Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Percakapan Masa lalu

 Bismillahirrahmaanirrahiim



Mentari menebarkan hawa panasnya yang terik di tengah kota, menyengat siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan. Namun bagi Pak Harun, seorang ojek online berusia 52 tahun, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sejak muda ia terbiasa bekerja di bawah terik matahari sebagai seorang tukang becak, tukang gorengan, ojek pangkalan, dan beberapa profesi lainnya.

Di usia senjanya, nasib memaksanya untuk tetap bekerja keras mencari nafkah. Apakah ia bisa memilih untuk tidak menjadi seperti sekarang? Entahlah, Pak Harun sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi itu lah takdir yang harus ia jalani dan syukuri.

Perkembangan zaman yang kian pesat membuatnya harus beralih profesi menjadi ojek online agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Siang itu, sambil menunggu orderan di sebuah warung kopi, Pak Harun berbincang dengan Pak Salman, rekan sejawatnya yang juga berprofesi sebagai ojek online. Keduanya sudah saling kenal sejak muda, dulu sama-sama berprofesi sebagai tukang becak.

“Zaman dulu mah enak, Man. Kita cuma teriak-teriak nyari penumpang aja.” Pak Harun menyeruput kopinya, “sekarang kudu bela-belain lihat hape, kalau telat dikit bisa keburu disambar orang lain, penumpangnya.”

Pak Salman mengangguk, “iya, ya, Run. Gak pusing mikirin aplikasi kayak begini. Sekarang kalau gak ikut perkembangan zaman, bisa ketinggalan.”

Keduanya lalu terdiam sejenak, merenungi bagaimana perubahan zaman yang begitu cepat. Di usia senja, mereka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap dapat bertahan hidup.

“Yang penting kita masih bisa cari rezeki, Man. Meski cara dan alatnya beda, yang penting niat kita ikhlas berusaha,” ujar Pak Harun.

Pak Salman mengangguk setuju. Keduanya pun melanjutkan mengobrol ringan, sesekali tertawa mengenang masa muda mereka. Meski zaman terus berubah, semangat dan ikatan persahabatan mereka takkan pernah lapuk dimakan waktu.

Setelah beberapa saat, obrolan mereka mulai merambah ke nostalgia lucu masa lalu, ketika mereka masih berprofesi sebagai tukang becak.

“Ingat nggak Man, waktu kita masih narik becak, terus kejar-kejaran sama polisi? tanya Pak Harun sambil tertawa kecil.



Pak Salman terbahak-bahak bukan main, “ingat banget lah, Run. Waktu itu sampai kita sembunyi segala, di gang sempit. Takutnya bukan main, euy,” bapak dengan tiga orang anak itu membenarkan posisi kaca matanya, “tapi sekarang mah, yang dikhawatirkan kalau sampai ketinggalan orderan!”

Pak Harun mengangguk, “iya Man. Zamannya sudah berubah, tantangannya ya, tambah-tambah. Tapi yang penting kita masih bisa ketawa, ya?”

“Ya, setidaknya kita masih bisa menyambung hidup,” pria itu tiba-tiba teringat almarhumah istrinya, “anak-anak muda sekarang mungkin nggak tahu rasa susah seperti kita dulu, tapi kesulitan mereka ya, ada di bentuk yang berbeda.”

Seiring obrolan mereka yang mengalir, suasana kedai kopi itu mulai ramai dengan kedatangan ojek online lain yang juga menunggu orderan.

Angin semilir bertiup menyejukkan jiwa-jiwa yang terpanggang oleh panasnya realita. Di tengah kota yang penuh sesak dan sibuk itu masih ada tempat sederhana yang nyaman untuk dikunjungi. Sekilas, tempat itu terlihat seperti kafe bergaya vintage yang mahal, tapi owner kedai kopi itu adalah teman seangkatan Pak Harun dan Pak Salman. Dengan hati yang baik, ia tidak mematok harga mahal untuk menu yang tersedia di tempat usahanya tersebut.

Sahabat senja itu menikmati momen yang ada dengan penuh syukur, membiarkan pikiran mereka menganang masa-masa lampau.

Angin kembali berembus lembut, membawa serta suara-suara kota yang seakan menjadi latar bagi kilasan memori itu. Pak Salman tersenyum sendiri, mengenang seluruh perjuangan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan menjadi seseru itu.

Beberapa saat kemudian, Pak Salman merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi ojek online menunjukkan bahwa ada orderan yang masuk. Senyumnya kian mengembang.

“Dapat orderan ke mana, Man?” tanya Pak Harun.

“Deket. Ke sekolahan SD.”

“Eh, ada yang dapat penumpang, nih,” ujar Pak Deden, sang pemilik kedai.

Pak Salman segera meraih helemnya dan bangkit dari tempat duduk, “alhamdulillah, ada orderan. Rezeki nggak boleh ditolak, kan?”

Pak Deden tersenyum, “iya, Man. Semoga lancar, ya.”

Pak Salman pun berpamitan dan melangkah menuju motornya. Seperti biasa, ia merapikan helm, dan memastikan semuanya siap sebelum memulai perjalanan.

Pak Deden pun duduk di bangku menemani Pak Harun berbincang ringan sembari menunggu giliran rezekinya tiba.

“Har, bagaimana keluarga di rumah, sehat?” tanya Pak Deden sambil menyeruput kopi.

“Alhamdulillah sehat, Den.” Pak Harun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.

“Alhamdulillah. Keluarga memang jadi semangat kita untuk terus berjuang, ya.”

“Iya. Walaupun pusing dan capek sama orderan yang kadang sepi, tapi ya, demi keluarga mah, harus diperjuangkan,” tambah Pak Harun sambil mengaduk kopinya.

Semilir angin kembali berembus sepoi-sepoi. Suasana di kedai kopi itu terasa nyaman, dengan obrolan ringan dan gelak tawa yang sesekali menghangatkan suasana.

“Aku jadi ingat pas kita masih muda dulu, Har. Ingat nggak, kita sering ke sini pas masih cuma warung kecil di pinggir jalan?” tanya Pak Deden mengenang masa lalu.

“Pak Harun tertawa, “jelas inget, lah. Nongkrong sampai malam, ngobrol macam-macam. Siapa sangka, sekarang kita masih bisa kumpul di tempat yang sama, ya, meskipun sudah banyak yang berubah, Den.”

Pak Deden tersenyum, “benar, Har. Meskipun dunia telah banyak yang berubah, semoga saja persahabatan kita tetap sama.”

“Amin. Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rezeki yang cukup, ya. Toh, yang penting kan, kita tetap bersyukur dan saling mendukung.”

♣♣♣

Di tempat lain, Pak Salman sedang menikmati perjalanannya mengantar seorang anak SD yang tadi dipesankan ojek oleh orang tuanya melalui aplikasi ojek online.

Suara mesin motor, kebisingan kota, dan bunyi klakson yang terdengar di sana-sini seakan menjadi irama yang mengiringi setiap langkah perjuangannya.

Di tengah perjalanan, pikiran Pak Salman melayang, mengingat keluarganya. Cucu-cucu yang sedang lucu-lucunya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal bersama dengannya di satu rumah sederhana, semuanya adalah karunia yang tak terkira. Setiap tetes keringat yang jatuh‒meskipun tidak se-ngoyo dulu‒adalah bentuk cinta untuk mereka.

“Aminah, meskipun kau telah tiada, tapi aku dan anak-anakmu di sini tetap berjuang untuk melanjutkan kehidupan kami. Kami selalu mengirimkan doa-doa kami untukmu, Aminah,” batin Pak Salman, mengenang istri tercintanya.

Di tengah kesibukan Pak Salman, kenangan tentang Aminah selalu hadir, memberikan semangat dan kekuatan. Perjalanan hari itu terasa lebih ringan. Meski orderan datang silih berganti, Pak Salman merasa ada kekuatan baru yang menyertainya. Ia menyadari bilamana setiap perjalanan, setiap tarikan gas kendaraan bermotor tuanya, serta setiap langkah yang diambil adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna.

Menjelang senja, ketika kubah langit berubah warna mejadi jingga kemerahan, Pak Salman kembali ke warung kopi tempat biasa ia menghabiskan waktu senggangnya. Di sana ia bertemu lagi dengan Pak Deden dan rekan-rekan lainnya. Kebetulan Pak Harun tidak ada di sana karena masih ada orderan.

“Bagaimana Man, hari ini lancar?” tanya Pak Deden sambil menikmati pisang goreng yang hangat.

“Alhamdulillah, lancar, Den. Walaupun capek, tapi hati ini senang rasanya. Setiap hari adalah berkah.”

Di bawah langit sandikala yang indah, mereka menemukan ketenangan. Meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai kebersamaan, kerja keras, serta rasa syukur akan selalu menjadi pegangan yang harus tetap dijaga dan dipegang teguh. Suara azan maghrib pun berkumandang, menandai waktu untuk berhenti sejenak dari segala aktifitas dan bersujud kepada Sang Pencipta mayapada dan seisinya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran dalam Panggung Kehidupan

 


 

Dunia ini adalah panggung sandiwara, katanya. Kita bukan sutradara, melainkan aktor yang tidak bisa memilih peran—apa pun yang Tuhan tetapkan untuk kita. Kalau kita sudah dicasting sebagai tokoh antagonis, ya jalani saja peran itu sebaik-baiknya.

Kita adalah bagian kecil dari sebuah mesin besar. Jika kita tidak memainkan peran kita dengan baik, mesin itu bisa kacau dan rusak. Hidup akan berjalan normal, baik, dan produktif jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh—bukan setengah-setengah.

Kekacauan dalam satu bagian pasti akan berdampak pada bagian lainnya. Seperti ketika kondisi seorang ibu sedang ruwet, suami dan anak pun bisa ikut terdampak. Kita ini hanya sekrup kecil dalam sebuah organisme besar. Tak perlu terus-menerus mengeluhkan peran yang tak kita sukai. Santai saja, dan jalanidengan nyaman dan terus berusaha.

Merasa bosan atau mengeluh saat menjadi pegawai? Ingatlah, atasan kita pun dulunya pegawai, tapi mereka sudah naik level karena menjalani peran mereka dengan konsisten.

Bersikap realistis itu bukan berarti memaksakan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita, tetapi menginginkan agar segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hatiku, Lautan yang Tak Terduga

 


Di suatu malam, aku terpikirkan tentang perasaan manusia yang layaknya samudera luas dengan berbagai macam kehidupan di dalamnya. Keberagaman jenis hewan laut, kondisi lingkungannya, maupun terumbu karang, bahkan apapun itu yang belum aku ketahui di kedalaman yang paling dalam, dingin, dan gelap di bawah sana. 


Makhluk lautan tak bisa memilih untuk menjadi apa karena takdirnya telah ditentukan oleh Sang Empunya Mayapada, begitu pula dengan perasaan manusia yang dititipkan dan tertiupkan ke dalam dada kita, semuanya telah digariskan oleh-Nya. Namun, semua itu bukan berarti kita tak diberikan kemampuan untuk mengendalikannya sama sekali. 


Sekarang, aku akan menjadi ubur-ubur dengan bentuk seperti itu. Ya, seperti apa bentuknya? Kau pasti tahu seperti apa rupanya, meskipun tidak semuanya sama karena berbeda jenis, belum lagi kalau membicarakan tentang adakah racun di dalamnya atau tidak. 



Yups, sekarang aku adalah ubur-ubur bulan, Aurelia Aurita. Nama yang cukup cantik, bukan. 


Aku ubur-ubur bulan. Tetapi, apa boleh aku menginginkan untuk menyalahi takdir dan memohon agar aku dijadikan sebagai ikan hiu? Aku, menjadi ikan hiu paus yang katanya bisa tumbuh hingga sekitar 12 meter. Waw, besar sekali. 


Apalah daya, sekarang aku adalah ubur-ubur bulan dengan tubuh yang transparan dan ukuran yang kecil, bahkan 50 cm pun tidak ada. Lalu, apa yang harus aku lakukan? 


Terima saja kodratku sebagai Aurelia Aurita. Dengan begitu, aku bisa lebih menjalankan peran dengan baik. Aku berusaha hidup dengan senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan kepadaku, dititipkan kepadaku. Meskipun terkadang, bisa saja menginginkan sesuatu yang sedang tidak ada di hadapan mata, ya wajar saja, tapi setelah itu kembali lagi ke tempatku, tersadar dari lamunan itu. 


Rupanya aku berimajinasi cukup indah malam ini. Perasaan yang aku rasakan memang sudah diberikan oleh Dzat yang menciptakanku, apapun itu, aku seharusnya menerima dan menjalaninya. Jika perasaanku sedang baik, itu sebuah anugerah yang indah. Sedangkan perasaan yang menyesakkan itu, tahan saja dulu, sembari berdoa aku meminta pertolongan-Nya agar tetap terlindungi dan dapat melewati kepiluan itu dengan baik, tentunya dengan mengupayakan apa yang bisa aku lakukan. 


Perasaan pun dapat terpengaruh dari kondisi sekitarannya, sebagaimana aku yang menjadi ubur-ubur ini tinggal di lautan dengan kondisi yang tidak baik, tercemar. Tentu hal tersebut menjadi salah satu faktor ketidaknyamananku, kan. Lantas, aku harus bagaimana? 


Jika aku bisa pergi dari lingkungan yang seperti itu, sepertinya akan lebih baik. Syukur kalau aku menemukan tempat tinggal yang lebih layak atau bahkan jauh lebih indah dan sehat dari sebelumnya. Apakah aku hijrah dari satu lautan di bagian bumi tertentu ke bagian yang lainnya? Aku yang ubur-ubur ini hijrah? Yups, tidak masalah. Toh, demi kemaslahatan diriku. Sama saja seperti perasaan manusia yang bisa terkontaminasi oleh paparan tingkah laku maupun omongan tetangga yang tak menyehatkan jiwa maupun raga. Aku bisa memilih untuk pindah, atau menjauh dari hal seperti itu. Pilihan ada pada kita, selanjutnya bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. 


Realitanya, di mana pun kita tinggal, akan ada saja sesuatu yang membuat tidak nyaman. Kita bisa berupaya untuk menjauh, dan tetap tinggal di lingkungan seperti itu selagi masih kuat. Menetap saja, jika hal itu lah yang bisa dijangkau kelanjutannya. Jangan memaki keadaan dan kondisi yang ada apabila kita tidak merasa nyaman. Atau, kita bisa mencoba untuk berpindah ke bumi di bagian yang lain jika memungkinkan. Yah, begitulah perasaan dan berjuta dramanya. 


Terkadang, aku menangis bukan berarti sedang bersedih. Mungkin, tanpa disadari air mata  mengalir begitu saja membasahi pipi ini. Memang bisa seperti itu? Entahlah, aku sekadar menyelami lautan dalam dan seolah dipenuhi pertanyaan "sebenarnya aku sedang apa di sini, mengapa aku belum dapat menemukan apapun?". Kosong melompong. Wah, sepertinya aku kurang berdzikir. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebuah Goresan Kenangan

 



Aku tidak tahu mengapa sebuah titik yang ditarik menjadi garis dan garis-garis itu memencar ke segala arah, menciptakan berbagai goresan dan bentuk pola yang beragam. 


Yah, apapun keberagaman yang ada di hadapan kita, semuanya indah bila kita memandangnya seperti itu, begitu pula sebaliknya. 


Lalu, apa yang ada di benakmu sekarang?

Entahlah. 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berikan Bintang

 


Terima kasih. Sebelumnya aku tidak tahu apa itu oksitosin, bagaimana cara kerjanya. Tapi, ketika aku membaca artikel tentang itu, semuanya mulai masuk akal. 


Aku beri bintang pesanmu yang ini. Itu sangat membantuku:

"Ini mah aku mau coba kasi input ya barangkali bisa manfaat. Jadi, sebelum merem sudah pasti baca do'anya dan bisa ditambah Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas."


"Langkah selanjutnya yakinkan diri sendiri boleh dengan berbicara secara verbal maupun non-verbal bersuyukur atas apapun yg terjadi hari itu (dijabarin tuh satu² apa aja). Setelahnya katakan juga pada diri sendiri apapun kegiatan esok hari biarlah besok (entah ada kerjaan untuk buat laporan Excel atau apapun)."


"Yang terakhir, tarik nafas 2 detik, tahan nafas 2 detik, keluarin nafas 2 detik, tahan dulu 2 detik, lanjut lagi ulangi tarik nafas 2 detik, blablabla diulang boleh sampai berapa kali pun."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berlayarnya Kapal Irfan dan Anis


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Lautan luas, perjalanan kita tak terhenti. 

Bersama, kita hadapi pasang surut, menuju pelabuhan keridaan-Nya.


Klik untuk melihat detail gambar

Kenyataannya, perjalanan ini, tak hanya perihal laut dan keindahannya, tetapi juga tentang bagaimana kita yang seharusnya saling berpegangan erat saat ombak menerjang. Kapal Anis & Irfan, siap berlayar!

Simak perjalanan kami, klik di sini
 

Panduan transportasi menuju tempat acara, klik di sini

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jalan-Jalan ke Kondangan Irfan & Anis






Klik untuk memperjelas gambar


Panduan Transportasi Menuju Tempat Acara

 
Menggunakan KRL dari Arah Barat Stasiun Tambun
 
1. Ketersediaan Kartu KRL: Naik KRL jalur Cikarang menuju Stasiun Tambun dari stasiun keberangkatan Anda. Pastikan untuk membeli kartu KRL terlebih dahulu atau saldo di e-money Anda cukup untuk tap in dan tap out.
 
2. Transit: Perhatikan dengan cermat stasiun pemberhentian Anda. Apakah Anda perlu transit atau dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tambun. Informasi lebih lengkap terkait jalur KRL dapat Anda temukan pada peta rute berikut.


 
3. Menuju Tempat Acara: Turun di Stasiun Tambun dan lanjutkan perjalanan menuju tempat acara menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.
 
4. Alamat Tempat Acara: Gunakan aplikasi ojek/taxi online seperti Grab atau Gojek dan masukkan alamat lengkap tempat acara: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, Jl. Kelana, Tambun, Bekasi Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (jarak kurang lebih 3,5 km: 8-10 menit). 


 
Menggunakan Transjakarta & KRL
 
1. Naik Transjakarta: Datangi halte bus Transjakarta yang terdekat dengan tujuan Anda. Berikut peta rutenya (gunakan e-Money untuk pembayaran-tap in dan tap out

 
2. Transit ke KRL: Pilih halte Transjakarta yang dekat dengan stasiun KRL.
 
3. Naik KRL: Di stasiun KRL, pilih dan naik kereta yang menuju Stasiun Tambun.
 
4. Transit (Jika Diperlukan): Perhatikan dengan cermat apakah Anda perlu transit kereta atau dapat langsung melanjutkan perjalanan.
 
5. Menuju Tempat Acara: Turun di Stasiun Tambun dan lanjutkan perjalanan menuju tempat acara.
 
6. Alamat Tempat Acara: Gunakan aplikasi ojek/taxi online seperti Grab atau Gojek dan masukkan alamat lengkap tempat acara: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, Jl. Kelana, Tambun, Bekasi Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (jarak kurang lebih 3,5 km: 8-10 menit). 




Mengendarai Kendaraan Pribadi
 
1. Gunakan Aplikasi Navigasi: Buka aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Waze di gawai Anda.
 
2. Masukkan Alamat: Masukkan alamat tujuan: RESTORAN DAN SAUNG BANG HAJI, alamat lengkap tersedia di [klik di sini], lalu tentukan titik keberangkatan. QR Code tempat acara tersedia di bawah ini.


3. Ikuti Petunjuk Arah: Ikuti petunjuk arah yang diberikan oleh aplikasi navigasi dan berdoa memohon keselamatan sepanjang perjalanan.


 
Catatan:
 
- Pastikan Anda memiliki cukup waktu untuk perjalanan, termasuk waktu transit jika diperlukan.
 
- Periksa kembali jadwal KRL dan Transjakarta sebelum berangkat.
 
- Selalu berhati-hati dan patuhi peraturan lalu lintas selama perjalanan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Mengaji Minhajul 'Abidin - 10/2/2025 (Jalan Menuju Ridha Ilahi)

 


Bismillahirrahmanirrahim 

Menyerahkan diri kepada Allah, bacalah

الله الكافي ربنا الكافي قصدنا الكافي وجدنا الكافي لكل كافي كفانا الكافي ونعم الكافي الحمد لله

Allahul kafi, Rabbunā kafi, qashdanā kafi, wajadnā kafi, likulli kāfin kāfanā kafi, wa ni'mal kafi, alhamdulillah.


"Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha Pencukup.  Tujuan hidup kami hanya kepada-Nya, dan kami telah merasakan kecukupan-Nya.  Dia telah mencukupi segala kebutuhan kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi Kecukupan."


Semoga Allah memberikan keyakinan dan kekuatan agar senantiasa berusaha untuk mencapai sesuatu.

Semoga Allah memberikan ketenangan hati terhadap apa yang akan terjadi dan telah ditakdirkan untuk kita.


موضع القسمة (mawḍiʿ al-qismāh)

 موضع الثقة (mawḍiʿ al-tsiqah)

Allah telah memberikan bagian masing-masing kepada setiap hambanya, dan bagaimana hamba itu menerima kehendak Allah akan membentuk kepercayaan terhadap takdir baik yang Allah anugerahkan untuknya.

Untuk apa membandingkan diri sendiri dengan apa yang Allah titipkan kepada kita (harta, jabatan, dll) dan apa yang Allah titipkan kepada orang lain?

••••••°°°••••••


Amalan Pagi Hari:

Dianjurkan untuk membaca Surat Al-Muhammad dan Surat Al-Fath sebelum waktu Salat Subuh ataupun di waktu pagi.  Bacalah dengan penuh khusyuk dan berdoalah kepada Allah SWT memohon pertolongan dan kekuatan dalam menghadapi segala tantangan hidup.  Amalan ini diharapkan dapat memberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

 

Persiapan untuk Kehidupan:

Selain amalan tersebut, penting juga untuk mempersiapkan diri secara matang baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.  Persiapan ini meliputi berbagai aspek, seperti memperkuat keimanan, menuntut ilmu, beramal saleh, dan merencanakan masa depan dengan bijak.


Kesimpulan:

Pentingnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT,  beriman dan bertawakal kepada-Nya, serta mempersiapkan diri secara matang untuk kehidupan dunia dan akhirat.  


Allah SWT Maha Pencukup dan Maha Pemberi, serta segala sesuatu yang terjadi telah ditakdirkan oleh-Nya.  Oleh karena itu, perbandingan dengan orang lain dalam hal materi atau keberuntungan tidaklah perlu, karena setiap individu memiliki takdir dan bagiannya masing-masing.  Sebagai bekal, dianjurkan untuk membaca Surat Al-Muhammad dan Al-Fath sebelum waktu Salat Subuh atau di waktu pagi hari, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT.

Wallahu a'lam. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS