـل) atau menjaga keturunan

5. Hifdzu al-maal (حـفـظ المــال) atau menjaga harta

Kemudian, jika kita menghindari orang-orang yang sekiranya omongan mereka dapat menyakiti kita, atau membiarkan diri kita sendiri untuk tenang dari marah, itu masuk bagian dari menjaga jiwa, bukan?

Hayooo bagaimana? 

Jadi begini, menghindari orang-orang yang omongannya dapat menyakiti kita dan menjaga ketenangan diri dari amarah termasuk dalam hifzu an-nafs (menjaga jiwa) dalam maqashid syariah.

- Hifdzu an-nafs mencakup menjaga jiwa dari segala bentuk bahaya dan ancaman, baik secara fisik maupun psikis.

- Omongan yang menyakiti dapat menyebabkan luka batin dan stres yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan jiwa seseorang.

- Menjaga ketenangan dari amarah juga penting, karena amarah yang tidak terkendali bisa menyebabkan tindakan impulsif yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Dengan demikian, menghindari orang-orang yang berpotensi menyakiti jiwa kita dan menjaga ketenangan diri dari amarah merupakan upaya untuk menjaga jiwa kita dari bahaya dan ancaman, yang sejalan dengan salah satu tujuan utama syariat yaitu hifdzu an-nafs.

Selain itu, tindakan tersebut juga dapat dikaitkan dengan:

- Hifdzu al-'aql (menjaga akal):  Amarah yang tidak terkendali dapat mengacaukan akal sehat dan menyebabkan seseorang bertindak tidak rasional.

- Hifdzu ad-din (menjaga agama):  Kehilangan ketenangan dapat menyebabkan seseorang melakukan perbuatan dosa atau melanggar hukum agama.

Kesimpulannya, menjaga jiwa dari bahaya dan ancaman, termasuk menghindari omongan yang menyakiti dan menjaga ketenangan dari amarah, adalah hal yang penting dan sejalan dengan prinsip-prinsip maqashid syariah.

Wallahu'alam. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Adab Bangun dari Tidur


Ringkasan materi kitab Bidayah al-Hidayah dari Majelis Dzikir Ponpes. Asshiddiqiyah Jakarta. 

في آدب الإستِيقاظ من النوم

Jika bangun tidur, usahakan untuk bangun sebelum waktu fajar (subuh) dan segera berzikir kepada Allah (dengan lisan dan hati kita).

Malam adalah kematian kecil, oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Bacalah ayat kursi, surat al-Ikhlas tiga kali, surat al-Mu'awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas), dan surat al-Fatihah, kemudian tiupkan ke telapak tangan dan usapkan ke seluruh tubuh.

Tidur juga termasuk kematian kecil. Ketika manusia tidur, setan akan mengikat tubuh kita dengan tiga ikatan (tiga lapis) agar kita tertidur lelap dan terlewatkan waktu shalat. Oleh karena itu, untuk memudahkan bangun tahajjud, bacalah akhir surat al-Baqarah agar dipermudah bangunnya nanti.

Ikatan pertama bisa terlepas dengan membaca doa:

الحمد لله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya-lah kami akan dikembalikan.

Ikatan kedua bisa dibuka dengan mengambil air wudu.

Ikatan ketiga bisa terbuka ketika kita melakukan shalat sunnah malam.

Bisa juga dilanjutkan dengan membaca Wirid al-Lathif setelah salat Subuh.



Wallahua'alam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan dari Ayah

 


Percaya, kalau pengalaman itu adalah guru yang paling berharga? Hehe, tergantung keyakinan masing-masing sih, bagaimana seseorang bisa menyikapi, merespon, juga menilai sesuatu yang ada di hadapannya maupun yang pernah ia alami. 


Ya, kepercayaan itu juga seperti debu, sebelum ia menumpuk, itu bukanlah apa-apa. 


Awalnya, ketika pertama kali mondok aku diajarkan ayah untuk membuat list pengeluaran harian di buku tulis. Sederhana, cukup menuliskan tanggal, barang atau keperluan apa, dan menyantumkan harganya. Waktu itu rasanya biasa saja. Nggak kesal ataupun senang karena diminta ayah untuk membuat itu. 


Aku beli lauk, gorengan, air kemasan, bahkan aku beli kertas nasi seharga Rp. 100 pun aku tuliskan. Nah, pada laporan sederhana tersebut, aku tuliskan semua sesuai pengeluaranku selama dua minggu. Aku dijenguk dua minggu sekali, sudah kesepakatan ayah denganku kala itu. Setiap aku dijenguk, selain dibawakan jajan dari rumah dan keperluan sehari-hari seperti sabun dan lainnya, aku juga menyerahkan laporan pengeluaran. 


Ayah membaca dengan detail apa yang aku tuliskan, beliau tidak komentar, “kok jajannya banyak banget, ya,” atau “dikit ya, pengeluarannya.” Ayah tersenyum dan memintaku meneruskan kegiatan itu. Oke deh, aku mah, siap. 


Setiap kali dijenguk, ayah selalu menanyakan kabar dan jika ada yang perlu diutarakan, ceritakan saja, nanti ayah coba bantu berikan pencerahan atau motivasi, tentunya menyesuaikan dengan kondisiku saat itu. 



Pernah, ketika ke pondok, ayah melihatku dalam keadaan lemas, dan mungkin nampak agak pucat. Ayah bertanya perihal kondisiku, lalu aku jawab jika aku sedang mencoba melakukan ibadah puasa sunnah Senin-Kamis, karena sebentar lagi akan ada ijazah puasa tersebut dan kami wajib puasa selama setahun. 


Dengan lembut dan gayanya yang santai, ayah bilang kalau aku tidak kuat puasa ya tidak apa-apa, masih ada ibadah lainnya yang bisa dilakukan seperti berzikir. Kata ayah, jangan sampai yang sunnah itu mengalahkan yang wajib. 


“Nggak apa-apa kok, Yah. Rasanya lemes, tapi Anis masih bisa ikutin kegiatan yang ada,” kataku kemudian aku menyunggingkan sebuah senyuman yang, aduh bibirku yang kering agak pecah-pecah itu…. 


“Tuh kan, bibirnya aja retak gitu,” balas ayahku tanpa dosa. Astagfirullah auto ngakak dalam hati, deh. 


Kemudian, aku memberikan laporan keuanganku. Ayah melihatnya sebentar lalu memintaku membandingkan pengeluaranku dari minggu yang satu dengan minggu lainnya. 


“Pengeluarannya nggak beda jauh, Yah,” aku mengerjap. 


“Berarti pengeluarannya stabil. Nanti ada kalanya kalau lagi banyak kebutuhan, Anis bisa ngabisin lebih dari pengeluaran yang biasanya. Begitu pula sebaliknya.”


Aku diam sejenak, berpikir. Ih, ayahku sedang mengajarkan manajemen keuangan ya, tapi pakai metode santai mode on. Jadi nggak kerasa lagi diajarin, kan. Waah, keren juga. 


Kebetulan banget, di sekolah aku juga sudah belajar Tikom (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bab Excel. Hehe, isinya rumus-rumus, ya. Emang boleh jadi sengitung itu. Ihhieww, ayah gak tahu kalau ujian semesteran kemarin aku juara pertama seangkatan, di mata pelajaran itu doang tapi. 


Jadi bernostalgia. Setelah nilai ujian keluar, datanya ditempel di depan kantor SMP. Tidak dituliskan nama peserta ujian, hanya menyantumkan nomor peserta UAS, deretan jawaban dan peringkat. Waktu itu aku iseng, siapa tuh yang dapat peringkat satu di mata pelajaran Tikom, eh, itu nomor ujianku. Alhamdulillah aku senang tapi posisinya aku masih mematung. Diam sambil mikir, kalau diingat-ingat, soal ujiannya juga sama persisis kayak soal latihan di buku paket. Untung sudah aku isi semua latihannya. Ustaz Java, memang boleh aku seberuntung ini? Hmm, but at all, terima kasih banyak ya Allah. Terima kasih Ustaz Java, yang sudah mengajarkanku ilmu dan memberikan soal yang sama persis dengan latihan di buku. 


