Bismillahirrahmanirrahim
Saya akui, sebagai orang tua baru, terkadang saya masih perlu belajar untuk menyusun langkah yang tepat, yang cocok. Bagaimana caranya agar diri sendiri tetap sehat lahir dan batinnya, bagaimana anak saya—yang masih bayi—bisa saya perlakukan dengan sebaik-baiknya, bagaimana saya berbakti kepada suami saya tercinta?
Lelah? Tentu saja. Terkadang saya merasa kebingungan, takut keliru. Kesehatan mental itu nyata dan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Meski zaman dahulu memiliki tantangannya sendiri, apa yang saya rasakan tetaplah menjadi hal yang nyata, hanya dengan cara yang berbeda.
Terkadang pikiran ini muncul: sering kita dengar istilah "anak durhaka"—astaghfirullah—tapi jarang yang bertanya: apakah ada juga orang tua yang dzalim?
Dzalim, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, menindas hak orang lain, dan membebani orang lain dengan beban yang bukan tanggung jawabnya.
Orang tua yang dzalim. Entah mengapa hal ini terpikirkan oleh saya. Saya bertanya-tanya: kelak saya kan menjadi ibu yang seperti apa? Akankah saya memaksakan kehendak kepada buah hati kami? Mungkinkah saya kelak akan mengungkit jasa-jasa seolah anak adalah orang yang berhutang budi kepada saya dan suami saya? Lalu bagaimana jika nantinya saya membesar-besarkan hal kecil, atau tanpa sadar saya merasa benar sendiri dan malah mengadu domba—sehingga membuat anak merasa frustasi dan bersalah terus-menerus.
Perubahan fisik, perubahan hormon..., bisa saja hal-hal tersebut merubah banyak hal dari saya bukan?
Kemudian saya kembali berpikir: melahirkan anak ini adalah pilihan saya. Toh kalau saya merasa terbebani dan kelak mengungkit apa yang telah saya lakukan maupun perjuangkan,—apakah saya merasa diri saya pahlawan?— Tentu tidak. Saya yang pada saat itu memilih sendiri untuk melahirkan keturunan. Kalau sampai saya mengeluh dan melakukan hal yang tidak baik kepada anak saya—naudzubillah, mengapa dulu saya memilih untuk melahirkannya. Hufhh. Aneh bukan?
Jujur, hal-hal demikian berputar di benak saya. Entah dari mana datangnya, tapi pikiran itu ada, dan saya terus mencari apa jawabannya. Ya Allah, tolong berikan hamba-Mu pencerahan.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk ibu-ibu lain yang sedang berjuang. Bahwa menjadi ibu yang baik dimulai dari niat baik, hati yang mau belajar, jujur pada diri sendiri, dan selalu berusaha memperbaiki diri. Tidak perlu sempurna—yang penting tulus dan sadar.
Wallahu 'alam bishawab 😇







0 komentar:
Posting Komentar