Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Blue

Sepertinya, kau sudah menikmati kebiasaanmu. 

Hmm. Kenapa, ya?

Apa karena orang-orang di sekitarmu lebih baik? 

Atau karena...,
kau yang tak lagi hanya melihat aspal abu-abu di hadapanmu, 
melainkan juga biru di atas kalian.






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Katanya

Katanya, dalam diam saja dia masih sanggup mendoa, maka tak perlu heran dalam diam, dia masih sanggup mencintaimu. 

Katanya, cintanya bukan puisi yang saban hari ia susun tuk kau baca, bukan pula alunan biola yang merasuk setiap ruang telinga. 

Katanya, cintanya layaknya angin, hadirnya dapat kau rasa, tanpa perlu kau raba.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Datang dan Pergi

Hei, tahu tidak, bagaimana rasanya menggenggam angin? 

Pertanyaanku memang tak masuk akal, tapi apakah itu tidak bisa dijadikan sebagai harapan? 

Apa salah, jika di suatu malam aku bermimpi, angin yang tak kasatmata dan tak berupa namun terasa itu, benar-benar berada dalam genggamanku? 

Apa aku salah, jika dunia di mimpiku yang lebih indah dari kenyataan, membuatku tak ingin terbangun dan memilih untuk tetap tinggal? 

Apa yang salah dengan pemikiranku? Apa? Tidakkah kau pernah memikirkan yang seperti itu? Atau, hanya aku saja, kah? 

Tiket, kau memberikannya kepadaku beberapa tahun lalu. Aku berterima kasih dan menerimanya dengan perasaan yang amat senang. Aku tahu, kesempatan belum mengetukkan jarinya ke pintuku, oleh karena itu, aku baru bisa berkata, "Semoga malam ini aku dapat pergi ke sana, melewati jembatan dan menikmati keindahan di atasnya. Semoga aku bisa berkunjung ke menara manapun, selama di sana aku dapat mengabadikan momen walaupun hanya sederhana, tapi itu cukup membuatku merasa istimewa. Menara mana saja, tidak harus yang terindah." 

'Semoga-semoga' yang seperti itu, semoga saja hadir di dalam mimpiku. 

"Tak lupa pula suara ombak berdebur sepanjang kau bertengger di jembatan itu."  Oh ya, kau benar. Hampir saja aku melupakannya. 

"Nanti, aku juga akan melambaikan tanganku kepada camar-camar yang terbang bebas di udara. Kapal-kapal yang sibuk berlalu lalang. Ya, akupun akan menikmati pemandangan tersebut." Rencana yang menyenangkan. Semoga suatu saat aku benar-benar dapat berada di sana. 

"Gelecek ablam inşallah." Terima kasih atas doanya. 

Aku tahu kau akan pergi. Selelah kau selamat sampai tujuanmu, aku senang dan bersyukur. Kemudian, kau menghilang. Menghilang dan membuatku merasakan ada sesuatu yang hilang pula. 

Dalam kekosongan, aku mengisinya dengan mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Rutinitasku, tanggung jawabku. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menghampiriku. Apakah sesuatu itu mendatangiku? Ah, aku lupa akan rasa. Apakah karena terlalu lama memendam, lalu menganggapnya tak ada, membuatku menjadi 'tak peka'? Kalau begitu, itu apa? Apa namanya? 



Di siang yang terik, kau datang seperti notifikasi di ponselku yang tiba-tiba saja berbunyi setelah sekian lama mati. Tunggu, apa itu benar-benar dirimu? Atau hanya sebatas notifikasi di ponselku?

Alah mak. Ternyata itu sekadar notifikasi. 

Lalu, apakah sesuatu yang baru itu dinamakan sebuah kedatangan, kehadiran? Tapi aku butuh kejelasan. Kalau begitu, dapatkah seseorang menjelaskannya kepadaku? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pentingkah "Sadar Diri" dalam Kehidupan?


Nabi Musa as. sadar bahwa dia telah melakukan dua kali kesalahan, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih makrifat mendorongnya bermohon agar diberi kesempatan terakhir.[1] Namun, pada perjalanan ketiga, Nabi Muas as. tidak sengaja secara tegas bertanya, tetapi memberi saran. Kendati demikian, karena dalam saran tersebut terdapat semacam unsur pertanyaan apakah diterima atau tidak, ini pun telah dinilai sebagai pelanggaran oleh hamba Allah itu.[2]

Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Sayyidina Umar menganggap bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak, karena dengan mengevaluasi diri sendiri, manusia akan mengenali kekurangan-kekurangannya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan di akhirat nanti menjadi sangat ringan.[3]

Dalam hadits Rasulullah bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Dari Syadad bin Aus ra., dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.'” (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).

Refleksi Nabi Musa terhadap apa yang sudah terjadi pada peristiwa-peristiwa yang dilaluinya bersama Nabi Khidir ini dapat menghadirkan kembali pengalamannya, mengelola emosi dan perasaannya, serta melakukan evaluasi terhadap pengalamannya. Dengan demikian, Nabi Musa mendapatkan suatu insight, menyadari kekeliruannya dan akan memperbaikinya di masa yang akan datang.


Dalam hal ini, pelajaran yang dapat diambil adalah, seseorang yang melakukan kesalahan serupa berkali-kali, hendaknya menyadari kelemahan dirinya dan mempertimbangkan untuk melakukan langkah lain yang lebih sesuai dengan bakat/kemampuannya.[4] Karena kesadaran diri merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk introspeksi dan termasuk memperoleh pengertian dan pengetahuan mendalam tentang kekuatan, kualitas, kelemahan, kekurangan, ide, pemikiran, keyakinan, idealisme, respon, reaksi, sikap, emosi, dan motivasi seseorang. Sehingga introspeksi juga termasuk dalam menilai bagaimana kita dipandang oleh orang lain dan bagaimana pengaruh tingkah laku, reaksi, dan tabiat kita pada orang lain sebagai acuan dalam memperbaiki hubungan dan kerjasama kita dengan orang lain. (wallahu 'alam)



[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), Cet ke-4, Vol: 7,  h. 351.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, h. 352.
[3] Alif Budi Luhur, “Muhasabah, Jalan Perbaikan Diri,” http://www.nu.or.id/post/read/74281/muhasabah-jalan-perbaikan-diri (diakses pada 22 April 2019)
[4] M. Quraish Shihab, Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), h. 317.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Benar-Benar Butiran Debu

Kemarin sudah revisi, tapi baru diberikan koreksiannya setelah 9 hari. Sudah sebelumnya pusing mengurus acara lomba karena menjadi anggota panitia, harap-harap cemas karena koreksian revisi tak kunjung diberikan. Oh my, gue tahu kalau di posisi dosen penguji yang banyak menangani revisian mahasiswanya pasti merepotkan, tapi gue juga berada di kondisi yang bisa dibilang repot. Apalah daya, kondisi yang (maaf banget bukannya gue tidak bersyukur) kurang menguntungkan buat gue.

Fix, revisi yang kemarin masih kudu diperbaiki, dan ini benar-benar mepet deadline. Hufh, rasanya gue pengen curhat, tapi... ada sesuatu yang mengganjal. Gue biasanya konsultasi sama someone, tapi ketakutan gue yang berasumsi bahwa gue cuma butiran debu yang kerjaannya selalu merepotkan. Hm...,  sebenarnya gue aja yang terlalu parno. Tapi gimana, gue bukan siapa-siapa. Gue hanyalah gue, dan harus berjuang menjalani dan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab gue. Walaupun perasaan sedih yang gue rasa itu manusiawi, tapi keyakinan bahwa Tuhan pasti membantu gue itu seharusnya punya persentasi yang lebih besar. Karena gue adalah seorang hamba yang seharusnya berusaha, bertawakal, yakin bahwa apa yang terjadi pasti ada hikmahnya, dan Tuhan pasti selalu membantu hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Adzab dan Nikmat

Adzab yang paling bahaya adalah jika sudah tidak ada (memiliki) rasa takut dan rasa tertarik untuk beribadah kepada Allah swt. Tandanya, Allah telah menjauhkan dia terhadap-Nya. Allah menghinakannya. Mengapa demikian? Karena semestinya seseorang itu lebih mencintai kepada yg menciptakannya. Oleh karena itu, biasakan diri untuk ingat kepada Allah swt., dan banyak-banyak bersyukur atas apa yang ada, yang telah Allah berikan kepada kita. 

Bila seseorang senang mengingat Allah, lebih banyak menyebut nama-Nya, maka Allah menariknya agar dekat kepada-Nya.
Terkadang kita tidak terpikir untuk khusyuk kepada Allah. Bila begitu, maka usahakan untuk khusyuk. Bagaimana shalat itu berkualitas, jika hati kita kemana-mana? Kalau begitu, usahakan fokus, ingat kepada Allah, karena ciri-ciri orang beriman adalah yang shalatnya khusyuk. Meski sulit, tapi tetap diusahakan.

Maka jadikanlah masa remaja sebagai masa yang indah untuk ingat kepada Allah, agar itu berlanjut hingga dewasa, dan tua dengan nikmat kecintaan yang semakin bertambah kepada Allah swt.
(source, pengajian Gus Nur Sidoarjo) 


Note
Pesan Gus Nur, "Manusia zaman sekarang itu biasanya tidak kuat duduk lama di pengajian. Baca saja Ratib al-Haddad, agar hidup ini berkah. Biar kata tidak seperti orang-orang terdahulu yang kuat berlama-lama untuk ibadah, dengan membaca Ratib tersebut insyaallah berkah." (wallahu a'lam) 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lomba Menggambar dan Mewarnai Tingkat TK dan SD/Sederajat Se-DKI Jakarta

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta dalam Rangka HARLAH ke-34

〰〰 Proudly Present 〰〰

 LOMBA MENGGAMBAR DAN MEWARNAI TINGKAT TK DAN SD/SEDERAJAT SE-DKI JAKARTA 


Waktu Lomba: Sabtu, 20 April 2019 (08.00-selesai)
         
Tempat Lomba: Lapangan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta. (Jl. Panjang no. 6C Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat)

HTM : Rp 50.000

Fasilitas 
1. Hiburan dongeng anak, oleh Kak Tony 
2. Piala 
3. Sertifikat 
4. Snack 
5. Kertas Gambar 
6. Bazar
7. CD Haddad Alwi

 Kategori Lomba 
1. Lomba mewarnai
        - Tingkat TK (undangan dan umum)
          - Tingkat SD Kelas 1-3 (undangan dan umum)
        2. Lomba menggambar
              - Tingkat SD Kelas 4-6

          Syarat  dan Ketentuan Pendaftaran
          ✒ Melakukan pendaftaran ke panitia dengan cara :
          Langsung ke sekretariat Pondok Pesantren Asshiddiqiyah,  atau
          Via whatsapp ke +62 895-0352-2144 (Kak Oca)

          Format: Kategori Lomba_Nama Peserta_Asal Sekolah.
          Contoh: Mewarnai TK_Siti Aisyah_TK Harapan Bangsa Jakarta Barat.

          Dengan membawa:
          • 1 Lembar foto kopi keterangan identitas siswa (di halaman depan raport). 
          • 1 Lembar foto kopi nilai raport semester 1 tahun 2018.
          • 1 Lembar foto kopi KK (untuk kategori lomba mewarnai tingkat TK yg belum memiliki raport/ belum sekolah)
          Dapat diserahkan langsung ke sekretariat atau kirim foto ke whatsapp +62 895-0352-2144 (Kak Oca)

          ✒ Melakukan pembayaran administrasi ke sekretariat atau via transfer ke Rek DKI Syariah a/n Annisa Ratna Pratiwi 72020007484 
          Kirim bukti transfer ke Whatsapp 085776311362

          ✒ Ketentuan Lomba
          1. Membawa meja dan pensil warna/crayon.
              Hanya boleh menggunakan crayon standard sejenis Titi,  Greebel, Pascola, dll.
             Tidak boleh mengguakan crayon istimewa seperti Carandache,  Grasp, Lyrax, Greebel Artist, Titi Premium, dll.
          2. Membawa 1 porsi buah (jenis buah bebas).  Digunakan untuk gerakan makan buah bersama.

          Tema Lomba
          ➱Mewarnai : Cinta Alam
          ➱Menggambar : Pesantrenku Keren 

          Juara Lomba
          Mewarnai TK
          - Juara 1, 2 dan 3 (undangan)
          - Juara 1, 2 dan 3 (umum)
          - Juara harapan 1, 2 dan 3 (undangan)
          - Juara harapan 1, 2 dan 3 (umum)

          Mewarnai SD Kelas 1-3
          - Juara 1, 2 dan 3 (undangan)
          - Juara 1, 2 dan 3 (umum)
          - Juara harapan 1, 2 dan 3 (undangan)
          - Juara harapan 1, 2 dan 3 (umum)

          Menggambar SD Kelas 4-6
          - Juara 1, 2 dan 3
          - Juara harapan 1, 2 dan 3

          Apa saja ya, hadiahnya?
          • Piala
          • Sertifikat
          • Uang Pembinaan (untuk juara 1-3)

          Tunggu apalagi? Yuk daftarkan segera. Kuota terbatas, loh.
          Pendaftaran dan Pembayaran ditutup tanggal 18 April 2019

          Info lebih lanjut hubungi Whatsapp
          +62 895-0352-2144 (Kak Oca)
          +62 858-8828-2266 (Mr. Ridwan)

          ❄ Generasi Millenial yang Sportif, Sehat, Kreatif,  dan Berprestasi Bersama Santri ❄

          • Digg
          • Del.icio.us
          • StumbleUpon
          • Reddit
          • RSS

          Tanpa Kata, Tanpa Rasa



          Benar-benar tak terbendung lagi
          Bibirmu tak dapat berkata
          Hatimu tak kuasa
          Matamu,
          matamu meneteskan butir-butir air mata

          Apa?
          Kenapa?
          Tiada kata
          Tiada rasa

          Sudahlah, lupakan saja
          Lupakan!

          Kau ingin mengatakannya,
          tapi tak satu katapun yang berhasil keluar
          Lalu kau menangis
          Ya sudah, menangis saja

          Lagi-lagi, kau mencoba untuk melupakan
          Membuang semua rasa
          Membendung semua kata

          Kau menguncinya rapat-rapat
          Tidak akan ada lagi yang dapat membukanya 
          Yakin itu kemauanmu?

          Lupakan!
          Kunci!

          Tanpa rasa
          Tanpa kata
          Biarkan begitu saja

          • Digg
          • Del.icio.us
          • StumbleUpon
          • Reddit
          • RSS