•°••°•


Sesuatu yang tidak masuk akal terkadang bisa saja terjadi. Aku sudah menerima kiriman uang dari ayahku untuk kebutuhanku selama dua bulan kedepan, tapi di sisi lain, tanpa sengaja aku mematahkan gagang kacamata temanku. 


Aku nggak tahu, padahal cuma pegang gagangnya, mau coba pakai, eh, malah patah, aku pegang gagang yang satunya lagi, patah lagi. Aku bengong. Beneran cuma pegang doang, tapi dia patah begitu saja. Pelan kok, aku pegangnya. 


Karena masih jam istirahat, jadi aku langsung meminta maaf ke temanku dan lari ke luar pondok untuk pergi ke optik terdekat. Sebenarnya tindakanku itu termasuk kabur, karena keluar pondok tanpa izin. Ya sudahlah, maafkan aku yang melanggar, habisnya kepepet. Aslinya temanku biasa saja, tapi perasaanku yang tidak biasa, bawaannya kalau aku merusak barang milik seseorang meskipun itu tanpa sengaja, maunya langsung diperbaiki atau diganti saat itu juga.


Angin pegunungan berembus dengan sejuknya, setidaknya memberikan sedikit kenyamanan meskipun aku sedang galau. Duduk di samping jendela kelas memang favorit banget, deh. 


“Yah, anak Ayah sudah sekolah di Aliyah, tapi rasanya masih pengin curhat aja. Aku nggak sengaja matahin gagang kacamata Dina, uang kiriman Ayah tinggal setengah, deh.” Aku berbisik seolah sedang berbicara dengan angin yang lewat. 


Semenjak melanjutkan sekolah ke daerah pegunungan di Jawa Tengah, aku jadi tidak bisa dijenguk seperti ketika aku mondok waktu SMP dulu. 


Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Matahari semakin tinggi, tapi aku masih terpaku di tepi jendela kelas, menatap ke luar dengan tatapan kosong. Dina tadi sudah bilang kalau dia nggak apa-apa, tapi tetap saja aku merasa bersalah. Perasaan itu nggak kunjung hilang meskipun aku sudah berusaha memperbaiki kacamata Dina di optik. 


“Aku nggak marah kok, Nis,” ucapnya dengan senyuman yang menenangkan. 


Tapi tetap, pikiranku nggak bisa berhenti memikirkan bagaimana aku akan bertahan dengan uang yang tinggal setengah. Aku harus pintar-pintar mengatur pengeluaran sekarang. Di dalam hati, aku tahu ayah pasti akan memintaku untuk belajar dari kejadian ini.


Setiap kali aku mengingat pesan-pesan ayah, ada rasa hangat yang mengalir di dalam dada. Bukan hanya tentang uang, tapi tentang bagaimana menghadapi setiap masalah dengan tenang dan bijaksana. Terkadang, tanpa disadari, ayahku sudah mengajarkanku banyak hal. Seperti saat aku mulai terbiasa membuat laporan keuangan. Awalnya, terasa biasa saja, tapi perlahan aku mulai paham, ini bukan sekadar mencatat angka. Ayah sedang mengajarkanku disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai yang nggak langsung terlihat, tapi terpatri dalam setiap tindakan kecil.


Dan kini, duduk di bangku Aliyah dengan pemandangan pegunungan yang indah, aku menyadari bahwa semua pelajaran itu datang dari pengalaman. Pengalaman yang mungkin dulu aku anggap sepele, ternyata adalah pelajaran penting.


Aku tersenyum kecil, di balik semua kekhawatiranku, ada keyakinan bahwa aku akan selalu bisa melewati segala tantangan. Karena, seperti kata ayah, “pengeluaran stabil itu penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana Anis menghadapinya dengan hati yang tenang.”


Angin pegunungan terus berembus, seolah membawa pesan dari kejauhan. Mungkin ayah benar, pengalaman adalah guru yang paling berharga.


Dan hari ini, aku kembali belajar.


•°••°•

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Warna Kehidupan, Warisan Kita


Katanya, kalau mau tahu seseorang itu lihatlah tulisannya, bukan sekadar menjustifikasi dari apa yang dikatakannya. Perkataan bisa saja tidak sengaja terucap, tanpa filter, keceplosan. Tapi tulisan, tentu ia melewati beberapa tahapan. 

Proses menulis itu melibatkan tahapan yang matang, mulai dari merencanakan ide, menuangkannya menjadi sebuah konten, kemudian dilanjutkan dengan proses editing untuk memperbaiki dan menyempurnakan tulisan. Melalui proses ini, seseorang dapat mengungkapkan pemikiran dan pandangannya secara lebih terstruktur dan terperinci. Dengan demikian, membaca tulisan seseorang dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang kepribadian, nilai, dan cara berpikir yang dimilikinya.

Oh ya, kamu tahu, jika aku menuliskan sesuatu dan mengabadikannya di sini, proses editingnya itu berlaku selamanya. Kenapa? 



Aku sering membaca ulang apa yang aku tuangkan di sini, kemudian merasakan ada kejanggalan diksi, maksud, maupun kekhilafan lainnya. 

Lalu, bagaimana nasib Daun Keberkahan ini? Di dalamnya random sekali. Ya, betul-betul beraneka ragam. Gaya bahasanya pun terkadang berbeda-beda. Dan, apakah tulisan-tulisan ini memiliki aura tertentu? Entahlah, bisa jadi mereka hanya menyesuaikan dengan kondisi ketika aku menuliskannya. 

Awalnya, Blessed Life adalah sebuah keisengan yang terencana. 

Iseng karena sekadar bermain-main, menganggur, tapi di lain sisi pun sudah ada rencana akan memberikan bumbu apa saja di dalamnya. Ya, di masakan Blessed Life ini. 

Lalu, sebenarnya cara berpikir yang seperti apa yang dimiliki oleh penulisnya? Pemikiran yang beragam, yang masih butuh untuk terus diperbaiki, diberikan pembaharuan. Out of the box, karena terkadang kehidupan adalah sesuatu yang di luar dari apa yang direncanakan.

Mungkinkah jutaan kata yang tersimpan di sini dapat mendorong seseorang untuk melihat masalah dari sudut pandang baru dan mempertimbangkan pendekatan yang tidak biasa atau tidak diharapkan? 

Bagaimana dengan gagasan-gagasan atau solusi yang ditawarkan di sini? Hmm, mereka melibatkan metode atau cara berpikir yang tidak lazim atau biasa saja? 

Yah, se-random itu. Terkadang menggunakan analogi yang tidak biasa, menggabungkan disiplin ilmu yang berbeda, atau memecahkan masalah dengan cara yang tidak terduga. Semua memiliki sejarahnya masing-masing. 

Yuk, abadikan sejarah kita, apapun bentuknya, bagaimanapun caranya. Kita wariskan yang baik-baik saja. 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Petualangan Menuju Kebahagiaan yang Tersembunyi

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ



Dalam pencarian kebahagiaan, seringkali kita terjebak dalam anggapan bahwa itu harus dicari di tempat-tempat jauh atau dalam pencapaian yang besar. Namun, menurut pemikiran yang mendalam, kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam pemahaman dan kesadaran akan diri serta penerimaan terhadap kondisi jiwa. Hamka menyoroti bahwa seringkali kita lupa akan kebahagiaan yang telah menyelubungi kita, meskipun mungkin tidak menyadarinya.

Ada tiga kunci utama yang membuka pintu kebahagiaan: pengetahuan dan kesadaran, penerimaan, dan kondisi jiwa. Meskipun pengetahuan memainkan peran penting, kebahagiaan juga dapat ditemukan melalui pilihan-pilihan tindakan yang membawa kesenangan, walaupun tidak selalu merupakan prioritas utama.

Dalam konteks psikologi, kesenangan bisa memiliki durasi yang bervariasi, mulai dari yang singkat hingga yang tak terbatas, dengan kontribusi pada kebaikan yang tanpa pamrih menjadi puncaknya. Dengan demikian, kebahagiaan tidak selalu terletak pada pencapaian besar, tetapi dalam kesadaran, penerimaan, dan kontribusi kita terhadap kebaikan. Tak perlu melangkah jauh untuk menemukan kebahagiaan yang sejati. Dalam refleksi mendalam, Hamka mengungkapkan bahwa seringkali manusia terjebak dalam pencarian hal-hal yang belum dimilikinya. Sebagaimana mereka yang belum meraih kesuksesan terus mengejar, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan sejati telah menyelimuti mereka. Kemudian mereka yang sukses, malah mencari kebahagiaan karena telah lama dirinya disibukkan dengan berbagai rutinitas yang bisa jadi menjemukan.


Dari ketiga kunci utama kebahagiaan, pengetahuan menjadi landasan penting, karena kebaikan-kebaikan dalam hidup menjadi sumber utama kebahagiaan, yang didukung oleh pemahaman yang dalam. Nabi Adam, misalnya, turun ke bumi dengan bekal ilmu dari Allah, yang menjadi fondasi kebahagiannya. Namun, bagaimana dengan mereka yang mungkin tidak secemerlang itu dalam ilmu, namun tetap mampu menemukan kebahagiaan? Jawabannya, terletak pada pilihan-pilihan tindakan yang diambil. Meskipun tidak menjadi fokus utama, tindakan-tindakan menyenangkan dapat membawa kebahagiaan sesaat. Dalam psikologi barat, kesenangan dapat memiliki beragam durasi, mulai dari yang singkat hingga yang tak terbatas. Kebahagiaan sejati, yang bersumber dari kontribusi pada kebaikan tanpa pamrih lah yang menjadi puncaknya. Sedangkan dalam konteks agama keikhlasan menjadi kunci, membawa kebahagiaan yang abadi dan tidak terbatas, karena bertumpu pada keridhaan Allah. Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah sekadar pencapaian besar, tetapi terletak pada pemahaman, penerimaan, dan kontribusi kita dalam hidup sehari-hari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Eksistensi Yang Bermakna

 


Di tengah hamparan hijau perbukitan yang megah, terletak sebuah desa kecil yang dikenal sebagai Desa Surya. Di desa itu, hiduplah seorang pemuda bernama Rama. Rama adalah seorang yang sehat secara fisik, tetapi di dalam dirinya terdapat kekosongan yang sulit untuk dijelaskan.

Setiap pagi, Rama bangun dengan pikiran yang kacau. Meskipun dia memiliki pekerjaan yang stabil dan keluarga yang menyayanginya, tetapi ada sesuatu yang terasa kosong dalam hidupnya. Dia merasa seperti hidup hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas.

Suatu hari, Rama bertemu dengan seorang tetua bijak yang mengajarkan kepadanya tentang pentingnya mencari makna hidup yang sesuai dengan dirinya. Tetua itu menjelaskan bahwa manusia yang sehat bukan hanya yang fisiknya kuat, tetapi juga yang memiliki tujuan hidup yang memberikan arti dan kepuasan.

Tetua menyapa Rama dengan suaranya yang sedikit parau, "Hai, anak muda. Apa yang sedang kamu pikirkan dengan serius?"

Kening Rama masih terkerut, "Pak Tetua, saya sedang memikirkan makna hidup saya. Saya merasa seperti hidup hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas."

"Sepertinya saya memahami perasaanmu, meskipun saya tidak tahu persisnya seperti apa,karena hal itu hanya dirimu yang bisa merasakannya." Pak Tetua menghela napas, "Penting bagi kita untuk memiliki tujuan hidup yang memberikan arti dan kepuasan. Apa yang kamu cari dalam hidupmu, Rama?"

Rama menatap kosong, "Saya tidak yakin, Pak Tetua. Selama ini saya hanya hidup menuruti apa yang diharapkan orang lain."

"Hidup bukan hanya tentang mengejar ekspektasi orang lain, Rama, tetapi juga tentang menetapkan cita-cita yang ingin kita kejar."

Dengan tekad yang kuat, Rama mulai memproyeksikan dirinya ke arah yang ingin dia capai. 

***


Lagi-lagi Rama duduk di bawah pohon tua yang rindang, merenungkan langkah-langkah selanjutnya dalam perjalanan hidupnya. Maya, sahabatnya yang melihat Rama dalam keadaan yang serius itu menghampirinya. 

"Hai, Rama. Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Sore itu begitu hangat, angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan yang gugur, "Aku sedang merenungkan tentang makna hidupku. Beberapa hari yang lalu aku sudah mendapatkan pencerahan dari Pak Tetua dan menjalani kehidupanku dengan baik, tapi sepertinya perasaan aneh akhir-akhir ini muncul lagi."

"Ah, begitu. Sebelumnya aku pernah mengalami hal serupa, Rama. Tapi kemudian aku menyadari bahwa kita harus menciptakan makna hidup kita sendiri, sesuai dengan apa yang kita percayai dan kita inginkan."

"Ya, kamu benar, Maya. Aku merasa seperti sekarang ini adalah saat yang tepat bagiku untuk mengambil kendali atas hidupku sendiri. Aku ingin memiliki tujuan yang jelas dan melakukan segala sesuatu dengan maksud yang bermakna."

Tak lama kemudian, datanglah seorang tetua bijak yang tempo hari Rama temui sebelumnya, menghampiri mereka dengan senyuman yang ramah. Entah takdir apa yang telah digariskan semesta, tapi mungkin seperti itu lah jalannya. 

"Hai, anak-anak muda. Apa yang sedang kalian bicarakan?"

"Kami sedang berbicara tentang mencari makna hidup, Pak Tetua. Rama baru saja menyadari pentingnya memiliki tujuan hidup yang memberikan arti dan kepuasan," kata Maya. 

Tetua duduk di samping Rama, "Mengetahui tujuan hidup adalah langkah pertama menuju eksistensi yang bermakna. Tetapi ingatlah, perjalanan mencari makna hidup itu sendiri adalah bagian dari keseluruhan proses."

"Terima kasih, Pak Tetua. Saya akan terus berjuang untuk menemukan makna hidup saya dan menjalani setiap langkah dalam perjalanan ini dengan penuh kesadaran."

Mereka bertiga duduk di bawah pohon tua itu, saling bertukar cerita dan pengalaman, serta memberikan dukungan satu sama lain dalam perjalanan mencari makna hidup yang sesungguhnya. Dengan langit yang menorehkan cahaya jingga di atas mereka, mereka menyadari bahwa setiap langkah kecil dalam perjalanan itu adalah bagian dari kehidupan yang bermakna.

Di tengah perjalanan mereka untuk mencari makna hidup yang sesungguhnya, Rama, Maya, dan Tetua bijak itu bertemu dengan berbagai macam karakter yang mengilhami mereka untuk lebih mendalam memahami esensi dari eksistensi yang bermakna.

Mereka berpapasan dengan Jendra, tetangga Maya, seorang pemuda muda beberapa hari ini yang tampak lesu dan kehilangan semangat dalam setiap langkahnya. Rama memperhatikan Jendra itu dengan keprihatinan yang mendalam. Seperti berkaca dengan diri sendiri. 

Rama mencoba membuka percakapan, "Maaf, tetapi saya tidak bisa tidak bertanya. Apakah ada yang mengganggumu, Jendra?"

Pemuda itu menggelengkan kepala, "Tidak ada yang bisa saya sebutkan. Rasanya kosong dan tanpa arah."

Maya menduga jika Jendra sedang merasakan apa yang disebut sebagai gangguan neurotik. Ah, apakah hal-hal semacam ini sedang viral, pikir Maya. 

Neurotik mengacu pada keadaan seseorang yang menghadapi tantangan psikologis. Gangguan neurotik bisa muncul tanpa penyebab fisik dan tidak memengaruhi persepsi.

Secara faktual, gangguan neurotik cenderung terkait dengan kecemasan atau pikiran berlebihan daripada gangguan mental. Namun, tanpa pengobatan medis, masalah ini bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan.

***

Kemudian, di perjalanan menuju warung lesehan, mereka bertemu dengan seorang pria keras kepala yang terus-menerus memaksakan pandangannya kepada orang lain tanpa memperhatikan perspektif mereka.

Pria itu berkata dengan nada suara tinggi dengan lawan bicara di hadapannya, "Saya tahu apa yang terbaik untuk semua orang. Saya hanya ingin membantu mereka melihat kebenaran."

Wanita di hadapan pria itu menjawab, "Tapi, apakah Anda pernah berpikir bahwa setiap orang memiliki pandangan dan pengalaman yang berbeda? Memaksakan pandangan Anda kepada orang lain bisa jadi tidak bijaksana."

Maya ingin sekali angkat bicara, tetapi ia khawatir tindakannya terlalu mencampuri urusan orang lain. 

Rama, Maya, dan Pak Tetua yang tak sengaja mendengar percakapan itu memantau dari kejauhan. Memastikan keadaan, jika terjadi hal yang tidak diinginkan baru mereka mengambil tindakan. 

Beberapa menit kemudian kondisinya nampak sudah aman. Pemuda keras kepala dan wanita tadi sepertinya sudah mendapatkan jalan keluar.

Setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan makna hidup mereka sendiri. Memaksakan pandangan atau kepentingan kita kepada orang lain bisa membuat mereka merasa terkekang dan tidak dihargai.

Allah menciptakan manusia dengan fitrah yang berbeda-beda. Memaksakan makna hidup kita kepada orang lain adalah tindakan yang melawan sunnatullah.

Entah mengapa seorang wanita paruh baya yang duduk di samping meja lesehan Rama malah berbagi kisahnya pada Rama, Maya, dan Pak Tetua, "Saya hanya ingin orang-orang di sekitar saya bahagia. Kebahagiaan mereka adalah segalanya bagiku." 

Ah, wanita yang tampaknya selalu menuruti kehendak orang lain, tanpa memperhatikan keinginan dan aspirasinya sendiri. "Mohon maaf sebelumnya, bagaimana dengan kebahagiaan dan aspirasi Anda sendiri? Apakah Anda tidak merasa penting untuk menghargai keinginan dan pemikiran Anda sendiri?" Rama menyeruput kopi hitam yang ia pesan dengan sedikit gula itu. 

Maya memandang wajah wanita itu dengan tatapan yang dalam, "Memperhatikan kebahagiaan orang lain adalah hal yang baik, tetapi tidak boleh mengorbankan kebahagiaan dan makna hidup kita sendiri. Setiap individu memiliki hak untuk mengejar impian dan tujuan mereka sendiri."

Wanita itu sangat terbuka, ia mencerna dan menerima apa yang Rama dan Maya katakan kepadanya. Berharap semua itu bisa menjadi salah satu jalan keluar dari apa yang ia alami. 

"Janganlah tunduk pada tekanan dan harapan orang lain jika itu bertentangan dengan apa yang Anda inginkan dan percayai. Jika Anda tidak menetapkan makna hidup Anda sendiri, Anda akan terombang-ambing dalam kehampaan dan kebingungan." Tetua menghela napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. 

Wanita itu meneteskan air mata, menyadari bahwa dia juga harus memperhatikan keinginan dan kebahagiaannya sendiri.

***


Di bawah langit malam dan suara jangkrik yang menghiasi malam mereka, Rama, Maya, dan Tetua bijak itu belajar bahwa setiap individu memiliki perjuangan dan tantangan masing-masing dalam mencari makna hidup yang sesungguhnya. Dengan saling mendukung dan memahami, mereka berharap dapat mencapai eksistensi yang bermakna dan memperjuangkan kebahagiaan serta pemenuhan diri mereka sendiri.

Sembari duduk santai di warung lesehan mereka menikmati kudapan sederhana yang tersedia. 

Rama teringat akan kata-kata dari Montaigne, "Saya teringat kata-kata seorang filsuf yang pernah saya dengar. Dia berkata bahwa, aku takut mata kita lebih besar dari perut kita. Dan rasa ingin tahu kita lebih besar dari daya pemahaman kita. Segalanya kita pahami, tapi kita tidak mendapatkan apapun kecuali angin." 

Maya menghentakkan jemarinya dengan antusias di atas meja, matanya berbinar-binar.  "Ini mungkin menarik. Dewasa ini, kita ingin tahu segalanya, khususnya difasilitasi oleh media-media digital. Rasanya, kita telah mengetahui begitu banyak hal berkali-kali lipat, tapi seperti angin. Lalu, manfaatnya apa?"

"Kita tidak pernah menghitung, informasi ini gunanya untuk apa, bermanfaat atau tidak. Kalau dalam bahasa agama, maslahat atau tidak. Yang lebih tinggi lagi, berkah atau tidak. Itu lebih luas lagi. bahwa terlalu banyak pengetahuan tanpa kebijaksanaan akan membuat kita seperti angin, tidak memberikan manfaat yang nyata dalam hidup kita. Apakah Anda setuju dengan itu, Pak Tetua?"

Tetua tersenyum, "Itu adalah pelajaran yang dalam, Rama, Maya. Terlalu banyak informasi tanpa refleksi dan penghayatan akan membuat kita kehilangan arah. Kita harus bijak dalam memilih apa yang benar-benar bermanfaat bagi kita, dan tidak terlalu banyak membebani diri dengan pengetahuan yang tidak relevan."

Rama mengangguk, merenungkan kata-kata tersebut. "Memang, Pak Tetua. Saya harus lebih selektif lagi dalam memilih informasi yang terserap dan mencari pengetahuan yang benar-benar bermanfaat bagi perkembangan diri saya."

"Betul sekali, Rama. Kita harus mengingat bahwa mata kita lebih besar dari perut, artinya tidak semua informasi yang kita serap dapat kita cerna dan manfaatkan dengan baik. Kita perlu memilih dengan bijak dan fokus pada hal-hal yang benar-benar relevan untuk meningkatkan kualitas hidup kita."

Rama tersenyum, merasa semakin yakin dengan langkah-langkahnya ke depan. Dengan bimbingan dari Tetua dan pelajaran yang ia dapat berbagai hal yang ditemui, dia siap untuk memilih dengan bijak dan mengejar makna hidup yang sesungguhnya.

Dari situlah, Rama mulai mengontrol hidupnya sendiri dengan lebih sadar. Dia menciptakan rencana-rencana dan cita-cita yang ingin dia wujudkan. Setiap langkah yang diambilnya sekarang memiliki tujuan yang jelas, dan dia tidak lagi terpenjara oleh masa lalu atau menerima situasi tanpa perlawanan.

Rama juga belajar untuk mengungkapkan nilai-nilai, pengalaman, dan sikapnya dengan lebih jelas kepada orang-orang di sekitarnya. Dia tidak lagi merasa terkekang oleh ekspektasi orang lain, tetapi lebih fokus pada apa yang dia percaya dan ingin capai dalam hidupnya.

Menjadi manusia yang sehat secara eksistensi bukan hanya tentang fisik yang prima, tetapi juga tentang memiliki tujuan hidup yang memberikan makna dan kepuasan. Sebuah eksistensi yang bermakna adalah hasil dari kesadaran, kontrol diri, dan kemauan untuk berjuang mewujudkan apa yang diinginkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS