Diberdayakan oleh Blogger.
Seal - Gaia Online
RSS
Container Icon

Bertumbuh Bersama


(Dua Nama, Satu Doa)



Malam itu hujan turun pelan, seolah langit sengaja merendahkan suaranya. Di sebuah rumah sederhana, dua tangis bayi terdengar hampir bersamaan—satu lembut, satu tegas. Mereka lahir sebagai kembar.

Ayah mereka mengumandangkan azan dan iqamah, lalu berbisik penuh harap,
“Namamu Muhammed Akyas Syarif,”
dan pada tangis yang lebih lirih,
“Dan kamu Syarifha Neyra Ismaya.”

Sejak kecil, keduanya berbeda.

Akyas tumbuh dengan tatapan tenang. Ia jarang bicara, namun sekali berkata, ucapannya tertata. Ia lebih sering mengamati sebelum bertindak. Jika terjadi perselisihan, dialah yang pertama menenangkan.

Syarifha adalah cahaya kecil di rumah itu. Senyumnya mudah muncul, kehadirannya membuat suasana hangat. Ia peka pada perasaan orang lain, cepat menyadari jika ada yang sedih, dan tanpa diminta, duduk menemani.

Orang-orang sering berkata,
“Yang satu menenangkan pikiran, yang satu menenangkan hati.”

Ketika mereka beranjak dewasa, perbedaan itu semakin jelas.

Akyas belajar menimbang sebelum memilih. Ia percaya bahwa kecerdasan sejati adalah mampu menjaga diri dari tergesa.

Syarifha belajar menyinari tanpa menyilaukan. Ia percaya bahwa kebaikan tidak harus diumumkan.

Suatu hari, mereka dihadapkan pada pilihan sulit. Jalan yang mudah terbuka lebar, tapi menyisakan keraguan. Jalan yang benar terasa sempit, namun menenangkan.

Akyas berkata pelan,
“Yang benar mungkin berat, tapi tidak akan mengkhianati hati.”

Syarifha mengangguk,
“Kalau begitu, kita pilih yang membuat kita tetap menjadi diri sendiri.”

Mereka melangkah bersama—bukan untuk menjadi yang paling terlihat, tetapi untuk tetap setia pada nilai yang ditanamkan sejak nama itu disematkan.

Di mata orang lain, mereka hanya dua saudara kembar.

Namun bagi mereka yang mengenal lebih dekat,
Akyas adalah kebijaksanaan yang menjaga,
Syarifha adalah cahaya yang menuntun.

Dan di rumah sederhana itu, orang tua mereka sering berdoa dalam diam:
semoga anak-anak ini tumbuh bukan untuk menguasai dunia,
melainkan menjaganya dengan akhlak dan kasih.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS