Sebagai ibu baru, terkadang saya melihat informasi dari media sosial maupun dari jurnal perihal screen time atau waktu penggunaan layar yang memiliki berberapa dampak negatif pada anak kecuali untuk melakukan video call bersama keluarga.
Perkembangan otak dalam kurun waktu 5 tahun pertama terjadi lebih cepat dan sensitif terhadap dampak dari lingkungan. Oleh karena itu, masa tersebut menjadi periode emas yang sangat penting. Sayangnya, fakta di lapangan malah terlanjur banyak anak yang kecanduan screen time. Padahal, paparan layar yang berlebihan berpotensi menggantikan interaksi, bermain, bergerak, dan pengalaman nyata yang sangat mereka butuhkan. Penggunaan layar sebaiknya diminimalisir dan dijadikan aktivitas sampingan jika memang diperlukan.
Yang dikhawatirkan bukan sekadar "layarnya", tetapi perihal apa yang hilang ketika layar mengambil waktu anak. Sediiih.
Sejenak saya berpikir, bagaimana dengan seorang ibu yang hanya tinggal bersama suaminya tanpa asisten rumah tangga maupun pengasuh kerap kali membiarkan anaknya menonton televisi atau video dari smartphone. Mau bagaimana lagi, hal ini terpaksa dilakukan agar sang ibu bisa memasak, beres-beres rumah, maupun kegiatan lainnya sementara suaminya pergi bekerja.
Yah, kembali lagi dengan bagaimana pilihan sang pengasuh anak, khususnya ibu dengan kondisi tersebut. Apakah tetap membiarkan anak terpapar layar atau mencari media lain guna membuat si Kecil tetap anteng menikmati waktunya bermain, sementara ibu bisa beraktivitas dengan tenang—meski jujur di dalam hati merasa was-was dan khawatir.
Jadi bernostalgia. Dulu ibu membiarkan saya bermain dengan tumpukan koran sampai berantakan, sementara ibu memasak sambil sesekali memperhatikan anaknya yang sedang bermain. Untungnya saya tidak memakan korannya, ya.
Syukurlah, saya tipe anak mau dikasih mainan koran, alhasil ibu bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya dengan lancar. Tanpa screen time, hanya mainan fisik saja. Tapi dulu mah, belum zaman screen time juga, sih.
Beda zaman, beda pula kebiasaannya.
Dewasa ini, beberapa anak sudah diberi alternatif mainan, tapi tidak mau, inginnya hanya menonton televisi atau video dari smartphone. Duh, auto menghela napas deh para ibu. Jadi galau kan, bagaimana kalau kecanduan. Pusing kepala Berbiii!
Oh iya, dari salah satu jurnal yang saya baca, dikatakan bahwa semakin banyak waktu layar yang digunakan pada masa bayi, semakin besar ditemukan perubahan tertentu pada aktivitas EEG atau Electroencephalography (elektroensefalografi).
Sederhananya, EEG adalah pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik otak. Caranya bukan dengan memasukkan alat ke otak, Pemirsaaa. Petugas memasang sensor kecil (elektroda) di kepala, lalu alat merekam sinyal listrik yang dihasilkan oleh aktivitas sel-sel saraf otak.
Nah, perubahan tersebut berhubungan dengan fungsi eksekutif yang lebih rendah pada usia sekolah—tetapi penelitian ini belum membuktikan bahwa layar adalah penyebab langsungnya.
Lingkup dari fungsi eksekutif yaitu memberi perhatian selektif, respon inhibisi, kecakapan dalam mengambil keputusan, dan fungsi menyaring dengan tanggung jawab. Fungsi eksekutif terdiri atas tiga komponen dasar yakni, inhibisi, updating working memory dan mental set shifting/task switching.
Debie Susanti, Hasmira, Mulyana Sukarnih Putri Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi), Vol. 4 No. 1 Januari 2023
Beda zaman, beda keadaan. Jadi kudu waspada, euy. Di balik ketenangan instan yang ditawarkan oleh gawai, ada harga mahal yang harus dibayar oleh tumbuh kembang si Kecil.
Para ahli menjelaskan bahwa gawai dapat mengganggu perkembangan fungsi eksekutif otak anak—yaitu sistem kendali yang bertugas seperti "manajer proyek" di otak kita. Masa di bawah usia 2 tahun ini begitu penting untuk melatih tiga pilar utamanya, yaitu:
- Inhibisi (kemampuan anak untuk menahan diri dari gangguan, mengontrol emosi, dan menunda kesenangan instan).
- Updating working memory (kemampuan otak untuk mengingat, memperbarui, dan mengolah informasi jangka pendek secara cepat).
- Mental set shifting/Task switching (fleksibilitas mental anak untuk berpindah fokus dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa memicu tantrum).
Ketika anak terbiasa menonton layar, otak depan mereka tidak terlatih untuk melakukan ketiga hal di atas secara mandiri karena semuanya sudah disajikan secara instan. Akibatnya, ada beberapa dampak negatif nyata yang menghantui anak di bawah usia 2 tahun:
1. Risiko Keterlambatan Bicara (Speech Delay)
Ini dampak yang terkadang membuat ibu panik. Kalau ada yang bilang bahwa tontonannya mengandung unsur edukasi dan semacamnya, mari kita lihat pada sifat gawai yang pasif dan satu arah, hal tersebut dapat menyebabkan otak anak tidak terstimulasi dengan baik karena tidak ada yang yang membalas ocehan si Kecil.
2. Tantrum dan Sulit Mengendalikan Emosi
Pernah melihat anak yang mengamuk ketika HP atau tabletnya diambil? Itu terjadi karena gawai membanjiri otaknya dengan hormon kesenangan secara instan. Ketika layar dimatikan, otak anak mengalami "syok" karena stimulasi menyenangkan itu tiba-tiba hilang. Kemampuan inhibisi (kontrol diri) mereka belum matang, emosi mereka meledak dan bisa jadi menyebabkan tantrum dan sulit ditenangkan.
3. Sulit Fokus dan Cepat Bosan di Dunia Nyata
Otak bayi yang belum matang akan terbiasa menerima ritme super cepat dari konten digital dengan transisi gambar yang sangat cepat. Nah, ketika anak kembali ke dunia nyata seperti saat bermain menyusun balok maupun menggambar misalnya, hal tersebut akan terasa lambat dan membosankan. Kemampuan konsentrasi mereka pun menjadi sangat pendek. Ambyar, deh.
Jadi bagaimana nih, Bunda? Butuh penyesuaian untuk membesarkan si Kecil ya, Bun. Rasanya berat, tapi seiring berjalannya waktu, pelan-pelan kita mencari cara yang cocok untuk membersamai buah hati kita.
Zaman dulu boleh begitu, zaman now ya begini, belum lagi kondisi wanita sekarang dengan segala perubahan kondisi hormonnya. Mental health yang dulu nampaknya nggak begitu dikenal, sekarang jadi kenyataan yang harus dihadapi. Warasnya ibu adalah salah satu kunci kebahagiaan anak. Nyetrum gitu, Bun. Jika Bunda bersedih misalnya, hal tersebut pun akan berdampak negatif untuk si Kecil.
Kita tidak sendirian kok, Bun. Coba diskusikan dengan pasangan, maupun keluarga lain yang tinggal bersama kita untuk saling mendukung dalam membatasi atau bahkan meniadakan, paparan layar pada anak khususnya 0—2 tahun. Sementara itu, untuk 3—5 tahun, pastikan kita mendampingi buah hati kita ketika mereka berada di depan layar gawai atau televisi.
Meskipun sudah terlanjur ketagihan, pelan-pelan kita alihkan dengan mainan lain, atau hadir mendampingi mereka lewat obrolan sederhana, pelukan, maupun petualangan kecil di dunia nyata. Pastinya butuh proses, tetapi waktu yang kita investasikan tanpa paparan layar adalah salah satu hadiah yang baik untuk perkembangan otak si Kecil.
Sebagai orang tua dan hamba yang memiliki Tuhan, usaha adalah langkah yang kita lakukan setelah meniatkan sesuatu yang baik, selanjutnya pasrahkan masa depan kita dan keluarga menjadi ketetapan yang seperti apa.
Mari kita senantiasa berikhtiar memberikan stimulasi terbaik untuk otak dan jiwa si Kecil, lalu biarkan tawakkal menjadi penenang hati kita. Semoga Tuhan meridhai, menguatkan pundak hamba-Nya dan memberkahi setiap langkah kecil yang kita ambil demi masa depan kita dan keluarga. Have a blessed parenting journey! 😉😇







