Tak mungkin aku bergantung pada obormu dan mendapatkan kehangatan di keheningan malam. Kalau bukan diriku sendiri, siapa lagi yang akan mengobarkan api kehidupanku.
Soal Latihan English in Use Unit 64-73 (Part2)
11. Does he use his English much?
a. No, he don’t have any opportunity to use his English.
b. No, he have much chance to use his English.
c. Yes, he doesn’t have little opportunity using his English.
d. Yes, he has much chance using his English.
12. Lee had to buy … bread because his mom wanted to make sandwiches.
a. Some
b. A
c. An
d. The
13. Choose one sentence using an –ing clause from this pair of sentence.
I got home. I was feeling so tired
a. I got home was felling so tired.
b. I got felling so tired.
c. I got home felling so tired.
d. I felling so tired.
14. Prince Hwang Zhou couldn’t find his princess at first. In the end he found her … in the garden.
a. Sit
b. Sits
c. Sitting
d. To sit
15. Kyuto cut her hand …
a. Fasting
b. Chopping meal
c. Singing
d. Crying
16. Joe hurt his arm … badminton.
a. Play
b. To play
c. Playing
d. Plays
17. If we work hard at our job, we have a good …
a. Change to be promoted
b. Opportunity for promote
c. Chance of being promoted
d. Opportunity to being promoted
18. Choose the –ing clause below that explain the reason of doing something
a. Geofany is eating burger because of hungry.
b. Jill wanted to buy something.
c. Coming late, I ask apologize to my teacher.
d. Help you while listening my favourite music.
19. I catch him …
a. Running
b. Killing
c. Left
d. Lying
20. Rara would prefer … to stay at home.
a. Bikes
b. Biking
c. To bike
d. Biked
Soal Latihan English in Use Unit 64-73 (Part3)
Correct: ……………………………………………………………………………………………………….
Correct: ……………………………………………………………………………………………………….
No, I am going to be ….. famous singer.
I prefer go to …… teathre rather than concerts.
Soal Latihan English in Use Unit 64-73 (Part1)
A. Choose (a,b,c or d) as your answer!
1. Having ... a guitar, my brother did his homework.
a. Buy
b. Buys
c. To buy
d. Bought
2. Dee is playing harmonica out loud in Kirei’s room. You know that it’ll make Kirei more get headache. What do you say to Dee?
a. You’d better play the harmonica more out loud.
b. You’d better not to play the harmonica now.
c. You’d better not played the harmonica.
d. You’d better play it outside than bother her here.
3. I’d rather ... than go by car.
a. To walk
b. Walk
c. Walks
d. Walked
4. Melody and friends were seen ... “hide and seek” in Vanhouten’s backyard.
a. Play
b. To play
c. Plays
d. Played
5. Cicilia has got very long brown ...
a. Hair
b. Hairs
c. A hair
d. Some hair
6. ... a car, Mrs. Park Yeon finds it difficult to get around.
a. Having
b. Has
c. Not having
d. Not have
7. Jane prefers ... to travelling by plane.
a. To drive
b. Drive
c. Driving
d. Drives
8. Fia: Shall we make a brownies?
Fifi: Well, I’d prefer … a rainbow cake now.
a. Make
b. Made
c. To make
d. Making
9. Can you smell something …?
a. Burn
b. Burning
c. To burn
d. Burned
10. Listen! Can you hear your sister …?
a. Cry
b. Cries
c. Crying
d. To cry
Iselam Moja
Beberapa saat kemudian Ak Mal datang membawa buku literatur yang
dibelinya di toko buku dan memperlihatkannya pada sang kakak. Hu Saen pun
memperkenalkan adiknya kepada Naera.
Wajah dan nama Naera itu seperti ..., tak terlalu memedulikannya Ak Mal
permisi masuk ke dalam. Naera masih terkagum-kagum pada kaligrafi tersebut. Hu
Saen tersenyum melihat tingkah gadis itu kemudian mengajak Naera masuk, tapi ia
mempersilakannya duluan.
Semua anggota keluarga berkumpul kembali di ruangan. Tuan Chang memperkenalkan kedua putranya yang baru pulang dari Baekja, tempat kerajinan tembikar ternama di Oegosan Onggi, kepada keluarga Tuan Kiyomizu.
Tadinya tak begitu tertarik, tapi, bagus juga pikirnya. Naera terus memandangi Nyonya Heo Or Lin dan kain penutup kepala yang ia kenakan. Sederhana, namun penuh kewibawaan. Kalau sudah mengagumi sesuatu, biasanya Naera terus mengindahkannya dan penasaran akan cara pembuatannya. Seperti kaligrafi tadi.
Or Lin merasa dirinya sedang diperhatikan, "Apa pendapatmu tentang Iselam moja yang kukenakan, Nona Kiyomizu?" Gadis kecil itu tersenyum simpul. Senyumannya tak terurai lebar, tapi kecil seperti simpul tali.
"Aku belum pernah melihat dan tahu nama benda itu sebelumnya, tapi kau sungguh menawan mengenakannya, Nyonya Heo."
"Ini adalah peninggalan mendiang kakakku, Naera," tiba-tiba tuan Kiyomizu teringat wanita yang ia temukan di hutan tujuh tahun silam. Yang dikenakannya ternyata Iselam moja. Model sulamannya sama, hanya warna kainnya saja yang berbeda.
"Kau ingin mencoba memakainya, Naera?" tanya Lin ramah.
Tawaran yang menyenangkan. Naera mengiyakan tanpa sedikit pun keraguan. Tuan Kiyomizu Arata dan istrinya, Nyonya Bae Gil Sang, bertatapan sejenak lalu saling melempar senyum, membiarkan anak semata wayangnya mengenakan Iselam moja.
"Tunggu sebentar," pinta Lin pada Naera, "Aku akan mengambilkannya untukmu."
"Maaf telah merepotkan Anda, Nyonya Lin."
"Tidak sama sekali, Nyonya Sang" Dengan senang hati, Lin membantu Naera mengenakan Iselam moja.
Dari awal Ak Mal memang sangsi. Tanpa memperlihatkan ketidaktahuannya yang terbayar terlambat, ia menatap Naera tanpa berkedip lalu bergegas menundukkan pandangannya. Jelas saja, bocah kecil itu memang perempuan.
"Kalau mau, kau boleh memilikinya," Lin tersenyum ramah.
"Benarkah?" tanya Naera tak percaya. Lin mengangguk mengiyakan.
"Senangnya. Aku sangat menyukai Iselam moja merah muda ini. Sulaman kupu-kupunya unik sekali. Terima kasih banyak, Nyonya Heo." Naera merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ketentraman yang menyelimuti hatinya ketika mengenakan Iselam moja. Ia akan menyimpannya sebaik mungkin.
••• To be continued •••
Gulungan Guānghuá Bon 내라의 이스람 모자 a.k.a Naera's Veil (Piece 1)
Syajarah Thayyibah 내라의 이스람 모자 a.k.a Naera's Veil (Piece 2)
Syajarah Thayyibah
내라의 이스람 모자
a.k.a Naera's Veil (Piece 2)
Flashsback
Di kejauhan, seorang pria tinggi menggunakan pakaian hitam dan penutup wajah
memantau Naera dari dahan pohon. Tatapannya tajam. Sepasang mata sipitnya
cemerlang, terang seperti cahaya rembulan. Tenang bagaikan malam, tapi penuh ketegasan.
"Tolong sampaikan surat ini pada seseorang di sana," dagunya menunjuk
ke sebuah Banua Tanda dengan tsuboniwa yang cukup indah.
Ia menaburkan bubuk arang secara tidak merata ke sebagian bulu Rong Yi,
"Jatuhkan saja di atas kolam lalu segera kembali. Mengerti?"
Seekor merpati belang mengepakkan sayapnya dengan gesit, meninggalkan tuannya.
Pria itu naik ke dahan pohon yang lebih tinggi. Tubuhnya begitu ringan.
Flashback end
Karena terbentur tiang di pelataran kamarnya, Naera terbangun. Ia masih
menggenggam surat itu. Ahh, beberapa koleksi baju wanita tadi hanya mimpi di
siang bolong.
Pantas saja ada yang aneh. Hampir setengah tahun ia tinggal di rumah bibi Wa
Ode Laila dan paman Kiyomizu Haru di Baubau, masih saja belum terampil
menjahit, apalagi membuat pakaian. Yang bisa dilakukannya hanya membuat
lapa-lapa.
Ketika hendak mengambil kombo di lemari, tanpa sengaja ia menjatuhkan kain
penutup kepala yang didapatnya dari Nyonya Or Lin. Sudah beberapa minggu ini ia
ingin mengenakan kain penutup kepala tersebut, berusaha membulatkan tekad untuk
berubah menjadi lebih baik, namun hati kecilnya masih berbisik, sepertinya
aku butuh persiapan sedikit lagi.
Flashback
Keluarga Chang menjamu tetangga baru mereka, keluarga Kiyomizu. Walaupun tak
direncanakan sebelumnya, namun acara berlangsung dengan baik. Kedua keluarga
tersebut nampak nyaman satu sama lain. Karena profesi yang sama, obrolan mereka
tak jauh seputar perdagangan. Naera tidak tertarik dengan perbincangan para
orang tua. Setelah memberi penghormatan, ia meminta izin untuk keluar sebentar.
Di taman, Naera mengamati ukiran indah di sebuah pohon besar. "Aneh. Apa
ini sebuah tulisan?" dahinya berkerut keheranan, "Bagaimana cara
membacanya?"
"Syajarah thayyibah," sahut seorang pria muda di belakangnya.
Naera segera berbalik dan membungkukkan badanya untuk memberikan salam.
Lelaki itu membalas salamnya, "Apa kau tetangga baru kami?"
"Ya." Naera memperkenalkan dirinya, "Namaku Kiyomizu Naera, Tuan
Muda. Senang bertemu dengan Anda."
"Aku Chang Hu Saen. Senang bertemu denganmu juga," senyumannya
membuat Naera terpesona.
"Tapi, mengapa itu seperti ..." ia meraba-raba dagunya yang
berjenggot, mengamati anak kecil berbaju pendekar pria di hadapannya.
Menghela napas, "Maaf Tuan Muda, apakah ada yang salah dengan
penampilanku?"
"Oh, maafkan aku Nona Kiyomizu." Wajah Naera begitu polos dan
mengemaskan, "Kalau begitu panggil saja aku Orabi-san. Ya?" pinta Hu
Saen.
"Orabi-san?" Hanya memastikan, apakah ia salah dengar atau
tidak.
"Ya, panggil aku seperti itu, Nona Kiyomizu." Tampaknya Hu Saen ingin
menjadi lebih akrab, sampai menciptakan panggilan unik begitu.
Naera tidak merasakan canggung sama sekali dengan pria itu dan langsung
menawarkan Hu Saen untuk memanggil namanya, bukan nama marganya.
"Kalau boleh tahu, apa artinya syajarah thayyibah,
Orabi-san?" Comel juga anak satu ini. Seperti ada daya tarik tersendiri
walaupun wajahnya tak terlalu cantik.
"Pohon yang baik," Hu Saen tersenyum lagi. "Tidak semua pohon
itu baik, subur dan banyak manfaat. Perumpamaan seorang mukmin,
ibarat pohon yang baik."
Bingung, Naera mengulangi kata asing yang Hu Saen katakan, "Mukmin?"
ia belum pernah mendengar kata itu sebelumnya, "Apa itu?"
"Orang yang memenuhi lima rukun-rukun Islam dengan sebaik-baiknya itu
disebut muslim. Islam sendiri adalah kepercayaan yang kami
anut," terang Hu Saen perlahan. "Nah, seorang muslim dikatakan
sebagai mukmin ketika ia mengimani rukun-rukun iman. Iman
berarti membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan
dengan perbuatan. Ketika ia mengimani Allah sebagai Tuhan, maka ia melaksanakan
apa yang Tuhan perintahkan dan meninggalkan apa yang Tuhan larang. Oleh karena
itu, mukmin berada setingkat di atas muslim dalam penerapan apa yang ia
yakini." Dahi Naera mulai berkerut, "Oh, maaf," tersadar akan
sesuatu, ia meminta maaf dan gadis di hadapannya nampak sedang memikirkan
sesuatu. "Tidak seharusnya aku mengatakan ini. Maafkan aku Naera."
"Tidak Orabi-san, lanjutkan saja. Aku cukup mengerti apa yang kau katakan,
hanya ... aku perlu sedikit berpikir lagi." Hu Saen membiarkannya sejenak.
"Emm. Dapatkah kau meneruskan syajarah thayyibah-nya?" Ia
begitu antusias.
"Baiklah," jawab Hu Saen, "Kalau itu maumu."
"Tapi, kalau aku ingin bertanya sesuatu, bersediakah kau menjawabnya
dengan senang hati, bolehkah?"
"Tentu saja," Hu Saen tersenyum. "Apa yang akan kau tanyakan,
adik kecil?
"Belum tahu. Hanya ... mungkin saja, nanti ada sesuatu yang belum aku
mengerti dan membuatku penasaran. Kau tidak akan membuatku patah hati kan,
Orabi-san, wahai kakak berbadan tinggi?"
Hu Saen tertawa lepas. "Lucu sekali. Kau benar-benar ...," tawanya
berlanjut kemudian suaranya melirih. "Memangnya, apa yang membuatmu patah
hati, Naera?"
"Aku bertanya dan orang yang kutanya mengabaikanku karena
pertanyaanku," bibirnya membulat. "Seperti itulah patah
hatiku," jawabnya polos. "Walaupun kedengarannya aneh, aku harap
pertanyaanku dapat ditemukan jawabannya dan tidak membuatku penasaran
lagi," Naera tersenyum. Manis sekali.
Hu Saen menepuk-nepuk sebelah pundak Naera, "Tenang saja, sebagai kakak
barumu, aku akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaanmu." Kakak baru? Naera
mengerutkan kedua alisnya. Entahlah terserah orang ini
saja, pikirnya. "Dan bersabarlah, kalau pertanyaan itu belum dapat
kujawab. Akan aku coba carikan jawabannya, ya."
"Aku cukup sabar," ujar Naera. "Terima kasih banyak,
Orabi-san." Ia mengacungkan kedua jempolnya, "Kau adalah tetangga
yang sangat baik!"
Hu Saen menjelaskan bahwa pohon dapat disebut "thayyibah" atau baik, apabila ia memiliki empat sifat mendasar, seperti halnya manusia. Pertama, bentuk luar yang indah dipandang. Maknannya, secara fisik, penampilan mukmin harus indah dan bersih. Wajah serta senyumannya menyenangkan orang lain. Sebisa mungkin tidak murung, meski sedang bersedih ataupun marah. Tetaplah tersenyum, karena senyuman akan mendatangkan sinyal positif. Kedua, pohon itu memiliki aroma yang sedap, wangi, seperti kayu gaharu atau pohon yang menghasilkan bunga dan dedaunan yang harum. Seorang mukmin pun harus menjaga aroma tubuhnya agar tetap wangi, atau minimal tidak menimbulkan bau tak sedap yang dapat mengganggu orang lain. Ketiga, memiliki buah yang harum dan lezat rasanya. Seperti halnya mukmin yang harus senantiasa menjaga lisannya. Kata-kata yang terlontar menentramkan, menyenangkan, dan menghibur. Jika tidak, hendaklah diam agar perkataan tersebut tak menyakiti perasaan orang lain. Keempat, baik dari akar, batang, dan dedaunannya memiliki manfaat dan khasiat bagi lingkungan sekitar. Begitu pula dengan keberadaan mukmin yang memberikan mafaat bagi dirinya dan orang lain. Syajarah thayyibah itu adalah kaligrafi Arab buatan adiknya.
Glossary~~~
Banua Tanda: Rumah adat Sulawesi Tenggara
Tsuboniwa: Taman sempit bergaya Jepang di halaman rumah (taman minimalis ala Jepang)
Lapa-lapa: Makanan yang terbuat dari beras ketan putih atau ketan hitam,
kuliner Sulawesi Tenggara
Orabi-san: Orabi atau yang biasa dipakai adalah sebutan Orabeoni berarti panggilan adik perempuan pada kakak laki-laki di Korea (identik dengan zaman kerajaan), sedangkan penggunaan akhiran ~san adalah panggilan ala Jepang yang universal, baik itu untuk kalangan tua, muda, laki-laki maupun perempuan.
Gulungan Guānghuá Bon
"Terima kasih banyak, Orabi-san." Lukisan Benteng Keraton Liya
itu benar-benar hidup, seperti sedang memandang aslinya. Naera pun meletakan
kembali benda itu ke dalam kotak kecil berukirkan setangkai Maehwa dan
menyimpannya.
Di taman Kairaku, Naera menilik bunga Ajisai ungu lekat-lekat, "Semalam, aku seperti mendengar suaramu. Tapi, bagaimana bisa?"
Merasa ada yang memata-matai, ia mengeluarkan pedangnya, "Siapa di sana?!"
Naera melompati pagar tembok dan memanjat pohon. Keadaan atap dan suasana sekitar aman. Tak ada apapun yang mencurigakan, pikirnya. Tapi, sedari beberapa hari lalu, seperti ada sesuatu yang ..., atau mungkin hanya perasaannya saja? Entahlah.
Masih dalam posisi waspada, Naera melihat seekor merpati terbang membawa sepucuk surat. Ia segara mendarat ke tanah dan mengejarnya. Burung tersebut menjatuhkan surat tepat di atas kolam teratai. Naera yang terjatuh karena kehilangan keseimbangan saat berdiri di atas pegangan jembatan, sontak melakukan gerakan salto di udara. Gadis berpakaian pendekar pria itu berhasil berdiri di tengah kolam dan menggenggam gulungan Guānghuá Bon, kertas yang biasa digunakan para bangsawan Qing.
Sayangnya, tidak lama kemudian ia terpeleset, "Menyebalkan!" Sekujur tubuhnya basah kuyup. Untung saja surat itu berhasil terselamatkan.
"Semua ini karena belajar memasak dan menjahit yang membosankan itu, kan?" Naera mendengus kesal, ia merasa tubuhnya menjadi lebih kaku, "Padahal, jelas lebih menyenangkan berlatih bela diri dengan ayah." Naera beranjak bangun dan berjalan menuju kamarnya. Mulutnya membulat.
Kerang-kerang dan pasir pantai yang kau inginkan, aku bisa
mendapatkannya di Taizhou. Bila ada kesempatan dan memang sebuah takdir, itu
akan menjadi hadiahmu setelah aku menyelesaikan semua urusanku di Zhejiang.
Jadilah gadis manis dan belajarlah dengan benar, Kiyomizu Naera.
-Chang Hu Saen-
"Keterlaluan. Apa menurutmu aku belum menjadi gadis manis?" Ia letakkan suratnya di atas meja kecil.
Naera memperhatikan beberapa koleksi hanbok, yukata dan kombo buatannya yang ia pajang pada patung-patung kayu di sudut kiri ruangannya.
"Baiklah," senyumannya mengembang, "Dengan benda ini, aku akan nampak manis. Bahkan gula-gula iri melihatnya. Melihat baju ini." Naera memilih hanbok wanita dengan jeogori berwarna hijau muda dan chima merah fanta motif bunga, "Tunggu dulu, mengapa harus jatuh di atas kolam?" ia mengedip-ngedipkan mata dan menyimpulkan seenaknya, "Mungkin takdir Tuhan agar aku terpeleset dan berganti pakaian ini."
To be continuedヽ(^。^)ノ
Glossary ~~~
Orabi-san: Orabi atau
yang biasa dipakai adalah sebutan Orabeoni berarti panggilan
adik perempuan pada kakak laki-laki di Korea (identik dengan zaman kerajaan),
sedangkan penggunaan akhiran ~san adalah panggilan ala Jepang yang
universal, baik itu untuk kalangan tua, muda, laki-laki maupun perempuan.
Ajisai: Sebutan untuk Kembang Bokor dalam bahasa Jepang
Maehwa: Bunga Plum (Apricot Blossom)
Hanbok: Baju tradisional Korea
Jeongori: Baju bagian atas hanbok wanita
Chima: Rok hanbok wanita
Kombo: Baju tradisional Buton, Sulawesi Tenggara
Yukata: Jenis kimono (baju tradisional Jepang) nonformal yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis.
Kupu-Kupu Kertas
Sedangkan wanita dipilih,
dilihat dari kehidupan atau pergaulan masa lalunya.
Bagaimana denganmu?
Apa kau tertarik akan sejarahnya?
Adakah keistimewaan yang kau tangkap di masa itu?
Aku...
Bagiku sejarah itu indah
Seindah kupu-kupu kertas yang pernah kita temukan di tepi sungai
Sungai keruh itu








