Ini kisau Claudia temanku, cerita seminggu yang lalu. Berarti duka yang telah lalu? Ya, nggak gitu juga.
"Bena, pipi aku perih, nih." Ya Allah, tampangnya melas sekali. Astagfirullah, aku bukan meledek, tapi memang mukanya melas, untung ada manis-manisnya.
Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan ekspresi apapun, takut dia salah paham, "Iya ya, merah itu. Gatal gak, Clau?"
"Nggak, tapi perih."
Nona Clau juga tidak tahu kenapa. Awalnya dia kira digigit nyamuk, tapi nggak gatal. Paling nanti hilang. Lah, besoknya mulai terasa perih dan agak panas.
"Bena, kamu pernah nggak, ngerasa kalau setelah melakukan kesalahan terus dapat teguran langsung, gitu?"
"Mbatin juga pernah. Kayak, 'Kenapa sih, kok seperti itu aja belum bisa' or 'Sebegitunya, kah? Lebay banget nggak, sih?' eh terus nggak lama kemudian mengalami hal serupa." Tepok dahi deh, aku.
"Teguran kali ya, biar kita merasakan di posisi orang lain."
"Kalau udah gitu tuh, langsung deg, alhamdulillah ya Allah, masih memberikan hidayah kepada hambamu ini."
"Hmm. Aku mau cerita, tapi kamu jangan ketawa, loh."
"Cerita aja, lah. Santai."
"Dua hari lalu tuh, Uda bilang kalau aku kayak jadi lebih menarik, gitu."
"Chat. Langsung dihapus abis bilang gitu. Terus aku iseng ngejahilin Uda. Chat bercandain dia gitu."
Ehhem! Claudia tuh pendiam ya, Gess. Tapi, kadang kalau udah bercanda sama dia dan momennya pas, asyik banget loh, anaknya.
Oiya, Uda itu tunangannya. Siapa sangka tetangga jadi calon imam. Mereka nggak kenal sebelumnya, tapi semuanya berubah setelah mengemban dan menyelesaikan tugas bersama. Aseekk. Kolaborasi bisnis yang berujung manis. Ihhiirrr!
Ternyata dua hari lalu mereka nggak sengaja ketemu di acara Launching Aplikasi Sistem Informasi Kerja Elektronik.
"Etdeh. Apanya yang menarik, Clau?" Pura-pura saja, padahal mah segala hal di dia emang menarik, sih. Unik lah, bestie-ku ini
"Hehe. Nggak tahu."
Mereka jelas jarang ketemu. Sebelum tunangan, Uda pindah tugas ke luar kota. LDR. Kok ya bisa, kalau chatting-an ngebahas proyek saja. Serius gitu doang? Iya kadang bercanda, tapi jarang.
Udah Uda jarang video call, Claudia lebih jarang lagi terima panggilan itu. Kalau diterima, dia malas pakai kerudung katanya, yaa seadanya dia balut kepalanya dengan kain apa saja yang ada di dekatnya (tapi bukan kain pel juga, keleuss), lalu separuh wajahnya ditutupi pakai bantal. Malu euyy. Uda video call juga paling nggak sampai tiga menit, terus diem aja ngelihatin seseorang di seberang yang cuma kelihatan matanya doang. Komunikasi seperlunya saja, gitu. Paham lah, aku sama Nona Clau ini.
Claudia nggak tahu Uda bilang menarik itu dari sisi mananya. Entah dari penampilan, perilaku atau dari mana. Tapi kok bisa-bisanya dia berpikir kalau merah-merah yang bikin wajahnya perih itu karena tunangannya bilang dia jadi lebih menarik. Yaa, memang sih, ada adegan bercandaan setelah itu, jadi dia mikirnya teguran dari Tuhan kalau seharusnya dia jangan begitu, karena belum sah.
Dia pernah cerita, karena merasa takjub plus bangga dengan kinerja Uda, terus dia kasih foto jemarinya yang bikin simbol saranghae apa ya, setelah itu dia hapus. Eh, besoknya jari dia kena pisau. Nggak parah, cuma kegores dikit doang. Nah, itu tuh, dari situ dia ngerasa malu sama Allah katanya. "Teguran ini mah, Bena." Aku pribadi hampir setuju dengan pemikirannya, tapi di samping itu kita juga tidak tahu kan, apa benar begitu atau kejadiannya saja yang ngepas banget, terus dia jadi berpikir seperti itu.
Unik mereka, tuh. Ya Allah, gemes aku jadinya. Semoga pernikahan kalian dilancarkan dan diridhai Allah. Amin. Jadi Syawal nanti aku bisa kondangan, deh. 😊
Well, dari sekian Purnama tak muncul, akhirnya nampak lagi, laa~.😙
Jadi, ini kisah seorang gadis ya, gesss. Yupss, gadis kiyut bernama An An. 😆😸😄
Suatu pagi yang cukup mendung, An An merasa perutnya agak begah. Yaa, ada beberapa kendala, sih. Lalu gadis kelahiran tanah Bahira itu memutuskan untuk duduk sejenak, berpose ala meditasi sembari menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Ia lakukan itu beberapa kali sampai merasa lebih baik. Assyique! Nah, udah kerasa mendingan kan, ia berniat olahraga ringan setelah itu. Di depan asrama yang ia tinggali, ada lapangan kecil tuh, cukup lah buat berjalan santai memutari lapangan. Eaaa, bukan sedang dihukum, ya. Kondisinya sedang sepi, jadi An An pede aja. Next, fifteen minutes later, dia melakukan gerakan-gerakan peregangan lalu selonjoran. 25 menit-an cukup lah ya, dari adegan muter lapangan sampe selonjoran gitu? Cukup dong, hahaii.
Hmm, abis olahraga minum air putih dia. Eh, laper deh. Wadidau, pengen masak makanan dengan bahan seadanya ala anak kosan dong, si An An. Sambil mikir, gadis kiyut itu memperhatikan keadaan sekitar. Yups, di depan matanya ada setoples bawang merah goreng, sosis ayam siap makan, labu yang ia beli di supermarket kemarin (level supermarket emang beda, labunya dibungkus pakai plastik wrap, euyy), kerupuk seblak rasa original (lah, katanya seblak, kok original, nggak pedas?) dan beberapa bahan lainnya. Wewewewww, ada apa lagi sih? Oiyyaa, dia masih punya spagetti, cuy.
Pagi-pagi, suasana sepi, harus menciptakan sesuatu yang bikin hepi, nih. Kok sepi, penghuni asrama lainnya pada ke mana? Ke mana lagi weekend gini kalau bukan semedi di alam mimpi. Awokawokawokkkk.
Skuyy lah, mending masak aja. Gaskeuuuun!
An An merebus spagetti dulu pemirsa, sambil menunggu matang ia membersihkan kulit labu, mebuaang getahnya dan memotongnya kecil-kecil (bentuknya seperti stick gitu, yaa sesuai selera aja, mau dibuat dadu, diserut pakai serutan sayur or dicetak setengah bulat pakai kerokan buah juga boleh). Next, dia pergi ke wastafel untuk mencuci labu dan bawang putih. Sepulangnya dari sana, magic comnya sudah mengepul dong kayak sepur, tapi nggak bunyi tuut-tuut. Nggak, lah. Wedehh, ada yang sudah matang, nih. Matikan magic com lalu tiriskan spagettinya, deh.
Then, panaskan minyak secukupnya, lalu tumis bawang putih. Setelah itu An An masukan potongan-potongan labu ke dalam inner cooking pan, menaburkan bawang goreng siap saji dan sedikit kunyit bubuk. Tutup dah tuh, magic comnya. Sambil menunggu An An memotong-motong sosis ayam siap saji buat tambahan topping masakannya. Sekitar 2 menit, An An menambahkan sekitar 200 mili air (disesuaikan saja dengan kebutuhan dan selera, mau banjir apa becek, wkwkwkwk) dan beberapa keping kerupuk seblak (kerupuknya sudah siap makan gess, cuma An An juga nggak tahu kenapa, iseng aja gitu, pengen nambahin itu ke masakannya, kalau nggak suka ya, nggak usah sis, ahahaii). Oh iya, thydak lupa juga ia menambahkan bawang goreng, saus sambal, garam dan penyedap jamur secukupnya. Eittt, sama si spagetti dan sosis juga sobat, bahaya kalau sampai ketinggalan. Aduk rata, kemudian tunggu sampai matang, deh.
A few minutes later, mateng deh tuh. The food ready to be served.
Ini dia santapan sederhana ala anak asrama. Wawawawaaa... diberi nama apa, ya?
Ahha! Spalaso! Spagetti labu sosis! Asyiqueee, bahagianya tiada tara.
Alhamdulillah yaaa, bisa untuk lauk sarapan pagiii. 👏👏👏👏😇
Yoyoy, berikut kisah An An di pagi hari memasak labu sosis dan spagetti. Sampai jumpa di lain kempatan lagi ya, sobiiii. 😙😉
Well, ceritanya kan ada makhluk Tuhan yang aduuh, nggak tahu kenapa dia bisa sering bertingkah nyeleneh gitu, ya (dia kenalan gue ~ uuh kenal banget malah). Kadang gue mikeer, apakah ini yang namanya kelewat kreatif or kebablasan somplaknya. Bentuk abnormalnya kayak apa, itu rahasia. Nanti ada yang ngerasa lagi, terharuuuu. Awokawokawok ヽ(^0^)ノ
Suatu saat, dia jalan bareng seseorang. Kebetulan lagi pasang kalem mode on. Eh, suddenly seseorang bersamanya yang biasanya normal itu, malah bertingkah nyeleneh, dong. Speechless dah tuh, kenalan gue. Sambil mbatin, "Ya Allah, apakah ini perasaan orang-orang yang terlanjur or bahkan terpaksa melihat fenomena kesomplakan gue?"
Then, in another day, dia kebetulan jalan bareng lagi dengan makhluk Tuhan yang bikin dia speechless. Ekhem! Hal tersebut terulang kembali. Padahal, temennya itu, eh, partner-nya, eh siapa sih, pokoknya kenalannya kenalanku itu sangatlah normal di hadapan orang-orang. Hmm, bisa dibilang ekspresi dan tingkah doi kelewat monoton, malah. Lah, kok jadi ejleg gitu kalau jalan bareng kenalan gue, yak?
"Wadidauuu, kayaknya Tuhan sedang memperlihatkan cermin untuk dirimu deh, Adinda. Or konyolnya kamu itu emang nular." Eh, dahi kenalan gue berkerut, dibilang kek gitu.
Yaa, sebetulnya kenalan gue juga tingkah somplaknya nggak terus-terusan. Malah, dia dikenal jutek gitu apa, ya? Katanya kayak nggak pernah senyum. Ada juga yang bilang, kalau dia itu nggak ada ekspresinya. Hmm, itu kata beberapa orang. Gue yakin sih, yang pada bilang gitu mesti belom kenal sama tuh bocah. Tahu luarnya doang, belum ke dalem-dalemnya. Ahhahahaha.
Terus, apa komentar gue menanggapi sikapnya yang seperti itu? Apa dah, ya menurut gue mah, namanya belum akrab, seseorang nggak akan nyaman menunjukan sisi lain dari dirinya, secara sadar maupun nggak (reflek, gitu). Asyeequee. Apakah kenalan gue nyaman sama gue, so dia canexpress kelakuannya yang yunique itu?
Heeii, dia bercermin sama gue dan partner-nya itu, dong. Anggap saja kalau lagi speechless, kayak dia berada di posisi gue (yang ngeliatin tingkah absurd-nya) dan ketika melihat doi, ibarat bercermin memandang dirinya sendiri. Genre kekonyolannya beda sih, tapi yaa sama aja. Judulnya somplak.
Ia masih meraba dan kadang berpikir, apa Anda menerimanya hanya karena usia, atau mungkin benar-benar membalas harapan dan perasaannya. Namun apapun jawaban itu, dalam pandangannya, Anda adalah orang terbaik yang ia kenal dan cari . 🙂
يأتي أنيس في قبرك يؤنس وحدتك فتقول له من أنت، فيقول أنا السرور الذي ادخلته علي فلان
"Kelak akan hadir seorang teman yang menghibur saat engkau sendirian dalam kubur, lalu kau akan bertanya heran: Siapa sebenarnya Anda?"
Dia pun menjawab : "Aku adalah kebahagiaan yang dulu engkau masukkan ke dalam hati seseorang."
Ya, kebahagiaan. Terkadang hal sederhana dapat bernilai istimewa di mata seseorang.
Semoga banyak hal yang bisa dilakukan untuk saling menguatkan. Banyak mimpi yang dapat terwujud bersama. Banyak karya yang bisa terlahir dari sebuah sinergi.
Yang dibutuhkan bukan sekadar glowing fisik, tapi yang penting kejujurannya, keikhlasannya dan yang dapat membuat mereka lebih berarti lebih dari siapapun.
Ia terkadang pun tak tahu, apa ketidakpunyaan dan keadaan seperti ini, di sini, dapat membuat semua hal terwujud.
Tapi memang scope-nya perlu dipertinggi. Banyak hal yang kadang tidak sesuai logika, tapi terwujud karena izin-Nya. Semoga.
~ Kakata, Kamu dan Dia di dalam Kenangan Cerita ~ • Cold-San
Bayangkan, bayangkan dengan sangat dalam. Agar tidak hanya tawanya saja, namun amarahnya pun sanggup kamu terima. Agar tidak hanya suka, namun dukanya pun mampu kamu pikul. Agar tak hanya peluk dan kasih, namun penolakan dan rasa kesal yang sesekali mereka perlihatkan dapat kamu tampung.
Agar kamu mampu mencintainya secara utuh. Menerima, tidak hanya kelebihan, namun juga kekurangan dalam dirinya.
Karena sesungguhnya, ketika kita mampu menerima kekurangan dan kelemahan mereka, akan kita temukan sisi terbaik dari dalam dirinya, yang ia pun tak sadari selama ini.
@rabbitholeid
Menarik napas panjang lalu menghembuskannya ke udara, kemudian kau berpikir dan membatin, "Aku hanyalah seperti ini. Pintar sangat? Tidak. Cekatan pun, tidak. Lalu, apa yang bisa aku banggakan? Apakah aku sudah dapat dikatakan sebagai seseorang yang telah membantunya, tapi apa yang telah aku lakukan?" Separuh dirimu yang lain berbisik. "Kau senantiasa berusaha untuk memaklumi. Memahami kondisi, meski kau pikir kadar kepekaanmu masih sangat minim. Belajar memprediksi, walau kau tahu pertimbanganmu masih sangat jauh dari kata saksama."
Kau terus mencoba dan menikmati proses belajarmu. Ketika awan kecemasan tiba-tiba menghampiri harimu, kau pun masih berusaha meraba-raba sekelilingmu. Tidak hanya diam begitu saja. Pergerakanmu mungkin lambat, tapi itu upayamu, karena ketakutan yang sesekali menghantuimu. Perlahan-lahan kau rasakan, kau cermati, apakah yang kau dapatkan bisa menjadi alat untuk menerangi langkahmu, apakah pijakan yang kau ambil tidak membahayakanmu.
Lalu ada kalanya kau merasa kesabaranmu hampir habis, kau ingat mantra-mantra keagungan Tuhanmu. Kau berhenti sejenak, mengisi tangki di hatimu yang kosong. Ya, masih dengan cara yang sama. Perlahan tangki itu mulai penuh. Kau pun bergerak lagi, meneruskan perjalananmu, hingga kau dapat keluar dari labirin kegelisan itu.
Di ujung jalan sana, kau berhadapan dengan sosok yang menyerupai dirimu dan ia berkata, "Terima kasih, atas segala upaya yang telah kau lakukan. Aku tahu, kau niscaya bisa. Aku tahu, dengan bantuan Tuhanmu, kau tentu mampu. Berkecil hati, kau mesti akan merasakannya, tapi yang pasti, kau harus sadar diri dan terus mensyukuri pemberian yang Ia beri. Karena, setiap orang itu berarti. Setiap orang itu unik, dengan gaya dan caranya sendiri."
Dirimu tersenyum, kemudian sosok itu berucap, "Kau sudah berusaha. Dia ataupun mereka juga telah melakukan hal serupa, meskipun terkadang satu sama lain tak saling menyadarinya. Tetaplah untuk saling menyemangati, menguatkan. Saling membantu tidak mesti melakukan hal yang sama. Kau berperan sebagai dirimu, melaksanakannya dengan baik, dia ataupun mereka pun menyelesaikan bagiannya."
Saat memancing, setiap orang pasti punya tujuan tersendiri. Entah benar-benar menginginkan hasil tangkapan, baik itu keinginan yang menjadi obsesi atau sebuah harapan. Bila mendapatkan ia bersyukur, jika belum dapat pun ia bersabar dan tetap berjuang untuk mendapatkannya, atau berhenti karena putus asa.
Bagaimana dengan pemancing yang ingin memancing saja? Mungkin sekadar mengisi waktu luang kah, mencari sensasi, hanya ingin bercengkrama dengan sang angin dan alam, namun tak mau membiarkan tangannya kosong, jadi ia menggunakan alasan memancing sebagai tameng. Atau mungkin ia tak sengaja melempar kail lalu terbawa suasana dan menemukan pelajaran berharga dari kegiatan memancing tersebut.
"Sebenarnya, memancing yang mana yang kau maksud?" bisik seorang pria bertopi.
"Kau ingin tahu jawabanku?" Angin berembus sepoi sore itu, ia menjawab pertanyaan yang diajukan sang pria, "Ya, bisa jadi keduanya."
Bila kail pancing itu berhasil membawa pulang seekor ikan/hasil tangkapan lain, seseorang tak mesti mendapatkan hasil dengan ukuran yang sama.
Lalu, setelah mendapatkan hasil tangkapan tersebut, sang pemancing dapat melepaskannya kembali (hanya membuktikan bahwa ia berhasil menangkap buruan lalu mengembalikannya ke air), menyimpannya sebagai hiasan, menjadikannya teman, memelihara dan merawatnya sebaik mungkin, memasaknya sebagai santapan pribadi atau dipersembahkan untuk orang lain. Atau ada tujuan yang lain, kah? Segala sesuatunya mungkin saja terjadi, selama Sang Penguasa Jagat Raya menghendaki.
Langit di atas sana menorehkan cahaya jingga. Senja di tanah surga, danau Delima yang sarat akan cerita.
"Hei pria bertopi, apa yang sudah kau dapatkan?"
"Aku telah mendapatkan beberapa ekor ikan dan sekarang aku tak tahu apa yang kupancing. Ini begitu ringan." Ia menariknya perlahan.
Seseorang di sampingnya menoleh ke arahnya, "Maaf," suaranya hampir tak terdengar, "Sepertinya kail pancing kita tersangkut." rambut panjangnya tertiup angin.
"Oh, maaf." Pandangannya tertuju ke segerombol ikan di air, "Akan saya lepaskan, Nona." ia membungkukkan badannya.
Warna rambutnya yang merah kecoklatan itu nampak indah saat tertiup angin. Sang nona menyeka rambutnya ke belakang telinga. Wajahnya oval. Ia mengangguk pelan.
"Maaf, sedari tadi saya tak sengaja memperhatikan kalau di sekitar tali pancing Nona banyak ikan yang bergerombol seolah memandangi saja, tapi tidak ada yang mendekat," ia menyerahkan kail yang tersangkut tadi.
Sang nona menerima dengan telapak tangannya. Jari-jarinya lentik. Warna kulitnya nampak pucat. "Mungkin karena saya telah berdoa," ia mengangkat kepalanya dan memandang pria di hadapannya tanpa ekspresi. Seolah ada sihir yang berembus, seketika udara menjadi lebih sejuk dan suasana berubah sunyi.
Pria di hadapannya membenarkan posisi topi yang ia kenakan, "Berdoa?"
"Iya, Tuan. Saya berdoa kepada Tuhan. Semoga Ia melindungi alat pancing ini dari energi negatif, sehingga yang dapat menyentuhnya hanyalah benda dengan aura positif."
Si pria menyentuh kail pancingnya, "Lalu, ini?" ia memiringkan kepalanya, menatap sosok di hadapannya.
Nona itu mengedipkan mata dan mengangguk pelan. Tanpa sadar pria itu memberikan kail pancingnya kepada sang nona, ia menerimanya. Seketika kulitnya yang pucat menjadi berseri dan bola matanya berubah warna amber, berkilau keemasan. Ia tersenyum manis, pipinya merona.
.
.
.
.
.
.
.
Sesaat kemudian, kulitnya kembali memucat, sorot matanya meredup, kemudian ia menghilang perlahan, layaknya butiran-butiran pasir yang terbang terbawa angin. Ya, angin. Angin ingin melindunginya, karena itu ia membawanya pergi dan mengembuskannya kembali, entah di bumi bagian mana.
Ketika ada halangan mendadak yang menyebabkan rekan kerjamu izin, padahal kondisinya lagi hype, ya harus stay strong.
"Menumbuhkan asusmsi kalau aku udah nggak punya air mata lagi, gimana ya?" Anistasya kalau bete pasti ngelukis. Lukisannya abstrak banget, pula.
Naya cuma geleng-geleng, "Gak kayak gitu juga, Neng. Lelah itu wajar. Tapi, menanamkan pikiran agar tetap kuat dengan tidak menangis sama sekali itu kurang tepat, Nis."
"Iya, sih. Tapi...."
"Dear, menangis juga bisa menjadi salah satu mekanisme terbaik tubuh untuk menenangkan diri, tauk." Alamat, nih anak mau ceramah. Anistasya sudah biasa sih, dapat wejangan. Dia terima-terima saja. Lha wong bermanfaat, kok.
Kultum tentang menangis, ya? Hmm. Kurang lebih, kontennya Naya bicara tentang peneliti yang telah menemukan bahwa menangis mengaktifkan sistem saraf parasimpatis (PNS). PNS itu yang membantu tubuh beristirahat dan mencernanya. Namun, manfaatnya tidak langsung. Yaaa, kurang lebih perlu beberapa menit air mata menetes sebelum orang yang menangis itu merasakan efek menenangkan dari menangis. Bla bla bla, dan seterusnya, ya gitu deh.
"Aku nggak kuat kerja fisik, makanya kerjaanku itu rata-rata pakai otak." Gadis berjilbab hijau muda itu tersenyum, senyuman yang dipaksakan. "Padahal kemampuan otakku cuma kelas menengah, jadi kudu mikir ekstra," Anistasya mengedip-ngedipkan matanya. Bibirnya itu loh, menjep-menjep.
"Jangan begitu. Bersyukurlah, duhai Nona Muda."
"Astagfirullah," dia mengusap wajahnya, "Ya Allah maafin Anis, ya Allah."
Naya menepuk-nepuk pelan pundak sahabatnya, "Jadi, mau nangis apa nggak, nih?"
"Nanti aja, kalau lagi sunyi. Sekalian munajat," Ciye ada yang lagi malu-malu. Wajahnya memerah, euyy. "Eh, katanya manusia punya tiga air mata, ya?" Tanya Anistasya serius.
Naya menghela napas. Antara heran tapi gak asing. Manusia di hadapannya itu loh, awal-awal nampak sedih dan penuh beban, lalu jengkel, kemudian kaget, eh tiba-tiba jadi malu-malu, terus serius. Lihat saja nanti ekspresi selanjutnya kayak apa.
"Setahuku begitu." Naya memicingkan matanya, "Ada air mata refleks, air mata yang terus-menerus keluar, continuous tears, dan air mata emosional, Nis." Dia mulai serius, tapi tetap santai, "Air mata refleks tugasnya membersihkan kotoran-kotoran, seperti asap dan debu dari mata, Neng. Nah, kalau air mata yang keluar terus-menerus, dia melumasi mata dan membantu melindunginya dari infeksi. Yang terakhir, apa hayo?"
"Air mata emosional Nis, air mata yang memiliki manfaat kesehatan. Jika continuous tears mengandung 98 persen air, air mata emosional diduga mengandung hormon stres dan racun lainnya, loh. Para peneliti yakin bahwa menangis dapat mengeluarkan hal-hal buruk dari sistem tubuh, meski penelitian lebih lanjut perlu diteliti lagi. Yaa, seingatku begitu. Mohon maap deh, kalau keliru."
Anistasya mengecek handphonenya, ada pesan masuk ternyata.
Nah loh, sekarang sumringah. "Chat dari siapa sih?" Naya kepo, dia mendekat ke layar hp sahabatnya.
Bukannya diumpetin malah disodorin tuh hp. "Nih, lihat nihhh," fix, tiada rahasia-rahasiaan. Eeh, tapi bukan berarti mereka tidak punya ruang pribadi. Itu mah kebetulan saja lagi ada pameran.
"Itu tetanggamu bukan sih, Nis?"
"Iya, ibu-ibu yang hanya tinggal berdua sama suaminya. Anaknya udah pada menikah," jari-jarinya begitu lihai membalas pesan, sampai typo gitu ngetiknya. Lah, si ibu juga typo.
Bodo amat sama typo, gas aja terus, Nis.
"Kamu tuh, ngesave semua hasil karyamu di galeri, Nis?"
"Iya dong, diabadikan. Sejarah kehidupan tauk, Nona." Anis chattingannya lancar bener.
Lah, dia foto juga stok perkakas menjahitnya itu. Yaampun... "Nis... Nis, seneng bener gegara dapat orderan or semangat karena mainan manik-manik?"
"Dua-duanya, dong." Naya geleng-geleng lagi. Anistasya sudah lupa dengan beban hidupnya.
"Dasar. Enak ya kamu, diajak mainan begituan pusingmu hilang." Anistasya mengangguk-angguk, jarinya masih sibuk mengetik.
Pokoknya Anistasya dan Umi Fifi chatting sampai puas. Naya juga puas melihat sahabatnya bahagia dapat orderan.
Sudah jam pulang kantor. Karena Naya mau mampir ke toko buku, Anistasya pulang duluan, biasanya mereka pulang bareng karena searah.
Di rumah, Anistasya langsung mengobrak-abrik kotak harta karunnya. Apalagi kalau bukan seperangkat renda, kancig, dkk.
"Nis, itu jelly gak dimakan?" tanya Bang Fahry.
Yang ditanya nggak dengar saking fokusnya. Di depannya tercecer perlengkapan kerajinan tangan dan semangkuk jelly rasa cincau.
Si abang menyodorkan mangkuk itu ke wajahnya. "Astagfirullah," Anis kaget.
"Fokus amat. Nih, nggak dimakan?" Anistasnya nggak sadar kalau ada makanan di situ.
"Bukan punyaku, Bang. Nggak tahu siapa yang naruh. Lagian aku nggak begitu suka rasa cincau."
"Sukanya rasa coklat, ya?" tanya Fahry asal.
"Sukanya yang asem-asem, tauk." Dia sibuk memasukkan jarum ke lubang kancing. Aduh benangnya kusut lagi.
"Ketek?" Abang tanpa dosa banget nanyanya.
Tahan..., tahan.... Anistasya menarik napas panjang dan mengembuskannya, "Rasa buah, ih!"
Fahry mengambil mangkuk itu, "Ya udah, Abang makan." Anistasya mengangkat kepalanya sambil merem, menjep-menjep lagi dia.
"Abang mau ke warteg. Nitip apa?"
"Capcay plus telur dadarrrr." Setelah menghabiskan jelly, Fahry cuss ke TKP. Warteg, warung makan yang porsinya bikin wareg.
Bunda tidak masak dan sedang pergi yasinan juga, maklum malam Jumat. Tapi biasanya pulang dari yasinan bawa oleh-oleh banyak.
Di lingkungan mereka tinggal, warga terbiasa mengadakan acara yasinan bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya di setiap malam Jumat. Kalau malam Sabtu setelah Isya, ada kegiatan muthalaah, kegiatanbelajar bersama untuk mengulang pelajaran tadi pagi/siang di sekolah atau mempersiapkan pelajaran esok hari gitu, di pendopo RT. Pesertanya dari anak-anak sampai orang tua. Gak wajib, bagi yang mau saja. Biar kata sunah, tapi banyak yang berminat. Asyique, belajarnya terserah bawa buku masing-masing, mirip kayak belajar di rumah. Bedanya, kalau ini belajar bersama didampingi kakak Karang Taruna.
Suara motor Fahry tuh, Anistasya segera bangkit menemui kakaknya di depan pintu.
"Abang, mana punyaku?"
"Sabar atuh Neng, baru juga sampai," Fahry memberikan bungkusan nasi warteg, "Spesial buat princess."
"Amin. Makasih doanya Bang, semoga jadi princess beneran. Thanks a lot for the meal, my bro. May you always have a blessed life." Fahry tersenyum simpul. Mereka pun makan bersama di depan televisi.
Anistasya membuka bungkusan nasi miliknya, "Wah, ada kentang balado!" Girang betul gadis satu ini, "Abang, ya Allah Abang, maksih banyak aku seneng bangeeet." Kakaknya cuma manggut-manggut.
Ketika meneguk air minum, tiba-tiba Anistasya ingat kata "ketek", sontak ia tersedak dan ingin tertawa, tapi ditahan. Tsundere, nih. Padahal tadi sudah berhasil menahan tawa, tapi ingat lagi pas minum. Yaa, keselek, deh.
Esok harinya, Anistasya mengumpulkan kekuatan lagi untuk menyelesaikan kerjaannya di kantor. Eits, baru ingat kalau belum kasih tahu Umi Fifi. Pesanannya sudah jadi.
Oke. Tinggal bagian pewarnaan dan dialog. Ini nih, harus jeli. Anistasya biasanya menghayati dulu sebelum lanjut ke bagian yang sakral, shading dan background. Untung di EMS Studio tempatnya bekerja, atasannya baik. Jadi, meskipun ada rekan kerja yang sering komentar rese, masih oke lah buat dia. Maklum, di manapun kita berada gak semua orang bisa cocok atau baik, pasti ada saja yang rese. Yang terpenting bagaimana kita menyikapinya, tidak membalas dengan perbuatan yang sama. Eh, tapi kalau sudah keterlaluan boleh lah, diusilin balik buat pelajaran kali ya.
Hari Jumat pulang lebih cepat. Ada notifikasi chat masuk. Dari Umi Fifi.
Wadidau, dapat stiker saranghae. Jadi makin cinta sama pelanggan. Hahaha.
Pas mau ke rumah Umi Fifi, ketemu Mbak Bitoh, "Mau ke mana, Teh?"
"Ke rumah Umi Fifi, antar ini," Anistasya memperlihatkan konektor masker yang dibawanya.
"Aku mau pesan juga dong, Teh."
"Bahan-bahanku hampir habis, nih. Sesuai stok aja gak papa, Mams?"
"Gak apa-apa. Harganya berapaan, Teh?"
"Satunya 3.500, kalau beli tiga 10.000, Mams." Anistasya nyengir.
Ibu dengan dua jagoan cilik itu mencolek hidung Anistasya, "Oke Teteh Incess."
Dari dulu Mbak Bitoh suka manggil Incess-Princess, Anistasya sendiri bingung kenapa bisa dipanggil begitu.
Di depan rumah Umi Fifi ibu-ibu sedang berkumpul, ada Bunda juga. Anistasya menyalami mereka satu per satu.
"Ada apa, Teh?" tanya Bunda.
"Mau antar pesanan Umi, Bun." Bunda tersenyum. Anistasya paling suka lihat senyuman bundanya. Adem, jadi tambah sayaaaaang banget.
Ternyata para ibu sedang berdiskusi tentang piknik. Rencananya hari Ahad mau buka lapak di danau komplek sambil bakar ikan, bapak-bapak nanti yang mancing ikannya.
Tahu mau piknik, Anistasya riang bukan main. Secara, sudah lama tidak liburan. Emang dasar, kurang piknik.
Alhamdulillah, nanti malam Anistasya bagian jaga di pendopo RT, jadi sekalian kasih pesanan Mbak Bitoh. Beberapa orang tua terkadang menemani anaknya belajar, ada juga yang sengaja mampir pendopo walaupun anaknya nggak belajar karena masih balita. Yah, kumpul-kumpul saja biar berkah.
Kamu luar biasa!
Pantang menyerah. Kuat menerjang cobaan. Walau mungkin orang lain tidak tahu bahwa diam-diam air matamu jatuh terurai, hampir menyerah dan terus berkata bahwa kamu sangat lelah. Tapi kamu lebih memilih untuk bangkit. Terus bersabar, berdoa dan tetap gigih. Terus meyakinkan diri bahwa kamu mampu. Terus menjaga kobaran api semangat dan harapan sampai titik di mana kamu sadar bahwa kebahagiaan adalah suatu hasil dan jawaban dari segala jerih payahmu selama ini.
Seneng banget. Aku senyam-senyum gitu deh, gara-gara mimpi indah pergi ke tempat bersejarah didampingi guide. Wadidau, guided my heart. Haha, guided my way, deng. Sambil nyanyi dong, hey hey siapa dia.... Hmm, siapa ya? Dia itu teman lamaku, tapi wajah dan perawakannya kayak gabungan dari dua orang. Temanku dicampur teman dari temannya temanku. Yah, namanya juga mimpi, ketemu seseorang yang wajah atau perawakannya ibarat Choi Siwon dicampur Tukul Arwana, mungkin saja, dong.
Eh, sebelum mimpi aku tuh sampai keselek gegara ngekek. Jadi, semalam kan aku pergi ke tempat foto kopinya Babeh Kipli, di sana ada Entong yang baru kelihatan batang hidungnya. Bertanyalah sang ayah kepada anaknya, "Dari mane lu, Tong?"
"Dari Pesing, Beh."
Bang Ruma nyeletuk, "Ngompol?"
Sontak keselek aku, tertawa terkekeh-kekeh bin ngekek gitu. Receh banget ya Allah..., selera humorku sebatas itu.
Seperti biasa lah, hari-hariku ya ngantor, di depan komputer saja. I live in a boarding school, therefore I don't go anywhere, especially during a pandemic like this. Sudah peraturannya sih ya, nggak boleh sering keluar gerbang kecuali ada keperluan. Makanya, mimpi jalan-jalan rasanya seneng banget akutuhhh.
Hari ini harus menyelesaikan laporan keuangan dan sore hari aku dapat jadwal mengawas ujian praktik kelas 12 spesifikasi tata busana. Di sekolah kami tersedia beberapa keterampilan yang bisa diambil sebagai kelas tambahan, salah satunya tata busana. Alhamdulillah aku masuk jajaran pembina. Heheheyyy, gak bermaksud sombong, cuma mau pamer, kok. Awokawokawok.
Bermain dengan excel dan berbagai rumusnya sih sudah biasa, tapi kok ya bolak-balik revisi, ternyata yang di-acc atasan malah laporan yang awal. Rasanya pengen salto, terus jungkir balik, terus apa lagi ya? Sekalian senam tik-tok kali ya, biar sehat. Gak susah sih, soal konten laporannya, yang susah itu layout-nya. Gak tahu kenapa si PC kok ya, ngajak ribut. Sinyal juga minta ditabok apa ya, padahal mau internetan buat kirim laporan. Wifi kantor mati. Alamaaaak. Ya sudahlah.
Waktu salat Zuhur hampir tiba, eh tiba-tiba kepalaku kok pusing sebelah. Aduh, kayaknya tubuh mulai stres. Hey, kamu! Kamu juga ada yang kayak gitu gak, sih? Bukan menyengaja or lebay, tapi kalau sudah kelelahan gitu, tubuh tuh rasanya kayak jadi stres. Eh, iya gak, sih?
Demi apa, masih agak sakit gitu, padahal tadi siang sengaja tidur buat istirahat. Tapi aku masih kuat pergi ke workshop tata busana, kok. Semangat ya diriku!
"Miss Vanisa, tadi ada pesan dari Miss Maryam, blazer hasil kelas 12A2 yang sudah siap bisa disimpan di ruangan beliau."
"Oh iya. Nanti Jeny bantu saya bawain ke sana, ya." Jeny anaknya baik, jadi aku nggak sungkan kalau minta bantuan ke dia. Insyaallah ikhlas anak satu ini, mah. "Maaf Miss, kayaknya lagi kurang enak badan, ya?"
Aku hanya tersenyum simpul, "Migrain saya kumat. Tapi nggak apa-apa, kok," peka juga dia.
"Kalau ada lagi yang perlu dibantu, panggil saya saja Miss," tuh kan, apa aku bilang. Eh, aku mbatin, deng.
Alhamdulillah ujian sore ini berjalan lancar, karya mereka juga bagus-bagus dan hampir selesai. Deadline satu minggu lagi, lalu 25 kostum terbaik akan ditampilkan di lokakarya. Ah, jadi ingat masa-masa sekolah dulu, tapi ya Allah kepalaku masih pusing ini, ya Allah. Pulang ke kamar mau langsung makan nasi kotak, deh. Alhamdulillah tadi ada rejeki.
Di magic comb masih ada sisa nasi, digoreng aja kali ya. Iya ah, goreng nasi sekalian buat sahur. Setelah matang icip-icip. Nggak nanggung-nanggung aku cicipin sepiring kecil, piring kue ulang tahun itu. Iya, piring itu. Piringnya baru loh, bukan yang bekas kue.
Sambil baca webtoon, aku balas chat di grup keluarga. Cihuyy, ibuku sedang online, euyy. Eh, kok aku senang ya? Fix, efek rindu ibu, ini. Dasar anak rantauan. Iya, merantau dari Depok ke Tangerang. Hahahaha.
Senangnya, hari ini. Walaupun ada tragedi pusing kepala sebelah, tapi alhamdulillah setelah chatting bunda tercinta jadi sembuh, loh. Jiwaku sudah kembali bahagia kayaknya, jadi rasa sakitnya hilang. Bablas rasane! Rasa sakitnya, gitu.