Katanya
Katanya, dalam diam saja dia masih sanggup mendoa, maka tak perlu heran dalam diam, dia masih sanggup mencintaimu.
Katanya, cintanya bukan puisi yang saban hari ia susun tuk kau baca, bukan pula alunan biola yang merasuk setiap ruang telinga.
Katanya, cintanya layaknya angin, hadirnya dapat kau rasa, tanpa perlu kau raba.
Datang dan Pergi
Hei, tahu tidak, bagaimana rasanya menggenggam angin?
Pertanyaanku memang tak masuk akal, tapi apakah itu tidak bisa dijadikan sebagai harapan?
Apa salah, jika di suatu malam aku bermimpi, angin yang tak kasatmata dan tak berupa namun terasa itu, benar-benar berada dalam genggamanku?
Apa aku salah, jika dunia di mimpiku yang lebih indah dari kenyataan, membuatku tak ingin terbangun dan memilih untuk tetap tinggal?
Apa yang salah dengan pemikiranku? Apa? Tidakkah kau pernah memikirkan yang seperti itu? Atau, hanya aku saja, kah?
Tiket, kau memberikannya kepadaku beberapa tahun lalu. Aku berterima kasih dan menerimanya dengan perasaan yang amat senang. Aku tahu, kesempatan belum mengetukkan jarinya ke pintuku, oleh karena itu, aku baru bisa berkata, "Semoga malam ini aku dapat pergi ke sana, melewati jembatan dan menikmati keindahan di atasnya. Semoga aku bisa berkunjung ke menara manapun, selama di sana aku dapat mengabadikan momen walaupun hanya sederhana, tapi itu cukup membuatku merasa istimewa. Menara mana saja, tidak harus yang terindah."
'Semoga-semoga' yang seperti itu, semoga saja hadir di dalam mimpiku.
"Tak lupa pula suara ombak berdebur sepanjang kau bertengger di jembatan itu." Oh ya, kau benar. Hampir saja aku melupakannya.
"Nanti, aku juga akan melambaikan tanganku kepada camar-camar yang terbang bebas di udara. Kapal-kapal yang sibuk berlalu lalang. Ya, akupun akan menikmati pemandangan tersebut." Rencana yang menyenangkan. Semoga suatu saat aku benar-benar dapat berada di sana.
"Gelecek ablam inşallah." Terima kasih atas doanya.
Aku tahu kau akan pergi. Selelah kau selamat sampai tujuanmu, aku senang dan bersyukur. Kemudian, kau menghilang. Menghilang dan membuatku merasakan ada sesuatu yang hilang pula.
Dalam kekosongan, aku mengisinya dengan mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Rutinitasku, tanggung jawabku. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menghampiriku. Apakah sesuatu itu mendatangiku? Ah, aku lupa akan rasa. Apakah karena terlalu lama memendam, lalu menganggapnya tak ada, membuatku menjadi 'tak peka'? Kalau begitu, itu apa? Apa namanya?
Di siang yang terik, kau datang seperti notifikasi di ponselku yang tiba-tiba saja berbunyi setelah sekian lama mati. Tunggu, apa itu benar-benar dirimu? Atau hanya sebatas notifikasi di ponselku?
Alah mak. Ternyata itu sekadar notifikasi.
Lalu, apakah sesuatu yang baru itu dinamakan sebuah kedatangan, kehadiran? Tapi aku butuh kejelasan. Kalau begitu, dapatkah seseorang menjelaskannya kepadaku?
Pentingkah "Sadar Diri" dalam Kehidupan?
Nabi Musa as. sadar bahwa dia
telah melakukan dua kali kesalahan, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih
makrifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir.[1]
Namun, pada perjalanan ketiga, Nabi Muas as. tidak sengaja secara tegas
bertanya, tetapi memberi saran. Kendati demikian, karena dalam saran tersebut
terdapat semacam unsur pertanyaan apakah diterima atau tidak, ini pun telah
dinilai sebagai pelanggaran oleh hamba Allah itu.[2]
Sayyidina Umar bin Khattab
pernah bertutur:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا
“Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”
Sayyidina Umar menganggap
bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak, karena
dengan mengevaluasi diri sendiri, manusia akan mengenali
kekurangan-kekurangannya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin.
Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan
di akhirat nanti menjadi sangat ringan.[3]
Dalam hadits Rasulullah
bersabda:
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ
نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ
هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Dari Syadad bin Aus ra., dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.'” (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).
Refleksi Nabi Musa terhadap apa
yang sudah terjadi pada peristiwa-peristiwa yang dilaluinya bersama Nabi Khidir
ini dapat menghadirkan kembali pengalamannya, mengelola emosi dan perasaannya,
serta melakukan evaluasi terhadap pengalamannya. Dengan demikian, Nabi Musa mendapatkan
suatu insight, menyadari kekeliruannya dan akan memperbaikinya di masa yang
akan datang.
[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian
al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), Cet ke-4, Vol: 7, h. 351.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, h.
352.
[3] Alif Budi
Luhur, “Muhasabah, Jalan Perbaikan Diri,” http://www.nu.or.id/post/read/74281/muhasabah-jalan-perbaikan-diri
(diakses pada 22 April 2019)
[4] M. Quraish Shihab, Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari
Surah-Surah Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), h.
317.
Benar-Benar Butiran Debu
Kemarin sudah revisi, tapi baru diberikan koreksiannya setelah 9 hari. Sudah sebelumnya pusing mengurus acara lomba karena menjadi anggota panitia, harap-harap cemas karena koreksian revisi tak kunjung diberikan. Oh my, gue tahu kalau di posisi dosen penguji yang banyak menangani revisian mahasiswanya pasti merepotkan, tapi gue juga berada di kondisi yang bisa dibilang repot. Apalah daya, kondisi yang (maaf banget bukannya gue tidak bersyukur) kurang menguntungkan buat gue.
Fix, revisi yang kemarin masih kudu diperbaiki, dan ini benar-benar mepet deadline. Hufh, rasanya gue pengen curhat, tapi... ada sesuatu yang mengganjal. Gue biasanya konsultasi sama someone, tapi ketakutan gue yang berasumsi bahwa gue cuma butiran debu yang kerjaannya selalu merepotkan. Hm..., sebenarnya gue aja yang terlalu parno. Tapi gimana, gue bukan siapa-siapa. Gue hanyalah gue, dan harus berjuang menjalani dan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab gue. Walaupun perasaan sedih yang gue rasa itu manusiawi, tapi keyakinan bahwa Tuhan pasti membantu gue itu seharusnya punya persentasi yang lebih besar. Karena gue adalah seorang hamba yang seharusnya berusaha, bertawakal, yakin bahwa apa yang terjadi pasti ada hikmahnya, dan Tuhan pasti selalu membantu hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.
Adzab dan Nikmat
Adzab yang paling bahaya adalah jika sudah tidak ada (memiliki) rasa takut dan rasa tertarik untuk beribadah kepada Allah swt. Tandanya, Allah telah menjauhkan dia terhadap-Nya. Allah menghinakannya. Mengapa demikian? Karena semestinya seseorang itu lebih mencintai kepada yg menciptakannya. Oleh karena itu, biasakan diri untuk ingat kepada Allah swt., dan banyak-banyak bersyukur atas apa yang ada, yang telah Allah berikan kepada kita.
Bila seseorang senang mengingat Allah, lebih banyak menyebut nama-Nya, maka Allah menariknya agar dekat kepada-Nya.
Terkadang kita tidak terpikir untuk khusyuk kepada Allah. Bila begitu, maka usahakan untuk khusyuk. Bagaimana shalat itu berkualitas, jika hati kita kemana-mana? Kalau begitu, usahakan fokus, ingat kepada Allah, karena ciri-ciri orang beriman adalah yang shalatnya khusyuk. Meski sulit, tapi tetap diusahakan.
Maka jadikanlah masa remaja sebagai masa yang indah untuk ingat kepada Allah, agar itu berlanjut hingga dewasa, dan tua dengan nikmat kecintaan yang semakin bertambah kepada Allah swt.
(source, pengajian Gus Nur Sidoarjo)
Note
Pesan Gus Nur, "Manusia zaman sekarang itu biasanya tidak kuat duduk lama di pengajian. Baca saja Ratib al-Haddad, agar hidup ini berkah. Biar kata tidak seperti orang-orang terdahulu yang kuat berlama-lama untuk ibadah, dengan membaca Ratib tersebut insyaallah berkah." (wallahu a'lam)
Pesan Gus Nur, "Manusia zaman sekarang itu biasanya tidak kuat duduk lama di pengajian. Baca saja Ratib al-Haddad, agar hidup ini berkah. Biar kata tidak seperti orang-orang terdahulu yang kuat berlama-lama untuk ibadah, dengan membaca Ratib tersebut insyaallah berkah." (wallahu a'lam)
Lomba Menggambar dan Mewarnai Tingkat TK dan SD/Sederajat Se-DKI Jakarta
11.28 |
Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta dalam Rangka HARLAH ke-34
〰〰 Proudly Present 〰〰
LOMBA MENGGAMBAR DAN MEWARNAI TINGKAT TK DAN SD/SEDERAJAT SE-DKI JAKARTA
Waktu Lomba: Sabtu, 20 April 2019 (08.00-selesai)
Tempat Lomba: Lapangan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta. (Jl. Panjang no. 6C Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat)
HTM : Rp 50.000
Fasilitas
1. Hiburan dongeng anak, oleh Kak Tony
2. Piala
3. Sertifikat
4. Snack
5. Kertas Gambar
6. Bazar
7. CD Haddad Alwi
7. CD Haddad Alwi
Kategori Lomba
Syarat dan Ketentuan Pendaftaran
✒ Melakukan pendaftaran ke panitia dengan cara :
Langsung ke sekretariat Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, atau
Via whatsapp ke +62 895-0352-2144 (Kak Oca)
Format: Kategori Lomba_Nama Peserta_Asal Sekolah.
Contoh: Mewarnai TK_Siti Aisyah_TK Harapan Bangsa Jakarta Barat.
Dengan membawa:
- 1 Lembar foto kopi keterangan identitas siswa (di halaman depan raport).
- 1 Lembar foto kopi nilai raport semester 1 tahun 2018.
- 1 Lembar foto kopi KK (untuk kategori lomba mewarnai tingkat TK yg belum memiliki raport/ belum sekolah)
Dapat diserahkan langsung ke sekretariat atau kirim foto ke whatsapp +62 895-0352-2144 (Kak Oca)
✒ Melakukan pembayaran administrasi ke sekretariat atau via transfer ke Rek DKI Syariah a/n Annisa Ratna Pratiwi 72020007484
Kirim bukti transfer ke Whatsapp 085776311362
✒ Ketentuan Lomba
1. Membawa meja dan pensil warna/crayon.
Hanya boleh menggunakan crayon standard sejenis Titi, Greebel, Pascola, dll.
Tidak boleh mengguakan crayon istimewa seperti Carandache, Grasp, Lyrax, Greebel Artist, Titi Premium, dll.
2. Membawa 1 porsi buah (jenis buah bebas). Digunakan untuk gerakan makan buah bersama.
Tidak boleh mengguakan crayon istimewa seperti Carandache, Grasp, Lyrax, Greebel Artist, Titi Premium, dll.
2. Membawa 1 porsi buah (jenis buah bebas). Digunakan untuk gerakan makan buah bersama.
Tema Lomba
➱Mewarnai : Cinta Alam
➱Menggambar : Pesantrenku Keren
Juara Lomba
Mewarnai TK
- Juara 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara 1, 2 dan 3 (umum)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (umum)
Mewarnai SD Kelas 1-3
- Juara 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara 1, 2 dan 3 (umum)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (umum)
Menggambar SD Kelas 4-6
- Juara 1, 2 dan 3
- Juara harapan 1, 2 dan 3
- Juara 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara 1, 2 dan 3 (umum)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (umum)
Mewarnai SD Kelas 1-3
- Juara 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara 1, 2 dan 3 (umum)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (undangan)
- Juara harapan 1, 2 dan 3 (umum)
Menggambar SD Kelas 4-6
- Juara 1, 2 dan 3
- Juara harapan 1, 2 dan 3
Apa saja ya, hadiahnya?
- Piala
- Sertifikat
- Uang Pembinaan (untuk juara 1-3)
Tunggu apalagi? Yuk daftarkan segera. Kuota terbatas, loh.
Pendaftaran dan Pembayaran ditutup tanggal 18 April 2019
Info lebih lanjut hubungi Whatsapp
+62 895-0352-2144 (Kak Oca)
+62 858-8828-2266 (Mr. Ridwan)
❄ Generasi Millenial yang Sportif, Sehat, Kreatif, dan Berprestasi Bersama Santri ❄
Tanpa Kata, Tanpa Rasa
22.56 |
Label:
Expression
Benar-benar tak terbendung lagi
Bibirmu tak dapat berkata
Hatimu tak kuasa
Matamu,
matamu meneteskan butir-butir air mata
Apa?
Kenapa?
Kenapa?
Tiada kata
Tiada rasa
Tiada rasa
Sudahlah, lupakan saja
Lupakan!
Lupakan!
Kau ingin mengatakannya,
tapi tak satu katapun yang berhasil keluar
Lalu kau menangis
Ya sudah, menangis saja
tapi tak satu katapun yang berhasil keluar
Lalu kau menangis
Ya sudah, menangis saja
Lagi-lagi, kau mencoba untuk melupakan
Membuang semua rasa
Membendung semua kata
Membuang semua rasa
Membendung semua kata
Kau menguncinya rapat-rapat
Tidak akan ada lagi yang dapat membukanya
Tidak akan ada lagi yang dapat membukanya
Yakin itu kemauanmu?
Lupakan!
Kunci!
Kunci!
Tanpa rasa
Tanpa kata
Biarkan begitu saja
Tanpa kata
Biarkan begitu saja
Langganan:
Komentar (Atom)














