Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Dilema Mak-Mak Tanpa ART: Kasih HP atau Rumah Berantakan?



Sebagai ibu baru, terkadang saya melihat informasi dari media sosial maupun dari jurnal perihal screen time atau waktu penggunaan layar yang memiliki berberapa dampak negatif pada anak kecuali untuk melakukan video call bersama keluarga. 

Perkembangan otak dalam kurun waktu 5 tahun pertama terjadi lebih cepat dan sensitif terhadap dampak dari lingkungan. Oleh karena itu, masa tersebut menjadi periode emas yang sangat penting. Sayangnya, fakta di lapangan malah terlanjur banyak anak yang kecanduan screen time. Padahal, paparan layar yang berlebihan berpotensi menggantikan interaksi, bermain, bergerak, dan pengalaman nyata yang sangat mereka butuhkan. Penggunaan layar sebaiknya diminimalisir dan dijadikan aktivitas sampingan jika memang diperlukan. 

Yang dikhawatirkan bukan sekadar "layarnya", tetapi perihal apa yang hilang ketika layar mengambil waktu anak. Sediiih.

Sejenak saya berpikir, bagaimana dengan seorang ibu yang hanya tinggal bersama suaminya tanpa asisten rumah tangga maupun pengasuh kerap kali membiarkan anaknya menonton televisi atau video dari smartphone. Mau bagaimana lagi, hal ini terpaksa dilakukan agar sang ibu bisa memasak, beres-beres rumah, maupun kegiatan lainnya sementara suaminya pergi bekerja.

Yah, kembali lagi dengan bagaimana pilihan sang pengasuh anak, khususnya ibu dengan kondisi tersebut. Apakah tetap membiarkan anak terpapar layar atau mencari media lain guna membuat si Kecil tetap anteng menikmati waktunya bermain, sementara ibu bisa beraktivitas dengan tenang—meski jujur di dalam hati merasa was-was dan khawatir.

Jadi bernostalgia. Dulu ibu membiarkan saya bermain dengan tumpukan koran sampai berantakan, sementara ibu memasak sambil sesekali memperhatikan anaknya yang sedang bermain. Untungnya saya tidak memakan korannya, ya.

Syukurlah, saya tipe anak mau dikasih mainan koran, alhasil ibu bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya dengan lancar. Tanpa screen time, hanya mainan fisik saja. Tapi dulu mah, belum zaman screen time juga, sih.

Beda zaman, beda pula kebiasaannya. 

Dewasa ini, beberapa anak sudah diberi alternatif mainan, tapi tidak mau, inginnya hanya menonton televisi atau video dari smartphone. Duh, auto menghela napas deh para ibu. Jadi galau kan, bagaimana kalau kecanduan. Pusing kepala Berbiii!

Oh iya, dari salah satu jurnal yang saya baca, dikatakan bahwa semakin banyak waktu layar yang digunakan pada masa bayi, semakin besar ditemukan perubahan tertentu pada aktivitas EEG atau Electroencephalography (elektroensefalografi).

Sederhananya, EEG adalah pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik otak. Caranya bukan dengan memasukkan alat ke otak, Pemirsaaa. Petugas memasang sensor kecil (elektroda) di kepala, lalu alat merekam sinyal listrik yang dihasilkan oleh aktivitas sel-sel saraf otak.

Nah, perubahan tersebut berhubungan dengan fungsi eksekutif yang lebih rendah pada usia sekolah—tetapi penelitian ini belum membuktikan bahwa layar adalah penyebab langsungnya.

Lingkup dari fungsi eksekutif yaitu memberi perhatian selektif, respon inhibisi, kecakapan dalam mengambil keputusan, dan fungsi menyaring dengan tanggung jawab. Fungsi eksekutif terdiri atas tiga komponen dasar yakni, inhibisi, updating working memory dan mental set shifting/task switching.

Debie Susanti, Hasmira, Mulyana Sukarnih Putri Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi), Vol. 4 No. 1 Januari 2023

Beda zaman, beda keadaan. Jadi kudu waspada, euy. Di balik ketenangan instan yang ditawarkan oleh gawai, ada harga mahal yang harus dibayar oleh tumbuh kembang si Kecil.

Para ahli menjelaskan bahwa gawai dapat mengganggu perkembangan fungsi eksekutif otak anak—yaitu sistem kendali yang bertugas seperti "manajer proyek" di otak kita. Masa di bawah usia 2 tahun ini begitu penting untuk melatih tiga pilar utamanya, yaitu:

  1. Inhibisi (kemampuan anak untuk menahan diri dari gangguan, mengontrol emosi, dan menunda kesenangan instan).
  2. Updating working memory (kemampuan otak untuk mengingat, memperbarui, dan mengolah informasi jangka pendek secara cepat).
  3. Mental set shifting/Task switching (fleksibilitas mental anak untuk berpindah fokus dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa memicu tantrum).

Ketika anak terbiasa menonton layar, otak depan mereka tidak terlatih untuk melakukan ketiga hal di atas secara mandiri karena semuanya sudah disajikan secara instan. Akibatnya, ada beberapa dampak negatif nyata yang menghantui anak di bawah usia 2 tahun:

1. Risiko Keterlambatan Bicara (Speech Delay)

Ini dampak yang terkadang membuat ibu panik. Kalau ada yang bilang bahwa tontonannya mengandung unsur edukasi dan semacamnya, mari kita lihat pada sifat gawai yang pasif dan satu arah, hal tersebut dapat menyebabkan otak anak tidak terstimulasi dengan baik karena tidak ada yang yang membalas ocehan si Kecil.

2. Tantrum dan Sulit Mengendalikan Emosi

Pernah melihat anak yang mengamuk ketika HP atau tabletnya diambil? Itu terjadi karena gawai membanjiri otaknya dengan hormon kesenangan secara instan. Ketika layar dimatikan, otak anak mengalami "syok" karena stimulasi menyenangkan itu tiba-tiba hilang. Kemampuan inhibisi (kontrol diri) mereka belum matang, emosi mereka meledak dan bisa jadi menyebabkan tantrum dan sulit ditenangkan.

3. Sulit Fokus dan Cepat Bosan di Dunia Nyata

Otak bayi yang belum matang akan terbiasa menerima ritme super cepat dari konten digital dengan transisi gambar yang sangat cepat. Nah, ketika anak kembali ke dunia nyata seperti saat bermain menyusun balok maupun menggambar misalnya, hal tersebut akan terasa lambat dan membosankan. Kemampuan konsentrasi mereka pun menjadi sangat pendek. Ambyar, deh.

Jadi bagaimana nih, Bunda? Butuh penyesuaian untuk membesarkan si Kecil ya, Bun. Rasanya berat, tapi seiring berjalannya waktu, pelan-pelan kita mencari cara yang cocok untuk membersamai buah hati kita.

Zaman dulu boleh begitu, zaman now ya begini, belum lagi kondisi manusia sekarang dengan segala perubahan kondisi hormonnya. Mental health yang dulu nampaknya nggak begitu dikenal, sekarang jadi kenyataan yang harus dihadapi. Warasnya ibu adalah salah satu kunci kebahagiaan anak. Nyetrum gitu, Bun. Jika Bunda bersedih misalnya, hal tersebut pun akan berdampak negatif untuk si Kecil.



Kita tidak sendirian kok, Bun. Coba diskusikan dengan pasangan, maupun keluarga lain yang tinggal bersama kita untuk saling mendukung dalam membatasi atau bahkan meniadakan, paparan layar pada anak khususnya 0—2 tahun. Sementara itu, untuk 3—5 tahun, pastikan kita mendampingi buah hati kita ketika mereka berada di depan layar gawai atau televisi. 

Meskipun sudah terlanjur ketagihan, pelan-pelan kita alihkan dengan mainan lain, atau hadir mendampingi mereka lewat obrolan sederhana, pelukan, maupun petualangan kecil di dunia nyata. Pastinya butuh proses, tetapi waktu yang kita investasikan tanpa paparan layar adalah salah satu hadiah yang baik untuk perkembangan otak si Kecil.

Sebagai orang tua dan hamba yang memiliki Tuhan, usaha adalah langkah yang kita lakukan setelah meniatkan sesuatu yang baik, selanjutnya pasrahkan masa depan kita dan keluarga menjadi ketetapan yang seperti apa.

Mari kita senantiasa berikhtiar memberikan stimulasi terbaik untuk otak dan jiwa si Kecil, lalu biarkan tawakkal menjadi penenang hati kita. Semoga Tuhan meridhai, menguatkan pundak hamba-Nya dan memberkahi setiap langkah kecil yang kita ambil demi masa depan kita dan keluarga. Have a blessed parenting journey! 😉😇


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bu, Mau Masuk Surga

 



Suatu hari, ketika seorang guru TK sedang duduk di belakang mengawasi murid-muridnyanya yang sedang mewarnai, ia berpindah posisi karena kakinya pegal. Anak di depannya tiba-tiba menoleh ke belakang.


"Bu, sayang Ibu."


Ibu guru tersenyum simpul, "Iya, sesama manusia kan saling menyayangi, ya, Jay." 


Beberapa menit kemudian, anak itu menoleh lagi. "Ibu, mau masuk surga."


"Iya, anak baik insyallah masuk surga. Ajay jadi anak baik ya, tidak lari-larian dan naik-naik ke atas meja."


Si kecil pun mengangguk mantap, lalu kembali mewarnai. Sementara Ibu guru tersenyum, hatinya ikut diwarnai hari itu. 


Saat jam istirahat tiba, ia menghampiri Ibu guru sambil membawa sesuatu di tangannya.


“Ibu… ini buat Ibu.”


Sebungkus Choki-Choki stik berpindah tangan.


Ibu guru tersenyum kaget.

Hari itu, bukan cuma jam istirahat yang manis—hati Ibu guru juga ikut dilembutkan.


💛😊

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Iseng Bikin Video Shopee, Kok Bisa Cuan? Ini Cerita & Strateginya

 Bismillahirrahmaanirrahiim


Affiliate lewat video Shopee itu kuncinya bukan cuma produk, ya Gaiss, tapi cara narik klik + trust. Aku ringkas step-by-step yang terbukti dipakai affiliator cuan, ya. 👇


1️⃣ Pilih produk yang “mudah kepancing”

Jangan semua produk dipromosiin.

Fokus ke produk: ✅ Harga < Rp100.000 (impulse buy - beli spontan tanpa rencana - orang tadinya gak niat belanja, tapi karena lihat videomu… 👉 “eh kok kepengen ya” → langsung klik & beli 😄)

✅ Banyak problem (skincare, alat rumah, bayi, dapur)

✅ Rating 4.8+ & terjual ribuan

✅ Komisi ≥10% (atau nominalnya masuk)

💡 Ingat: murah + kepake = gampang closing


2️⃣ Hook 3 detik pertama (WAJIB)

Orang scroll cepet. Kalau 3 detik awal gak “nyentil”, skip.


Contoh hook yang works:

“Kenapa aku nyesel baru nemu ini sekarang…”

“Stop beli yang mahal, ini versi murah tapi works”

“Buat kamu yang punya masalah ___, wajib nonton ini”


❌ Jangan buka dengan:

> “Halo guys, hari ini aku mau review…”


3️⃣ Jangan review, tapi ceritakan MASALAH

Rumus video affiliate Shopee:

MASALAH → SOLUSI → BUKTI → CTA (Call To Action-kalimat ajakan supaya orang melakukan sesuatu)


Contoh:

Masalah: “Bibir aku kering parah tiap pagi.”

Solusi: “Aku pakai ini sebelum tidur.”

Bukti: close-up hasil / tekstur / before-after


CTA: “Link aku sematin, cek sebelum habis.”


👉 Orang beli karena merasa relate, bukan karena spesifikasi.


4️⃣ Tunjukin wajah (personal branding)

Ini penting banget 👇

Video ada wajah → trust naik → klik naik → komisi naik.


Gak perlu cantik/ganteng, yang penting:

•ekspresi jelas

•ngomong natural

•jujur (plus minus disebut)


Shopee lebih dorong akun yang “real human”. Tapi, ini balik lagi ke si affiliator or kreator video-nya, barangkali memang berat banget rasanya buat munculin wajah, kudu cari cara lain, ya. 

Hmm, yang kira-kira menarik itu seperti apa, bagaimana. Balikkan saja posisinya, kalau kamu yang sedang menonton video, poin apa saja yang sekiranya dibutuhkan dan bikin kamu tergugah untuk membeli, atau bahkan menonton videonya berkali-kali (lah, jadi penikmat video tapi gak belanja kali, ya 🤭).


5️⃣ Durasi ideal & format

📌 Durasi: 20–45 detik

📌 Format: portrait 9:16

📌 Tambahin teks di layar (karena banyak nonton tanpa suara)


Contoh teks:

“Murah tapi kepake”

“Affiliate jujur”

“Aku pakai sendiri”



6️⃣ CTA jangan lemah

Jangan cuma: ❌ “Link di bawah ya”


Pakai: ✅ “Aku sematin link-nya, jangan scroll dulu.” ✅ “Klik keranjang kuning sebelum kehabisan.” ✅ “Yang lagi butuh, cek link sekarang.”


CTA = pemicu klik = komisi.


7️⃣ Konsisten & kuantitas dulu

Awal-awal: 📌 1–3 video per hari

📌 Ulang produk yang sama dengan angle beda

📌 Jangan hapus video sepi (bisa naik belakangan)


Shopee itu snowball:

akun kecil → konsisten → tiba-tiba 1 video meledak.


8️⃣ Mindset penting biar cuan

❌ Jangan mikir: “kok aku gak laku-laku,” ✅ Pikir: “video mana yang bisa aku perbaiki.”


Affiliate itu game konten, pemirsahhh, bukan keberuntungan. 


Baiklah, kurang lebihnya seperti itu, ya. Aku juga buat video di Shopee berawal dari iseng, atau senang karena paketan belanjaan aku sudah sampai lalu aku buat video, deh. Ada juga yang sengaja aku buat video dengan tautan produk tertentu yang mau aku beli sendiri. Waktu itu aku buat video jajan/cemilan dan link-nya aku klik sendiri lalu aku checkout. Aku manfaatin gratis ongkir dari video yang aku buat. Minimal pembelanjaan Rp. 10.000 kalau nggak salah. Malas aku cari video orang, jadi, jajan aku yang tinggal sedikit aku videoin, lalu tambahkan link barang biar bisa aku klik. Video sembarang banget waktu itu, mah.

Nah, ini contoh video aku ala-ala sobat ngunyah amatiran 🪄Klik ini deh!





Ekhemm! Kalau ini contoh video yang views-nya lumayan cetar, sih (bagiku yang masih butuh banyak belajar)🤭  🪄Klik lagi boleee

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bertumbuh Bersama


(Dua Nama, Satu Doa)



Malam itu hujan turun pelan, seolah langit sengaja merendahkan suaranya. Di sebuah rumah sederhana, dua tangis bayi terdengar hampir bersamaan—satu lembut, satu tegas. Mereka lahir sebagai kembar.

Ayah mereka mengumandangkan azan dan iqamah, lalu berbisik penuh harap,
“Namamu Muhammed Akyas Syarif,”
dan pada tangis yang lebih lirih,
“Dan kamu Syarifha Neyra Ismaya.”

Sejak kecil, keduanya berbeda.

Akyas tumbuh dengan tatapan tenang. Ia jarang bicara, namun sekali berkata, ucapannya tertata. Ia lebih sering mengamati sebelum bertindak. Jika terjadi perselisihan, dialah yang pertama menenangkan.

Syarifha adalah cahaya kecil di rumah itu. Senyumnya mudah muncul, kehadirannya membuat suasana hangat. Ia peka pada perasaan orang lain, cepat menyadari jika ada yang sedih, dan tanpa diminta, duduk menemani.

Orang-orang sering berkata,
“Yang satu menenangkan pikiran, yang satu menenangkan hati.”

Ketika mereka beranjak dewasa, perbedaan itu semakin jelas.

Akyas belajar menimbang sebelum memilih. Ia percaya bahwa kecerdasan sejati adalah mampu menjaga diri dari tergesa.

Syarifha belajar menyinari tanpa menyilaukan. Ia percaya bahwa kebaikan tidak harus diumumkan.

Suatu hari, mereka dihadapkan pada pilihan sulit. Jalan yang mudah terbuka lebar, tapi menyisakan keraguan. Jalan yang benar terasa sempit, namun menenangkan.

Akyas berkata pelan,
“Yang benar mungkin berat, tapi tidak akan mengkhianati hati.”

Syarifha mengangguk,
“Kalau begitu, kita pilih yang membuat kita tetap menjadi diri sendiri.”

Mereka melangkah bersama—bukan untuk menjadi yang paling terlihat, tetapi untuk tetap setia pada nilai yang ditanamkan sejak nama itu disematkan.

Di mata orang lain, mereka hanya dua saudara kembar.

Namun bagi mereka yang mengenal lebih dekat,
Akyas adalah kebijaksanaan yang menjaga,
Syarifha adalah cahaya yang menuntun.

Dan di rumah sederhana itu, orang tua mereka sering berdoa dalam diam:
semoga anak-anak ini tumbuh bukan untuk menguasai dunia,
melainkan menjaganya dengan akhlak dan kasih.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Percakapan Masa lalu

 Bismillahirrahmaanirrahiim



Mentari menebarkan hawa panasnya yang terik di tengah kota, menyengat siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan. Namun bagi Pak Harun, seorang ojek online berusia 52 tahun, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sejak muda ia terbiasa bekerja di bawah terik matahari sebagai seorang tukang becak, tukang gorengan, ojek pangkalan, dan beberapa profesi lainnya.

Di usia senjanya, nasib memaksanya untuk tetap bekerja keras mencari nafkah. Apakah ia bisa memilih untuk tidak menjadi seperti sekarang? Entahlah, Pak Harun sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi itu lah takdir yang harus ia jalani dan syukuri.

Perkembangan zaman yang kian pesat membuatnya harus beralih profesi menjadi ojek online agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Siang itu, sambil menunggu orderan di sebuah warung kopi, Pak Harun berbincang dengan Pak Salman, rekan sejawatnya yang juga berprofesi sebagai ojek online. Keduanya sudah saling kenal sejak muda, dulu sama-sama berprofesi sebagai tukang becak.

“Zaman dulu mah enak, Man. Kita cuma teriak-teriak nyari penumpang aja.” Pak Harun menyeruput kopinya, “sekarang kudu bela-belain lihat hape, kalau telat dikit bisa keburu disambar orang lain, penumpangnya.”

Pak Salman mengangguk, “iya, ya, Run. Gak pusing mikirin aplikasi kayak begini. Sekarang kalau gak ikut perkembangan zaman, bisa ketinggalan.”

Keduanya lalu terdiam sejenak, merenungi bagaimana perubahan zaman yang begitu cepat. Di usia senja, mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap dapat bertahan hidup.

“Yang penting kita masih bisa cari rezeki, Man. Meski cara dan alatnya beda, yang penting niat kita ikhlas berusaha,” ujar Pak Harun.

Pak Salman mengangguk setuju. Keduanya pun melanjutkan mengobrol ringan, sesekali tertawa mengenang masa muda mereka. Meski zaman terus berubah, semangat dan ikatan persahabatan mereka takkan pernah lapuk dimakan waktu.

Setelah beberapa saat, obrolan mereka mulai merambah ke nostalgia lucu masa lalu, ketika mereka masih berprofesi sebagai tukang becak.

“Ingat nggak Man, waktu kita masih narik becak, terus kejar-kejaran sama polisi? tanya Pak Harun sambil tertawa kecil.



Pak Salman terbahak-bahak bukan main, “ingat banget lah, Run. Waktu itu sampai kita sembunyi segala, di gang sempit. Takutnya bukan main, euy,” bapak dengan tiga orang anak itu membenarkan posisi kaca matanya, “tapi sekarang mah, yang dikhawatirkan kalau sampai ketinggalan orderan!”

Pak Harun mengangguk, “iya Man. Zamannya sudah berubah, tantangannya ya, tambah-tambah. Tapi yang penting kita masih bisa ketawa, ya?”

“Ya, setidaknya kita masih bisa menyambung hidup,” pria itu tiba-tiba teringat almarhumah istrinya, “anak-anak muda sekarang mungkin nggak tahu rasa susah seperti kita dulu, tapi kesulitan mereka ya, ada di bentuk yang berbeda.”

Seiring obrolan mereka yang mengalir, suasana kedai kopi itu mulai ramai dengan kedatangan ojek online lain yang juga menunggu orderan.

Angin semilir bertiup menyejukkan jiwa-jiwa yang terpanggang oleh panasnya realita. Di tengah kota yang penuh sesak dan sibuk itu masih ada tempat sederhana yang nyaman untuk dikunjungi. Sekilas, tempat itu terlihat seperti kafe bergaya vintage yang mahal, tapi owner kedai kopi itu adalah teman seangkatan Pak Harun dan Pak Salman. Dengan hati yang baik, ia tidak mematok harga mahal untuk menu yang tersedia di tempat usahanya tersebut.

Sahabat senja itu menikmati momen yang ada dengan penuh syukur, membiarkan pikiran mereka menganang masa-masa lampau.

Angin kembali berembus lembut, membawa serta suara-suara kota yang seakan menjadi latar bagi kilasan memori itu. Pak Salman tersenyum sendiri, mengenang seluruh perjuangan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan menjadi seseru itu.

Beberapa saat kemudian, Pak Salman merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi ojek online menunjukkan bahwa ada orderan yang masuk. Senyumnya kian mengembang.

“Dapat orderan ke mana, Man?” tanya Pak Harun.

“Deket. Ke sekolahan SD.”

“Eh, ada yang dapat penumpang, nih,” ujar Pak Deden, sang pemilik kedai.

Pak Salman segera meraih helemnya dan bangkit dari tempat duduk, “alhamdulillah, ada orderan. Rezeki nggak boleh ditolak, kan?”

Pak Deden tersenyum, “iya, Man. Semoga lancar, ya.”

Pak Salman pun berpamitan dan melangkah menuju motornya. Seperti biasa, ia merapikan helm, dan memastikan semuanya siap sebelum memulai perjalanan.

Pak Deden pun duduk di bangku menemani Pak Harun berbincang ringan sembari menunggu giliran rezekinya tiba.

“Har, bagaimana keluarga di rumah, sehat?” tanya Pak Deden sambil menyeruput kopi.

“Alhamdulillah sehat, Den.” Pak Harun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.

“Alhamdulillah. Keluarga memang jadi semangat kita untuk terus berjuang, ya.”

“Iya. Walaupun pusing dan capek sama orderan yang kadang sepi, tapi ya, demi keluarga mah, harus diperjuangkan,” tambah Pak Harun sambil mengaduk kopinya.

Semilir angin kembali berembus sepoi-sepoi. Suasana di kedai kopi itu terasa nyaman, dengan obrolan ringan dan gelak tawa yang sesekali menghangatkan suasana.

“Aku jadi ingat pas kita masih muda dulu, Har. Ingat nggak, kita sering ke sini pas masih cuma warung kecil di pinggir jalan?” tanya Pak Deden mengenang masa lalu.

“Pak Harun tertawa, “jelas inget, lah. Nongkrong sampai malam, ngobrol macam-macam. Siapa sangka, sekarang kita masih bisa kumpul di tempat yang sama, ya, meskipun sudah banyak yang berubah, Den.”

Pak Deden tersenyum, “benar, Har. Meskipun dunia telah banyak yang berubah, semoga saja persahabatan kita tetap sama.”

“Amin. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup, ya. Toh, yang penting kan, kita tetap bersyukur dan saling mendukung.”

♣♣♣

Di tempat lain, Pak Salman sedang menikmati perjalanannya mengantar seorang anak SD yang tadi dipesankan ojek oleh orang tuanya melalui aplikasi ojek online.

Suara mesin motor, kebisingan kota, dan bunyi klakson yang terdengar di sana-sini seakan menjadi irama yang mengiringi setiap langkah perjuangannya.

Di tengah perjalanan, pikiran Pak Salman melayang, mengingat keluarganya. Cucu-cucu yang sedang lucu-lucunya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal bersama dengannya di satu rumah sederhana, semuanya adalah karunia yang tak terkira. Setiap tetes keringat yang jatuh‒meskipun tidak se-ngoyo dulu‒adalah bentuk cinta untuk mereka.

“Aminah, meskipun kau telah tiada, tapi aku dan anak-anakmu di sini tetap berjuang untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami selalu mengirimkan doa-doa kami untukmu, Aminah,” batin Pak Salman, mengenang istri tercintanya.

Di tengah kesibukan Pak Salman, kenangan tentang Aminah selalu hadir, memberikan semangat dan kekuatan. Perjalanan hari itu terasa lebih ringan. Meski orderan datang silih berganti, Pak Salman merasa ada kekuatan baru yang menyertainya. Ia menyadari bilamana setiap perjalanan, setiap tarikan gas kendaraan bermotor tuanya, serta setiap langkah yang diambil adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.

Menjelang senja, ketika kubah langit berubah warna mejadi jingga kemerahan, Pak Salman kembali ke warung kopi tempat biasa ia menghabiskan waktu senggangnya. Di sana ia bertemu lagi dengan Pak Deden dan rekan-rekan lainnya. Kebetulan Pak Harun tidak ada di sana karena masih ada orderan.

“Bagaimana Man, hari ini lancar?” tanya Pak Deden sambil menikmati pisang goreng yang hangat.

“Alhamdulillah, lancar, Den. Walaupun capek, tapi hati ini senang rasanya. Setiap hari adalah berkah.”

Di bawah langit sandikala yang indah, mereka menemukan ketenangan. Meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, serta rasa syukur akan selalu menjadi pegangan yang harus tetap dijaga dan dipegang teguh. Suara azan maghrib pun berkumandang, menandai waktu untuk berhenti sejenak dari segala aktifitas dan bersujud kepada Sang Pencipta mayapada dan seisinya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran dalam Panggung Kehidupan

 


 

Dunia ini adalah panggung sandiwara, katanya. Kita bukan sutradara, melainkan aktor yang tidak bisa memilih peran—apa pun yang Tuhan tetapkan untuk kita. Kalau kita sudah dicasting sebagai tokoh antagonis, ya jalani saja peran itu sebaik-baiknya.

Kita adalah bagian kecil dari sebuah mesin besar. Jika kita tidak memainkan peran kita dengan baik, mesin itu bisa kacau dan rusak. Hidup akan berjalan normal, baik, dan produktif jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh—bukan setengah-setengah.

Kekacauan dalam satu bagian pasti akan berdampak pada bagian lainnya. Seperti ketika kondisi seorang ibu sedang ruwet, suami dan anak pun bisa ikut terdampak. Kita ini hanya sekrup kecil dalam sebuah organisme besar. Tak perlu terus-menerus mengeluhkan peran yang tak kita sukai. Santai saja, dan jalanidengan nyaman dan terus berusaha.

Merasa bosan atau mengeluh saat menjadi pegawai? Ingatlah, atasan kita pun dulunya pegawai, tapi mereka sudah naik level karena menjalani peran mereka dengan konsisten.

Bersikap realistis itu bukan berarti memaksakan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita, tetapi menginginkan agar segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hatiku, Lautan yang Tak Terduga

 


Di suatu malam, aku terpikirkan tentang perasaan manusia yang layaknya samudera luas dengan berbagai macam kehidupan di dalamnya. Keberagaman jenis hewan laut, kondisi lingkungannya, maupun terumbu karang, bahkan apapun itu yang belum aku ketahui di kedalaman yang paling dalam, dingin, dan gelap di bawah sana. 


Makhluk lautan tak bisa memilih untuk menjadi apa karena takdirnya telah ditentukan oleh Sang Empunya Mayapada, begitu pula dengan perasaan manusia yang dititipkan dan tertiupkan ke dalam dada kita, semuanya telah digariskan oleh-Nya. Namun, semua itu bukan berarti kita tak diberikan kemampuan untuk mengendalikannya sama sekali. 


Sekarang, aku akan menjadi ubur-ubur dengan bentuk seperti itu. Ya, seperti apa bentuknya? Kau pasti tahu seperti apa rupanya, meskipun tidak semuanya sama karena berbeda jenis, belum lagi kalau membicarakan tentang adakah racun di dalamnya atau tidak. 



Yups, sekarang aku adalah ubur-ubur bulan, Aurelia Aurita. Nama yang cukup cantik, bukan. 


Aku ubur-ubur bulan. Tetapi, apa boleh aku menginginkan untuk menyalahi takdir dan memohon agar aku dijadikan sebagai ikan hiu? Aku, menjadi ikan hiu paus yang katanya bisa tumbuh hingga sekitar 12 meter. Waw, besar sekali. 


Apalah daya, sekarang aku adalah ubur-ubur bulan dengan tubuh yang transparan dan ukuran yang kecil, bahkan 50 cm pun tidak ada. Lalu, apa yang harus aku lakukan? 


Terima saja kodratku sebagai Aurelia Aurita. Dengan begitu, aku bisa lebih menjalankan peran dengan baik. Aku berusaha hidup dengan senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan kepadaku, dititipkan kepadaku. Meskipun terkadang, bisa saja menginginkan sesuatu yang sedang tidak ada di hadapan mata, ya wajar saja, tapi setelah itu kembali lagi ke tempatku, tersadar dari lamunan itu. 


Rupanya aku berimajinasi cukup indah malam ini. Perasaan yang aku rasakan memang sudah diberikan oleh Dzat yang menciptakanku, apapun itu, aku seharusnya menerima dan menjalaninya. Jika perasaanku sedang baik, itu sebuah anugerah yang indah. Sedangkan perasaan yang menyesakkan itu, tahan saja dulu, sembari berdoa aku meminta pertolongan-Nya agar tetap terlindungi dan dapat melewati kepiluan itu dengan baik, tentunya dengan mengupayakan apa yang bisa aku lakukan. 


Perasaan pun dapat terpengaruh dari kondisi sekitarannya, sebagaimana aku yang menjadi ubur-ubur ini tinggal di lautan dengan kondisi yang tidak baik, tercemar. Tentu hal tersebut menjadi salah satu faktor ketidaknyamananku, kan. Lantas, aku harus bagaimana? 


Jika aku bisa pergi dari lingkungan yang seperti itu, sepertinya akan lebih baik. Syukur kalau aku menemukan tempat tinggal yang lebih layak atau bahkan jauh lebih indah dan sehat dari sebelumnya. Apakah aku hijrah dari satu lautan di bagian bumi tertentu ke bagian yang lainnya? Aku yang ubur-ubur ini hijrah? Yups, tidak masalah. Toh, demi kemaslahatan diriku. Sama saja seperti perasaan manusia yang bisa terkontaminasi oleh paparan tingkah laku maupun omongan tetangga yang tak menyehatkan jiwa maupun raga. Aku bisa memilih untuk pindah, atau menjauh dari hal seperti itu. Pilihan ada pada kita, selanjutnya bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. 


Realitanya, di mana pun kita tinggal, akan ada saja sesuatu yang membuat tidak nyaman. Kita bisa berupaya untuk menjauh, dan tetap tinggal di lingkungan seperti itu selagi masih kuat. Menetap saja, jika hal itu lah yang bisa dijangkau kelanjutannya. Jangan memaki keadaan dan kondisi yang ada apabila kita tidak merasa nyaman. Atau, kita bisa mencoba untuk berpindah ke bumi di bagian yang lain jika memungkinkan. Yah, begitulah perasaan dan berjuta dramanya. 


Terkadang, aku menangis bukan berarti sedang bersedih. Mungkin, tanpa disadari air mata  mengalir begitu saja membasahi pipi ini. Memang bisa seperti itu? Entahlah, aku sekadar menyelami lautan dalam dan seolah dipenuhi pertanyaan "sebenarnya aku sedang apa di sini, mengapa aku belum dapat menemukan apapun?". Kosong melompong. Wah, sepertinya aku kurang berdzikir. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebuah Goresan Kenangan

 



Aku tidak tahu mengapa sebuah titik yang ditarik menjadi garis dan garis-garis itu memencar ke segala arah, menciptakan berbagai goresan dan bentuk pola yang beragam. 


Yah, apapun keberagaman yang ada di hadapan kita, semuanya indah bila kita memandangnya seperti itu, begitu pula sebaliknya. 


Lalu, apa yang ada di benakmu sekarang?

Entahlah. 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS