Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

【English ver.】コイワズライ (Koiwazurai) in 『Sun Dance』『Penny Rain』Album / Aimer Lyric


Please laugh at all my tears
She through me when I'm strong
Forgive me when I'm spoiled
Could you stay right here with me

I wanna be close to you
I don't like being cold alone
Cause you take my frozen hand,
and please hold it tight for me

I wanna you understand,
at my pain and all my love for you
My heart sighs everywhere I'm
Always low in wonder
And everything I wanna say
I can't get it through to you
With a clumsy smile I try to bluff it all away

Everything you say and every move you make
I want every piece of us in memory
Falling down falling soft
Like a snowflake in the air
I don't want it all just melting away

Oh I don't like a liars
So I'm choosing nothing clear
I hide how much I miss you
Cause I'm longing for your smiles

And everything I wanna say
I can't get it through to you
We keep growing for apart
And I never get it right

All the city lights sparkle like every night
They will never be kind to you cause of that
Shining bright shining soft
Like a twinkle in the sky
All my tears were dancing through the night

If you get a little sad, if you  get a little lonely
If you wanna cry it out, it's all right
In the time you feel so sad
In the time you feel so lonely
You will see what's true to you
It's a right

If you get a little sad
If you  get a little lonely
If you really miss him bad
It's all alright

Even when you see a day pass
Even when you're all so grown up
Even after all the time

All the city lights sparkle like every night
They will never be kind to you don't forget
Shining bright shining soft
If you look up at the stars
Make a wish you will see

Everything you say and every move you make
I want every piece of  us in memory
Falling down falling soft
Like a snowflake in the air
Even if it melts away somewhere

If you  get a little sad
If you  get a little lonely
If you  really miss him bad
It's all alright

In the love that makes you cry
In the love that makes you lonely
You'll treasure every place someday some time

If you  get a little sad
If you  get a little lonely
If you wanna cry it out
It's all alright

In the time you feel so sad
In the time you feel so lonely
You will see what's true to you
It's all alright

English Verse

Japanese Verse

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cangkarong, Bukan Camilan Biasa

Hai, aku blogger biasa, dengan postingan biasa, tapi bagiku itu cukup istimewa meskipun sekadar tulisan-tulisan sederhana di dalamnya. 

Jadi begini, liburan lebaran kemarin tuh, aku minta bawain Cangkarong sama teman sekamarku di asrama. Hah? What the maksud? Cangkarong? 

Sebelumnya nggak tahu akutuh...,  kalau camilan itu namanya Cangkarong. Ikut-ikutan temanku saja, karena dia yang pernah bawa makanan itu sebelum aku request

Okay, Cangkarong terbuat dari nasi yang dikeringkan dan sudah diberi bumbu, (bukan bumbu yang ribet juga sih, guys, pakai garam atau penyedap rasa ditambah ulekan bawang putih doang, kok) lalu digoreng seperti halnya kerupuk. Kalau suka lebih asin, bisa ditaburkan garam ataupun bubuk perisa lagi setelah digoreng. Yah, masukkan saja garam dan Cangkarongnya kedalam plastik atau wadah apapun, terus dikocok-kocok, deh. Yeay, shake them well (alah mak, sudak kayak tutorial how to make, saja nih). 



Suka banget akutuh..., makan Cangkarong. Sensasi gurihnya saat dikunyah, ditambah aroma bawang putih yang sedap itu sangat membuatku bahagia. Sederhana banget kan, akutuh...? Ya, kan? 



Haha, padahal katanya, aku itu nggak punya selera makan. Hmm, ok fix. I'm ok, about it. Ya, gimana lagi, daging nggak suka, pokoknya makanan yang bernyawa, aku nggak suka, nggak doyan. Paling cuma ayam seorang, (sehewan kali, yak) itupun cuma sedikit. Makan yang dagingnya doang. Yah, semacam rice box ala K*C. Nah, pure daging tanpa tulang, terus ditepungin.

Wah, jadi kemana-mana, nih. Ok, balik lagi ke Cangkarong. 

Kemarin, Sabtu, 22 Juni, HUT Jakarta. Aji mumpung Transjakarta gratisan. Pergi sejauh apapun, gratis deh, pokoknya seharian. Yah, walaupun cuma Rp. 3.500, lumayan. Mana hari itu ada yang tidak menyenangkan, lagi. Rasanya sakit, tapi nggak berdarah, nggak berwujud luka. Intinya nggak enak hati, akutuh....  Pas banget, manfaatin saja buat pulang ke Bekasi (maunya curhat sama ibu, tapi..., curhat sama Allah aja deh, pas shalat hajat dan taubat di rumah, aseek) 

"Assalamualaikum. Halo... aku pulang," sambil buka pintu lalu salim ke ayahku. 

"Waalaikum salam warahmatullah." Sebelumnya sudah beri kabar via chat kalau mau pulang, "Dari sana jam berapa?" 

"Sekitaran jam tujuh kurang, Pah." Aku tiba di rumah pukul sembilan malam, lebih berapa menit, gitu. Em..., apa hampir setengah sepuluh ya? Adaw, lupa akutuh....

"Anis pulang lagi?" Ibuku baru saja keluar dari kamar. Maklum, bundahara sibuk dengan urusannya. 

"Iya," kuraih tangan ibuku lalu menciumnya, "Tapi nanti Senin balik lagi. Langsung ngantor."

"Oh iya," aku mengeluarkan sebungkus Cangkarong mentah dari dalam tas, "Tadda! Cangkarong."

"Ngapain, nasi aking gitu dibawa-bawa?" ayahku meledek. 

"Biarin Pah, special request dari Madura, ini tuh...." Aslinya rumah temanku di Jember,  tapi karena kampungnya di Madura, jadi aku bilangnya Madura. Padahal, kayaknya ngeringin nasinya di Jember, deh. Hehe.

"Ah, Anis mah aneh. Daging gak mau, yang begituan malah doyan."

"Gapapa, Mah..., orang doyannya begitu. Malahan lebih murah."

"Sudah shalat Isya?"

"Belum. Habis ini baru shalat. Mau ngaso dulu, Pah."

Hayati lelah, lelah jiwa dan raga. Malam-malam begini, memang paling enak curhat. Sepi, hening. Maklum lah, manusia banyak dosa, masih sering gundah. Yah, habis curhat-curhat bombay, ngemil Cangkorang kayaknya asyik. Digoreng besok, ah..., Cangkorangnya. 

Hari pun berganti. Waktunya menggoreng Cangkarong. Yeay! Setelah digoreng, tambahkan bumbu barbeque deh, mumpung ada. 

Cangkarong, oh..., Cangkarong. Walaupun kau berasal dari makanan sisa, tapi rasa yang kau sisakan untukku adalah sebuah kenikmatan, dan itu cukup membuatku bahagia. Alhamdulillah. 

By the way, apa nama Cangkarong dalam bahasamu, kawan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Blue

Sepertinya, kau sudah menikmati kebiasaanmu. 

Hmm. Kenapa, ya?

Apa karena orang-orang di sekitarmu lebih baik? 

Atau karena...,
kau yang tak lagi hanya melihat aspal abu-abu di hadapanmu, 
melainkan juga biru di atas kalian.






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Katanya

Katanya, dalam diam saja dia masih sanggup mendoa, maka tak perlu heran dalam diam, dia masih sanggup mencintaimu. 

Katanya, cintanya bukan puisi yang saban hari ia susun tuk kau baca, bukan pula alunan biola yang merasuk setiap ruang telinga. 

Katanya, cintanya layaknya angin, hadirnya dapat kau rasa, tanpa perlu kau raba.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Datang dan Pergi

Hei, tahu tidak, bagaimana rasanya menggenggam angin? 

Pertanyaanku memang tak masuk akal, tapi apakah itu tidak bisa dijadikan sebagai harapan? 

Apa salah, jika di suatu malam aku bermimpi, angin yang tak kasatmata dan tak berupa namun terasa itu, benar-benar berada dalam genggamanku? 

Apa aku salah, jika dunia di mimpiku yang lebih indah dari kenyataan, membuatku tak ingin terbangun dan memilih untuk tetap tinggal? 

Apa yang salah dengan pemikiranku? Apa? Tidakkah kau pernah memikirkan yang seperti itu? Atau, hanya aku saja, kah? 

Tiket, kau memberikannya kepadaku beberapa tahun lalu. Aku berterima kasih dan menerimanya dengan perasaan yang amat senang. Aku tahu, kesempatan belum mengetukkan jarinya ke pintuku, oleh karena itu, aku baru bisa berkata, "Semoga malam ini aku dapat pergi ke sana, melewati jembatan dan menikmati keindahan di atasnya. Semoga aku bisa berkunjung ke menara manapun, selama di sana aku dapat mengabadikan momen walaupun hanya sederhana, tapi itu cukup membuatku merasa istimewa. Menara mana saja, tidak harus yang terindah." 

'Semoga-semoga' yang seperti itu, semoga saja hadir di dalam mimpiku. 

"Tak lupa pula suara ombak berdebur sepanjang kau bertengger di jembatan itu."  Oh ya, kau benar. Hampir saja aku melupakannya. 

"Nanti, aku juga akan melambaikan tanganku kepada camar-camar yang terbang bebas di udara. Kapal-kapal yang sibuk berlalu lalang. Ya, akupun akan menikmati pemandangan tersebut." Rencana yang menyenangkan. Semoga suatu saat aku benar-benar dapat berada di sana. 

"Gelecek ablam inşallah." Terima kasih atas doanya. 

Aku tahu kau akan pergi. Selelah kau selamat sampai tujuanmu, aku senang dan bersyukur. Kemudian, kau menghilang. Menghilang dan membuatku merasakan ada sesuatu yang hilang pula. 

Dalam kekosongan, aku mengisinya dengan mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Rutinitasku, tanggung jawabku. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menghampiriku. Apakah sesuatu itu mendatangiku? Ah, aku lupa akan rasa. Apakah karena terlalu lama memendam, lalu menganggapnya tak ada, membuatku menjadi 'tak peka'? Kalau begitu, itu apa? Apa namanya? 



Di siang yang terik, kau datang seperti notifikasi di ponselku yang tiba-tiba saja berbunyi setelah sekian lama mati. Tunggu, apa itu benar-benar dirimu? Atau hanya sebatas notifikasi di ponselku?

Alah mak. Ternyata itu sekadar notifikasi. 

Lalu, apakah sesuatu yang baru itu dinamakan sebuah kedatangan, kehadiran? Tapi aku butuh kejelasan. Kalau begitu, dapatkah seseorang menjelaskannya kepadaku? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pentingkah "Sadar Diri" dalam Kehidupan?


Nabi Musa as. sadar bahwa dia telah melakukan dua kali kesalahan, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih makrifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir.[1] Namun, pada perjalanan ketiga, Nabi Muas as. tidak sengaja secara tegas bertanya, tetapi memberi saran. Kendati demikian, karena dalam saran tersebut terdapat semacam unsur pertanyaan apakah diterima atau tidak, ini pun telah dinilai sebagai pelanggaran oleh hamba Allah itu.[2]

Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Sayyidina Umar menganggap bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak, karena dengan mengevaluasi diri sendiri, manusia akan mengenali kekurangan-kekurangannya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan di akhirat nanti menjadi sangat ringan.[3]

Dalam hadits Rasulullah bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Dari Syadad bin Aus ra., dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.'” (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).

Refleksi Nabi Musa terhadap apa yang sudah terjadi pada peristiwa-peristiwa yang dilaluinya bersama Nabi Khidir ini dapat menghadirkan kembali pengalamannya, mengelola emosi dan perasaannya, serta melakukan evaluasi terhadap pengalamannya. Dengan demikian, Nabi Musa mendapatkan suatu insight, menyadari kekeliruannya dan akan memperbaikinya di masa yang akan datang.


Dalam hal ini, pelajaran yang dapat diambil adalah, seseorang yang melakukan kesalahan serupa berkali-kali, hendaknya menyadari kelemahan dirinya dan mempertimbangkan untuk melakukan langkah lain yang lebih sesuai dengan bakat/kemampuannya.[4] Karena kesadaran diri merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk introspeksi dan termasuk memperoleh pengertian dan pengetahuan mendalam tentang kekuatan, kualitas, kelemahan, kekurangan, ide, pemikiran, keyakinan, idealisme, respon, reaksi, sikap, emosi, dan motivasi seseorang. Sehingga introspeksi juga termasuk dalam menilai bagaimana kita dipandang oleh orang lain dan bagaimana pengaruh tingkah laku, reaksi, dan tabiat kita pada orang lain sebagai acuan dalam memperbaiki hubungan dan kerjasama kita dengan orang lain. (wallahu 'alam)



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), Cet ke-4, Vol: 7,  h. 351.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, h. 352.
[3] Alif Budi Luhur, “Muhasabah, Jalan Perbaikan Diri,” http://www.nu.or.id/post/read/74281/muhasabah-jalan-perbaikan-diri (diakses pada 22 April 2019)
[4] M. Quraish Shihab, Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), h. 317.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Benar-Benar Butiran Debu

Kemarin sudah revisi, tapi baru diberikan koreksiannya setelah 9 hari. Sudah sebelumnya pusing mengurus acara lomba karena menjadi anggota panitia, harap-harap cemas karena koreksian revisi tak kunjung diberikan. Oh my, gue tahu kalau di posisi dosen penguji yang banyak menangani revisian mahasiswanya pasti merepotkan, tapi gue juga berada di kondisi yang bisa dibilang repot. Apalah daya, kondisi yang (maaf banget bukannya gue tidak bersyukur) kurang menguntungkan buat gue.

Fix, revisi yang kemarin masih kudu diperbaiki, dan ini benar-benar mepet deadline. Hufh, rasanya gue pengen curhat, tapi... ada sesuatu yang mengganjal. Gue biasanya konsultasi sama someone, tapi ketakutan gue yang berasumsi bahwa gue cuma butiran debu yang kerjaannya selalu merepotkan. Hm...,  sebenarnya gue aja yang terlalu parno. Tapi gimana, gue bukan siapa-siapa. Gue hanyalah gue, dan harus berjuang menjalani dan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab gue. Walaupun perasaan sedih yang gue rasa itu manusiawi, tapi keyakinan bahwa Tuhan pasti membantu gue itu seharusnya punya persentasi yang lebih besar. Karena gue adalah seorang hamba yang seharusnya berusaha, bertawakal, yakin bahwa apa yang terjadi pasti ada hikmahnya, dan Tuhan pasti selalu membantu hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Adzab dan Nikmat

Adzab yang paling bahaya adalah jika sudah tidak ada (memiliki) rasa takut dan rasa tertarik untuk beribadah kepada Allah swt. Tandanya, Allah telah menjauhkan dia terhadap-Nya. Allah menghinakannya. Mengapa demikian? Karena semestinya seseorang itu lebih mencintai kepada yg menciptakannya. Oleh karena itu, biasakan diri untuk ingat kepada Allah swt., dan banyak-banyak bersyukur atas apa yang ada, yang telah Allah berikan kepada kita. 

Bila seseorang senang mengingat Allah, lebih banyak menyebut nama-Nya, maka Allah menariknya agar dekat kepada-Nya.
Terkadang kita tidak terpikir untuk khusyuk kepada Allah. Bila begitu, maka usahakan untuk khusyuk. Bagaimana shalat itu berkualitas, jika hati kita kemana-mana? Kalau begitu, usahakan fokus, ingat kepada Allah, karena ciri-ciri orang beriman adalah yang shalatnya khusyuk. Meski sulit, tapi tetap diusahakan.

Maka jadikanlah masa remaja sebagai masa yang indah untuk ingat kepada Allah, agar itu berlanjut hingga dewasa, dan tua dengan nikmat kecintaan yang semakin bertambah kepada Allah swt.
(source, pengajian Gus Nur Sidoarjo) 


Note
Pesan Gus Nur, "Manusia zaman sekarang itu biasanya tidak kuat duduk lama di pengajian. Baca saja Ratib al-Haddad, agar hidup ini berkah. Biar kata tidak seperti orang-orang terdahulu yang kuat berlama-lama untuk ibadah, dengan membaca Ratib tersebut insyaallah berkah." (wallahu a'lam) 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS