بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Lautan luas, perjalanan kita tak terhenti.
Bersama, kita hadapi pasang surut, menuju pelabuhan keridaan-Nya.
![]() |
| Klik untuk melihat detail gambar |
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Lautan luas, perjalanan kita tak terhenti.
Bersama, kita hadapi pasang surut, menuju pelabuhan keridaan-Nya.
![]() |
| Klik untuk melihat detail gambar |
![]() |
| Klik untuk memperjelas gambar |
Menyerahkan diri kepada Allah, bacalah
الله الكافي ربنا الكافي قصدنا الكافي وجدنا الكافي لكل كافي كفانا الكافي ونعم الكافي الحمد لله
Allahul kafi, Rabbunā kafi, qashdanā kafi, wajadnā kafi, likulli kāfin kāfanā kafi, wa ni'mal kafi, alhamdulillah.
"Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha Pencukup. Tujuan hidup kami hanya kepada-Nya, dan kami telah merasakan kecukupan-Nya. Dia telah mencukupi segala kebutuhan kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi Kecukupan."
Semoga Allah memberikan keyakinan dan kekuatan agar senantiasa berusaha untuk mencapai sesuatu.
Semoga Allah memberikan ketenangan hati terhadap apa yang akan terjadi dan telah ditakdirkan untuk kita.
موضع القسمة (mawḍiʿ al-qismāh)
موضع الثقة (mawḍiʿ al-tsiqah)
Allah telah memberikan bagian masing-masing kepada setiap hambanya, dan bagaimana hamba itu menerima kehendak Allah akan membentuk kepercayaan terhadap takdir baik yang Allah anugerahkan untuknya.
Untuk apa membandingkan diri sendiri dengan apa yang Allah titipkan kepada kita (harta, jabatan, dll) dan apa yang Allah titipkan kepada orang lain?
••••••°°°••••••
Amalan Pagi Hari:
Dianjurkan untuk membaca Surat Al-Muhammad dan Surat Al-Fath sebelum waktu Salat Subuh ataupun di waktu pagi. Bacalah dengan penuh khusyuk dan berdoalah kepada Allah SWT memohon pertolongan dan kekuatan dalam menghadapi segala tantangan hidup. Amalan ini diharapkan dapat memberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Persiapan untuk Kehidupan:
Selain amalan tersebut, penting juga untuk mempersiapkan diri secara matang baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Persiapan ini meliputi berbagai aspek, seperti memperkuat keimanan, menuntut ilmu, beramal saleh, dan merencanakan masa depan dengan bijak.
Kesimpulan:
Pentingnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, beriman dan bertawakal kepada-Nya, serta mempersiapkan diri secara matang untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Allah SWT Maha Pencukup dan Maha Pemberi, serta segala sesuatu yang terjadi telah ditakdirkan oleh-Nya. Oleh karena itu, perbandingan dengan orang lain dalam hal materi atau keberuntungan tidaklah perlu, karena setiap individu memiliki takdir dan bagiannya masing-masing. Sebagai bekal, dianjurkan untuk membaca Surat Al-Muhammad dan Al-Fath sebelum waktu Salat Subuh atau di waktu pagi hari, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT.
Wallahu a'lam.
Happy Sunday! Just catching up this morning with conversation and sunlight. 🌞
🌬
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ •°•°• o (^‿^✿)o
[1/12 07.10] ISTJ: When the why gets stronger, the how gets easier.
[1/12 08.25] INFJ: Yeayy, find ways to overcome obstacles and make things happen. 🪄🧀🧀🌈
[1/12 09.25] ISTJ: A flower doesn't think of competing with the flower next to it. It just blooms ✨🌸🌸💐
[1/12 09.46] INFJ: Blossoming with blessings.
[1/12 10.03] ISTJ: As you did, sweetie. 😊
A Thousand Miles 🛤🛫🌄🌅🎇🎆🌌
Ilmu, Taubat, dan Instropeksi Diri:
Ilmu adalah pondasi utama. Dengan mempelajari segala hal, baik dan buruk, kita dapat membedakan mana yang benar dan salah. Setelah itu, taubat dan istighfar atas kesalahan masa lalu serta introspeksi diri menjadi langkah penting untuk perbaikan diri.
Nafsu dan Rezeki
Keinginan nafsu dalam mencari rezeki perlu dikontrol. Kita perlu menyeimbangkan antara usaha yang maksimal dengan tawakal kepada Allah.
Tawakal: Dua Jenis Pendekatan
Tawakal terbagi dua:
1. Tawakal Umum: Bagi kebanyakan orang, tawakal diiringi dengan usaha dan sebab-sebab yang nyata. Kita berusaha sekuat tenaga, kemudian bertawakal kepada Allah SWT atas hasil usaha tersebut. Usaha menjadi jembatan menuju tawakal.
2. Tawakal Khusus: Ini adalah tawakal yang lebih tinggi, dimiliki oleh orang-orang tertentu yang telah mencapai derajat spiritual yang tinggi. Mereka berusaha, lalu sepenuhnya menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT tanpa beban atau harapan tertentu. Tujuan utama mereka adalah ibadah kepada Allah, bukan kekayaan materi.
Rezeki dan Nikmat
Rezeki adalah anugerah Allah yang dapat dimanfaatkan dengan berbagai cara, tidak terbatas pada materi semata. Nikmat, di sisi lain, lebih berfokus pada peningkatan kualitas ibadah kita. Rezeki bisa digunakan melampaui kebutuhan dasar, sementara nikmat lebih berorientasi pada pengembangan spiritual.
Mencegah Kemiskinan dan Rasa Syukur
Membaca Surat Al-Waqiah, baik pagi maupun malam, dianjurkan untuk memohon perlindungan dari kemiskinan. Yang terpenting adalah menjaga rasa syukur dan menghindari sikap merasa kurang atau menuntut berlebihan kepada Allah SWT, serta menjaga etika yang baik kepada sesama. Berdoa agar senantiasa dilindungi dari kurangnya rasa syukur sangatlah penting.
Menuntut Ilmu dan Rezeki
Mengaji dan menuntut ilmu, apapun bentuknya, mendatangkan rezeki, baik yang terlihat maupun tidak. Menggunakan penghasilan untuk terus belajar dan menambah ilmu merupakan amalan yang baik.
Ringkasan ini menekankan pentingnya ilmu, taubat, tawakal, dan rasa syukur dalam kehidupan seorang muslim. Rezeki dan nikmat adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan bijak, selalu diiringi dengan usaha dan ketaatan kepada-Nya. Menuntut ilmu terus menerus adalah investasi jangka panjang untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Jika terdapat kekeliruan dalam penulisan ringkasan ini, mohon tegur penulis agar dapat memperbaikinya. Terima kasih atas kunjungan Anda.
Wallahu a'lam bisshawab.
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala aktivitas yang kita lakukan, dalam konteks apapun, memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya setiap perbuatan diniatkan semata-mata karena-Nya.
Keberhasilan dalam menjalani kehidupan, baik dalam menuntut ilmu maupun aktivitas lainnya, bergantung pada tiga pilar utama:
1. Keimanan yang kokoh: keyakinan yang teguh akan pertolongan dan rahmat Allah SWT merupakan pondasi yang kuat. Keimanan ini akan memberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup.
2. Doa yang khusyuk: memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan dan ketulusan merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Doa merupakan sarana untuk memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT dalam segala urusan.
3. Usaha yang maksimal: keberhasilan tidak akan diraih tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten. Ketekunan dan disiplin merupakan kunci utama dalam mencapai tujuan.
Perlindungan Allah SWT
Dengan menggabungkan keimanan, doa, dan usaha yang dijalankan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, kita akan mendapatkan perlindungan-Nya. Meskipun godaan (setan) dan rintangan akan selalu ada, Allah SWT akan senantiasa memberikan pertolongan dan kekuatan kepada hamba-Nya yang berikhtiar.
Kebahagiaan Hakiki
Kebahagiaan hakiki sesungguhnya terletak di akhirat. Kebahagiaan dunia bersifat sementara dan fana. Oleh karena itu, hendaknya kita menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Sebagaimana dalam doa: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً (Rabbanā ātinā fī ad-dunyā ḥasanatan) - "Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia."
Penggunaan kata حَسَنَةً (ḥasanatan) - "kebaikan," bukan سَعَادَةً (sa'ādatan) - "kebahagiaan," dalam doa tersebut mengandung makna yang mendalam. Kebahagiaan dunia bersifat relatif dan sementara (fana). Cepat ada, cepat pula hilang pula. Maka, berupa lah ia sebagai kebaikan yang berkelanjutan (semasa berada di dunia dan itu sifatnya hanya titipan), dan kebahagiaan yang kekal hanya ada di akhirat.
Semoga catatan ini bermanfaat. Wallahu'alam.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pernah ngerasa bete gara-gara omongan orang yang nyakitin hati? Atau malah jadi emosi sendiri karena hal sepele? Tenang, kamu nggak sendirian kok! Kita semua pernah ngalamin hal itu. Tapi tahu nggak sih, ternyata menghindari omongan yang nyakitin dan menjaga ketenangan hati itu punya hubungan erat dengan salah satu tujuan utama syariat, yaitu menjaga jiwa.
Pada dasarnya, semua ketentuan dalam syariat itu bertujuan demi tercapainya maslahat atau kemanfaatan, kebaikan, dan kedamaian umat manusia dalam segala urusannya, baik urusan di dunia maupun urusan akhirat. Nah, maqasid syariah atau beberapa tujuan syariat adalah merealisasikan kemanfaatan untuk umat manusia (mashâlih al-ibâd) baik urusan dunia maupun urusan akhirat mereka.
Menurut Imam Asy-Syatibi, maqashid syariah memiliki lima hal inti, yaitu:
1. Hifdzu ad-din (حـفـظ الـديـن) atau menjaga agama
2. Hifdzu an-nafs (حـفـظ النــفـس) atau menjaga jiwa
3. Hifdzu 'aql (حـفـظ العــقل) atau menjaga akal
4. Hifdzu an-nasl (حـفـظ النـسـل) atau menjaga keturunan
5. Hifdzu al-maal (حـفـظ المــال) atau menjaga harta
Kemudian, jika kita menghindari orang-orang yang sekiranya omongan mereka dapat menyakiti kita, atau membiarkan diri kita sendiri untuk tenang dari marah, itu masuk bagian dari menjaga jiwa, bukan?
Hayooo bagaimana?
Jadi begini, menghindari orang-orang yang omongannya dapat menyakiti kita dan menjaga ketenangan diri dari amarah termasuk dalam hifzu an-nafs (menjaga jiwa) dalam maqashid syariah.
- Hifdzu an-nafs mencakup menjaga jiwa dari segala bentuk bahaya dan ancaman, baik secara fisik maupun psikis.
- Omongan yang menyakiti dapat menyebabkan luka batin dan stres yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan jiwa seseorang.
- Menjaga ketenangan dari amarah juga penting, karena amarah yang tidak terkendali bisa menyebabkan tindakan impulsif yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dengan demikian, menghindari orang-orang yang berpotensi menyakiti jiwa kita dan menjaga ketenangan diri dari amarah merupakan upaya untuk menjaga jiwa kita dari bahaya dan ancaman, yang sejalan dengan salah satu tujuan utama syariat yaitu hifdzu an-nafs.
Selain itu, tindakan tersebut juga dapat dikaitkan dengan:
- Hifdzu al-'aql (menjaga akal): Amarah yang tidak terkendali dapat mengacaukan akal sehat dan menyebabkan seseorang bertindak tidak rasional.
- Hifdzu ad-din (menjaga agama): Kehilangan ketenangan dapat menyebabkan seseorang melakukan perbuatan dosa atau melanggar hukum agama.
Kesimpulannya, menjaga jiwa dari bahaya dan ancaman, termasuk menghindari omongan yang menyakiti dan menjaga ketenangan dari amarah, adalah hal yang penting dan sejalan dengan prinsip-prinsip maqashid syariah.
Wallahu'alam.
Ringkasan materi kitab Bidayah al-Hidayah dari Majelis Dzikir Ponpes. Asshiddiqiyah Jakarta.
في آدب الإستِيقاظ من النوم
