Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

CAUSATIVE VERBS

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Certain verbs that are used for asking other people to do something for us.
Kata kerja yang digunakan untuk memaksa, meminta, dan menyuruh seseorang.

ACTIVE CAUSATIVE

Formula I  : S + make/made + O (agent) + Simple form (V1)
              e.g.  : Peeling onions always makes me cry.
                      Mengupas bawang-bawang selalu membuatku menangis
                      I must cry when I peel onions (saya pasti menangis ketika saya mengupas bawang-bawang).

                      I make my brother carry my bag.
                      Saya meminta (paksa) saudara lk. saya membawa tas saya.
                       Here, my brother has no choise (make=force).

Formula II : S + have, has/had + O (agent) + Simple form (V1)
              e.g.  : I had the tailor sew my clothes.
                      Saya meminta (tolong) penjahit untuk menjahitkan baju-baju saya.
                      The tailor does it because I request him/her.

Formula III  : S + get/got + O (agent) + to infinitive (to V1)*1
              e.g.  : Naera gets*2 Akyas to help doing home works together.
                      Naera membujuk/ meminta (tolong) Akyas untuk mengerjakan PR bersama.
                     → *1 Without s/es (to infinitive tanpa tambahan s/es).
                         *2 Menggunakan “s” karena disesuaikan dengan subyeknya. Ingat, untuk “get” (present tense) bersubyek I, you, they, we, dan kb. jamak (teachers, doctors, dll)  tidak menggunakan “s”. Sedangkan subyek she, he, it, dan kb. tunggal (teacher, doctor, dll) menggunakan “s”.
                       

PASSIVE CAUSATIVE

Formula     : S + have, has/had/get/got + O + Past participle (V3)
              e.g.  : Caroline had her laptop repaired.
                      Caroline meminta (tolong) laptopnya diperbaiki.

                      Anton gets his hair cut.
                      Anton meminta (tolong) rambutnya dipotong.
                     
                      We are having our house painted.
                      Kita meminta (tolong)rumah kita dicat.
                   
                      Did you have your hair cut last week?
                      Apakah kamu meminta (tolong) rambutmu dipotong minggu lalu?

                     Have dan get objeknya bukan berupa manusia dan objeknya lah yang dikenai pekerjaan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menghilang

Bismillahirrahmaanirrahiim
 

Adanya bagaikan tak ada
Biarlah
Biarkan saja!

Gumpalan mendung makin pekat
Hitam legam
Ah, kacau!

Rasanya ingin sekali menghilang
Tak yakin dapat kembali
Ragu kebenaran kekuatan itu ada
Mungkin menghilang lah pilihan terbaik
atau sebaliknya

Mungkin menghilang saja
Kembali kala langit menggila
Akankah?
Itu lah yang diragu

Menghilang
Ya, akan menghilang
Biar saja menghilang  


Terima kasih sudah mampir, kunjung pula ke Ra. Pratiwi A.' notes jo ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rajutan Persahabatan

 Bismillahirrahmaanirrahiim

     Baru saja hendak bernapas lega, seseorang menabrakku dan langsung pergi. Ia terburu-buru. Yasudahlah.

     Langkahku berhenti tepat di hadapan seseorang yang duduk di kursi tunggu halte. Tanpa aba-aba kumenghentakkan kaki. Suara pijakan seng yang cukup mengagetkan. Refleks, padahal bermaksud mengucapkan kata “Permisi”. Layaknya makhluk tak berdosa kududuk di sampingnya. Tak tahu apa opininya tentang kehadiranku. Maaf, mulutku masih terkunci rapat.

     Kalau belum merasa nyaman terkadang berubah menjadi aku yang lain. Aku yang seolah memprofokasi diriku memproklamirkan semboyan “Jangan main-main denganku!” Berlebihan? Setiap yang menilai punya persepsi yang berbeda.

     Kami berbincang-bincang. Sepertinya beberapa pertanyaan kujawab tidak nyambung, kepalaku agak terasa pusing.

     Kurang lebih setengah jam, belum datang juga. Berapa lama lagi mereka akan tiba? Aku menghela nafas perlahan, diam sejenak. Mungkin macet.

     “Alumni MAK ada yang di pondokmu juga kan?” tanyanya ramah.

     “He-eh,” seraya mengangguk. “Ukhty Naila. Dia Waka bidang kesiswaan SMP. Tapi aku nggak tahu tahunnya siapa. Jauh di atas kita.”

     “Hmm, ane juga kurang tahu.”

     “Oh iya, sebentar lagi Ukhty Naila mau nikah sama teman seangkatan kuliahnya yang ngelanjutin di Mesir,” aku merubah posisi duduk, “Cinlok kali pas di Ma’had Aly.”  Anam tertawa mendengarnya.

     Aku mematung. Ukhty Naila dan Ustad Husni. Teringat mereka di Anyer, aku pun ingat... Aduhh, betapa menyesalnya diriku yang tidak mengambil cukup banyak pasir pantai kemarin. Setelah foto bersama kru madin, rombongan bergegas menuju bus. Aku terburu-buru mengantonginya ke dalam plastik. Semoga itu cukup untuk dibuat karya seni.

     Anam mengajakku menemui Putra di stasiun, di depan ATM. Kumengekor di belakangnya seraya menggeret koper dan menggendong ransel.

     Menelan ludah, kumenunduk menatap jalanan. Sebentar lagi menuju anak tangga. Koperku? Bagaimana? Aku kuat mengangkatnya, namun tidak hari ini. Kondisiku sedikit kurang fit. Yassalam...

     Sampai. Mengernyitkan kening kumenghela napas berat.

     Hufhh, Anam membawakan koper itu. Sejujurnya tak enak hati karena telah merepotkan. Aku masih mengekor, mendekap ransel berisi notebook.

                                                      ***

     ATM. Suasana Ramai. Tak ada Putra. Anam masuk ke stasiun dan aku menunggudi luar. Tak lama kemudian ia kembali, memintaku tetap berada di sana.

     Ponselku bergetar, ada pesan masuk. Hmm, rombongan Ciputat sebentar lagi tiba, ternyata mereka tidak menggunakan Transjakarta.

     Akhirnya Anam menemukannya. ATM yang dmaksud bukan yang berada di luar, tapi di dalam stasiun. Aku lupa, padahal sekitar tiga hari lalu aku dan temanku ke tempat ini.

     Putra duduk di sampingku, “Bawa koper? Memang di rumah gak ada baju?”

     “Aihh, ada lah. Sekalian dibawa pulang aja, soalnya habis ini aku langsung ke rumah. Dalamnya many thing important itu...” Biasanya aku hanya membawa ransel berisi gadget.

     “Iya-iya... Percaya deh...” Ia tak berubah, sama seperti Putra yang dulu kukenal. Tapi… kalau dilihat-lihat, tubuhnya agak bertambah besar. Atau perasaanku saja? Entahlah.

     Selang beberapa menit Rachmi, Fia dan Faiz tiba. Kurang seorang lagi, Esya. Dia dalam perjalanan. Sebenarnya dua. Sayangnya Ina tak akan hadir karena menemui bibinya.

     Melewati tangga tadi, kali ini Putra yang membantuku. Syukurlah.

     Kami bertemu Esya di Air mancur. Berhubung hari Jum’at para lelaki mencari masjid untuk melakukan kewajiban mingguan. Sisanya shalat dzhuhur di mushala.

                                                      ***

     “Kayaknya aku beda kostum sendiri nih.”

     “Iya sih, Ra,” Esya menatapku kalem dari atas kepala hingga ujung kaki. “Baru sadar kamu pakai celana.” Tersenyum, “Ketutupan koper sih, tapi nggak apa-apa kok.” Dia anggun sekali.

     “Bajunya panjang ini...,” Rachmi menepuk-nepuk pundakku.

     “Sebenarnya aku bring this one,” kukeluarkan rok dari koper, “Tapi buat shalat. Sengaja pakai celana soalnya takut keserimpet. Bawaanku sih, udah kayak TKW.”

     Kumelirik jam tangan, pukul 12.43. “Kamu bawa mukenah?”

     “Iya, aku bawa Ra.”

     “Pinjam yah.” Fia mengangguk. Senyumannya cantik.

                                                      ***

     Tidak ada penitipan barang yang bisa ditinggal dalam waktu yang cukup lama, untuk jalan-jalan. Bagus. Jadi sekarang temanya Travelling, dengan judul‘Walk Around Old City with Suitcase’? Pertunjukan perdana. Selamat, selamat....

     “Kalau capek bawa kopernya bisa gantian kok, Ra...” Raut wajah yang senantiasa memancarkan aura keceriaan, jarang kumelihatnya bersedih.

     Aku mencondongkan wajah ke arahnya, “Kamu yang bawa ya Mi.” Rachmi tersenyum.

     “Tenang... di sini ada cowok.” Kalau yang satu ini gaya andalannya, tetap stay cool.

     Menyebrangi jalan raya, giliran Faiz yang membawa koperku. Semoga benda itu menebar keberkahan bagi yang membawanya, begitu pula yang berada di sekitarnya.Amin.

                                                      ***

     Mentari masih menggantung di atas sana. Malu-malu. Ia tak begitu menampakkan teriknya. Makan siang lesehan bersama, momen yang wajib diabadikan. Siap? One,two, three. Well done, good picture!

     Target selanjutnya musium kramik.

     “Mana talenan kamu?” Rachmi meminta Putra mengeluarkan Tabletnya, “Ayo,kita berpose lagi...”

     “Sini, biar aku aja yang ambil gambarnya.”

     Sudah siap bergaya Faiz malah swafoto dengan kamera depan.

     Merajut persahabatan, hanya bersua lewat dunia maya. Kurang lebih dua tahun setengah tidak bertatap muka secara langsung. Jarang-jarang dapat berkumpul seperti ini. Kesibukan berbeda, waktu luang yang berbeda. Perjumpaan sederhana yang begitu membahagikan.

     Langit menangis. Rintik air matanya jatuh langsung membasahi jiwa yang kering. Aku melangkah perlahan, merasakan indahnya perlahan, lalu masuk ke teras bangunan klasik itu. Eksotik.

     Harga tiket masuknya cukup terjangkau. Uang kami kumpulkan jadi satu, baik hati Esya mengantre sebentar untuk mendapatkan tiket.

     Kulihat Putra bertanya pada petugas. “Maaf Pak, di sini bisa menitipkan koper?” Tidak terlalu jauh, jadi suaranya masih terdengar.

     “Iya, bisa.” Syukurlah, dapat menikmati perjalanan dengan nyaman.

     Iseng kupotret pintu masuk, gambarnya sedikit kabur. Ingin mengulangi sekali lagi, yang lain sudah masuk ke dalam. Tak jadi, aku tertinggal. Nanti kalau hilang bagaimana? Haha, seperti anak kecil saja.


    
     Duduk-duduk santai di kursi, lalu melihat-lihat sebentar sebelum naik ke lantai dua. Biba menelepon Fia, kami ngobrol bergantian dengannya. Semoga bisa dipertemukan dengan mereka yang berada jauh di sana lain waktu.



     Lagi-lagi. Narsis. Begitulah kebiasaan anak muda. Aku hanya mengabadikan beberapa karya seni di musium untuk koleksi galeri blog. Foto bersama? Bisa dikirim via media sosial.

     Kami keluar dari gedung. Gerimis. Ternyata Fia dan Esya membawa payung. Sebenarnya tidak terlalu suka menggunakannya, kelihatan seperti wanita. Loh, memang aku apa? Apa saja yang penting berkah. Hahaii.

     “Foto dulu nih,” Rachmi melirikku.

     “Iya, mumpung pakai payung tuh,” separuh alisku naik.

     Para hawa berpose dengan payung. Foto bersama, berpencar, lalu gaya bebas. Koperku pun tak kalah eksis. Anggap saja sedang jadi model di majalah. Tunggu dulu, sepertinya cocok kalau dijadikan cover. Wahh, keren!


     Ingin melanjutkan ekpedisi ke musium wayang ternyata tutup. Sudah sore rupanya.

     Waktunya shalat ashar. Aku menaruh koper di tempat penitipan barang mushala tadi.

     “Ra, Shara!” kumendekat ke arah Fia, “Pamit pulang duluan yah, kita shalat asharnya di rumah aja.” Mereka mau naik kereta.

     “Iya, hati-hati,” rasanya air mata sudah tak sanggup lagi kubendung. “Aku mah bakalnya nggak keburu Fi, shalat dulu jadinya.” Aku senyum. Untung bisa mengontrol diri. Pasang wajah tenang, meyakinkan yang melihatku tak akan terjadi apa-apa.

     “Nanti kita ketemu lagi deh, kapan-kapan insyallah.” Rachmi, aku akan merindukanmu, begitu pula dengan yang lain.

     “Dah...” Faiz, Fia, Rachmi dan Putra berlalu.

     Selesai shalat kami pulang dengan Transjakarta. Aku transit di Harmoni karena akan mengambil jurusan Pulo Gadung. Ingin rasanya melihat wajah Esya dan Anam saat kuturun di halte dan bus itu membawa mereka pergi, tapi tak mungkin,terlalu ramai dan aku pun harus bergegas meraih bus. Selamat jalan. Semoga kita sampai tujuan dengan selamat.

     Tak dapat tempat duduk, terpaksa kududuk di atas koper. Merasa kurang nyaman jadi kuberdiri saja. Sayangnya Transjakarta yang kutumpangi tidak sampai Harapan Indah. Daripada di Pulo Gadung harus lama menunggu bus yang sampai kesana, lebih baik aku naik angkot saja. Hari semakin sore, cakung pasti macet.

     Aku sampai saat masjid di belakang rumahku mengumandangkan iqamah shalat maghrib. Alhamdulillah, kupikir akan mengqadhanya karena kehabisan waktu. Hari yang melelahkan namun akan selalu kukenang. Yah, mungkin akan kubuat tapak tilasnya dalam sebuah cerita pendek. Cerita untuk sahabat. Kapan? Liburan singkat dua minggu ini? Tidak. Ada pekerjaan lain yang akan kukerjakan. Mungkin sekembalinya ke pondok. Insyallah, kalau ada waktu luang.

안니사’s

Terima kasih dah mampir ni, kunjung pula ke Ra. Pratiwi A.' notes ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

History Book Part2

Bismillahirrahmaanirrahiim
 

Model ke-2
Tadda...
Yang ini lebih praktis, 'cause langsung rangkai pake staples aja, kawan.

Bagi yang ketinggalan "History Book" model ke-1

Ini dia isi di dalamnya...


Kan, kan, kan, multi fungsi. Bisa ditempel koleksi filateli yang kece-kece, aneka foto, gambar karya pribadi, sampai stiker hadiah dari permen lolipop pun oke!
Asik banget kan, bisa punya "History Book" kek gini?

Sebenarnya untuk bahan-bahan bisa disuaikan menurut selera dan keyakinan masing-masing. Keyakinan? Iya, keyakinan mau bikin pakai kertas nasi, kertas HVS putih, berwarna, kertas daur ulang, ataupun aneka model kertas yang lain.

Mudah bukan? Yakin aja...
Oke, selamat berkreasi dan berimajinasi ^_^

Terima kasih sudah berkunjung.

Boleh jua ni, mampir ke sini Art & Creativities.
Selamat berkunjung. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

History Book

Bismillahirrahmaanirrahiim

"History Book", buku sejarah. Buku sejarah kehidupan kita, haha. Maksudnya sih, buku kenangan karena di dalamnya terdapat benda-benda keramat yang memorable, gitu. Biar kece, anggep aja buku sejarah. Kan, kenangan di dalamnya otomatis mengandung sejarah, dong. 

Well, kreatif dikit nih. Kita akan membuat buah karya dari kertas nasi.

Ada dua model. Model ke-1, kita rangkai pakai tali. Model ke-2, distaples aja terus kovernya pakai kertas kado.

Di sini gak usah pakai step, ya. Pembaca bisa imagine sendiri cara buatnya. Mudah kok.

Model ke-1
Berhubung pakai tali, otomatis tiap lembar kertasnya dilubangi dulu pakai pelubang kertas. Lumayan rempong, tapi gak papa.

Tali yang dipakai di atas tuh, model talinya paper bag. But, kalau mau diganti bisa kok. Ada macam-macam opsi, tali rafia, pita kain, benag sulam, and so on.
 
Kovernya pakai kertas kado, lalu dilapisi lakban. Ceritanya biar anti air, pemirsa. Pakai sampul plastik juga bisa. Sesuai selera masing-masing. Kover kreatif lainnya bisa pakai daun pisang, aneka dedaunan kering, kain, dll.



Lihat yang tertempel pada buku, kan? Itu surat undangan dari organisasi jaman SLTA dulu. Ya..., kenang-kenangan aja.
  Sebenernya kurang kerjaan juga sih, kalo dipikir-pikir. Hhe.


Dalamnya bisa diisi benda-benda bersejarah apapun yang kita punya. Tisu ucapan ulang tahun, surat, dsb.


Dipajang kenangan dari mading, kartu tanda pelajar, vignet, kartu ujian nasional juga kece kok, Gan. Bersejarah bangeeeet.

Bersambung...

History Book Part2 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tamu Kerinduan

Bismillahirrahmaanirrahiim


Biarlah dinding-dinding menjadi saksi
Izinkan tiang-tiang itu menemani
Persilahkan detak jarum jam 
memberikan suara pada hening 
yang tersangkut raungan detik ini...

Berusaha membersihkan hati
Terus begitu
Tahu ia belum lah mampu
Belum sanggup
Memilin lembut getaran suci
Ia tetap berusaha

Napas mengalun perlahan
Perlahan...
Berhembus pelan

Jiwa mulai berguncang
semakin menjadi-jadi 
Apa ini?
Apa?

Raga seakan meleleh
Tak kuasa menerima rahmat-Nya
Rahmat yang dinanti
Ia semakin dekat
Dekat

Oh, Duhai tamu kerinduan
Selamat datang
 Selamat datang, Ramadhan
Ramadhan... Mubarakh...


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Stalking

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kaka sepupu gue corcol. Hmm..., sebagai makhluk yang ditakdirkan baik hati, ya gue perhatiin tumpahan isi hatinya dengan seksama.

Sebenernya terkadang gue lola, sometimes gue cemerlang. Tergantung sikon. Kisahnya kali ini rada bikin zona pikiran gue muter-muter. Entah sinyal wifi di otak lagi ada ganguan, apa emang dasar guenya aja yang gak konsen. Biasanya gak konsen itu timbul karena gue laper, haha.

Berkali-kali gue tarik napas, sambil menghayati. Kaka gue tergolong aneh. Nggak tau kenapa, kata gue dia unik aja gitu, modelnya. Gue baru tau kalo dia juga suka sama laen jenis. Why do I say this? Abis gelagatnya yang cuek bebek, bikin gue berasumsi “Sepupu gue naksir sesuatu gak sih? Hah?”, “Nih orang, sebenernya nyadar gak sih, ada beberapa makhluk yang nge-fans ama dia?” Gue dapet bocoran dari temen-temennya. Gak tau juga sih, kaka gue tau hal itu atau pura-pura bodoh atau akting atau... ah, terserah! Lah, kenapa jadi gue yang sewot? Haha, gak gitu juga sih, soalnya banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Kayak yang gue bilang sebelumnya, kakak gue tuh unik. Begitu pula dengan gayanya, nyebelinnya, ngegemesinnya, pola pikirnya, de-es-be. Otomatis, bikin kesimpulan juga ada banyak opsi.

Yoms, dari tadi pembuakaan. Sekarang mulai cerita. Gue mampir di... di mana yah? Haha, judulnya gue mampir di suatu tempat. Gue nemu tulisan2 berbahasa aneh, bahasa asing. Berhubung kepo, gue udek2 Nyai Google buat cari tau arti dan maksudnya. Kan, curcolan dia mah gitu. Sembunyi2. Introvert kali yah. Eitt, tapi di kesehariannya tuh orang berisik banget. Kalo lagi berisik. Senengnya tuh nyeplos kata-kata biasa yang bikin si pendengar pengen ketawa aja, gitu (tergantung juga, yang ketawa ya ketawa, yang nggak pengin, ya nggak). Tapi... kalo lagi bete, biasanya diem, malahan cenderung mukanya berevolusi jadi serem. Beneren, gue mah gak bohong.

Dari mini e-diary-nya yang gue stalk, gue berhasil ngungkap sesuatu. Ciye... ceritanya jadi detektif, gue. Haha. Itu e-diary rahasianya. Gue tau soalnya pernah gak sengaja liat, terus gue rekam link-nya di memori hape gue, eh, memori otak gue (jahat banget ya gue, kepoin sodara sendiri? hiks).

Ternyata ucapan selamat tinggal. Di situ ceritanya dia akan berpisah sama orang yang dia fans-in. Kan, misterius banget, sepupu gue yang satu ini (maaf sebelumnya, lancang kepoin kamu, Kak 8-p ).

Aishh, agak kaget juga dia ngagumin beberapa orang. Gak ditulis alasan kekagumannya di situ, tapi orang2 yang dimaksud kayaknya gue kenal banget. Iya, gue kenal. Semoga aja gue gak salah. Eh, tapi gak salah kok. Bener. Walaupun tertulis pake istilah, nama-nama julukan yang aneh, tapi ada deskripsi yang bikin gue yakin siapa objeknya.

Tuh kan, air mata gue pengen banget netes. Mata gue serasa pengen turun hujan yang deras. Begitu... deras (lebay baget, deh). Model objek2 itu beraneka rupa, istimewa. Kebetulan banget sepupu gue deket sama orang begituan. Emm, tapi ada juga dari salah satu objek yang aneh, misterius gitu deh, orangnya. Yang jelas, insyallah mereka adalah orang2 yang mau bertanggung jawab sama kerjaan. Sepupu gue paling seneng kalo diajak kerja ama makhluk yang kek gitu. Mereka lah objek-objek yang semoga aja gue gak salah ambil kesimpulan. Yups, 99,9%. Pe-de banget kan, gue? Haha.

Di situ tertulis (gak secara gamblang, sebenernya gue ambil kesimpulannya aja, kan sepupu gue curcol pake bahasa asing, campuran lagi pake istilah aneh) dia gak tau juga kenapa bisa nge-fans sama mereka. Rasa yang timbul begitu saja.  Inget, sepupu gue nulis dia kagum, bukan cinta (sebenernya waktu itu gue tanya dia apa perbedaan keduanya dia malah bingung, beti juga sih katanya, hhe). Soalnya dia emang belum berani masuk ke istilah and dunia percintaan juga sih, dalam tulisan2nya. Ada sedikit trauma (ada2 aja sepupu gue mah, orangnya). Belum sanggup masuk katanya. Terus sanggupnya kapan? Gue kurang tau kalo itu, mah. Hehe.

Naasnya, mereka berpisah (sepupu gue and thoose objects). Kenapa? Reaching something important for their future and get a better life, get more blessings,  bikin mereka kudu jalanin hidup masing2 di tempat yang berbeda. Yah... sedih gue, jadinya.

Di saat kekaguman itu mulai tumbuh, berkembang, dan mereka semakin akrab (sepupu gue masih bertingkah biasa aja depan publik, jadi kekagumannya tuh rahasia, hehe), ya itu, entah mengapa takdir memisahkan mereka. Sepupu gue bisa deket sama mereka ‘cause ada proyek yang diemban bersama. Kalo nggak gitu, gak tau deh, gimana bisa dia punya relasi sama laen jenisnya. Akrab gitu, maksudnya. Bokapnya juga sih yang ngarahin, kalo behubungan sama orang sayogyanya gak dibikin mubadzir, yang penting-penting aja. So that kaka sepupu gue kek gitu bentuknya. Katanya tuh, “Kalau es-em-es itu jangan ember, bales2an gak jelas topik pembahasannya, biar berwibawa”. Bokapnya tegas, tapi penyayang, penyabar, plus humoris. Sepupu gue sayang bingits... deh, ama beliau. Gue suka banget gaya bokap sepupu gue kalo lagi stay cool and calm, kece banget. Pakde gue emang top (malah jadi curcol keluarga). Haha, gue jadi kebayang “Ada Apa Dengan Cinta”. Ya... walau gue belom nonton full movie-nya juga sih, cuma cuplikan.

Sepupu gue berusaha tegar, meskipun sakitnya tuh di sini (belom tau gue di sini-nya tuh di mana, haha). Tapi biasa aja sih, sepupu gue, mah. Dia ambil kesimpulan, mungkin ini lah pilihan terbaik-Nya. Jalan, agar perasaannya tak menjadi-jadi (tambah kagum). Biar romantis lebih prioritas sama Dia dulu, sebelum hadir objek halal yang nantinya akan sama-sama menuai keromantisan untuk-Nya (sepupu gue masih proses, ’cause romantis yang begituan tuh gak mudah, gaes). Aduh... sesek gue. Melankolis gue tambah bersinar terang. Hiks, hiks.


Sepupu gue yakin, kalo Dia kasih kesempatan bertemu dengan separuh jiwanya nanti, it’ll come true. Kun fayakun. Ya ampun... di sini gue merasa... ya, merasakan sesuatu, lah. Haha.  Kalo emang salah satu dari objek itu, ya liat aja nanti. Biar udah ke mana-mana, kalo jodoh ya nggak kemana. Kalo bukan, dia yakin akan akan dipertemukan dengan yang terbaik selama dia trus berusaha melakukan yang terbaik. Ohw... so sweet. Aduh, kok malah gue yang deg-degan ya? Serius, nih jantung kek mau copot. Aduh. Aduh. Hufhh.... Haha. Mendramatisir, gue

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hari Ini Adalah Pilihan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Mulai hari dengan bacaan basmalah, mengharap keberkahan senantiasa terlimpah untuk hari yang insyallah ceria. Yoms, trit kali ini sekadar curcol ringan aje. Gue balik dari pondok, 'cause adek gue dirawat di RSUD Bekasi. Kemarin nyokap hubungin gue, nyuruh gue pulang. Yaudah gue nurut kata ortu. 
Bokap ada di Cibubur. Nyokap gue, nungguin adek gue yang diopname. Ujung-ujungnye, gue jagain si bontot ama kakaknya di rumah.
 Berhubung ada toko, otomatis jadi pramuniaga juga.

Toko mini ala nyokap gue. Enak kan, sambil jaga bisa ngenet.

Hari ini aslinya kuliah gue di pondok kagak libur, gan. Gapapa lah, toh gue juga baru kali ini pulang selain hari libur. Hari libur perkuliahan yang aneh. Why? Secara, udah kuliah biasanya kan satu semester setengah libur setengah masuk, yang ini mah, nggak. Sistemnya disamain kayak santri SMP and  MA. Nurut aja gue... namanya juga perkuliahan ala pondok or mondok sambil kuliah. Tergantung pimpinan yayasan.

Pagi-pagi si bontot mau berangkat ke SD, kakaknya yang siapin mie gelas. Si bontot kelaperan. Ah, dia mah, gitu. "Laperrr... laperrr..."
 Nyokap gue sms, katanya sarapan jangan lebih dari 08:00 pagi biar sehat. Yups, bikin martabak telor. Lumpia and ingredietns lainya udah ada di dapur, tinggal diolah next dimasak aja. Hufhh, ada bakso nganggur, gue campurin aje. Selesai. Soal masak-memasak tuh ya, mudah.... Udah, anggep aja gitu. Cukup bumbui sedikit imajinasi dan sedikit pengetehuan tendan dunia per-cooking-an. Haha, gue mulai ngelantur.
Ternyata eh ternyata, kurang asin dikit. Well, it was ok. Abis makan mandi sekalian nyuci baju-baju, terus dikeringin pake mesin pengering. Simpelnya, hidup masa kini :) 
Gentian kakaknya si bontot yang mandi, but dia mah baik hati, jadi nyuci perkakas dapur yang kotor dulu deh.

Rumah udeh beres. Gue pandang-pandang... banyak buku ngangggur, nih. Bokap gue mah rajin. Doyan... banget, makan buku. Eh, sembarangan. Haha, ralat (mengkonsumsi buku) ah. Takut kualat. Wkwkwkwk. 
Buku gue juga lumayan, walau kuantitinya gak sebanyak peliharaan bokap. Jadi kayak mini perpus gitu deh. Belom lagi buku yang ada di kamar. As if gak muat, nih rumah. Lol. Lebay mode on. 

Koleksi bokap and gue.
Di bawahnya masih ada buku-buku adek-adek gue. Lemarinya kecil, sih. Nanti dah, kapan-kapan beli lagi biar tertata rapi, kagak sumpel-sumpelan kek gitu. Haha.
Aslinya gue mood-mood-an, so mau baca kalo lagi mau.

Mandang peliharaan bokap, gue jadi kenyang duluan. Kabur, deh. Gue milih jadi pramuniaga aja, lumayan iseng ngenet and posting this one.
Ada yang belanja. Well. Enough. Just like this for today.
Get well soon for my beloved sister.
Udah, ah. Cabuuuut!!
Barakallah wa ridhallah lana.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS