Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Mencintai Baginda Rasulullah saw.

Bismillahirrahmaanirrahiim




 Kehidupan di dunia tidak akan pernah lepas dari rasa kasih sayang antar sesama. Rasa saling menyayangi manusia itu belum ada setetes pun dari sifat ar-rahman Allah swt. yang memberi tanpa dipinta, belum ada sepercik pun dari rasa belas kasih Rasulullah saw. kepada para umatnya. Ingatkah ketika ajal akan menjemput baginda nabi saw., kalimat terakhir apakah yang ditanyakan beliau kepada malaikat jibril as? Umati, umati, umati. Kalimat yang terucap dari lisan suci beliau mengisyaratkan akan kekhawatiran beliau terhadap nasib umatnya kelak.

       Ketika ditanyakan tentang sesuatu apakah yang paling kita perhatikan di dunia ini? Jelas sudah ‘diri kita sendiri’ jawabnya. Begitulah egoisnya para manusia yang lalai akan keberadaan makhluk Allah swt. paling sempurna yang harus lebih dicintai dan diutamakan. Ingatlah bahwa baginda nabi saw. harus lebih dicintai daripada diri sendiri, anak dan orangtua kita.

    Bagaimanakah hakikat mencintai baginda nabi saw?

      Mahabbah dan syauq adalah sebuah getaran yang bersifat qalbiyyah, getaran cinta dan rindu hati yang bisa mengantarkan untuk bermimpi bertemu orang yang kita cintai. Lalu bagaimanakah caranya untuk mengerakkan kalbu kita agar bisa mencintai dan merindu baginda Nabi saw? Pujian qosidah dan bersholawat adalah langkah utama untuk bisa menanamkan cinta suci di hati serta menggerakkan akal pikiran agar lebih mementingkan mahabbah kepada baginda Nabi saw., karena memang mencintai baginda Rasulullah saw. adalah hak Allah swt. dan baginda Nabi saw. yang harus kita tunaikan.

Ketika seseorang mencintai, sudah lazim harus adanya sikap ittiba’ dan ta’dzim terhadap orang yang ia cintai. Bukan hanya sekadar ungkapan cinta yang manis di bibir, namun benar-benar mengikuti jejak hidup dan mengagungkan derajat sang kekasihnya. Manakala seseorang sudah  menghiasi dirinya dengan akhlaqul karimah, berarti ia sudah ittiba’ mendekatkan dirinya untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah saw., ini pun jika ia melakukan ittiba’ tersebut dengan rasa cinta dan ta’dzim. Seandainya ia sudah ittiba’ kepada baginda Nabi saw. tetapi tidak merasa mencintai dan mengagungkan beliau ataupun sebaliknya, itu sama saja ibarat bahan makanan yang dimasak tanpa bumbu masakan dan garam.

Mencintai baginda Rasulullah saw. tidaklah terbatas oleh waktu tertentu, maulid Nabi saw. bukanlah hanya diadakan pada bulan Rabi’ul awal saja. Karena peringatan maulid sendiri adalah sebuah ungkapan kegembiraan kaum muslimin, wujud nyata rasa cinta kepada baginda Rasul saw. dengan mengagungkan lewat shalawat pujian dan mauidhah hasanah tentang kilas balik sirah Nabi Muhammad saw. Bukankah upacara pengibaran bendera sang saka merah putih Indonesia bisa diadakan kapan saja tanpa harus tepat tanggal 17 agustus?

قال الله تعالى في كتابه الكريم :

إن الله وملائكته يصلـّون على النبي يأيـها الذين أمنوا صلـّوا عليه وسلـّموا تسليما (الأحـزاب : 56)

Keagungan Nabi Muhammad saw. sudah tidak mungkin bisa kita ragukan lagi. Marilah kita tadaburi ayat suci al-Qur’an! Janganlah menjadi seperti mereka yang tersibukan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an dengan suara yang melengking indah tanpa pernah mentadaburi kandungan isi ayat yang dibaca, apalagi untuk mengamalkan isi ayat. Dari ayat di atas, kita dapat memahami bahwa sesungguhnya Allah swt. pun bersholawat yang bermakna rahmat dengan iringan ta’dzim kepada junjungan baginda Rasul saw., begitu pula para malaikat ikut serta bershalawat memohonkan ampunan untuk beliau. Sungguh malu kalau sebagai hamba tidak pernah memanjat do’a shalawat dan salam kepada beliau! Cermatilah, perintah Allah swt. kepada orang-orang yang beriman untuk bershalawat yang diiringi salam, oleh karena itu sayogyanya kita mendawamkan lisan dengan dzikir "Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, Allahumma shalli ‘alaihi wa sallim," yakni lebih afdhal-nya dengan iringan kalimat as – shalah dan as – salam.

     Kenapa kita harus mencintai baginda Rasulullah saw?

قال الشاعـر :

وانعـقد الاجمـاع أن المصــطفى # أفضل الخـلق والخـُـلفُ انتـفىَ

Sang pujangga bersyair, para ulama pun sudah bersepakat bahwa Nabi Muhammad saw. al-musthofa adalah makhluk Allah swt. yang paling utama di muka bumi tanpa ada perselisihan sama sekali. Beliaulah sang pembawa bendera rahmat semesta alam, tanpa wujudnya tidak akan diwahyukan al-Qur’anul karim yang ketika lisan membacanya sudah menjadi ibadah, tidak akan diturunkan malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan, tidak akan disyari’atkan agama islam yang menjadi satu-satunya agama yang diterima kebenarannya disisi Allah swt. Untuk alasan apalagi kita tidak berlomba-lomba menjadi kekasih baginda nabi saw. yang bersamanya di telaga al kautsar?

Nabi saw. bersabda :

عـن النـّّبي صلى الله عليه وسـلّم أنـّـه قـــــال : المـََــرْْء مع مــََـن أحـــبّّّ (رواه البخاري)

Beberapa poin penting menjawab pertanyaan kenapa kita harus mencintai baginda rosul saw. adalah sebagai berikut :

a)   Al Ihsan, salah satu awal tumbuhnya rasa mahabbah pada hati seseorang terhadap sesama adalah karena sikap orang lain yang telah berbuat baik untuk dirinya. Bahkan sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mencintai dan membalas budi kepada orang yang pernah berbuat kebaikan untuk kemaslahatan hidup kita di dunia, dan beliaulah sebaik-baiknya makhluk Allah swt. yang telah berbuat kemaslahatan untuk seluruh alam semesta, subhanallah.

b)   Al Kamal, setiap orang yang mencintai orang lain atau sesuatu tertentu itu dikarenakan ada sifat-sifat yang dianggap sempurna darinya. Misalkan kita ditawari untuk memilih antara handphone merk Samsung, Sony Ericson dan Apple. Sudah pastilah kita akan memilih hp mana yang aplikasinya lebih kompleks, canggih dan sempurna untuk kita gunakan. Karena memang karakter semua manusia menyukai sesuatu yang kamal, bukankah baginda nabi saw. paling sempurna wujud dan akhlaknya?


c)  Al Munasabah, pemuda yang baik pasti akan mencari pemudi yang baik pula untuk menjadi pasangan hidupnya, karena pemuda tersebut mencari sebuah keserasian dan kecocokan yang ada diantara keduanya. Sifat-sifat baginda nabi saw.-lah yang sangat pantas untuk kita teladani karena keserasian yang terdapat pada hati dan diri kita masing-masing, bukan sifat-sifat jin, hayawan dan makhluk lain. Baginda Rasulullah saw. adalah qudwatuna wa uswatuna dalam menapaki perjalanan hidup dunia menuju istana keabadian yang abadan abidin.

       Terima kasih atas kunjungan Anda. Kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Warna Kecerdasan dan Talenta



♥•○•♥بسم الله الر حمن الر حيم ____ *•.¸•**•.¸•**•… (•ˆˆ•)

Assalamu’alaikum ihwah, semua yang berkenan baca this one.

Yups, insyallah dalam ulasan kali ini, kita akan terusuri seputar warna kecerdasan dan talenta kita. Tapi, sebentar, memang kecerdasan punya warna? Terus warnanya apa dong? Merah? Kuning? Hijau? Di langit yang biru? Hmm… jadi ngelantur ke nyanyian ‘Pelangi-pelangi’ nih.

Okay. Begini sodara-sodara. Seberarnya, semua manusia itu punya kecenderungan masing-masing. Setiap manusia memiliki potensi kecerdasan yang unik, beraneka warna, yang pastinya berbeda satu sama lain. Misalnya si A ahli dalam ilmu syari’ah dan matematika, belum tentu dengan si B. Bisa jadi si B lemah atau tidak terlalu menguasai bidang itu, tapi coba kita lihat dia di bidang yang lain. Widieh… ternyata si B jago soal urusan informatika dan seni rupa.

Kecerdasan itu bukan keseragaman. Kan manusia diciptakan berbeda untuk saling melengkapi.

Well, kita ngintip tipe-tipe kecerdasan yang beraneka warna itu yuks!! (~^.^~)



Word smart_kecerdasan mengolah kata.

Picture smart_kecerdasan dalam mempersepsi apa yang dilihat.

Music smart_kecerdasan dan kepekaan dalam hal musik.

Logic smart_kecerdasan dalam sains dan matematika.

Nature smart_kecerdasan dan kepekaan dalam mengamati alam.

People smart (interpersonal smart)_kecerdasan dalam memahami pikiran dan perasaan orang lain.

Self smart_kecerdasan mengenali emosi diri sendiri.

Body smart_kecerdasan dalam keterampilan olah tubuh dan gerak.



Dan paling nggak manusia punya satu atau dua bahkan lebih. Kalau ada yang ngeborong semuanya… wah, subhanallah banget. Mantap!!

Kecenderungan-kecenderungan itulah yang biasa kita sebut dengan bakat atau talenta. Untung bukan talenan. Ehhe… emang mau masak?

Ada ungkapan ‘Tanpa bakat pun, kalau kita bekerja keras, pasti kita akan sukses.’ Emm… tapi kalau dipikir ulang, pastinya setiap manusia punya bakat dong, walaupun hanya sebatas memasukkan benang ke lubang jarum.

Sekadar ngaku berbakat tapi gak pernah diasah (dengan proses panjang dan kerja keras tentunya), kok ingin jadi bintang besar. Mimpi. Sebaliknya, banyak pelukis, designer, penulis, olahragawan dan sebagainya yang mereka pada awalnya ragu dengan kemampuan diri sendiri, galau abis, deh, “aku itu sebenarnya pandai dalam bidang apa, sih? Keahlianku apa? Adakah bakat terpendam dalam diriku? Adakah?” bilang gak punya talenta, tapi finally mereka bisa mengibarkan karya yang ternyata ‘wow’ banget.

Orang yang bekerja keras atas bakat yang dimilikinya, rela jatuh bangun berkali-kali, insyallah dia akan berkembang dengan lebih cemerlang. Sosok seperti inilah yang insyallah akan sukses meniti kehidupannya. Bukan untuk dirinya sendiri, bahkan untuk masyarakat luas. Kereeen.



Kayaknya cukup segini dulu nih, sobat. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih banyak dan sampai jumpa di pertemuan berikutnya. Insyallah.

Akhirul kalam… Wassalamu’alaikum.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengukir Sabar pada Pohon Kehidupan

Bismillahirrahmaanirrahiim..

            “Baiklah akhwat, untuk pemilihan panitia Class Meeting tahun ini, akan kita lakukan voting. Sedangkan untuk SC perlombaan, kita pilih orang yang cocok bertanggung jawab terhadap perlombaan tersebut,” Reza memulai rapat dengan gaya khasnya yang anggun.
            “Maaf Za, nanti kalau udah kepilih bisa di-nego gak?” Tanyaku seraya memukul-mukul ujung pensil ke dagu.
            “Ya, pastinya kita akan menanyakan kesiapan teman kita juga …”
Acara Class Meeting atau bisa kita singkat dengan CM ini memang biasa diadakan oleh Program Keagamaan MA El Barakah Bekasi pada liburan semester ganjil. Katanya sih, biar gak jadi pengangguran. Yayasan ini mewajibkan peserta didiknya menetap di asrama, karena liburan semester ganjil tidak diperbolehkan pulang, jadi Kepela Sekolah memeritahkan OSIS untuk mengadakan dan membentuk kepanitiaan baru untuk acara tersebut. Sudah tradisi tahunan, tugas kita hanya melestarikannya saja. Baiklah, kita saksikan kelanjutan sidang penetapan panitia CM 2011.
Setelah suara terkumpul, Aniisa-lah yang terpilih menjadi ketua CM putri, Lala sebagai bendahara, dan sekertarisnya …
What? Akhwat, yang bener aja, ah! Kalian jangan bercanda …”
“Kenapa Ndri? Kita percaya sama kamu kok …” kata Vita.
“Ng … a-a-aku nggak … rada gak yakin aja. Kenapa bukan Lestari? Maaf, dia kan sekertaris OSIS putri, sekalian jadi sekertaris CM aja gitu maksudku, hehe …”
“Bukan begitu Indri, aku baru aja jadi sekertaris Speech Contest bulan kemarin. LPJ-nya juga belum selesai.” Aku mematung seraya berpikir ulang.
“Gimana? Insyaallah bisa ya? Saya tahu kamu jadi sekertaris IITeaching Programme. Proposal kegiatan itu kan, sudah diedarkan ke beberapa SD tempat PKL kita nanti. Masalah surat-surat untuk UPTD, Instansi, dan pihak terkait lain kan, bisa dicicil  …” Ketua II OSIS ini melontarkan penjelasan bijaknya, aku masih terdiam.
“Bener kata Reza, CM kan, cuma semimggu. Teaching programme-nya kan, liburan naik kelas. Tenang, aku siap bantu dan temenin kamu kapan aja deh …” Aniisa menepuk-nepuk pundakku.
Apa boleh buat, teman-teman sudah memberi kepercayaan itu padaku. Kan, tidak baik menolaknya, aku terima saja. Sebetulnya, aku menyanggupi sejak awal. Masalahnya, aku malas berurusan dengan putra. Komunikasinya sedikit susah. Soalnya, di sini ada pembatasan pertemuan antara putra dan putri, walaupun menyangkut keorganisasian.
Karena panitia putri telah terbentuk, sepulang sekolah pada pukul 15.00 besok akan diadakan rapat pengesahan panitia CM putra dan putri serta perumusan Job Description di ruangan kelas II B.

                                                                 * * *
Rapat pun dimulai. Syukron dan Mirza duduk di meja depan. Mungkin salah satu dari mereka, karena biasanya rapat dipimpin oleh ketua dan sekertarisnya. Ternyata dugaanku salah, bukan salah satu dari mereka yang menjadi rekan kerjaku. Syukron memang ketua umum CM, tapi bukan  Mirza sekertarisnya. Hasan, dialah rekan kerjaku (rapat yang aneh). Rasanya kaget setengah hidup, lemas. Dia kan, manusia super sibuk. Sudah jadi sekertaris umum OSIS, jadi ketua SCH pula, tim jurnalistik sekolah yang kerjaannya harus ng-up date berita-berita terkini. Pokoknya sibuk banget, deh. Aduh … mana katanya pendiam lagi (tapi gak tahu juga, benar apa nggak), nanti komunikasinya susah dong? Ya Allah, berikanlah hambamu jalan.
Setelah rapat selesai, ketua, sekertaris, dan bendahara putri tidak diperkenankan meninggalkan ruangan. Ada rapat tambahan yang membahas hadiah pemenang dan bisyaroh juri. Hasan pun menggantikan posisi Mirza yang duduk di meja depan.
“Lho, sekertaris putrinya mana?”
Sreeeng. Jantungku seperti sedang digoreng (rasanya panas pemirsa).
“Lha, ini sekertarisnya.” Aniisa menunjuk ke arahku, aku cuma tersenyum (sejujurnya hati ini ingin menangis, hiks … hiks …). He, mendramatisir amat.
“Oh, maaf. Saya pikir Lestari …” Suaranya lembut banget, jadi ngerasa gak tega sebel sama dia.
Berhubung hari semakin sore, rapat terpaksa ditutup. Untuk pembagian tugas panitia, bisa didiskusikan dengan rekan kerjanya masing-masing di luar rapat.

                                                               * * *

“Nis, gimana tentang pembagiaan tugasnya? Kemarin kan, baru perumusan. Apa nulis surat aja, yah? Coba yayasan ini ngebolehin bawa hape!”
“Iya. Aku juga mau bikin surat buat Ihya, ah. Ngebahas lomba debat Inggris. Berarti, kamu bikin dua dong? Kesekertarisan sama pidato Inggris?”
“He-eh, abis nulis surat buat Hasan, aku sama Aeni mau bikin surat buat Mirza.”
“Yang sabar sama Hasan yah, aku ngerti kok, gimana perasaan kamu waktu rapat kemarin …” Aku hanya tersenyum.
“Ah, biasa aja. Padahal, aku kira sekertarisnya Mirza tauuk! Bayangannya tuh ya, aku kerja sama jadi sekertaris, juga SC pidato Inggris, hehe …”
“Berarti, kamu ngarep sama dia?” Aniisa mencondongkan wajahnya ke arahku.
“Ya, gak gitu juga, tapi penginnya sih, gitu. Bukannya kenapa-napa loh! Aku cuma ngerasa kalau Mirza tuh pas aja, buat dijadiin partner. Tapi sama Hasan juga gak apa-apa, yang penting hepi,” aku tersenyum.
Wah, suasana kelas IIA menjadi ramai, seperti ada kompetisi nulis surat saja. Sebagian besar teman kelasku memang panitia, makanya mereka membuat surat.
Ketika ingin membeli jajanan, Lala bertemu Syukron di depan kelas, ia menitipkan surat, untuk sekertaris katanya, jadi Lala berikan padaku. Setelah kubuka, surat itu tertulis untuk Wiji Lestari. Subhanallah, ternyata bukan untukku. Aku berikan saja padanya. Hatiku jadi bertanya-tanya. Mana balasan Hasan? Aku butuh kejelasan pembagian tugasnya. Proposal permohonan dana ke kasir belum dibuat, surat peminjaman tempat, permohonan jadi juri dan undangan. Waktunya tinggal dua minggu lagi.

                                                                           * * *

Seusai shalat maghrib berjama’ah Lestari datang ke kamarku, ia memberikan surat tadi. Katanya untukku, tapi tadi tertulis untuk Wiji Lestari. Masa aku salah baca? Akhirnya Aniisa membaca isi surat itu, memang untukku. Aku bingung bercampur sedikit kesal. Mengapa bukan namaku yang tercantum? Rasanya ingin megundurkan diri. Tapi, tegakah aku lari dari tanggung jawab ini, hanya karena rekan kerjaku tak mengenal namaku? Ya Allah, tabahkan dan teguhkan hati hambamu.

                                                                     * * *

Alhamdulillah, perlombaan CM terlaksana dengan baik. Penutupan CM juga berjalan dengan lancar. Cuma satu sih, yang belum terpenuhi. Sertifikat!
“Ukhti, gimana sertifikatnya?” Tanya Miftah yang melihatku sedang beres-beres setelah acara penutupan.
“Oh, itu masih proses. Aku udah bikin sertifikat panitia yang pakai bahasa Inggris,” kataku seraya melipat taplak.
“Lha, sertifikat pemenang?”
“Bukannya sama Hasan? Katanya dia yang mau bikin?” Miftah malah bengong.
“Ih, gak tahu. Kamu kan, sekertarisnya? Aku mah, cuma SC Story Telling. Tuh, Hasan-nya, tuh!” Tunjuk Miftah. Hasan yang melihat aku dan Miftah sadang membicarakan sertifikat, malah ragu mendekat. Langkahnya maju mundur, akhirnya dia berlalu.
“Loh, Mif. Kok, Hasan malah pergi?” Suaraku lirih. Wajahku menghadap ke arah Miftah, tapi tanganku menunjuk-nunjuk ke arah Hasan. Miftah hanya mengangkat bahu.

                                                                     * * *

Biar tugasnya cepat selesai, Wiwi dan aku pergi ke sekertariat OSIS di lantai tiga pada jam istirahat pertama. Kami melanjutkan pengeditan modul Teaching Programme atau TP. Alhamdulillah, pembuatan surat-surat sudah selesai dan sudah dikoreksi oleh guru Pembina. Baru duduk kurang lebih lima menit, sudah ada yang mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum …” Kubuka pintunya, ternyata Syukron.
“Wa’alaikumussalam, ada apa akhi?”
“Maaf, di meja kompi ada flash disk gak? Mungkin punya saya ketinggalan di situ.”
“Gak ada Ndri!” Seru Wiwi yang sedang asyik memencet tombol-tombol keyboard.
“Gak ada akhi, katanya.”
 “Oh, ya udah. Maaf ukhti Indri, itu nasib sertifikatnya gimana?” Aku terdiam sejenak.
“Ng … belum semua. Sertifikat panitia kan, tugas saya, alhamdulillah udah. Nah, yang buat pemenang itu bagiannya Hasan …”
“Terus gimana?”
“Tadi saya lihat di kompi, baru ada sertifikat yang pakai bahasa Inggris doang. Jadi buat lomba Speech, Debate, Story Telling, sama cerdas cermat itu sertifikatnya udah. Yang belum itu lomba Khitobah, Mujadalah, Qosshol Hikayah, sama MHQ …”
“Coba arsip sertifikat CM masih ada, tinggal kita edit aja deh, ukh.”
“Iya, emang kemana sih, kok gak ada di kompi? Sebenernya tuh, mau tanya Hasan lagi soal ini, tapi kayaknya dia lagi sibuk di ruang SCH mulu. Saya gak enak, takut ganggu …”
“Kurang tahu ukh, dokomen CM gak semuanya ada di kompi, soalnya yang disimpan di situ arsip-arsip OSIS. Gimana kalau ukhti aja yang bikin sertifikat yang belum?”
“Tapi … bahasa arab saya belepotan, takut salah …”
“Ya … ukhti bisa bikin bareng ukhti Aniisa. Nanti juga kan, bisa dikoresi sama Umi Azizah atau guru bahasa Arab lainnya, biar cepet selesai …”
“Insyaallah deh, nanti coba diusahain.”
“Ya udah ukh, Syukron. Maaf ganggu.” Aku menunduk seraya tertawa kecil (malah nyebut nama sendiri).
“Afwan.” Kututup pintu lalu melanjutkan pekerjaan kesekertarisan TP dengan Wiwi.
Sepulang sekolah, aku dan Aniisa pergi ke sekertariat. Ngantor lagi, ngantor lagi. Mudah-mudahan sertifikat yang kami buat benar, besok dikoreksi, lalu diprint. Kalau sudah, biar Hasan yang minta tanda tangan Pak Kepala Sekolah, sekalian dia dan Syukron tanda tangan.

                                                                    * * *

Sudah hampir setengah setahun, tapi Hasan belum menyerahkan sertifikat itu. Mana adik kelas nanyain lagi (aduh, jadi kayak orang yang terlilit hutang saja).
“Ndri, udah ada kejelasan dari Hasan? Nanti kita nulis surat buat dia lagi apa?”
“Hmm … bikin surat lagi yah? Kamu tahu gak sih, kata Gita, Syukron pernah bilang kalau aku itu kayak RATU NULIS SURAT! Habisnya kerjaanku bikin surat mulu …”
“Lha? Emang cocok banget tuh, kamu dapet predikat itu! Berarti, tulisan tangan kamu udah terkenal dong?”
“Ya nggak juga lah, paling yang tahu tulisan aku cuma orang-orang yang punya urusan en sering dapet surat dari aku doang. Soalnya aku males ketemuan, repot nungguin juga nyari-nyari si target, makanya nulis surat, kan tinggal dititipin aja. Beres deh … hehe.”
“Oh, iya. Tsakila ngabarin aku kalau Hasan lagi ada di Bandung. Katanya sih, ikut pelatihan jurnalistik. Terus, minggu depan juga dia mau bikin video apa … gitu, intinya masih ada kaitannya sama SCH!”
“Ih, tuh anak sibuknya masyaallah, deh! Kenapa masih dijadiin sekertaris CM juga, sih?! Mana kelas tiga ini banyak materi diskusi lagi! Pastinya kan, dia juga butuh persiapan buat presentasi. Ya ampun … kapan selesainya … ya?” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Gak tahu, sabar aja…” Aniisa menggeleng.
“Hmm… aneh deh, sama tuh anak. Waktu itu dia pernah bilang ke aku, kalau dia gak megang kunci sekertariat, makanya jarang pergi ke sana. Malah, katanya juga kurang tahu kuncinya sama siapa…”
“Kok bisa?” Aniisa mengerenyitkan kening, “Padahal dia kan, sekertaris umum OSIS?” Aku cuma mengangkat bahu.
“Wallahu’alam. Dia pernah manjat jendela coba, buat masuk seket. Kebetulan, aku mau ke situ. Biasanya, sebelum masuk kan, aku ngintip dari lubang kunci, eh ada orang. Ya udah, aku ketuk pintu.”
“Siapa tuh?” Aniisa memutar badan, menatapku, “Hasan?”
“Kedengerannya sih, kayak suara Hasan. Terus, dia minta tolong bukain pintu. Katanya gak bawa kunci, makanya tadi masuk lewat jendela. Pas keluar, ternyata emang Hasan. Gak apa-apa lah, ada hikmahnya juga kenal dia.”
“Bener tuh. Kamu kan, selama ini berutung terus sama si Habib. Partner OSIS Departemen Pengembangan Bakat kamu itu …”Aniisa nyengir garing, sebelah bibir atasnya naik.
“Iya, gak perlu repot-repot nyari, nanti juga ketemu di jalan. Gampang, deh. Kalau nggak ya … dia ngasih kabar kalau tugasnya itu belum selesai. Gak kayak yang ini, kita nulis surat buat kejelasan tugas aja … gak dibales-bales. Sibuk banget sih, mau minta tugas ini cepet selesai juga mesti mikir dulu berkali-kali. Gak enak sama dia-nya Nis, tapi gak apa-apa deh. Sabar itu banyak berkahnya, kali aja aku dapat apa … gitu,” kumainkan sebelah alisku, “Hehe …”
“Dapet. Kamu bakal dapet pelajaran yang saangat berharga, tapi Hasan orangnya baik juga tanggung jawab kok …”
“Percaya. Waktu itu dia minta maaf ke aku, terus rela bikin proposal baru. Soalnya, flash disk-nya jatuh di jalan, kelindes truk katanya. Padahal semua dokumen penting ada di situ, belum dipindahin ke kompi seket lagi. Hmm mengukir sabar pada pohon kehidupan, nih.

                                                                     * * *

Saat aku menuruni tangga sekolah, kebetulan sekali Hasan lewat.
“Akhi!” Panggilku.
Sebenarya aku nggak enak manggil duluan, tapi darurat.
“Dalem ukhti. Pasti soal sertifikat ya? Maaf ukhti, sudah menunggu lama …” Suaranya begitu lembut. Aduh, aku jadi merasa minder, kayaknya sifat kita terbalik, deh.
“Ng … nggak apa-apa. Saya juga sebenernya gak enak jantung nanyain itu terus, soalnya adik kelas pemenang lombanya nanyain …”
“Iya, saya juga nggak enak. Maaf ukh, sebenarnya penulisan nama saya di sertifikat arab itu keliru.” Aku yang sudah agak nunduk-nunduk dari awal bicara jadi tambah nunduk.
“Tuh kan, salah. Maaf deh, maaf banget. Emang yang bener gimana?” Suaraku tambah lirih, malu.
“Tulisan Yasir-nya itu pake alif, tapi ukhti nulisnya pake huruf ya. Tulisan nama saya itu Ha-san Yaa-sir, bukan Ha-san Ya-siir. Gak apa-apa kok ukh, udah dibenerin. Tinggal diprint dan ditanda tangani lagi aja. Sebenernya kan, itu tugas saya. Sekali lagi mohon maaf, soalnya saya …”
Aku langsung menyeka, “Iya, saya paham banget. Udah gak apa-apa kok, yang penting tanggung jawab kita bisa selesai, biar gak punya hutang aja gitu …” Aku melihat jam tanganku, “Sebentar lagi bel masuk, cuma gitu aja. Maaf ganggu waktunya akhi, permisi …” Kami pun menuju kelas masing-masing.

                                                                      * * *
Pucuk dicinta ulam pun tiba! Penantian panjang, akhirnya selesai juga urusan sertifikat. Kata Evi, Hasan sudah menyerahkan sertifikat pada adik-adik kelas pemenang lomba CM. Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya di tangga sekolah. Tuh kan, tugasnya selesai juga. Alhamdulillah. Aku pun dapat menyunggingkan senyum bahagia selebar-lebarnya, hehe All jobs had finished, my head over heels in debt had paid. I was free … I was free … but it was definite that would be there other responsibilities waited me … yeah, waited us exactly.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS